My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Apa Maksudnya



Ketika Candra sudah selesai membungkus kedua tangannya, Candra kembali melihat Dava yang ternyata sudah berdiri di depannya sambil tersenyum menyeringai.


"Oh, shit!" ucap Candra ketika melihat di kedua tangan Dava sudah ada dua pisau lagi.


Candra berlari menuju pintu untuk turun. Namun, belum jauh dia berlari kakinya sudah tertusuk pisau yang dilempar Dava. Candra berusaha kembali berlari dengan kakinya yang pincang satu. Dava menyeringai melihat Candra yang melompat-lompat ke arah pintu.


Dava sengaja membiarkan Candra berlari dengan satu kaki dan dia terus saja tertawa ketika terdengar erangan Candra yang menahan rasa sakit. Candra yang berhasil sampai di pintu keluar, dia langsung menuruni tangga ke lantai di bawah roof top, di sana ada tempat santai seperti kantin. Namun, tempat itu khusus untuk para petinggi perusahaan dan partner kerja.


Setelah berhasil sampai di kantin, Candra segera berlari dengan kakinya yang pincang sebelah ke lift yang ada di seberang. Sebelum pintu lift tertutup sempurna, terlihat Dava yang sudah berdiri tidak jauh dari lift tersenyum ke Candra. Tiba-tiba.


Tangg!


Pisau yang dibawa Dava telah melesat melewati celah pintu lift sebelum tertutup sempurna. Candra yang tadi menutup matanya kini perlahan membuka matanya, dia tersenyum karena tidak terjadi apa-apa, dia kira pisau tadi sudah tertahan pintu lift yang sudah tertutup lebih dulu.


Ketika Candra menoleh ke kanan, alangkah terkejutnya dia saat mendapati pisau yang dilempar Dava tadi menancap di dinding, tepat di samping telinga kanan Candra. Saking terkejutnya dia, keringat dingin sebesar biji jagung pun muncul di keningnya, bahkan sesaat tadi dia dengan susah payah untuk menelan ludahnya sendiri.


"Apa-apaan dengan anak, itu? Kenapa tiba-tiba dia jadi aneh seperti, ini," gumam Candra yang masih berada di lift.


Di dalam lift Candra duduk menyandar ke dinding lift, perlahan dia menarik pisau yang tertancap di betis kirinya. Candra turun satu lantai menuju lantai di mana ruangannya berada, tepatnya di lantai 31.


Setelah pintunya terbuka dia langsung berlari sekuat-kuatnya dengan hanya memakai satu kaki. Sesampainya di dalam ruangannya, Candra segera menguncinya dan berjalan ke sofa yang ada di sana.


Candra membuka tangannya yang terbungkus jas dan sapu tangan. Jas dan sapu tangannya sudah terlumuri darahnya yang tidak mau berhenti mengalir karena lukanya terlalu besar.


Candra mencoba tenang menghadapi keadaannya yang kacau ini, dia perlahan berdiri lalu mengambil kotak P3K yang berada di dekat pintu.


"Auuh!" Candra merintih ketika tangannya terasa nyeri karena tidak kuat mengangkat kotak P3K.


Tek tek tek


Di saat Candra masih berusaha mengangkat kotak P3K, dia mendengar langkah kaki dari luar yang semakin jelas. Suara dari sepatu pantofel yang beradu tubruk dengan lantai menimbulkan bunyi yang membuat napas Candra mulai tidak karuan.


Suara langkah itu semakin dekat dan semakin jelas ia dengar, tapi tiba-tiba suara langkah kaki itu lenyap seperti tertelan bumi dan suasana jadi hening. Candra yang merasa keadaan sudah aman kembali mencoba mengangkat kotak P3K dengan kedua tangannya.


"Huh, berhasil," gumam Candra dengan sedikit senyuman di bibirnya.


Di saat Candra hendak kembali ke sofa dan baru melangkah sekali, tiba-tiba.


Dakk!


Pintu ruangan Candra di dobrak oleh seseorang dan itu pastilah Dava. Karena suara dobrakan Dava membuat Candra terkejut, secara reflek Candra menjatuhkan kotak P3K itu dan menimbulkan suara yang cukup keras.


"Aku tau kau ada di dalam sana Pak Candra Wibawa," ucap Dava dengan suara lumayan keras.


Karena sudah ketahuan dan menjadi panik, Candra meninggalkan kotak P3K itu di lantai lalu berlari ke dekat jendela dan bersembunyi di balik gorden besar berwarna biru gelap.


"Tunggu aku, aku akan segera masuk, jangan kemana-mana, ya, Pak," ucap Dava dengan bibirnya yang terus tersenyum.


Dakk! Daakk! Dakk!


Dava terus mendobrak pintu dengan menendangnya. Candra tetap diam di balik gorden dan mencoba untuk tenang sekaligus memikirkan rencana agar bisa keluar dari gedung kantor.


Braakk!


Pintu berhasil dibuka paksa oleh Dava, dia berjalan masuk sambil bersiul dan memainkan satu pisau di tangan kanannya.


"Candraa, di mana kamu," ucap Dava dengan lembut.


Candra yang mencoba tenang jadi ketakutan lagi, kepalanya pun mulai pusing karena darahnya terus keluar. Dava melihat lantai yang banyak tercecer darah menuju suatu tempat.


"Aku tau kau sembunyi di mana," ucap Dava sambil berjalan mendekat ke arah gorden.


Ketika Dava sudah dekat dengan gorden, dia mulai menyingkap gordennya menggunakan pisau di tangannya. Candra sudah bersiap-siap di balik gorden, ketika pisau yang dipegang Dava semakin dekat dengannya, dengan cepat dia mencengkram pergelangan tangan Dava lalu merebut pisau dari tangan Dava, setelah itu dia menendang perut Dava hingga Dava termundur dan jatuh ke lantai.


"Jangan gila, Dava. Perbuatanmu, ini, sudah kelewatan," ucap Candra dengan posisi siap menikam.


Mendengar ucapan Candra, Dava malah tertawa terbahak-bahak di lantai sambil memegangi perutnya dan memukul-mukul lantai.


"Jangan mendekat, Dava! Aku benar-benar tidak akan segan-segan untuk melakukannya," ucap Candra dengan posisi siap menyerang.


Tapi Candra sedikit ragu dan membuatnya berjalan mundur dengan sendirinya. Dava semakin mendekat dan terus tersenyum ke Candra.


"Apa aku ini gila?" tanya Dava lagi yang kini sudah berjarak kurang dari satu meter dengan Candra.


"Dava ... please. Jangan berbuat lebih jauh lagi, Dava," ucap Candra dengan tubuh yang sudah gemetar menahan rasa nyeri di kakinya dan di kedua tangannya.


Tiba-tiba dengan cepat Dava kembali merebut pisaunya dari tangan Candra. Bibir Dava tersenyum menyeringai dan tatapan yang begitu menyeramkan.


"Mati kau!" teriak Dava sambil menusuk ke dada Candra.


Keehhk


Seketika kepala Candra menjadi pusing dan pandangan matanya mulai kabur.


"Tuan, tuan, tuan," panggil Pak Suryo sambil menggoyang-goyangkan tubuh Candra.


Aargghh!


Candra berteriak sambil memegang dada kirinya. Napasnya tersengal-sengal layaknya orang kehabisan oksigen. Keringat bercucuran seperti hujan deras yang membasahi tubuhnya.


"Tuan, tuan kenapa?" ucap Pak Nyu sambil menggoyang-goyangkan lengan Candra.


"Junior, ambilkan minum! Sepertinya Tuan Candra habis mimpi buruk," perintah Pak Suryo.


Pak Nyu segera melaksanakan perintah seniornya, dia mengambil segelas air lalu kembali ke Candra dan Pak Suryo berada.


"Ini, senior," ucap Pak Nyu sambil memberikan segelas air.


"Tuan, minumlah dulu," ucap Pak Suryo sembari mendekatkan gelas tadi ke bibir Candra.


Secara naluri Candra meminum air pemberian Pak Suryo. Dalam sekali tenggak air satu gelas tadi langsung habis dan napas Candra mulai teratur.


"I-ini, ini di mana?" tanya Candra.


"Ini di ruangan meeting, Tuan. Setelah selesai meeting sore tadi, sepertinya anda ketiduran di sini," jawab Pak Suryo.


Mendengar itu Candra langsung berdiri dan mengecek kedua tangannya lalu betis kirinya dan juga mengecek dada kirinya.


"Huft, ternyata cuma mimpi," gumam Candra sembari duduk kembali.


"Anda kenapa, Tuan? Apa anda habis mimpi buruk?" tanya Pak Suryo.


"Ya, bisa dibilang begitu," jawab Candra sambil membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.


"Apa anda butuh sesuatu, Tuan?" tanya Pak Nyu.


"Jam berapa sekarang?" ucap Candra sambil kembali duduk tegak.


"Setengah 10 malam, Tuan," jawab Pak Nyu.


"Sudah larut, ya," gumam Candra, "Kita pulang sekarang," ucap Candra sembari beranjak dari duduknya.


Ketika Candra melangkah, tiba-tiba tubuhnya terasa tak bertenaga dan mulai sempoyongan. Dengan sigap Pak Suryo dan Pak Nyu menahan tubuh Candra agar tidak jatuh.


"Apa anda baik-baik saja, Tuan?" tanya Pak Suryo.


"Ya, aku baik-baik saja. Mungkin aku masih terlalu capek, dan ngantuk," jawab Candra.


"Baiklah, mari saya bantu anda ke mobil, Tuan," ucap Pak Suryo sembari mengalungkan tangan Candra ke lehernya lalu membantu majikannya untuk berjalan menuju mobil.


Di dalam mobil Candra merenung, "Apa maksudnya mimpi, itu? Dan kenapa aku mendapatkan mimpi, itu?" batin Candra.


Jangan lupa like dan komen. Beri author dukungan untuk lebih rajin update terus.