My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Menenangkan diri



Di sepanjang perjalanan, Azila hanya diam dan sesekali berbicara saat menunjukkan kalau akan berbelok, dia terus menatap ke arah luar jendela dengan mata sembabnya.


"Berhenti di rumah depan itu, Pak," ucap Azila ke Pak supir taksi.


"Iya, Mbak," jawab Pak supir taksi.


Taksi yang ditumpangi Azila berhenti di depan rumah besar dengan dinding pagar bertuliskan Yudistira.


"Berapa, Pak?" Tanya Azila.


"164 ribu, Mbak," jawab Pak supir taksi.


Azila membuka tas yang dia bawa lalu mengambil 2 lembar uang 100 ribuan dan memberikannya ke Pak supir taksi, "Ini, Pak. Kembaliannya ambil aja," ucap Azila sambil menyodorkan uang 200 ribu yang ada di tangannya.


"Terima kasih, Mbak," balas Pak supir taksi.


Azila turun dari taksi dan berjalan ke gerbang rumah keluarga Yudistira, dok.. dok.. dok.. suara gerbang yang diketuk Azila, tak lama berselang Mang Asep membuka pintu kecil yang ada di ujung gerbang.


"Lho? Non Azila kesini sama siapa?" Tanya Mang Asep.


"Sendiri, Mang. Tadi kesini naik taksi," jawab Azila.


"Oh, mari, Non," balas Mang Asep, lalu mempersilahkan Azila masuk.


"Mamah ada, Mang?" Tanya Azila yang sudah berada di depan pos satpam.


"Ada, Non. Nyonya baru aja pulang jemput Den Yasa," jawab Mang Asep yang baru selesai mengunci pintu kecil di gerbang.


"Oh, ya sudah, Mang. Zila masuk dulu ya, Mang," balas Azila sembari berjalan menuju pintu utama rumah keluarga Yudistira.


"Iya, Non," balas Mang Asep.


≈≈≈


Azila menarik nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan sebelum membuka pintu dan masuk ke rumah keluarga Yudistira. Azila melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, saat Azila sampai di ruang keluarga, dia bertemu Mamah Mitha yang sedang menuruni tangga.


"Zila," panggil Mamah Mitha sambil mempercepat langkahnya menuruni tangga.


"Mamah!" Seru Azila yang gembira bisa melihat Mamahnya setelah hampir 3 Minggu tidak bertemu.


"Kamu udah lupa sama Mamah ya?" Tanya Mamah Mitha yang sudah memeluk tubuh Azila.


"Mana mungkin Zila lupa sama Mamah, buktinya sekarang Azila ada di pelukan Mamah," jawab Azila yang berada di pelukan Mamah Mitha.


"Kamu memang paling pintar cari alasan," balas Mamah Mitha sembari mengencangkan pelukannya.


"Mah, jangan kencang-kencang, sekarang Azila bawa dua nyawa," kata Azila yang membuat Mamah Mitha segera melepaskan pelukannya.


"Zila, kamu?" Tanya Mamah Mitha dengan mata yang berbinar-binar dan bibir yang menampakkan kebahagiaan.


Azila melengkungkan bibirnya ke atas sambil mengangguk cepat lalu berkata, "E em."


Mamah Mitha meloncat-loncat kegirangan karena mendapat hadiah yang begitu besar dan sebuah hadiah yang telah sangat lama ia nantikan, Mamah Mitha bersujud syukur di lantai dan sangat berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberinya hadiah. Yasa yang melihat Mamahnya meloncat-loncat dan bersujud di lantai membuatnya penasaran, apa gerangan yang bisa membuat Mamahnya begitu bahagia sampai segitunya.


"Mah, Mamah kenapa? Apa Mamah habis dihukum sama Kak Zila?" Canda Yasa yang baru nimbrung diantara Mamah dan Kakaknya.


"Sembarangan," balas Azila sambil mencubit pipi Yasa.


"Auuh, sakit tauk," ucap Yasa yang kesakitan sambil mengelus pipinya.


"Heh, sudah-sudah," lerai Mamah Mitha, "Kamu mau tau kenapa Mamah sangat bahagia hari ini?" Tanya Mamah Mitha ke Yasa, lalu Yasa menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Kakak kamu sudah hamil, Yasa," jawab Mamah Mitha dengan senyum yang terus terpancar di bibirnya.


Yasa yang mendengar kabar bahagia itu langsung meloncat-loncat dan bersujud ke lantai persis seperti apa Yang dilakukan Mamah Mitha tadi, melihat Yasa yang bersujud di lantai, Mamah Mitha langsung ikut sujud lagi di lantai samping Yasa.


"Hei, hei, kenapa kalian samaan kayak gitu sih? Udah seperti Ibu dan Anak aja kalian itu," canda Azila sambil menahan tawanya.


Yasa dan Mamah Mitha kembali berdiri dan menatap tajam ke Azila. "Oy, jangan menatap ku seperti itu, aku jadi merinding karena tatapan kalian," ujar Azila.


"Maaf, Sayang. Mamah lupa," jawab Mamah Mitha.


"Ye lah tu," balas Azila sambil memutar bola matanya.


"Kak, apa aku bakal jadi paman?" Tanya Yasa pada Kakaknya.


"Bukan paman, tapi om-om," canda Azila yang mengejek Yasa.


"Om-om ganteng? Boleh juga," balas Yasa sambil berpose bak model profesional.


"Idih, sok kegantengan banget," ejek Azila.


"Emang ganteng, wlee," balas Yasa.


"Sudah-sudah, jangan berdebat di depan Mamah," lerai Mamah Mitha.


"Oh ya, Zila. Candra mana?" Tanya Mamah Mitha yang baru sadar kalau dia tidak melihat Candra bersama Azila.


Mendengar pertanyaan Mamahnya, wajah Azila berubah menjadi dingin dan seakan ingin meluapkan amarah, Azila yang awalnya ceria kini berubah menjadi murung dan tidak ingin menanggapi pertanyaan Mamah Mitha. "Zila capek, Mah. Zila ke kamar dulu," jawab Azila yang berlalu pergi meninggalkan Mamah Mitha dan Yasa.


"Kak Zila kenapa, Mah?" Tanya Yasa ke Mamahnya.


"Mamah juga enggak tahu," jawab Mamah Mitha sambil mengangkat kedua bahunya, "Kamu bilang ke Bibik untuk buatin jus alpukat lalu suruh antar ke kamar Kak Azila ya, Mamah mau nyusul Kakakmu dulu," perintah Mamah Mitha ke Yasa.


"Kenapa jadi Yasa sih Mah yang disuruh? Yasa mau pergi futsal sama temen-temen," jawab Yasa sambil manyun.


"Jangan banyak membantah, cepat sana suruh Bibik buatin jus alpukat dan suruh antar ke kamar Kakakmu," balas ketus Mamah Mitha dan berlalu pergi menyusul Azila ke kamar.


"Iya-iya," jawab Yasa sembari berjalan ke dapur.


≈≈≈


Mamah Mitha masuk ke kamar Azila yang tidak dikunci, dia melihat Azila sedang duduk di sofa dekat balkon sambil memeluk kedua lututnya. Mamah Mitha menghampiri Azila dan duduk di sampingnya, Azila yang menyadari kalau Mamahnya duduk disampingnya, segera ia menurunkan kakinya.


"Ada apa, Mah?" Tanya Azila.


"Kamu ada masalah ya sama Candra?" Tanya balik Mamah Mitha.


Azila menjawab dengan menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


"Sini, Mamah peluk," ujar Mamah Mitha sambil merentangkan tangannya, lalu Azila langsung memeluk Mamahnya.


"Apa kamu tidak ingin cerita ke Mamah, Sayang?" Tanya Mamah Mitha sambil mengelus kepala Azila.


"Candra sudah membohongi Zila, Mah. Dia juga selingkuh dibelakang Zila, padahal Zila selalu ada buat dia dan Zila sudah melakukan semua yang terbaik buat Candra, tapi kenapa Candra membalas Zila dengan begitu kejam, Mah. Kenapa?" Ungkap Azila yang sudah menangis di pelukan Mamahnya.


"Tenanglah, Zila. Semua masalah pasti ada sebab dan akan ada solusinya," jelas Mamah Mitha. "Apa kamu sudah berbicara dengan Candra?" Tanya Mamah Mitha.


Azila menggelengkan kepalanya dan berkata, "Zila enggak mau bicara dulu Mah sama Candra, Zila pengen nenangin diri dulu."


"Baiklah, kamu tanangin dirimu dulu, nanti kalau sudah tenang kamu coba bicara baik-baik sama Candra," balas Mamah Mitha.


"Iya, Mah," jawab Azila. "Oh, iya, Mah. Kalau Candra kesini, bilang aja kalau Zila lagi enggak mau bicara dan jangan ganggu Zila dulu," lanjut Azila.


"Iya, Sayang," jawab Mamah Mitha. "Zila, nanti Bibik bakal antar jus alpukat kesini, kamu minum ya, Sayang. Biar dedek bayinya sehat," lanjut Mamah Mitha.


"Kenapa cuma jus alpukat, Mah? Zila juga laper kali," jawab Azila sambil memegangi perutnya.


"Kamu belum makan? Udah jam berapa ini, Zila. Ya sudah, tunggu di sini, Mamah ambilkan makan siang buatmu," balas Mamah Mitha sembari beranjak untuk mengambilkan makan siang Azila.


"Siap, Mah. Makasih," jawab Azila dengan senyum di bibirnya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙