
Sepeda motor yang dikendarai Candra terparkir di samping taman. Sepasang suami istri itu terlihat sedang duduk di bangku taman dengan Azila yang menyandarkan kepalanya di bahu Candra.
"Apa tidak masalah kalau kita mampir ke sini dulu?" tanya Azila.
"Memangnya kenapa?" tanya balik Candra.
"Kean sama Lean gimana?" tanya Azila memperjelas.
"Kan ada Bunda sama Ayah, pasti bakal aman terkendali. Jadi, kita bisa lebih lama pacaran," jawab Candra.
"Apa kita nggak terlalu merepotkan mereka?" tanya Azila lagi.
"Bahkan mereka senang kalau kita repotkan terus," jawab Candra.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena ... mereka sangat senang bisa berlama-lama dengan cucu mereka," jawab Candra.
"Em ... kalau begitu ayo cepat pulang," ucap Azila sembari berdiri dari duduknya.
"Kenapa pulang?" tanya Candra.
"Aku nggak mau tidur di sini," jawabnya.
"Siapa yang ngajak tidur di sini?" tanya Candra.
Azila menggelengkan kepalanya, "Tidaka ada," jawabnya sambil sedikit tersenyum.
"Lalu?" Candra jadi bingung.
"Ayah sama Bunda akan lebih senang jika mereka bersama cucu-cucunya sambil makan makanan pesanan mereka," jawab Azila.
"Oh iya ya, kita belum beli martabak sama terang bulannya," ucap Candra sedikit terkejut.
"Nah, itu, inget," ucap Azila, "Ayo cepet, keburu penjualnya tutup," lanjutnya.
"Ya udah ayo," jawab Candra sembari menggandeng tangan Azila lalu berjalan dengan sedikit terburu-buru.
Sesampainya di sepeda motor, Candra memakaikan Azila helm lalu mereka naik dan Candra memacu sepeda motor milik pak Ujang.
≈≈≈≈
"Hah, akhirnya sampai juga di rumah," gumam Candra sembari duduk di sofa ruang keluarga.
"Mau mandi? Biar ku siapin air hangat," ucap Azila menawari.
Candra menoleh menatap Azila, "Mandi berdua?" tanya Candra menggoda Azila.
"Boleh," jawab Azila sambil tersenyum manis.
Candra langsung duduk tegak lalu kembali menatap Azila, "Beneran?" tanyanya. Azila mengangguk.
"Demi apa?" tanya Candra lagi, dia begitu excited mendengar jawaban Azila.
Azila tersenyum melihat reaksi Candra yang begitu kegirangan, dia berniat menggoda Candra yang sudah kesenengan dulu karena dia menyetujui ajakan Candra. Perlahan Azila mengangkat sweaternya ke atas, pelan namun pasti.
Melihat proses terbukanya sweater Azila, Candra kesulitan menelan ludahnya seperti sedang menelan bakso sebesar kepalan tangan bayi setengah tahun. Sebelum sweater Azila terbuka sepenuhnya dan baru sampai di bawah dada, Candra bergerak dengan cepat lalu menarik sweater Azila agar kembali tertutup.
"Ada apa?" tanya Azila sambil menahan senyumnya.
"Jangan gila, Sayang. Ngapain tadi kamu mau buka baju di sini? Kalau ada orang lain yang lihat gimana?" jawab Candra sambil memeluk pinggang Azila agar istrinya tidak nekat seperti tadi.
"Kan di sini perempuan semua, yang laki-laki cuma kamu, Ayah, Pak Ujang, sama Pak Bon," ucap Azila, "Pak Bon udah pulang sore tadi, terus Pak Ujang jaga di depan, terus Ayah lagi di kamar, kan tinggal kamu laki-lakinya," lanjutnya.
"Kan masih ada pelayan-pelayan, Sayang," ucap Candra.
"Mereka semua perempuan, Sayang. Ngapain aku malu kalau sama perempuan," jawab Azila.
"Aku nggak mau orang lain lihat bentuk tubuhmu, entah, itu, laki-laki maupun perempuan," ucap Candra, "Yang boleh lihat sama ngerasain cuma aku seorang," lanjutnya sembari mendudukkan Azila di atas pangkuannya.
"Mau ngapain?" tanya Azila.
"Mau main sebentar di sini," jawab Candra.
Candra tidak menjawab pertanyaan Azila, dia hanya tersenyum sembari membenamkan wajahnya ke leher Azila. Tangan Candra mulai nakal menyusup masuk ke dalam sweater merah muda Azila, dia mulai meraba-raba perut Azila yang masih belum rata seperti dulu.
Paakk
Azila memukul tangan Candra yang sengaja menyundul-nyundul buah dadanya, "Tangan jangan nakal," ucap Azila sambil menarik keluar tangan Candra dari dalam sweaternya.
"Sedikit," rengek Candra.
"E em," jawab Azila sambil menggoyangkan jari telunjuk kanannya ke kanan dan ke kiri.
"Pelit amat jadi istri," gerutu Candra sambil melepas pelukannya lalu bersandar ke sofa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Udah ah, jangan kayak anak kecil gitu," ucap Azila sembari berdiri dan membenarkan sweaternya.
"Aku mau ke kamar dulu, kamu mau ku siapin air hangat nggak?" tanya Azila sambil mengambil martabak dan terang bulan pesanan kedua mertuanya.
"Ya," jawab ketus Candra.
"Hm." Azila menghembuskan napas pasrah karena Candra jadi badmood.
Azila beranjak pergi ke kamarnya yang ada di samping tangga, dia sedikit kepikiran dengan Candra yang memang belum mendapat perhatiannya selama dua bulan lebih, dia lebih fokus mengurus kedua anaknya saja.
"Yah, Bun," panggil pelan Azila.
"Mama cudah pulang yeee," ucap Ayah Yoga menirukan suara anak kecil.
"Loh, Kean kok bangun lagi, kangen Mama, ya?" ucap Azila sembari meletakkan kantong kresek berisi pesanan Ayah Yoga dan Bunda Putri.
"Tadi pas tidur digangguin sama Dara, jadi kebangun," ucap Bunda Putri, "Untungnya Kean pinter nggak nangis," lanjutnya.
"Cini-cini digendong sama Mama," ucap Azila sembari mengambil alih Kean dari gendongan kakeknya.
"Dibangunin sama Tante Dara, ya? Tante Dara emang nakal, ya, biar besok Mama pukul kalau ganggu Kean lagi, oke," ucap Azila yang mencoba menghibur dan bermain dengan Kean.
"Candra mana?" tanya Ayah Yoga.
"Lagi duduk di ruang keluarga, Yah. Kecapekan katanya," jawab Azila.
"Suruh tidur aja! Besok ada meeting sama klien luar negeri," ucap Ayah Yoga.
"Iya, Yah," jawab Azila, "Bun, bisa tolong gendong Kean dulu? Zila mau nyiapin air hangat buat Candra berendam," ucap Azila.
"Iya, sini, biar Bunda yang gendong Kean," jawab Bunda Putri.
"Makasih, ya, Bun," ucap Azila. Bunda Putri tersenyum.
"Kalau begitu Ayah balik dulu ke kamar," ucap Ayah Yoga.
"Iya, Yah. Jangan lupa martabak sama terang bulannya dibawa, nanti kalau ketinggalan bisa habis dimakan kucing berambut hitam," ucap Azila sambil tertawa kecil.
"Emang ada kucing makan martabak," jawab Ayah Yoga sambil membawa kresek berisi pesanannya dan pesanan Bunda Putri.
Azila pergi ke kamar mandi untuk mengisi bathub dengan air hangat, mungkin setelah berendam nanti mood Candra bakal balik lagi.
"Zila mana, Bun?" tanya Candra yang baru masuk ke kamar.
"Di kamar mandi, lagi nyiapin air hangat buat kamu," jawab Bunda Putri sambil menimang-nimang Kean yang mulai ngantuk lagi.
Candra melepas jaketnya dan melemparkannya ke sofa yang ada di kamarnya, setelah itu dia berjalan masuk ke kamar mandi. Di sana dia melihat Azila yang sedang duduk berjongkok di samping bathub sambil tangannya bermain air yang belum memenuhi bathub.
Azila tidak menyadari kedatangan Candra karena posisi duduknya membelakangi pintu. Candra sudah tidak cemberut lagi karena belum bisa mendapat kebutuhan biologisnya, dia mencoba mengerti dan terus bersabar menunggu kesiapan Azila.
"Kamu ngelamun apa?" tanya Candra.
Azila terkejut hingga pantatnya menyentuh lantai kamar mandi, bukan hanya karena suara Candra yang membuatnya terkejut, tapi Candra tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Iih! Ngagetin aja sih, jadi jatuh kan," gerutu Azila.
"Lebay amat, orang lantainya kering juga," ucap Candra sambil berdiri dan membantu Azila untuk berdiri.
Jangan lupa like ya guys. Jangan keasyikan baca terus lupa ga ngelike. Udah itu aja, makasih.