My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Pejantan Tangguh



Ciuman panas Naza mulai berubah jadi ciuman yang lembut, tangan Naza sudah mulai nakal meremas-remas bokong besar Eldar. Mereka berdua sudah mulai terangsang oleh sentuhan dan belaian satu sama lain.


Tubuh keduanya mulai panas, mereka berdua saling merapatkan jarak di antara mereka. Tangan Eldar mengusap-usap punggung Naza, sesekali dia menjambak rambut Naza saat Naza menggigit bibirnya.


Eldar tidak mau kalah dari Naza, dia sudah dikendalikan oleh nafsunya. Eldar melepaskan ciumannya lalu mendorong Naza hingga terbaring di ranjang, Eldar membuka bajunya hingga terpampanglah dua payudara besar yang terbungkus bra warna merah muda. Eldar menghampiri Naza lalu duduk di atas batang yang sudah menegang di balik handuk.


Naza sudah sangat tegang melihat Eldar yang menggeliat di atasnya seperti cacing kepanasan, bokong Eldar berputar di atas kejantanan Naza untuk memaksanya menjadi lebih besar dan keras lagi.


"Aahhh," desah Eldar.


Eldar mencium bibir Naza lalu mulai turun menyusuri dada bidang dan perut sixpack Naza, lidah Eldar bermain dengan tonjolan kecil di dada Naza yang begitu menggoda, Eldar menggigitnya hingga Naza tersadar dan keluar dari lingkaran gairah untuk bercinta.


Naza jadi kalang kabut saat dia melihat payudara besar milik Eldar, kali ini dia melihatnya dengan kondisi normal tanpa ada nafsu, pastinya ini adalah momen yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.


Ini sudah tidak benar, Naza tidak mau terjadi hal yang merusak wanitanya sebelum mereka sah di depan penghulu nanti, tanpa banyak berpikir Naza meraih bahu Eldar dan menggulingkan tubuhnya hingga Eldar berada di bawahnya.


"Kamu sangat tidak sabaran, Sayang," ucap Eldar.


"Sadarlah, Sayang," ucap Naza sambil menepuk pipi Eldar.


"Ayo cepat lakukan sebelum ada yang datang ke sini," balas Eldar sembari akan melepaskan celana yang ia kenakan.


Sebelum Eldar semakin jauh melorotkan celananya, Naza dengan sigap mengangkat Eldar dan membawanya ke kamar mandi.


"Kamu suka di kamar mandi, ya?" racau Eldar sambil memainkan tonjolan kecil di dada Naza.


Sesampainya di kamar mandi, Naza mendudukkan Eldar di lantai dan mengguyurnya di bawah shower. Eldar tersadar dari nafsu yang menjangkiti pikirannya, dia langsung melipat kedua kakinya untuk menutupi payudaranya.


"Apa yang kamu lakukan? Kemana bajuku?" tanya Eldar sambil duduk bersandar di pojok bathtub.


Naza mematikan shower lalu duduk di samping Eldar, dia meraih tubuh Eldar ke pelukannya. Eldar mulai meneteskan air matanya di pelukan Naza.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Naza sambil mengusap wajah Eldar.


"Aku wanita murahan, aku sudah mengecewakan semuanya, a-aku ... a-aku sudah tidak perawan sebelum menikah," jawab Eldar dengan bibir bergetar.


Mendengar ucapan Eldar barusan, Naza jadi ingin tertawa namun dia menahannya. Naza mengelus kepala Eldar dan memeluknya dengan erat.


"Kata siapa kamu sudah tidak perawan?" tanya Naza.


Eldar mendongak menatap Naza, "Bukannya tadi kita-" ucap Eldar menggantung.


"Kamu ternyata memang bodoh bahkan sampai lupa kejadian beberapa menit yang lalu," ucap Naza.


"Maksudmu?"


"Coba lihat itumu, apa ada darah yang keluar atau tidak!" ucap Naza.


Dengan cepat Eldar berdiri dan akan melorotkan celananya, saat celananya baru melorot kurang dari lima sentimeter, Eldar cepat-cepat menariknya ke atas dan kembali duduk sambil memeluk kedua lututnya.


"Aahhh! Naza, cepat keluar!" teriak Eldar hingga terdengar sampai ke telinga para manusia di ruang makan.


"Kakakku memang hebat," ucap Kevin.


"Mereka lagi ngapain?" tanya Ayah Yoga.


"Jangan-jangan-" jawab Bunda Putri menggantung.


Ayah Yoga dan Bunda Putri tiba-tiba beranjak dari tempat duduk dan berlari ke kamar tamu yang ditempati Eldar. Kevin, Candra, Azila, dan Nabila juga ikut panik karena kedua manusia paruh baya itu akan memarahi Naza dan Eldar. Kevin dan Nabila berjalan cepat menyusul ke kamar tamu, sedangkan Candra membantu Azila untuk menaiki kursi rodanya dulu.


Suasana tegang itu sangat berbeda dengan suasana di dalam kamar mandi, Eldar masih duduk memeluk kedua lututnya sedangkan Naza duduk di samping Eldar sambil tersenyum menatap Eldar.


"Ngapain malu begitu? Tadi kamu malah buka baju sendiri di depanku, pakai goyang-goyang pula," ucap Naza.


Orang-orang di luar kamar makin yakin dengan opini mereka masing-masing.


"Yah, apa kita biarin aja? Toh mereka juga udah pacaran, dan udah dewasa, pasti tahu harus keluar di mana kalau belum menikah," ucap Bunda Putri.


"Bunda kenapa malah biarin mereka sih, mereka belum menikah, mana boleh berhubungan suami istri," bantah Ayah Yoga.


"Sepertinya mereka sudah selesai, Yah," balas Bunda Putri.


Dok dok dok


Ayah Yoga menggedor-gedor pintu kamar, dia tidak tahu lagi kenapa anak jaman sekarang begitu acuhnya dengan hubungan badan di luar nikah.


"Naza! Eldar! Cepat buka pintunya!" teriak Ayah Yoga.


Sebenarnya Ayah Yoga tidak marah, dia hanya tidak suka dengan penyelewengan, entah itu dalam hal pekerjaan, pribadi, ataupun keluarganya.


Naza dan Eldar tersentak kaget saat pintu kamar digedor-gedor oleh Ayah Yoga, mereka berdua saling menatap bingung harus berbuat apa. Semua orang pasti berpikir kalau mereka telah melakukan hubungan intim, ya walaupun sebenarnya hampir terjadi sih.


"Cepat pakai bajumu!" perintah Eldar dengan suara pelan.


"Bajuku kotor," jawab Naza.


"Tadi udah aku siapin di atas kasur," balas Eldar.


Naza berlari ke ranjang lalu mengenakan celana pendek warna putih bermotif bunga-bunga dan memakai Hoodie polos warna kuning. Setelah memakai pakaian, Naza langsung membuka pintu kamar lalu tersenyum pada semua orang.


"Ada apa?" tanya Naza sok polos.


"Eldar di mana?" tanya Ayah Yoga.


"Emm, lagi di kamar mandi, Om," jawab Naza.


"Kalian habis ngapain? Kalian habis berhubungan intim ya?" tanya Ayah Yoga seperti penyidik polisi.


"Eee ... ee ... ti-tidak, Om," jawab gugup Naza.


"Lalu kenapa tadi Eldar teriak?" tanya Ayah Yoga sambil matanya melihat sekitar.


"Ta-tadi sa-saya nggak sengaja masuk ke kamar mandi, Om, dan saya nggak tahu kalau ada Eldar di dalamnya," kilah Naza.


"Kenapa baju Eldar ada di situ?" tanya Ayah Yoga sambil menunjuk baju Eldar di lantai.


"I-itu ... tadi di lempar sama Eldar, Om," kilah Naza yang menjawab seadanya yang terpikirkan oleh otaknya.


"Ooh, ya sudah, tadi Om kira kalian lagi berbuat tidak senonoh," ucap Ayah Yoga. Naza mengangguk dengan perasaan lega karena Ayah Yoga percaya dengan alasannya.


"Om pergi dulu, nanti kalau Eldar sudah selesai, ajak makan bareng di ruang makan!" perintah Ayah Yoga. Naza kembali mengangguk.


Ayah Yoga dan Bunda Putri sudah keluar diikuti Candra dan Azila. Kevin menyuruh Nabila untuk duluan ke ruang makan, lalu dia menghampiri Naza yang terduduk di ranjang.


"Pinter banget cari alasannya," ucap Kevin, "Keren," lanjutnya.


Naza menatap Kevin dengan wajah malas, "Keluarlah jika tidak ada yang penting," ucap Naza.


"Tadi berapa ronde, Kak? Kasih tipsnya dong gimana bisa Kakak bikin Eldar sampai menjerit kayak gitu?" tanya Kevin yang sudah duduk di samping Naza.


Naza mengambil guling di belakangnya lalu memukul kepala Kevin dengan keras, "Cepat sana pergi!" bentak Naza.


Kevin segera beranjak pergi, saat sampai di pintu dia kembali menoleh ke Naza, "Pejantan tangguh," ucap Kevin sambil mengacungkan jempolnya lalu berlari pergi.


Ayo like, komen, sama vote lah. Author kurang semangat kalau nggak dikasih banyak like.