
Kegelapan telah sukses menguasai senja yang indah. Bulan purnama bersinar terang menyibak sedikit tirai kegelapan malam ini. Banyak orang yang sudah berkumpul untuk acara Barbeque malam ini, tidak hanya orang dewasa yang datang di acara itu, tetapi anak kecil juga tidak mau kalah dengan orang tua mereka.
Acara Barbeque sudah selesai, tinggal beberapa orang yang masih mengobrol menikmati malam dingin itu. Satu persatu sisa orang tadi mulai beranjak pergi karena sudah diserang rasa kantuk, kepergian mereka meninggalkan enam orang yang tak lain adalah Candra, Azila, Kevin, Nabila, Naza, dan Eldar.
Malam itu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, di antara keenam orang itu tersisa dua botol wine yang masih tertutup rapat.
"Tinggal kita saja," ucap Azila sambil memutar-mutar botol wine itu di meja pendek depannya, "Ngapain, ya, enaknya?" lanjutnya.
"Main truth or dare aja gimana? Kayaknya seru kalau dilihat dari orang-orangnya," ucap Kevin sambil menggosok telapak tangannya.
"Mainan apa, itu?" tanya Eldar yang tidak mengerti.
"Aduh," ucap Candra sambil menepuk dahinya, "Kita lupa kalau ada anak Mama, di sini," lanjutnya.
"Apa Kakak sedang mengejekku?" geram Eldar sambil berkacak pinggang.
"Bukan mengejek, tapi kenyataannya begitu," balas Candra sambil bersendakap tangan di dadanya.
"Sudah-sudah, jangan seperti anak kecil," lerai Azila.
"Bodo amat!" ucap Candra dan Eldar bersamaan sambil melotot ke Azila.
Azila langsung berkacak pinggang dan mata melotot ke arah Candra dan Eldar yang ada disampingnya. Saat itu juga Candra dan Eldar saling merangkul kan tangan mereka ke pundak.
"Kita hanya bercanda, kok, Yang," ucap Candra sambil mengacak-acak rambut Eldar.
"Iya, Kak. Kita cuma bercanda aja, kok," ucap Eldar sambil menarik-narik hidung Candra yang sedikit berminyak lalu mengusapkan tangannya ke baju Candra.
"Jangan suka cari gara-gara dengan wanita, bisa habis nanti kamu," bisik Nabila ke telinga Kevin, dan Kevin hanya mengangguk.
Azila menurunkan tangannya dan mulai bersikap seperti biasa, "Jadi, kamu memang tidak mengerti permainannya?" tanya Azila ke Eldar. Eldar mengangguk, lalu Azila menjelaskan dengan singkat dan Eldar sudah mengerti permainannya.
"Baiklah, karena Eldar sudah mengerti, dan kalian juga siap main, maka akan aku mulai," ucap Azila, "Mulai dari aku, ya," lanjutnya dan semua mengangguk.
Azila memutar botol itu dan berhenti menunjuk Kevin, "Truth or dare?" tanya Azila.
"Dare dong," jawab Kevin dengan semangatnya.
"Oke, dare dari aku, sekarang Kak Kevin cium, dan main bibir dengan Nabila, di sini!" ucap Azila dengan senyum liciknya.
"Apa..!" teriak Kevin dan Nabila bersamaan membuat yang lain terkejut.
"Kenapa heboh banget, sih? Tinggal ciuman apa susahnya," gerutu Candra.
"Ma-masalahnya, a-aku nggak tahu cara ciuman bibir," ungkap Kevin sambil menunduk dan meremas kaos yang ia pakai.
"Sa-sama, aku juga," ucap Nabila yang juga menunduk dan meremas dress yang ia kenakan.
Candra dan Azila tertawa melihat tingkah pengantin baru itu, apalagi tingkah Kevin. Padahal Kevin terkenal playboy dan sering gonta-ganti cewek. Sedangkan dua orang yang berstatus jomblo di antara dua pasangan itu hanya diam dan memikirkan kalau mereka juga belum pernah ciuman, bibir mereka berdua senyum-senyum sendiri saat melihat Kevin dan Nabila sambil membayangkan bagaimana jika mereka ada di posisi itu.
"Ayolah, bagaimana nanti malam pertama kalian jika tak punya pengalaman sedikitpun," ucap Candra. Kevin hanya terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Apa kalian butuh contoh?" tanya Azila sambil mengelus dagunya.
Kevin dan Nabila langsung mengangkat kepalanya dan menatap penuh harapan dan mengangguk mantap, namun ada rasa malu yang begitu besar yang mereka tahan kala mengangguk karena keempat orang di dekatnya menjadi tertawa.
"Baiklah, perhatikan dengan baik, ya, juniorku," ucap Candra. Kevin dan Nabila mengangguk.
Candra mulai menakup pipi tembem Azila dengan kedua tangannya, "Ku anggap, ini, rejeki bintang jatuh," lirih Candra dan Azila tersenyum mendengar itu.
Perlahan Candra mendekatkan wajahnya dan dahi mereka sudah menempel, Candra menggesekkan hidungnya dengan hidung Azila. Diawali dengan kecupan ringan tanpa nafsu, hanya kecupan bibir dengan bibir yang ditahan agak lama, lalu perlahan Candra mulai memberi Azila lumatan dan mulai bermain lidah, tangan Azila merangkul tengkuk Candra dan mendorongnya agar ciuman itu tidak cepat usai.
Suara ciuman mereka membuat Kevin dan Nabila menggeleng kagum, sedangkan dua manusia yang masih jomblo hanya bisa menggosok telapak tangan mereka karena ada desiran hangat yang menjalar melewati setiap pembuluh darah mereka.
Beberapa menit berlalu dengan tontonan ibu hamil yang berciuman, hingga Azila dan Candra menyudahi ciuman mereka agar tidak berlanjut ke hal yang lebih jauh.
"Bagaimana? Sudah mengerti?" tanya Candra sambil tersenyum bangga. Kevin dan Nabila mengangguk sedikit ragu.
"Tunggu apa lagi? Ayo jalankan tantangannya!" perintah Azila pada Kevin.
"Kenapa aku juga ikut kena, sih!" gerutu Nabila.
"Bersyukurlah, daripada aku suruh Kak Kevin berciuman dengan Eldar," ucap Azila.
Nabila hanya memutar bola matanya karena dia akan menjadi sangat tidak rela jika ciuman pertama suaminya diambil wanita lain, walaupun dia masih ragu jika Kevin belum pernah berciuman. Kevin diterpa kegugupan, dia menatap Nabila yang juga menatapnya, mereka berdua merapatkan jarak di antara mereka.
"Kamu juga mengambil ciuman pertamaku," balas lirih Nabila.
Kecupan mereka berlanjut dan mulai ada lumatan dan lidah Kevin mulai menjelajah menyusuri setiap sudut mulut Nabila. Nabila hanya pasrah dan tidak banyak memberi perlawanan karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Oke, sudah," ucap Kevin setelah menyelesaikan tantangan dari Azila.
"Good job, bro," ucap Candra sambil mengacungkan dua jempolnya.
Kevin mulai memutar botol wine dan botol itu berhenti menunjuk Candra, "Truth or dare?" tanya Kevin dengan senyum liciknya.
"Truth ajalah, kalau dare kurang menantang," jawab Candra.
"Pertanyaannya adalah, posisi apa yang membuatmu cepet keluar kalau main sama Azila?" ucap Kevin.
Pertanyaan itu membuat Azila menutupi wajahnya hingga membuat Nabila tertawa.
"Hemm, posisi?" ucap Candra sambil berpikir, "Aku paling nggak tahan kalau Azila di atas aku di bawah," jawab Candra.
"Aauuhh..!" jerit Candra karena cubitan Azila yang begitu sakit di perutnya.
"Lanjut-lanjut," ucap Azila karena menahan malu.
Candra menuruti ucapan Azila dan mulai memutar botol wine, ujung botol berhenti dan menunjuk Eldar.
"Truth or dare?" tanya Candra.
Eldar sedikit bingung, kalau dia memilih dare, dia takut kalau tantangannya akan aneh-aneh, mengingat Candra yang suka mengerjainya, "Truth aja," jawab Eldar.
"Oke, pertanyaannya gampang sekali, siapa laki-laki yang paling kamu cintai?" tanya Candra.
"Hem?" Eldar berpikir, "Belum pernah jatuh cinta, sih. Tapi, ada seorang laki-laki yang membuatku lumayan gugup saat berdua dengannya," jawab Eldar.
"Apa laki-laki, itu, Kak Naza?" tanya Candra lagi.
Naza memukul bahu Candra karena dia menjadi salah tingkah.
"Katak Kak Azila pertanyaannya cuma satu," jawab Eldar.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Naza karena dia berharap jika laki-laki yang dimaksud Eldar adalah dirinya.
"Kenapa berharap, sih! Ayolah otak, jangan buat kacau tuanmu, ini," gerutu Naza di dalam hatinya.
"Bosen," ucap Azila sambil menyangga kepalanya di meja.
"Hm, iya," sahut Nabila.
"Kita minum wine saja kalau gitu," ucap Candra.
"Setuju!" jawab serempak mereka semua.
"Kamu tidak boleh minum, Sayang," ucap Candra sambil mengusap kepala Azila.
"Aku sedikit kecewa, tapi tidak apa-apa demi malaikat di perutku," ucap Azila sambil mengelus perutnya.
Akhirnya Azila menjadi wanita penuang wine, sudah satu botol wine habis dan tersisa satu. Namun, malam sudah lewat jam setengah sebelas malam.
"Sayang, kita balik, ya, kamu harus istirahat, angin malam juga tidak bagus untuk kesehatan kalian," ucap Candra sambil mengelus perut Azila.
Azila mengangguk dan menuruti ucapan Candra, memang dia juga sudah lumayan ngantuk dan ingin cepat-cepat merebahkan tubuhnya di ranjang empuk.
"Kalau begitu, kita juga balik, ada acara penting malam, ini," ucap Kevin sambil beranjak berdiri, "Ayo, Sayang," ajak Kevin sambil mengulurkan tangannya.
Nabila menerima uluran tangan Kevin dan mereka berdua kembali ke hotel meninggalkan dua manusia dengan segelas wine di sana.
"Kenapa jadi tinggal berdua," ucap Naza dalam hatinya.
Dua manusia itu hanya diam dan saling membuang pandangan mereka.
"Jantung, bekerja samalah," ucap Naza yang tidak bisa menahan jantungnya yang berdetak kencang.
Jangan lupa tekan like, masa likenya merosot, jadi malas buat up kalau likenya menurun banyak. So, selesai atau sebelum baca biasakan tekan like ya.