
Budayakan like sebelum baca ya☺️
Candra dan Azila sedang berada di lantai satu dan sedang memilih beberapa sayur dan beberapa bahan masak lainnya, rencananya Azila akan memasakkan Candra tumis kangkung dan ayam kampung goreng karena kedua masakan itu adalah favorit mereka berdua.
Setelah mendapatkan semua bahan makanan, Candra dan Azila memutuskan untuk segera pulang karena Candra sudah merengek seperti anak kecil karena kelaparan.
Sesampainya mereka di rumah, Azila dan Candra mengganti pakaian mereka ke pakaian yang lebih santai, Azila dengan daster biru muda dan Candra dengan kaos oblong putih dengan kolor hitam.
Azila dan Candra menyuruh para pelayan yang ada di dapur untuk pergi agar tidak menggangu kemesraan mereka.
Dengan appron bermotif bunga-bunga, Azila mengeluarkan dan menata semua bahan makanan ke mini bar dapur. Setelah menata semuanya, Candra dan Azila mencuci semua bahan makanan. Azila membersihkan dan memotong ayam, sedangkan Candra memotong-motong kangkung, cabai, bawang merah, dan bawang putih.
"Yang, tiap hari kamu mau nggak masakin aku?" tanya Candra sambil menatap Azila yang masih memotong-motong daging ayam.
"Dih, kamu ngidam, ya?" tanya balik Azila yang merasa heran karena dari dulu Candra tidak pernah meminta Azila untuk memasak.
"Siapa yang ngidam, kamu kira aku lagi hamil kayak kamu, itu," jawab Candra, "Gendut," ucap Candra lagi sambil memajukan bibirnya ke telinga Azila.
"Wah, udah mulai berani, ya, sekarang? Mau ku tikam sekarang nih?" ucap Azila sambil menodongkan pisau besar di tangannya.
"Santai dong, Buk. Jangan main tikam-tikam aja," ucap Candra sambil mengangkat kedua tangannya.
"Jangan panggil aku gendut, Candra. Panggil aku sayang," ucap Azila menirukan gaya kartun anak laki-laki di televisi.
"Sepertinya kamu sudah mulai kumat, Sayang," ucap Candra sembari menurunkan tangannya dan kembali melanjutkan memotong cabai.
Azila kembali memotong daging ayam, "Kamu tahu? Semenjak nikah sama kamu, aku mulai gila," ucap Azila.
"Hah? Kok bisa gila? Perasaan, aku bukan tempat penampungan orang sakit jiwa, deh, Yang," balas Candra.
"Iya, sih ... tapi, aku jadi gila gara-gara wajah tampanmu yang bikin hatiku jadi adem ayem," ucap Azila, "Apalagi kalau kamu lagi goyang di ranjang, sshhh, bikin aku melayang sampai lupa daratan," lanjut Azila sambil menyenggol lengan Candra.
Mendengar ucapan Azila, wajah Candra tiba-tiba memerah karena mendapatkan gombalan dari istrinya, "Sayang, suruh pelayan aja yang lanjutin masaknya, ya, kita ke kamar aja," ucap Candra sembari menaruh pisaunya lalu memeluk Azila dari samping.
"Apaan, sih, Yang. Tadi katanya laper minta dimasakin? Sekarang kok malah ngajak ke kamar," ucap Azila.
"Salah kamu, sih," balas Candra sambil meletakkan dagunya di pundak Azila.
"Kok malah aku yang disalahin?" tanya Azila.
"Siapa suruh kamu godain aku, sekarang aku jadi pengen goyang kamu beneran, nih, di ranjang," ucap Candra sedikit berbisik.
"Goyang sama guling sana, aku lagi males, lagian aku juga capek habis jalan lama di mall," balas Azila.
"Masa enak, Yang, kalau main sama guling," keluh Candra.
"Ya udah, pakai tanganmu sendiri aja kayak kamu sebelum nikah sama aku," balas Azila sembari tertawa.
Azila mencubit kedua pipi Candra, "Semua laki-laki pasti pernah begituan, kalau nggak pernah begituan, berarti dia nggak normal," ucap Azila.
"Kata siapa kamu? Jangan sok tahu," ucap Candra.
"Kata Dokter Boyke," jawab
Candra terkekeh, "Kamu lihat di acara televisi malam-malam, itu, kan?" tanya Candra. Azila mengangguk.
"Sudahlah, ayo kita ke kamar aja, melayani suami lebih penting," ucap Candra sembari kembali memeluk Azila.
"Awas, Yang. Tanganku masih kotor sama amis, nih," ucap Azila sambil menunjukkan tangannya.
"Ya udah, cepat cuci tangan terus kita ke kamar," balas Candra.
"Apaan, sih, Yang. Nggak ah, aku nggak mau, kemarin lusa kan udah ku kasih jatah," tolak Azila.
"Udah pengen lagi," ucap Candra dengan begitu manja.
"Aku capek, Yang. Jangan bikin aku emosi, lah, kamu nggak lihat aku lagi hamil besar," balas Azila. Candra diam dan melepaskan pelukannya lalu kembali melakukan tugasnya untuk memotong-motong cabai dan lainnya.
Azila merasa tidak enak karena sudah menolak keinginan suaminya padahal dia yang menggoda Candra lebih dulu, tetapi sekarang dia benar-benar capek. Azila cepat-cepat menyelesaikan memotong ayam dan segera mencuci tangannya.
Sejak tadi suasana jadi hening, Candra tidak sekalipun menoleh ataupun sekedar melirik Azila, para lelaki pasti tahu bagaimana sulitnya menahan nafsu yang sudah ingin segera disalurkan tetapi tidak ada medianya.
Setelah mencuci tangannya, Azila memeluk Candra dari samping dan berpindah ke depan Candra, dia membenamkan wajahnya di dada Candra sambil begitu erat memeluk suaminya itu.
"Kenapa tiba-tiba kamu jadi manja gini, Sayang?" tanya Candra yang masih sibuk memotong.
"Maafin aku, ya, Yang. Bukannya aku nolak, tapi aku bener-bener capek banget hari, ini," jawab Azila.
Candra tersenyum lalu mengecup pucuk kepala Azila, "Iya, Sayang. Aku ngerti, kok, sama kondisimu yang gampang capek, tadi aku hanya berusaha bernego biar kamu mau, kalau kamu nggak mau, ya, nggak apa-apa," balas Candra sembari menghentikan aktivitasnya dan membalas pelukan Azila.
Azila menatap wajah tampan Candra, "Kamu jangan marah, ya, Sayang. Besok deh aku kasih kamu jatah kalau mau," ucap Azila sambil menggunakan puppy eyes dan sesekali mengedipkan matanya.
"Kamu jangan menggodaku lagi, Sayang. Imanku akan melemah jika melihatmu seperti, ini," ucap Candra. Azila tak peduli lagi, kalaupun sekarang Candra memaksanya untuk melayaninya, Azila tidak akan menolak, itung-itung melayani suami juga mendapat pahala yang tidak sedikit dan yang paling penting adalah Candra tidak marah padanya.
Benar saja, saat ini iman Candra sudah melemah. Candra langsung menyambar bibir Azila dan memberikan ciuman panas. Azila tidak mau suaminya bekerja sendirian, dia membalas ciuman Candra dengan lebih ganas.
Ketika ciuman mereka semakin panas, Candra meraih wajah Azila dan melepaskan ciumannya, "Sudah, ya, Sayang. Aku lapar banget, kita lanjut besok aja, ya," ucap Candra sambil mengontrol napasnya yang seperti habis lari dikejar kuntilanak.
Azila yang masih ngos-ngosan mengangguk dan tersenyum sambil mengatur napasnya, "Ya sudah, kita lanjut masaknya," ajak Candra sambil melepaskan pelukan Azila dan Azila mengangguk mengiyakan ajakan suaminya.
Sepasang suami istri itu melanjutkan acara masak mereka dengan penuh canda tawa dan menabur cinta ke dalam setiap masakan. Tidak jauh dari dapur, Bunda Putri dan Ayah Yoga tertawa cekikikan melihat aksi yang tidak tepat pada tempatnya.
Ku ingatkan lagi, jangan lupa tekan likenya oke.