
"Kenapa Kakak bisa peluk pacar orang sih? Jadi bonyok kan sekarang," ucap Eldar yang memarahi Candra. "Makanya, kalau di ajak pulang buat makan itu di dengerin, jangan sok kuat. Cari orang hilang juga butuh tenaga," lanjut Eldar yang memarahi Candra seperti Emak-emak Indonesia.
"Sudahlah, Eldar. Kakak baru aja ditonjok orang, bukannya diperhatiin malah diomelin," balas Candra sambil memegang pelan wajahnya yang kena tonjok.
"Itu namanya perhatian, Kakak. Bukan omelan," bantah Eldar sambil melotot ke Candra.
"Iya, Mak. Iya, Candra yang salah," balas Candra sambil menahan tawanya.
"Berani ngejek aku ya, sekarang. Rasain nih!" Seru Eldar mencubit perut samping Candra.
"Aduuh, sakit bodoh!" Teriak Candra yang kesakitan akibat cubitan Eldar.
"I don't care," balas Eldar sambil terus mencubiti tubuh Candra.
Pak Ujang yang mendengar percakapan mereka sesekali melirik Candra dan Eldar lewat spion, Pak Ujang senyum-senyum sendiri melihat tingkah lucu kedua majikannya itu.
"Pak Ujang udah gila, ya? Kok senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Eldar yang melihat Pak Ujang terus tersenyum lewat spion
"Enggak, Non. Pak Ujang lagi bahagia aja," jawab Pak Ujang sambil melihat pantulan Eldar dari spion.
"Jangan dilawan, Pak. Ngomong sama orang yang kepintarannya di atas rata-rata itu susah," celetuk Candra sambil melirik Eldar.
"Kakak ngatain aku bodoh? Iya?" Tanya Eldar yang merasa disindir.
"Kakak nggak bilang kalau kamu bodoh, justru kamu sendiri yang bilang begitu," jawab Candra sambil menahan tawanya.
"Hiiihh," geram kesal Eldar yang gemes ingin memukul Candra.
Pak Ujang dan Candra terus menahan tawa mereka karena melihat wajah gemes Eldar yang tidak bisa melampiaskan kekesalannya.
≈≈≈
Mobil yang membawa Candra dan Eldar sudah sampai di depan teras rumah keluarga Wibawa, mereka berdua turun dari mobil dan berjalan berdampingan masuk ke dalam rumah. Para pelayan yang melihat pakaian Candra, mereka semua merasa lucu dan menahan tawa di mulut mereka.
"Tante," sapa Eldar yang melihat Bunda Putri sedang menemani Dara belajar.
"Oh, kalian udah pulang," jawab Bunda Putri, "Azila mana?" Lanjut tanya Bunda Putri sambil menatap lekat Candra.
"Kakak Ipar kabur, Tan," celetuk Eldar tanpa pikir panjang.
"Kok bisa? Kenapa bisa kabur? Bukannya tadi sama kalian di rumah sakit? Apa yang sudah kalian lakukan padanya? Lalu kenapa wajah Candra bisa jadi seperti itu?" Ucap Bunda Putri yang menyerbu Candra dan Eldar dengan banyak pertanyaan.
"Zila marah karena Candra membohonginya, Bun," jawab Candra sambil menundukkan kepalanya.
"Kakak Ipar juga berpikir kalau Kak Candra selingkuh sama Eldar, Tan," ucap Eldar menambahi jawaban Candra.
Bunda Putri teringat saat sebelum Azila pingsan di rumah sakit. Secara tidak langsung, Bunda Putri juga terlibat dalam penyebab kemarahan Azila, tapi itu semua juga suruhan Candra.
"Dara, kamu lanjut belajar di kamar ya, Sayang. Bunda mau bicara dulu sama Kakakmu," perintah Bunda Putri dengan suara lembut.
"Oke, Bunda," jawab Dara sembari mengemas buku dan alat tulisnya, lalu beranjak pergi dari ruang keluarga.
Setelah Dara pergi, Bunda Putri menatap 2 orang yang masih berdiri di samping sofa tempat Bunda Putri duduk.
"Kalian berdua duduklah," suruh Bunda Putri ke Candra dan Eldar, lalu mereka berdua duduk di samping Bunda Putri.
"Bunda kan sudah bilang padamu, Candra. Jelaskan semuanya dan jangan ada yang kamu ditutupi," kata Bunda Putri.
"Gimana mau jelasin, Bun. Zila udah marah-marah terus dan nggak mau dengerin Candra sama sekali, Bun," jawab Candra.
"Terus kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri? Apa kamu lupa kalau dia sedang hamil?" Tanya Bunda Putri lagi.
"Candra kehilangan jejaknya pas turun dari lift, Bun. Candra juga udah cari-cari sampai sekarang juga masih belum ketemu," jelas Candra ke Bundanya.
Candra diam dan menundukkan wajahnya, dia merasa malu untuk menceritakan kejadiannya ke Bunda Putri. Eldar melirik Candra yang menunduk, lalu senyum licik terukir di bibirnya.
"Habis ditonjok orang, Tan," celetuk Eldar yang membuat Candra mengangkat kepalanya dan menatap Eldar.
"Kok bisa? apa orang itu tidak tahu siapa Candra?" Tanya Bunda Putri yang geram.
Candra melotot ke arah Eldar, mata Candra seperti mengisyaratkan untuk Eldar tidak memberitahu Bunda Putri, tetapi senyum seringai terjiplak di wajah Eldar.
"Kak Candra ngambil pacar orang, Tan," jawab Eldar dan Candra kembali menundukkan kepalanya.
"Maksudnya?" Tanya Bunda Putri yang tidak mengerti.
"Jadi gini, Tan. Pas kita lagi mencari Kakak Ipar, Kak Candra salah peluk orang, Tan. Kak Candra kira wanita itu adalah Kakak Ipar dan ternyata bukan, terus pacar si wanita ini dan Kak Candra langsung ditonjok deh sama pacarnya. Begitu, Tan. Ceritanya," ucap Eldar yang menceritakan semuanya.
"Kamu ini ada-ada aja, Cand," kata Bunda Putri, "Apa kalian sudah mencoba menghubungi ponselnya?" Lanjut Bunda Putri.
"Karena terlalu panik, Candra sampai lupa kalau ponsel Candra ketinggalan di rumah sakit, Bun," jawab Candra.
"Oh, iya, Eldar juga jadi lupa lagi," sahut Eldar sambil menepuk jidatnya.
"Kalian ini," keluh Bunda Putri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tan, rendang Eldar dimana? Eldar laper banget, Tan. Belum makan sejak landing tadi pagi," ucap Eldar sambil mengelus perutnya.
"Kalian belum makan?" Tanya Bunda Putri, lalu dijawab gelengan kepala oleh Candra dan Eldar.
"Ya sudah, kalian mandi dulu, Bunda hangatkan rendang buat kalian," ucap Bunda Putri yang dijawab anggukan oleh Candra dan Eldar.
≈≈≈
"Bun, Candra pergi cari Zila dulu ya," pamit Candra pada Bundanya setelah nasi di piringnya habis.
"Kamu mau cari kemana?" Tanya Bunda Putri yang menemani Candra dan Eldar makan.
"Kemana aja, Bun," jawab Candra.
"Apa kamu sudah mencari ke rumah Mamahnya?" Tanya Bunda Putri.
"Oh, iya, kenapa aku nggak kepikiran kesana tadi," ucap Candra.
"Kalau Kakak Ipar nggak ada di rumah Mamahnya gimana? Apa yang bakal Kakak katakan pada mereka jika tau anaknya hilang?" Ucap Eldar dengan mulut yang masih mengunyah daging rendang.
"Eldar benar juga, apa yang bakal ku katakan sama Mamah Mitha dan Papah Hendri kalau anak mereka ngilang," ucap Candra dalam hatinya.
"Cepat atau lambat mereka juga bakal tahu, jadi Kakak bakal nanggung resikonya," jawab Candra.
"Sebaiknya kamu cepat selesaikan salah paham ini, Nak. Jika terus berlarut-larut, itu tidak akan baik," tutur Bunda Putri.
"Baik, Bun. Candra berangkat dulu," pamit Candra lalu beranjak pergi.
≈≈≈
"Semoga kamu ada di rumah Mamah, Zila. Tunggu aku di sana, aku akan menjemputmu dan menyelesaikan semua salah paham dan kebodohan ku ini," gumam Candra yang mengemudikan mobilnya menuju rumah Mamahnya Azila.
Candra melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai. Di sepanjang perjalanan, hati Candra selalu berdo'a agar Azila baik-baik saja, begitupula dengan calon anaknya.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙