My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Candu



Tiga Minggu telah berlalu sejak kepergian Eldar, dan hari ini adalah hari pernikahan Akbar.


Pagi ini sudah jam tujuh pagi, dan acara pernikahan Akbar akan digelar satu jam lagi. Namun, Candra dan Azila masih terbaring di atas ranjang dengan peluh yang membasahi tubuh polos keduanya


Candra dan Azila saling berpelukan tanpa memikirkan kulit basah mereka. Keduanya hanya diam berbaring sambil terus bertatapan.


Senyum tipis terus melengkung di bibir mereka, ada rasa bahagia yang selalu bersemayam di hati Candra dan Azila saat mereka berdua selalu bersama.


"Sayang, apa kita akan terus seperti, ini?" tanya Candra sambil membelai lembut pipi Azila.


Azila mengangguk pelan sambil tersenyum.


Candra ikut tersenyum saat melihat senyum Azila, "Ayo, bangun. Hari, ini, kita harus menghadiri pernikahan, Akbar," ucap Candra.


Seketika bibir Azila berubah menjadi manyun sambil memalingkan pandangannya.


Jika sudah manyun dan tidak mau menatap lagi, Candra sudah tahu kalau Azila sedang tidak suka akan sesuatu hal.


Candra tahu bagaimana menghadapi Azila yang seperti itu. Candra mulai mendekatkan wajahnya ke pipi Azila, dia mulai mengecup pelan semua bagian pipi Azila. Tidak hanya di situ, kecupan lembut Candra menjelajahi wajah cantik Azila, dari hidung, dahi, bibir manyun yang mulai tersenyum, telinga, leher, dan berakhir dengan pemberian tanda kecil di dada kiri Azila.


Setelah meninggalkan sebuah tato di dada Azila, wajah Candra kembali naik dan menatap lekat wajah Azila. Candra tidak lagi berada di samping Azila, kini dia sudah berada di atas tubuh Azila, "Sayang, ayo bangun, kita akan benar-benar telat datang nanti," lirih Candra di depan wajah Azila yang hanya berjarak dua centimeter.


Azila mengalungkan tangannya ke leher Candra, dengan bibir yang sudah tersenyum sepenuhnya, Azila mengecup lembut bibir Candra, "Aku masih ingin berlama-lama dengan mu seperti, ini, Sayang," ucap Azila setelah bibirnya mendarat di bibir Candra.


Candra menyunggingkan senyumnya, beberapa Minggu ini Azila terus ingin di manja dan selalu memaksa Candra untuk tetap di dekatnya, bahkan setiap hari mereka selalu mandi bersama.


Di pikiran Candra itu adalah hal yang wajar karena ibu hamil suka berubah seratus delapan puluh derajat, tidak hanya perilakunya, tetapi juga tingkat emosinya dan selera makannya.


Setiap hari Candra mengucapkan syukur ke Tuhan karena selama ini Azila tidak pernah mengidam hal-hal yang aneh-aneh.


Selama kehamilan, Azila lebih sering minta di masakin tempe goreng dan tahu goreng oleh Candra.


"Kita setiap hari selalu bersama, Sayang. Kita ke pernikahannya Akbar pun juga bersama-sama," jelas Candra.


Sejenak Azila terdiam, di lubuk hatinya sungguh tidak rela jika ketampanan Candra saat ini akan dinikmati teman-teman sekolahnya dulu. Ia hanya ingin semua yang melekat pada tubuh suaminya itu tidak dinikmati semua orang, entah itu bau parfum ataupun bau keringat.


Azila sangat sadar jika saat ini dia sangat pencemburu dan sangat egois. Bunda Putri juga berkata padanya jika itu wajar saat seorang istri sedang hamil.


"Kamu mau bawa aku, ke mana?" tanya Azila yang sudah ada di gendongan Candra.


"Kita harus segera mandi, atau kita akan telat, dan Akbar akan marah pada kita !" ucap Candra tanpa menatap sang istri.


Tiba-tiba Azila memajukan wajahnya dan menghisap dada Candra dengan kuat, sampai-sampai Candra mendesah dibuatnya.


Tepat di atas tonjolan kecil di dada Candra, terlukis tato berwarna coklat kemerahan, "Kamu sangat nakal, Sayang," ucap Candra yang menghentikan langkahnya.


"Salahmu, kenapa berbicara tanpa menatap wajahku, apa kamu sudah bosan karena aku semakin gendut?" gerutu Azila sambil menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya.


Auuhh....


Azila menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya.


Candra yang panik langsung membawa Azila kembali dan merebahkan tubuh Azila ke ranjang mereka, "Kamu kenapa, Sayang? Ada apa dengan perutmu? Apa tadi aku terlalu keras saat melakukannya? Apa kita perlu ke rumah sakit sekarang?" Candra menyerbu Azila dengan pertanyaan-pertanyaan paniknya.


Mendengar pertanyaan Candra, Azila tersenyum meringis, "Sepertinya, anak kita mengerti apa yang kita bicarakan, Sayang. Dia menendang ku dengan kencang saat aku bilang gendut," ucap Azila dengan senyum bahagianya sambil mengelus perutnya.


Candra sesaat tidak percaya dengan apa yang barusan diucapkan istrinya, dia merasa dibodohi oleh anaknya yang belum lahir.


Candra duduk berjongkok dan mendekatkan wajahnya di depan perut Azila yang mulai membesar, "Ceh, belum lahir saja kamu sudah membuat Papa gemas, Sayang. Papa semakin tidak sabar ingin mendengar tangisan mu, dan menggendong mu," ucap Candra sambil mengelus perut Azila.


"Sudah-sudah, ayo kita mandi. Nanti kita tunjukkan pengantin ke anak kita," ajak Azila sambil berdiri dari ranjang.


Candra mengangguk dan membantu Azila berjalan ke kamar mandi. Setelah setengah jam mereka berdua bersiap-siap, Azila dan Candra sudah berada di dalam mobil yang membawa mereka ke tempat pernikahan Akbar digelar.


Di sepanjang perjalanan, Azila terus bersandar di pelukan Candra, "Pagi, ini, membuat ku candu, Sayang," lirih Azila.


"Bukan cuma kamu saja, aku lebih candu dengan istri tercintaku, ini," balas Candra sambil mengecup kening Azila.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙