My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bisa jadi



Malam kian larut dan jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Di jalan yang sepi, terparkir sebuah mobil Porsche Macan 2.0 berwarna abu-abu, di dalam mobil itu ada seorang laki-laki sedang dirundung kebingungan.


Ya, laki-laki itu adalah Candra, dia sudah tidak tahu harus mencari Azila kemana lagi. Dia menyesali keteledorannya dan sangat membenci hari ini.


Candra menempelkan kepalanya di setir mobil. Dia sangat mengantuk, tapi matanya menolak untuk terpejam. Dia lelah dan ingin menangis, tetapi air matanya tidak mau keluar dari tempatnya.


Otaknya terasa buntu untuk memikirkan di mana Azila berada, hingga dia menyerah dan memaksakan matanya untuk terpejam dan tidur di tepi jalan.


Beberapa saat berlalu dan Candra sudah tertidur dengan mata sembab seperti orang habis menangis, bahkan pipinya juga basah.


Tok ... tok ... tok ....


Kaca mobil Candra diketuk seorang laki-laki berbadan besar, tinggi, tegap, dan sedikit menyeramkan di bagian wajahnya karena kumisnya yang lebat dan tebal.


Tok ... tok ... tok ....


Laki-laki itu kembali mengetuk kaca mobil Candra, dan Candra pun terbangun karena ketukan di kaca mobilnya. Candra menurunkan kaca mobilnya dan matanya menjadi silau karena lampu mobil di samping mobilnya.


"Selamat malam, Pak," sapa laki-laki berkumis tebal yang ternyata adalah seorang polisi yang sedang patroli keliling.


"Iya, Pak. Selamat malam, ada apa, ya?" tanya Candra bingung.


"Apa, Bapak tahu sekarang jam berapa?" tanya Pak polisi. Candra menggeleng dan melihat jam di pergelangan tangannya.


"Jam satu malam lewat, Pak," jawab Candra.


"Nah, berarti sekarang waktunya istirahat di rumah bukan di pinggir jalan, apalagi sepi seperti, ini," ucap Pak polisi, "Bukan apa-apa, Pak. Tapi, takutnya nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pembegalan, perampokan, atau bisa jadi kekerasan," lanjut pak polisi.


"Iya, Pak. Tadi saya ketiduran karena kecapekan mencari istri saya yang pergi dari rumah," jawab Candra.


"Apapun alasannya, Bapak harus tetap hati-hati, dan jaga keselamatan," balas Pak polisi, "Sekarang sangat rawan terjadi tindak kriminal, apalagi malam-malam seperti, ini," lanjut Pak polisi.


"Iya, Pak. Sekali lagi maafkan saya, ya, Pak. Saya janji tidak akan mengulangi hal seperti, ini, lagi," ucap Candra.


"Baik, Pak," balas Pak polisi, "Sebaiknya sekarang bapak pulang dulu ke rumah, lalu istirahat, dan lanjut mencari istri Bapak besok saja," ucap Pak polisi. Candra mengangguk.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak," ucap Pak polisi sembari pergi menuju mobilnya. Candra kembali mengangguk.


Tiba-tiba sebuah pikiran datang setelah melihat tulisan 'Polisi' di mobil sampingnya.


"Pak! Pak! Pak! Tunggu, Pak!" panggil Candra sembari turun dari mobilnya. Pak polisi tadi berhenti sebelum masuk ke mobil tugasnya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak polisi.


Candra berjalan dan berhenti di depan Pak polisi, "Pak, saya mau membuat laporan," ucap Candra.


"Laporan istri yang pergi dari rumah?" tanya Pak polisi dengan sedikit tertawa kecil. Candra membuang napas sedikit kasar.


"Bukan, itu, Pak. Saya mau membuat laporan karena saya merasa sudah dijebak, dan ditipu oleh seseorang, Pak," ucap Candra. Pak polisi mengangguk.


"Kalau begitu, mari ikut saya ke kantor untuk membuat laporan, dan mencari keterangan lebih lanjut," balas Pak polisi.


"Baik, Pak," balas Candra.


Di lain tempat Azila masih belum bisa memejamkan matanya, sudah lebih dari tiga jam dia mencoba untuk tidur. Namun, matanya seakan menolak.


Waktu terus berputar dan berdetak, hingga pukul empat pagi Azila baru bisa terpejam karena terlalu lelah begadang tanpa melakukan aktivitas apapun selain rebahan.


Pagi telah tiba, tepatnya sudah jam tujuh pagi dan Azila masih tertidur pulas. Nenek dan Kakek Azila sudah berbeda di ruang makan, mereka berdua menunggu cucu pertamanya keluar dari kamar. Namun, sudah lama mereka menunggu tak kunjung keluar juga, alhasil Nenek berinisiatif untuk melihat Azila di kamar.


Cklek


Nenek membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Nenek tersenyum melihat Azila masih tidur dengan selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah cantiknya.


"Aih, Nyonya besar dua keluarga memang enak, jam segini masih tidur begitu pulasnya," gumam Nenek, lalu Nenek keluar dari kamar dan tidak mau mengganggu tidur Azila.


Tidak jauh beda dengan Azila. Candra juga masih tertidur pulas, bahkan dia masih memakai sepatu dan baju kerjanya kemarin.


Bunda Putri berniat untuk membangunkan Candra. Walaupun dia masih sangat marah dengan apa yang sudah dilakukan Candra ke menantunya, tetapi dia juga seorang ibu yang harus mengurus anak-anaknya.


Bunda Putri sudah mengetuk beberapa kali pintu kamar Candra. Namun, tak kunjung dibuka oleh penghuninya. Bunda Putri mencoba membuka pintu itu, dan beruntungnya pintu kamar Candra tidak dikunci.


Saat Bunda Putri sudah berada di dalam kamar Candra, bau alkohol menyeruak memenuhi hidung Bunda Putri, sejauh mata Bunda Putri memandang, dia hanya menemukan kamar yang berantakan, lebih tepatnya kamar itu seperti kapal pecah yang terhempas ombak.


Kemarahan mulai menjalar, Bunda Putri berniat untuk memarahi Candra. Namun, hati kecilnya tidak setega tadi malam, sungguh dia tidak kuasa untuk membentak-bentak anak laki-lakinya itu.


Pada akhirnya Bunda Putri keluar dan menyiapkan sup untuk anaknya, dia tidak menyuruh para pelayan dan membuatnya sendiri dengan tangannya. Terkadang dia ingin menangis jika mengingat kejadian tadi malam dan juga dia merasa cemas dengan menantunya, apalagi Azila sedang hamil besar.


Setelah sup untuk Candra sudah jadi, Bunda Putri mengantarkan sup itu ke kamar Candra dengan juga membawa nasi dan beberapa lauk kesukaan Candra. Bunda Putri sudah berada di kamar Candra, dia meletakkan nampan yang dia bawa ke nakas di samping ranjang Candra.


"Sayang, ayo bangun," ucap Bunda Putri sambil menepuk pelan pipi Candra. Setelah beberapa saat, Candra terbangun.


"Oh, Bunda. Ada apa, Bun?" tanya Candra, "Mau marahin Candra lagi?" lanjutnya. Bunda Putri tersenyum.


Bunda Putri mengambil mangkuk sup, "Buka mulutmu!" perintah Bunda Putri sambil menyodorkan satu sendok sup. Candra kebingungan dengan perilaku bundanya.


"Bunda menaruh racun di sup, ini?" tuduh Candra. Bunda Putri mengerutkan dahinya.


"Apa kamu berpikir Bunda akan membunuhmu?" tanya Bunda Putri, "Jangan gila dulu, kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan istrimu, kamu juga harus memilih salah satu wanita saja, jangan mencoba untuk melakukan poligami," lanjut Bunda Putri yang membuat Candra mendelik tidak percaya.


"Bun, jangan percaya dengan foto, itu, Bun. Kemarin Candra dijebak oleh wanita, itu, dan Candra juga sudah membuat laporan ke kepolisian, dan mereka akan menyelidiki, dan menindak lanjutinya," ucap Candra, "Makanya Candra curiga kalau Bunda memberi racun di sup, itu," lanjut Candra.


"Astaga, berarti kamu, dan Azila hanya menjadi korban dari kegilaan wanita, itu?" tanya Bunda Putri. Candra mengangguk.


"Tapi kamu juga jangan ikut gila, Bunda, itu, wanita yang sudah melahirkan, mana bisa seorang ibu meracuni anaknya yang setampan, ini," ucap Bunda.


"Bisa jadi," balas Candra.


"Maka akan Bunda lakukan," ucap Bunda Putri sambil beranjak berdiri.


"Eh, jangan, dong, Bun. Candra, kan, cuma bercanda. Masa, iya, Candra mau mati sebelum melihat anak produksi sendiri," ucap Candra.


"Bunda juga bercanda, mana tega Bunda membunuh laki-laki yang belum bisa melihat hasil cetakannya sendiri," balas Bunda Putri sambil kembali duduk di ranjang Candra.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, komen, share dan favorit ya 🤗 dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙