My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Ide bangun tidur



Just information : untuk akhir-akhir ini, author akan jarang up, mungkin dua hari sekali, because author sedang sakit, dan harus banyak istirahat.


#Salam hangat buat kalian, semoga kalian baik-baik saja di luar sana, dan jangan lupa untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. #stay home stay safe.


Malam kian larut, udara dingin mulai menusuk sampai ke tulang. Jalan raya telah sepi dari lalu lalang orang, lampu perumahan mulai padam satu persatu, menandakan waktu untuk segera pulang dan tidur.


Terlihat di pinggir jalan, berdiri seorang laki-laki di samping gerobak pedagang kaki lima, di spanduk gerobak tertulis 'Rujak Pak Ji'.


Tidak terlalu lama laki-laki itu menunggu, rujak pesanannya sudah jadi. Setelah mendapatkan rujak, laki-laki itu berlari kecil masuk ke mobilnya, dengan perasaan bahagia, dia memacu mobilnya dengan cepat.


Setengah jam kemudian, dia telah sampai di depan rumah megah, matanya memandang satu mobil BMW hitam yang masih terparkir di halaman rumahnya, "Apa Kak Naza belum pulang? Apa dia nyasar di rumah? Atau jangan-jangan, dia?" gumam laki-laki itu sembari berjalan cepat masuk ke rumah.


Saat melewati ruang tamu, Candra melihat pintu kamar tamu setengah terbuka, karena rasa penasarannya yang kuat, perlahan Candra mulai berjalan mendekat. Setelah sampai di depan pintu, dia maju dua langkah masuk melewati pintu.


Mata Candra terbelalak lebar, betapa terkejutnya dia saat melihat Naza dan Eldar sedang tidur dengan posisi yang begitu mesra, "Apa-apaan, mereka berdua, belum sah saja sudah berani tidur bareng," umpat Candra dalam hatinya.


Candra merasa kalau takdir begitu tidak adil antara Kevin dan Naza, "Kevin harus tahu tentang, ini," gumam Candra sembari mengambil ponsel di saku celana pendeknya.


Tanpa mengeluarkan suara, Candra mulai mengambil beberapa foto dan video dua orang yang sedang tidur sambil berpelukan, "Kalian tidak akan bisa mengelak lagi," ucap Candra dengan senyum licik di bibirnya. Merasa sudah cukup, Candra lekas keluar meninggalkan kamar tamu dan segera menuju ke kamarnya.


≈≈≈


Candra telah berada di dalam kamarnya, namun dia tidak menemukan istri tercintanya di sana, matanya mencari-cari di mana Azila berada. Pandangan Candra berhenti menatap ke arah luar, dia menemukan istrinya sedang berdiri di balkon sambil menatap langit, Candra pun langsung menghampiri istrinya itu.


"Sayang, kenapa kamu di luar?" tanya Candra sambil memeluk Azila dari belakang.


Azila membalikkan badannya menghadap Candra, "Akhirnya, kamu pulang juga. Aku sudah lelah menunggumu di dalam, makanya aku keluar cari udara segar," jawab Azila dengan senyum yang terus terpancar.


Cupp


Candra mengecup lembut bibir Azila, "Maaf, sudah membuat kalian berdua menunggu. Habisnya, permintaan kalian berdua susah dicari malam-malam begini," jelas Candra sambil mengelus perut Azila yang masih rata.


Azila merasa bahagia saat Candra mengelus perutnya, lalu dia melingkarkan kedua tangannya di leher Candra, "Kamu mau anak cowok atau cewek?" tanya lirih Azila.


Mendengar pertanyaan dari istrinya, Candra tersenyum sambil menatap lekat manik coklat Azila, "Aku tidak memikirkan jenis kelamin, Sayang. Aku hanya ingin kamu, dan calon anak kita sehat selalu," jawab Candra, "Jika, dia sudah lahir, kita harus cepat membuatkan dia adik, agar dia tidak sendirian," ucap Candra menambahi jawabannya barusan.


Seketika itu juga, cubitan dari Azila mendarat di perut Candra hingga membuat dia memasang wajah kesakitan, "Sayang, ampun. Ini, sangat sakit, Sayang," ucap Candra sambil memegangi tangan Azila yang masih mencubit perutnya.


Setelah melihat wajah Candra yang kesakitan, Azila melepaskan cubitannya dari perut Candra, "Apa kamu ingin menjadikan ku mesin pembuat anak?" tanya Azila dengan nada kesalnya.


Sejenak, Candra tersenyum dan merasa bahagia, "Aku ingin kamu melahirkan wujud cinta kita, Sayang. Aku ingin memiliki seratus anak dari rahimmu," jawab Candra dengan senyum di bibirnya.


Azila terbelalak mendengar jawaban Candra, "Kamu, itu, cinta atau nafsu? Satu aja belum keluar, udah minta seratus," ucap Azila dengan geramnya.


Candra seketika tertawa melihat kepolosan Azila, sebenarnya Candra hanya ingin menggoda Azila, tetapi hasilnya malah di luar ekspektasinya, "Sayang, mana mungkin kita bisa membuat sebanyak, itu? Punya satu anak dari rahimmu saja, sudah kebahagiaan buatku," balas Candra.


"Tapi, sepertinya seru juga kalau punya seratus anak," ucap Azila sambil manggut-manggut.


"Jangan banyak ekspetasi. Mendingan, sekarang kamu makan, ini, rujak," sahut Candra sambil mengangkat kantong kresek berisi dua bungkus rujak.


Candra mencubit pelan hidung istrinya, "Bukan kamu saja yang ngidam, Sayang," jawab Candra yang membuat Azila tersenyum, "Ayo, kita makan bareng," ajak Candra.


Tanpa menjawab, Azila langsung menggandeng tangan Candra dan mengajaknya duduk di kursi kayu yang ada di balkon.


Mereka berdua menikmati rujak di bawah sinar rembulan yang hanya nampak setengah, bintang malam itu juga tidak sebanyak biasanya, namun malam itu masih tetap indah membahagiakan.


Sudah lebih dari setengah jam Candra dan Azila berada di luar menikmati malam indah itu, "Sayang, ayo kita masuk, udara malam tidak baik, nanti kamu bisa masuk angin, dan kasihan juga anak kita," ajak Candra sambil mengelus tangan Azila yang menempel di pipinya.


"Ayo, tapi gendong," jawab Azila yang begitu manja. Tanpa banyak bicara, Candra langsung berdiri dan menggendong Azila seperti seorang ayah yang menggendong putri besarnya.


Candra membaringkan tubuh Azila di ranjang dan dia ikut berbaring di sampingnya, mereka berdua saling berhadapan dan berpelukan, hingga kantuk membawa mereka ke dalam mimpi indah.


≈≈≈


Gelap malam telah disinari mentari pagi, para pelayan di rumah keluarga Wibawa telah lalu lalang dengan pekerjaan mereka, sedangkan semua anggota keluarga Wibawa sudah duduk di meja makan, tetapi masih ada satu orang yang belum terlihat batang hidungnya di sana.


"Eldar di mana, Bun?" tanya Ayah Yoga yang tidak menemukan Eldar di meja makan.


Bunda Putri langsung mencari Eldar di meja makan, dia baru sadar kalau Eldar belum ada di sana, "Bunda juga tidak tahu, Yah. Bunda juga baru sadar kalau dia tidak ada. Mungkin masih tidur sepertinya," jawab Bunda Putri sambil mengangkat kedua bahunya.


"Bun, panggil Eldar dulu! Kasihan dia kalau kita tinggal sarapan," perintah Ayah Yoga dengan tangan sudah mengambil sandwich dan mulai menggigitnya.


Bunda Putri beranjak berdiri dari duduknya, "Bun," panggil Candra saat Bunda Putri akan melangkah untuk pertama kalinya.


"Ada apa?" tanya Bunda Putri sambil menoleh ke Candra.


Candra mengambil ponsel di samping piringnya, lalu dia menunjukkan foto Eldar yang sedang tertidur di pelukan Naza. Seketika itu juga Bunda Putri langsung memasang wajah marahnya, "Tenang saja, Bun. Mereka tidak melakukan apapun, mungkin karena kecapekan, makanya mereka berdua tidak sadar kalau tidur satu ranjang," jelas Candra yang melihat bundanya sudah marah.


Mendengar penjelasan Candra, Bunda Putri membuang nafas besar untuk mengontrol emosinya, "Apa kamu bisa Bunda percaya?" tanya Bunda Putri dengan tatapan serius.


"Iya, Bunda. Bunda, tenang saja, lagian, yang bersama Eldar, itu, Kak Naza, dia tidak akan macam-macam sama wanita," jelas Candra sambil menaruh kembali ponselnya.


Bunda Putri bernafas lega setelah mendengar ucapan Candra, "Ya sudah, kamu saja yang panggil mereka!" perintah Bunda Putri ke Candra sambil duduk kembali.


"Jangan kita bangunkan, Bun. Candra sudah punya ide bagus untuk mereka berdua," jawab Candra dengan senyum liciknya.


"Apa ide mu?" sahut Ayah Yoga.


Lalu, Candra menjelaskan ide yang baru dia dapat saat bangun tidur tadi, setelah menjelaskan idenya, mereka semua manggut-manggut dengan senyum di bibir mereka.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa, bantu like, comment, share dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙