My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Kopi



"Lembur?" tanya Azila sembari duduk di samping Candra.


"Iya, tadi dapet email dari sekretarisku sama klien," jawab Candra tanpa melihat Azila, "Tadi pakai lupa pula kalau aku bawa dokumen yang belum ku periksa, dan tanda tangani," lanjutnya.


"Kalau begitu jangan malem-malem, jam 11 nanti sudah harus tidur," ucap Azila.


"Ya," jawab Candra seperti orang males dan tanpa melihat Azila sama sekali.


"Jangan ya ya aja," ucap Azila sembari beranjak pergi.


"Cium dulu kalau gitu," ucap Candra yang sekarang sudah menatap punggung Azila.


Azila berbalik, "Sini nu kalau minta," jawab Azila.


"Kamu dong yang ke sini," ucap Candra dengan manja.


"Yang minta cium kan kamu, jadi kamu yang ke sini," balas Azila.


"Hm, ya udah deh," balas Candra sembari beranjak menghampiri Azila.


"Nah, cium!" ucap Candra sambil memajukan pipi kanannya.


Muaachh


"Satu lagi," ucap Candra sambil mendekatkan pipi kirinya.


Muaachh


"Dah," ucap Azila sembari berbalik dan ingin beranjak pergi, tapi sebelum dia melangkah untuk pertama kalinya, Candra menarik tangan Azila.


"Ini, belum," ucap Candra sambil menyingkap rambutnya yang menutupi kening.


"Hemmz,"


Muachh


"Dah, ya, aku mau pakai baju dulu," ucap Azila.


"Eits, yang, ini, juga belom lho, Sayang. Padahal, ini, yang paling wajib," ucap Candra sambil menunjuk bibirnya.


Muaachh


Azila mencium ujung jarinya lalu ditempel ke bibir Candra, "Udah kan," ucap Azila.


"Enggak mau pakai tangan, maunya langsung aja," rengek Candra seperti anak kecil yang sedang bermanja-manja minta sesuatu.


Muuchh


"Makasih," ucap Candra sambil memberi senyum lebar.


Azila membalas dengan senyum manis sambil sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Candra balik badan dan ingin kembali mengerjakan tugasnya.


Paakk


Azila menampar pantat Candra keras sampai-sampai Candra meloncat sambil memegangi pantatnya. Azila langsung berlari masuk ke dalam fitting room sebelum Candra memiliki niat untuk membalasnya.


"Mulai nakal lagi, ya, kamu," gumam Candra sambil berjalan menuju sofa, tak lupa juga dia berjalan sambil mengelus pantatnya yang terasa panas.


°°°°


Jarum panjang jam dinding sudah menunjuk angka enam, sedangkan jarum yang pendek menunjuk jarak di antara angka 10 dan 11. Dari tadi Azila masih terjaga karena dia ingin tidur bareng Candra. Yang namanya menunggu pasti ada rasa bosan, tapi Azila bisa mengatasinya dengan menonton video-video di aplikasi Tok Tik.


Azila turun dari kasur lalu menghampiri Candra, dia memeluk Candra dari belakang, "Sayang, tidur yuk, udah malem, ini," ucap Azila.


"Kalau kamu udah ngantuk, tidur duluan aja nggak apa-apa, nanti aku nyusul," jawab Candra sambil mengelus tangan istrinya, tapi pandangannya tetap tertuju ke layar laptop.


"Enggak mau, maunya bareng," balas Azila sambil menopangkan dagunya ke tangannya yang ada di pundak Candra.


"Tadi kamu bilang jam 11, ini, baru jam setengah 11 lebih dikit lho, Sayang," ucap Candra, "Kalau kamu udah ngantuk banget tidur aja, bentar lagi aku nyusul," lanjutnya.


Dengan wajah cemberut Azila melepas pelukannya lalu melangkahi sofa dan duduk di samping Candra, "Aku tidur di sini aja, ya," ucap Azila sambil menyenderkan kepalanya ke lengan kiri Candra.


Candra menghentikan aktivitasnya dengan laptop, dia menarik tangan kirinya ke belakang agar bisa memeluk Azila. Kepala Azila berpindah sandaran le atas dada Candra, "Kamu capek, ya?" tanya Candra.


"Capek sih capek, tapi kalau ada kamu sama anak-anak di dekatku, semua rasa capek, itu, hilang entah ke mana," jawab Azila sembari memeluk Candra.


"Mau nungguin aku selesai?" tanya Candra.


"Emang harus selesai sekarang, ya, itu?" tanya balik Azila.


"Yaa ... begitulah, besok pagi udah harus siap," jawab Candra.


"Kenapa nggak kamu kasih ke sekretarismu atau asistenmu aja?" tanya Azila.


"Aku sudah banyak memberi mereka pekerjaan semenjak kamu hamil tujuh bulan, Sayang. Sekali-kali bos turun tangan sendiri kan nggak masalah," jawab Candra.


"Terserah kamu aja deh, aku nggak peduli, yang penting kamu harus tau waktu, jangan terlalu capek supaya kesehatanmu bisa terjaga," ucap Azila.


"Makanya aku butuh kamu," balas Candra.


"Karena semua waktuku, itu, hanya untukmu, dan anak-anak, tapi masih ku potong buat kerja karena kalian juga butuh uang buat hidup," jawab Candra, "Lalu kalau kamu mau aku sehat, sering-seringlah peluk sama cium aku," lanjutnya.


"Kenapa harus sering-sering peluk sama cium?" tanya Azila.


"Kata Baymax, pelukan adalah obat terbaik ketika kita merasa capek, dan tidak enak badan lainnya," jawab Candra.


"Lalu ... ciumnya buat apa?" tanya Azila.


Muchh


"Itu bonus," jawab Candra setelah mencium bibir Azila tanpa permisi.


"Modus," ucap Azila sambil mengeratkan pelukannya dan menempatkan kepalanya senyaman mungkin di dada Candra.


Setengah jam sudah pasutri itu lalui sambil berpelukan di atas sofa dan ditonton oleh laptop dari atas meja.


Azila melepas pelukannya, "Udah jam 11 lebih dikit tuh, tidur yuk," ucap Azila sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Masih belum selesai, Yang. Masih lumayan, ini," jawab Candra.


"Berapa lama lagi?" tanya Azila.


"Emm, mungkin 45 menit sampai sejaman lagi, Yang," jawab Candra, "Kamu tidur aja dulu, tadi kan udah aku bilang kalau tidur dulu nggak apa-apa," lanjutnya.


"Kan tadi juga udah aku bilang kalau mau tidur bareng kamu," balas Azila dengan wajah cemberut.


"Kamu kuat nahan kantuk?" tanya Candra.


Azila berpikir sejenak, memang dia suka nggak betah kalau nahan kantuk, tapi sekarang dia pengen tidur bareng Candra.


"Kita ngopi aja gimana?" ucap Azila memberi usul.


"Aku kan lagi kerja, Sayang," jawab Candra.


"Ya, kerja sambil ditemani kopi kan nggak masalah, Yang," balas Azila, "Kamu udah nggak kuat nahan kantuk, ya?" lanjutnya bertanya.


"Kuat kok, siapa bilang nggak kuat," jawab Candra.


"Lah tadi, itu, ngelantur. Masa minum kopi bisa menghambat kerja," balas Azila.


"Hm, iya-iya," ucap Candra mengalah, "Ya udah sana bikin kopi!" lanjutnya.


"Kamu mau kopi apa?" tanya Azila.


"Kayak biasa aja, tapi gulanya dikurangin," jawab Candra.


"Siap, Komandan," balas Azila sembari beranjak pergi ke dapur.


°°°°


Azila meletakkan dua cangkir kopi beda rasa ke meja lalu duduk di samping Candra, "Minum dulu biar dapet energi," ucap Azila.


"Kamu cium juga bisa dapet energi," lirih Candra.


"Apa?" tanya Azila karena dia seperti mendengar sesuatu.


"Kopinya enak, manisnya pas," jawab Candra sembari menyeruput kopinya lagi.


"Ohh, kirain minta cium," ucap Azila sambil meniup-niup kopinya.


"Ya udah sini cium," balas Candra sambil memajukan bibirnya.


Azila menengok, "Tutup matamu!" perintah Azila.


"Kenapa pakai tutup mata segala?" tanya Candra.


"Udahh, tutup aja, jadi minta cium apa enggak?" jawab Azila dengan sedikit bumbu ancaman. Tanpa menjawab lagi Candra menutup matanya.


"Mulutnya buka!" ucap Azila. Candra menurut lagi tanpa bertanya dulu.


Azila meniup lagi kopinya, sluurpp! Dia menyeruput kopinya lalu dengan cepat mencium bibir Candra yang sudah terbuka. Sontak Candra membuka matanya karena mulutnya terasa hangat.


Mmhhh


Azila menyalurkan kopi di mulutnya ke mulut Candra, lalu Candra mengalirkan kopi itu melewati tenggorokannya dan berakhir di lambung yang membuatnya hangat.


"Enak?" tanya Azila.


Candra tersenyum, dia mengusap ujung bibir Azila yang ada tetesan kopi menggunakan jempolnya lalu menjilatnya, "Manis," ucapnya.


"Ih, jorok banget sih Yang kamu," ucap Azila sambil memukul dada Candra, padahal dia hanya tersipu malu dan salah tingkah akibat aksi Candra barusan.


"Lebih jorok mana sama kamu yang ngasih aku kopi pakai mulut," balas Candra.


"Tau ah! Udah sana cepet selesaiin kerjaanmu!" ucap Azila sambil memalingkan wajahnya yang bersemu merah.


Aku usahain update 2 bab dalam sehari, tapi syaratnya harus kasih like setiap bab ya.