My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Jangan Pergi



Mobil Candra sudah berhenti di parkiran rumah sakit, Eldar tidak berkata apa-apa sejak melepaskan tangan Candra yang menggenggam tangannya di mobil.


Eldar mengekori Candra yang berjalan duluan, dia akan memukul Candra sekeras-kerasnya jika dugaannya benar, tapi Eldar juga tidak bisa berbohong kalau ada sedikit kepercayaan tentang kabar Naza.


"Semoga saja, ini, hanya prank," batin Eldar, "Atau jangan-jangan ... jangan-jangan, ini, adalah rencana Naza untuk membuatku terkejut lalu melamarku," batin Eldar yang mulai menduga-duga semua kemungkinan.


Candra dan Eldar sudah berada di lobi rumah sakit, mereka berhenti di bagian resepsionis. Tadi pagi setelah Candra pulang, Naza dipindahkan ke rumah sakit milik keluarga Wibawa karena peralatan medisnya lebih memadai dan canggih.


"Di mana ruang pasien atas nama Naza Lewis?" tanya Candra.


"Di ruang VIP ICU, Pak," jawab petugas resepsionis.


"Terima kasih," balas Candra lalu pergi ke ruangan Naza dirawat.


Sesampainya mereka berdua di sana, Candra mengajak Eldar masuk ke ruang tunggu yang letaknya berdampingan dengan ruangan Naza. Yang membuat ruangan Naza menjadi VIP adalah ruang tunggunya, di mana tembok pembatas kedua ruangan itu adalah kaca besar.


Eldar masuk ke ruang tunggu, di sana dia mendapati Kevin dan Nabila yang sedang duduk di sofa menatap seseorang yang sedang terbaring di ruang lain.


"Di mana Naza?" tanya Eldar yang masih belum melihat ke seberang kaca.


Kevin menatap Eldar sekilas dengan mata sembabnya lalu kembali menatap lurus ke Naza dan menunjuk ke depan. Eldar mengikuti arah tangan Kevin, jantungnya terasa seperti berhenti berdetak, dunianya tiba-tiba menjadi gelap, perlahan dia berjalan mendekat ke kaca untuk lebih dekat dan memastikan bahwa orang itu adalah Naza.


Brugh


Tubuh Eldar terjatuh di lantai setelah melihat dengan jelas wajah Naza.


"Eldar!" ucap Candra sembari berlari menghampiri Eldar.


"Hei ... hei," ucap Candra sambil menepuk pipi Eldar.


"Suruh Dokter periksa aja," ucap Kevin.


Dengan sigap Candra menggendong tubuh Eldar lalu membawanya ke ruangan Dokter yang tidak jauh dari ruangan Naza.


"Dok, tolong periksa adik saya," ucap Candra yang baru masuk.


"Mari, baringkan dulu di sana," ucap Dokter sambil menunjuk ranjang pemeriksaan.


Candra membaringkan tubuh Eldar lalu Dokter tadi segera memeriksa kondisi Eldar.


"Gimana, Dok?" tanya Candra setelah Dokter selesai memeriksa Eldar.


"Tidak ada yang serius, dia cuma syok berat," jelas Dokter, "Setelah dia siuman, langsung suruh makan, dan banyakin minum air putih," lanjut Dokter.


"Baik, Dok," jawab Candra.


"Kalau begitu tuan bisa membawa non Eldar ke ruang tunggu, nanti saya kasih infus supaya saat bangun punya tenaga," ucap Dokter.


Candra kembali mengangkat tubuh Eldar lalu menggendongnya ke ruang tunggu. Di ruang tunggu ada dua ranjang, satu ranjang single bed dan satu ranjang untuk dua orang.


Sesampainya di ruang tunggu, Candra membaringkan tubuh Eldar ke ranjang single bed lalu Dokter tadi datang ditemani satu perawat yang membawa infus beserta tiangnya. Dokter berpamitan undur diri setelah selesai memasang infus.


"Bagaimana kata Dokter?" tanya Kevin.


"Cuma syok," jawab Candra, "Oh ya, Mamah di mana?" tanyanya.


"Mamah ke sekolah Yasa," jawab Nabila, "Ambil rapor," lanjutnya.


"Emm ... oh ya, aku mau pergi ke kantor dulu, ya, mau ngurus beberapa berkas," ucap Candra.


"Ya," jawab Kevin.


"Nanti Bunda sama Zila mau ke sini," ucap Candra, "Mungkin sebentar lagi," lanjutnya.


"Oke," jawab Kevin.


"Kalau begitu aku pergi dulu, titip jagain Eldar, ya," pamit Candra.


"Tak masalah," jawab Kevin.


"Mama sama Papa kapan sampai?" tanya Nabila.


"Mungkin nanti malam," jawab Kevin.


"Kamu istirahat aja dulu, biar aku yang jagain Kakak sama Eldar," ucap Nabila.


"Aku mau tidur di pangkuanmu," ucap Kevin.


"Ya udah, sini," ucap Nabila sambil menepuk pahanya.


"Mau tium dedek duyu," ucap Kevin menirukan suara anak kecil.


"Muach, dedek sehat-sehat, ya, di dalam sana," ucap Kevin sambil mengelus perut Nabila.


"Mommynya juga pengen ditium," ucap Nabila seperti anak kecil yang lagi manja.


"Muach, terima kasih," lirih Kevin.


"Cuma cium aja, nih, terima kasihnya?" ucap Nabila yang membuang muka.


Kevin mendekatkan wajahnya ke telinga Nabila lalu berbisik, "Mau lebih, tapi takut nanti Eldar keburu bangun sebelum kita selesai."


"Ih, kok makin mesum sih, siapa juga yang minta, itu," ucap Nabila sewot, tapi dia tidak bisa menyembunyikan pipi merahnya.


Cupp


"Gemes banget sih," ucap Kevin setelah mencium pipi Nabila.


"Udah-udah, sana tidur!" ucap Nabila.


Kevin tersenyum melihat istrinya yang salah tingkah, dia mulai berbaring dan menjadikan paha Nabila sebagai bantalnya.


"Eh, di ranjang aja sana, kakiku nggak kuat dibuat bantal," ucap Nabila.


"Nggak mau," ucap Kevin yang mulai memejamkan matanya.


"Sana nggak!" geram Nabila sambil menarik hidung Kevin.


"Iya-iya, tapi nggak usah tarik-tarik hidunglah, nanti kalau copot gimana," keluh Kevin sembari berdiri dan beranjak ke ranjang.


"Copot ya, dilem pakai lem kertas aja," balas Nabila.


≈≈≈


Pagi sudah berganti siang, Candra sudah kembali ke rumah sakit dan Azila, Bunda Putri, serta Ayah Yoga juga sudah datang, ditambah lagi Mamah Mitha, Papah Hendri, dan Abyasa juga datang ke rumah sakit. Mereka semua sama khawatirnya walaupun keluargamereka berbeda, tapi semuanya sudah menganggap keluarga satu sama lain.


Beberapa menit yang lalu Eldar sudah siuman, dia masih syok karena semua ini adalah kenyataan. Bunda Putri menyuapi Eldar yang masih sedikit lemas dengan jarum infus yang masih menancap di tangannya.


"Kapan kamu akan bangun? Kamu nggak lupa, kan, kalau nanti jam tiga mau nemenin aku belanja, cepat bangun," batin Eldar.


Tanpa sadar air matanya mengalir keluar, Bunda Putri yang berada di sampingnya langsung memeluk Eldar, dia memang tau seberapa sakitnya hati Eldar, tapi dia tahu kalau itu sangat melukai hatinya.


"Jangan menangis, Naza akan baik-baik saja," ucap Bunda Putri.


Eldar hanya diam, air matanya terus mengalir, bibirnya bergetar tidak kuat menahan isakan dan semua kata-kata yang ia pendam.


"Aku mau mandi," lirih Eldar sembari tangannya ingin melepas jarum infus.


Bunda Putri menghentikan tangan Eldar, dia takut kalau Eldar akan melepas jarum itu dengan kasar, "Biar Tante aja yang melepasnya," ucap Bunda Putri.


Eldar menurut saja, dia membiarkan tantenya melepaskan jarum infus di tangannya. Setelah jarumnya terlepas, dia beranjak ke kamar mandi yang ada di ruang tunggu.


Di dalam kamar mandi Eldar menyalakan shower lalu duduk di lantai, dia membiarkan air membasahi tubuhnya yang masih terbalut piyama tidurnya. Air matanya mengalir bersama air shower yang mengguyurnya.


"Jangan pergi," lirih Eldar dengan bibirnya yang bergetar.