My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Masalah besar



Tok tok tok.


Candra mengetuk Kaca pintu mobil Papah Hendri, lalu Papah Hendri membuka sedikit kaca pintu mobil di sebelahnya, "Masuk," ucap Papah Hendri yang langsung menutup kaca mobilnya.


Candra yang merasa heran dan sedikit merasa takut, langsung mematuhi omongan mertuanya, dia masuk dan duduk di sebelah kursi Papah Hendri. Pak supir langsung menjalankan mobilnya menuju kantor Papah Hendri. Di dalam perjalanan, Candra dan Papah Hendri masih terus berdiam diri dan tidak ada perbincangan apapun, Candra yang sudah takut sejak awal, kini semakin takut karena Papah Hendri hanya diam saja.


"Candra," panggil Papah Hendri diantara keheningan mereka.


"I-iya, Pah," jawab Candra menjadi gugup karena takut salah bicara.


"Biasa saja, tidak usah takut dan gugup, tadi Papah hanya pura-pura saja," balas Papah Hendri saat melihat Candra begitu takut dan berhati-hati dalam bicara sejak dari rumah.


"Maksud, Papah?" tanya Candra sambil mengerutkan dahinya.


"Tadi Papah hanya pura-pura marah saja, sebenarnya Papah hanya ingin menguji Kevin dan Nabila, dan Papah tidak mau kalau Nabila mendapatkan orang lemah dan hanya bermodalkan cinta. Yaaa, walaupun Papah tahu kalau Kevin itu anak orang kaya," jelas Papah Hendri yang membuat kerutan di dahi Candra mulai memudar.


"Lalu, kenapa Papah tadi malah menolak, Kevin? Bukankah dia anak orang kaya? Kelihatannya dia juga sangat mencintai Nabila, Pah," tanya Candra lagi dengan rasa penuh penasaran.


"Papah hanya bilang tidak merestui, bukan berarti Papah tidak akan pernah merestui mereka," jawab Papah Hendri.


"Kenapa tadi Papah tidak bilang begitu pada mereka? Kan, kasihan, Pah. Mereka jadi sedih begitu," balas Candra.


"Tenang saja, Papah sudah suruh Nabila buat ngasih tahu ke Kevin kalau besok dia harus datang lagi ke rumah," jelas Papah Hendri.


"Buat apa, Pah? Jangan-jangan Papah mau ngasih tantangan, ya, ke Kevin?" tanya Candra yang mulai mengetahui kemana arah pemikiran mertuanya ini.


"Tuh, pinter. Papah memang tidak salah pilih kamu buat jadi Menantu Papah," ujar Papah Hendri.


"Siapa dulu, Candra gitu loh," ucap Candra yang membanggakan dirinya sendiri sambil memegang kerah bajunya.


"Jangan besar kepala, baru dipuji gitu aja langsung besar kepalamu, ngurus istri aja masih tidak becus."


Jleeeb.


Candra yang sedang membanggakan dirinya, seketika langsung terdiam seperti patung.


"He he, maaf, Pah. Namanya juga masih baru, pasti banyak salah paham dan beda pendapat sedikit," ujar Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Alasan," balas ketus Papah Hendri.


Candra hanya diam saja sambil tersenyum malu akibat perkataan Papah Hendri. Mobil yang membawa Candra dan Papah Hendri kini telah sampai di depan kantor milik Papah Hendri.


"Can, apa kamu tahu banyak tentang Kevin?" tanya Papah Hendri sambil menoleh ke Candra.


"Lumayan, Pah," jawab Candra.


"Apa kamu tahu, Kevin, itu, paling takut sama apa?" tanya Papah Hendri lagi.


"Emm," Candra berpikir sambil memicingkan matanya ke atas dan menopang dagunya dengan tangan kanan.


Candra mengingat-ingat apa saja yang pernah membuat Kevin takut, sejenak setelah berpikir, mata Candra yang memicing ke atas kini berubah membulat lebar, "Pah, Candra tahu, Candra sudah ingat," ucap Candra dengan senyum girangnya.


Candra merubah posisi duduknya lebih menyerong menghadap Papah Candra, "Kevin, itu, paling takut sama anak kucing, Pah," jawan Candra dengan seriusnya.


"Anak kucing, ya, hemm," gumam pelan Papah Hendri yang masih terdengar di telinga Candra.


"Iya, Pah. Anak kucing," sahut pelan Candra dengan begitu yakinnya.


Mata Papah Hendri kembali fokus ke Candra yang ada di depannya, "Ya sudah, sekarang kamu balik pulang, jangan tinggalkan Azila lama-lama," suruh Papah Hendri sebelum dia keluar dari mobil.


Candra sontak menarik kepalanya ke belakang dan mengerutkan dahinya sampai kedua alisnya menyatu, "Apa-apaan, diajak ke sini cuma mau ditanyain, itu, doang? Kenapa nggak di rumah aja, sih, sampai menunda jatah pagi ku pula," umpat Candra yang tidak habis pikir dengan maksud Papah Hendri.


"Oh, ya, Can. Yang tahu semua ini hanya Papah, Mamah, sama kamu aja, dan kamu jangan sampai bocorin semua ini ke Kevin atau Nabila," ucap Papah Hendri yang sudah di luar sambil sedikit membungkukkan badannya agar kepalanya bisa terlihat di kaca pintu mobil yang terbuka.


"Kalau Candra kasih tahu ke Azila, Pah?" tanya Candra sambil menoleh ke Papah Hendri.


"Eem," Papah Hendri berpikir sejenak, "Baiklah, kamu boleh kasih tahu Azila, tapi jika dia membocorkan semua ini ke Nabila dan Kevin, kamu Papah pecat jadi menantu Papah," jawab Papah Hendri dan berlalu pergi masuk ke kantornya.


Gluup.


Candra menelan ludahnya setelah mendengar kata pecat dari Papah Hendri, dia bergidik ngeri melihat kesadisan Papah Hendri, "Vin, semoga besok kamu selamat dari penyiksaan calon mertuamu," ucap Candra dalam hatinya.


"Jalan, Pak," suruh Candra ke Pak supir. Mobil yang membawa Candra sudah mulai berjalan dan keluar dari pelataran gedung kantor Papah Hendri.


≈≈≈


Kini Candra telah sampai di rumah keluarga mertuanya, dia masuk ke dalam rumah dan tidak mendapati seseorang yang dia cari, Candra melihat Nabila sedang duduk di sofa depan TV sambil main HP dengan TV yang masih menyala, bisa dibilang kalau saat ini Nabila lah yang sedang ditonton oleh TV.


"Hai, Nab. Kamu lihat Azila nggak?" tanya Candra yang sudah berdiri di belakang sofa tempat Nabila duduk.


"Mau ngapain? Mau melanjutkan yang tadi pagi?" ucap Nabila yang ngasal namun tepat dengan kenyataannya.


Candra sempat tertegun dengan jawaban yang diberikan Nabila, otak Candra mulai tidak percaya akan kenyataan di keluarga istrinya, "Kenapa keluarga ini sangat menakutkan, Tuhan. Kedua mertuaku sudah sangat menakutkan, istriku juga tidak beda jauh, dan sekarang ditambah anak yang bisa lihat isi otak dan pikiran," keluh Candra dalam hatinya.


Nabila menahan rasa ingin ketawanya karena dia melihat wajah Kakak iparnya yang melamun seperti orang frustrasi di layar ponselnya, "Azila sedang keluar sama Mamah untuk belanja sayuran di komplek, mungkin sebentar lagi akan pulang," ucap Nabila yang membuyarkan lamunan Candra.


"Ah, iya, apa? Tadi kamu bicara apa?" tanya Candra yang gelagapan.


"Azila bentar lagi pulang, dia diajak Mamah belanja di komplek," jawab Nabila dengan tawa yang terus ia tahan.


"Oh, oke, makasih," balas Candra, "Aku balik ke kamar dulu, nanti kalau Azila udah pulang, suruh dia langsung ke kamar, ada masalah besar yang harus cepat diselesaikan," ujar Candra sembari berlalu pergi meninggalkan Nabila.


"Oh, ya, Nab. Good luck buat kamu dan Kevin, berjuanglah untuk meluluhkan hati Papah," teriak Candra saat menaiki anak tangga.


"Terima kasih," balas Nabila dengan teriakan yang keras, lalu Candra melanjutkan langkahnya menuju kamar.


#IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙