My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Ucapan yang terngiang



Jam dinding terus berdetak mengiringi kesunyian kamar, sepasang manusia sedang tidur sambil berpelukan erat, hawa pagi bercampur dingin AC membuat mereka harus mencari sumber kehangatan.


Matahari sudah menyalakan sinarnya dan menerangi gelap malam. Cahaya lampu menyebar memenuhi seisi ruang kamar, karena sinar matahari tidak bisa menembus tembok kamar itu.


Waktu terus berjalan, dan sekarang, jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas menit.


Eldar mulai membuka matanya secara perlahan-lahan, "Tidurku nyenyak sekali tadi malam," gumam Eldar sambil mengeratkan pelukannya. Dia berdiam diri sejenak, lalu Eldar mulai merasakan ada yang aneh, "Kenapa bantal, dan guling ku tidak empuk seperti biasanya?" ucapannya sambil meraba-raba bantalnya, "Tapi, ini, lebih membuatku nyaman, sih, lebih hangat dari biasanya," ucapannya lagi sambil terus meraba dan melingkarkan kakinya di guling.


Naza yang masih terlelap merasakan geli di dadanya, dengan mata yang masih terpejam, Naza meraih sumber penyebab geli di dadanya, dia memegang begitu erat dan menempelkannya ke dadanya agar tidak bergerak lagi.


Eldar sedikit terkejut saat ada tangan yang tiba-tiba meraih tangannya, seketika itu juga keanehan yang dia rasakan semakin besar. Eldar membuka matanya lebar-lebar, dia melihat tangannya menempel di dada bidang sambil di genggaman oleh tangan orang lain.


Rasa penasaran Eldar semakin bertambah, dia menggerakkan kakinya untuk memastikan sesuatu. Betapa terkejutnya dia saat menyadari kalau guling itu adalah kaki, dan yang dia anggap bantal adalah dada bidang seorang laki-laki.


Naza mulai membuka matanya saat merasakan kalau ada yang menggesek-gesek adik kecilnya. Naza begitu terbelalak saat mendapati ada seorang wanita yang berada dalam pelukannya. Pada saat itu juga, Eldar juga menatap ke atas untuk melihat siapa laki-laki yang sudah tidur bersamanya.


Seketika mata Naza dan Eldar bertemu, mereka berdua langsung melepaskan pelukan mereka dan saling menjauh. Eldar segera mundur dan terduduk di atas ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut, sedangkan Naza langsung turun dari ranjang dan membenahi pakaiannya.


"Dasar laki-laki mesum!" teriak Eldar dengan kemarahannya.


Naza yang masih menghadap bawah untuk membereskan bajunya, seketika langsung menatap tajam Eldar, karena dia sangat tidak suka dengan ucapan Eldar barusan, "A--" ucap Naza tertahan dan matanya mebelalak karena melihat sesuatu yang membuatnya langsung berbalik badan.


Melihat Naza berbalik badan, Eldar merasa bingung, "Apa ada yang salah denganku?" gumam Eldar dalam hatinya, lalu Eldar membuka sedikit selimutnya, "Huhh, aman," dengus pelan Eldar setelah memastikan kalau bajunya masih utuh.


"Ehem," dehem seseorang dari belakang Eldar.


Duaarr ..!


Hati Eldar terasa seperti tersambar petir di pagi hari. Dengan jantung yang mulai berpacu seperti balapan kuda, Eldar perlahan menoleh ke belakang.


"Mati, aku," ucap Eldar dalam hatinya setelah melihat siapa yang ada di belakangnya.


"Kenapa mereka ada, di sini, semua," gumam Eldar dalam hatinya dengan rasa takut bercampur dengan rasa malu.


Orang yang ada di belakang Eldar adalah Ayah Yoga, Bunda Putri, Candra, dan Azila. Mereka berempat berkumpul di samping ranjang Eldar karena ide dari Candra.


Ayah Yoga berdiri dengan tangan menyilang di depan dadanya, sedangkan Candra, Azila, dan Bunda Putri hanya diam di belakang Ayah Yoga.


Ayah Yoga berjalan menuju pintu dan di ikuti Bunda Putri, mereka berdua berhenti sebelum benar-benar keluar dari kamar itu, "Apa kalian sudah puas? Jika sudah, sekarang kita ke kantor urusan agama," ucap ketus Ayah Yoga.


Eldar dan Naza seketika menatap Ayah Yoga dengan mata terbuka lebar karena terkejut, "Ke-ke-kenapa ki-kita harus ke kantor urusan agama, Om?" tanya Naza dengan gagap.


Tapi, Ayah Yoga tidak menggubris pertanyaan Naza dan berlalu pergi. Candra dan Azila yang masih berdiri di belakang Eldar, berjalan menghampiri mereka. Azila duduk di samping Eldar, sedangkan Candra berdiri di samping Naza.


"Eldar, apa yang sudah kamu lakukan? Kamu membuat Ayah dan Bunda marah besar," tanya Azila sambil merangkul pundak Eldar.


Azila sebenarnya tidak tega melihat Eldar jadi korban kejahilan suaminya, tapi mau bagaimana lagi, Azila juga suka mengerjai seseorang.


Dari pelupuk mata Eldar, air matanya mulai keluar mengalir melewati pipinya. Azila makin merasa tidak enak saat melihat Eldar menangis, "Hei, jangan menangis, Kakak percaya sama kamu, kok. Tenang saja, kakak akan membantu untuk menjelaskan ke Ayah," ucap Azila sambil mengelus pundak Eldar.


"Terima kasih, Kak," balas Eldar dalam tangisnya.


"Ya sudah, Kakak mau menemui Ayah, dulu," ucap Azila sembari melepaskan pelukannya di pundak Eldar.


Azila beranjak berdiri dari ranjang dan menghampiri Candra, "Ayo," ajak Azila setelah berada di samping suaminya.


"Kak, Kakak harus tanggung jawab, atau Eldar akan menjadi wanita single parent seumur hidupnya, dan apa Kakak tega membiarkan anak Kakak besar tanpa seorang ayah?" ucap Candra sambil menatap Naza.


"Diam!" jawab Naza dengan sedikit membentak.


"Sudah, ayo. Jangan campuri urusan mereka," ucap Azila sambil menarik Tangan Candra keluar dari kamar.


Setelah keluar dan sudah agak jauh dari kamar, Candra dan Azila mulai tertawa karena berhasil mengerjai Naza dan Eldar.


Berbeda dengan Ayah Yoga dan Bunda Putri yang sudah duduk kembali di kursi meja makan, mereka berdua merasa kasihan dengan Eldar dan Naza.


Tak berselang lama, Candra dan Azila telah ikut duduk kembali bersama Ayah Yoga dan Bunda Putri, "Apa kalian berdua tidak kasihan dengan mereka?" tanya Bunda Putri karena melihat Candra dan Azila masih tertawa.


"Sekali-kali, Bun. Kita kerjain Kak Naza, biar dia tidak sedingin gunung es," jawab Candra sambil menggigit sandwich di tangannya.


≈≈≈


Di dalam kamar tamu, Eldar dan Naza masih berdiam diri, mereka tidak berbicara sama sekali. Eldar masih menangis di atas ranjang, sedangkan Naza masih berdiri di tempatnya.


Naza mulai termakan oleh ucapan Candra tadi, ditambah dia merasa kasihan saat mendengar Eldar menangis di belakangnya. Dia berpikir begitu keras untuk memutuskan apa langkah selanjutnya yang akan dia pilih.


Walaupun Naza merasa tidak melakukan apapun, tetapi dia lah yang membawa Eldar masuk dan tidur bersamanya, "Apa aku benar-benar melakukan, itu, dengannya?" ucap Naza dalam hatinya.


"Kak, Kakak harus tanggung jawab, atau Eldar akan menjadi wanita single parent seumur hidupnya, dan apa Kakak tega membiarkan anak Kakak besar tanpa seorang ayah?" ucapan Candra terus terngiang di kepala Naza.


Setelah beberapa saat, Naza berbalik badan dan menghampiri Eldar, lalu duduk di sampingnya.


"Aku akan menikahi mu," ucap Naza setelah duduk.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙