My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Anak Protektif



"Sekali lagi, nona. Tarik napas lalu dorong!" ucap Dokter Rizka.


"Eegghaahhhh..!" Azila mengejan sekuat-kuatnya.


Eegg oeegg oegg oeegg


Bayi kecil nan mungil telah lahir ke dunia, perasaan bahagia terpancar dari wajah Candra yang mulai berkaca-kaca. Azila merasa lega telah melahirkan seorang anak, walaupun tenaganya sudah banyak terkuras, Azila masih bisa tersenyum saat mendengar tangisan bayi pertamanya.


"Selamat, tuan. Anda mendapatkan putra yang tampan seperti anda," ucap Dokter Rizka sambil menunjukkan bayi yang baru lahir bahkan tali pusarnya belum dipotong.


Candra tersenyum bahagia lalu menciumi kening Azila, "Terima kasih," ucap Candra sembari mencium singkat bibir Azila.


"Tolong dibersihkan dulu," ucap Dokter Rizka pada perawat di sampingnya.


Kebahagiaan mereka menghilangkan suasana tegang dan sedikit mencekam karena proses Azila melahirkan. Senyum demi senyum terus melengkung di bibir Azila dan Candra.


Di lain tempat yang memiliki suasana bertolak belakang dengan ruang persalinan Azila, terlihat masih terbaring seorang laki-laki tampan dengan pacarnya yang selalu setia duduk di sampingnya.


Eldar membenamkan wajahnya di samping tangan Naza, karena dia terlalu capek menemani Naza setiap saat, Eldar sampai ketiduran dengan posisi duduk dan kepalanya yang terbaring di ranjang Naza.


Kelahiran anak pertama Azila dan Candra seperti malaikat kecil pembawa berkah karena saat bayi mungil itu baru keluar dari rahim Azila, hanya selang satu detik kemudian Naza membuka matanya.


Seperti bayi yang baru lahir, Naza mengerjabkan matanya untuk menyesuaikan seberapa besar pupil matanya harus beradaptasi dengan cahaya di ruangan itu. Setelah matanya terbiasa dengan cahaya di sana, Naza melihat dan mengamati sekelilingnya.


Naza melepaskan Ventilator yang membantunya bernapas, dia merasa tidak nyaman saat benda itu menutupi hidung dan mulutnya.


"Di mana, ini?" batin Naza.


Pandangan Naza berhenti ke seseorang wanita yang tertidur pulas di sampingnya, tanpa sadar tangannya sudah mengelus-elus kepala wanita di sampingnya ini.


Mama Okta dan Papa Mark yang masih terjaga di ruang tunggu masih belum sadar kalau Naza sudah bangun dari komanya. Mereka berdua masih menikmati makan siang yang baru dibelikan oleh Kevin, sekarang sudah jam tiga sore lebih, entah itu makan siang atau makan apa yang penting mereka makan.


Mama Okta yang sudah selesai duluan berdiri dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci tangannya, ketika ia keluar dari kamar mandi dia melihat tangan Naza yang mengelus-elus kepala Eldar, bahkan dia bisa melihat kalau mata anaknya itu sudah terbuka.


Dengan keterkejutannya Mama Okta berteriak mengucap syukur kepada Tuhan, teriakan Mama Okta membuat Papa Mark terkejut hingga dia tersedak.


Papa Mark mengambil gelas di meja dan langsung meminumnya agar terdesaknya cepat mereda, "Ada apa, sih, Mah? Bikin orang terkejut aja, sampai tersedak pula Papa," gerutu Papa Mark.


"Naza ... Naza sudah sadar, Pa," jawab Mama Okta dengan sedikit rasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.


Papa Mark langsung beralih menatap di mana anaknya terbaring beberapa hari ini, bibir Papa Mark mengembang melihat hal yang sangat-sangat dia dan yang lainnya nantikan.


"Mama temani Naza dulu! Papa akan panggil Dokter sebentar," perintah Papa Mark. Mama Okta mengangguk lalu beranjak pergi ke ruang ICU Naza, sedangkan Papa Mark pergi ke ruangan Dokter.


Sesampainya di dalam ruang ICU, Naza langsung mengisyaratkan Mama Okta untuk diam dengan menempelkan telunjuknya ke bibir. Mama Okta mengerti kenapa Naza memintanya diam, pastinya karena Eldar yang masih tertidur pulas di samping anaknya.


"Aku kenapa, Ma? Dan, dan kenapa Mama bisa di sini? Bukannya Mama masih di Amerika?" tanya Naza yang jadi bingung.


Mama Okta berdiri di samping Naza, "Lima hari yang lalu kamu kecelakaan saat pulang dari rumah Om Yoga, lalu kamu koma, dan baru sadarkan diri," jawab Mama Okta.


Tak berapa lama kemudian Papa Mark dan Dokter masuk ke dalam ruang ICU. Sama seperti saat Mama Okta masuk tadi, Naza langsung mengisyaratkan Papa Mark dan Dokter agar diam dan tidak menimbulkan suara yang keras.


Dokter segera memeriksa kondisi Naza dengan perlahan, mulai dari detak jantung, denyut nadi, dan semuanya. Setelah memeriksa kondisi Naza, Dokter memasukkan stetoskopnya ke saku jas Dokternya.


"Entah apa yang sudah terjadi dengan tuan Naza, tapi kondisi tuan Naza sangat bagus, bahkan bisa dibilang kalau tuan Naza sudah sembuh total, hanya perlu beberapa hari beristirahat untuk memulihkan kondisinya, dan penyembuhan luka gores di tubuh, dan wajahnya," jawab Dokter, "Tapi, untuk penyembuhan tulang tangan kiri yang retak, dan hidung yang patah membutuhkan waktu yang lebih lama dalam penyembuhannya," lanjut Dokter.


"Berarti alat-alat yang menempel di tubuhku, ini, bisa dilepas sekarang? Aku tidak suka tubuhku ditempeli alat-alat, itu," sela Naza.


"Tentu bisa, tuan," jawab Dokter.


"Kalau begitu cepat lepaskan semua alat-alat, ini, sebelum aku melepaskannya sendiri!" perintah Naza.


Dokter itu mulai melepaskan kabel-kabel yang tertempel di dada Naza. Semuanya sudah terlepas dan hanya menyisakan infus yang masih menancap di tangan kanannya agar tubuh Naza tetap mendapatkan nutrisi dan tenaga.


"Saya permisi dulu, jika butuh atau terjadi apa-apa, saya ada di ruangan saya," pamit Dokter.


"Terima kasih, Dok," ucap Papa Mark lalu Dokter mengangguk dan pergi.


Papa Mark dan Mama Okta berdiri di samping Naza, "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada yang masih sakit?" tanya Papa Mark.


"Ya, seperti yang Papa lihat, dan yang Papa dengar dari Dokter tadi," jawab Naza.


"Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Mama Okta.


"Tidak, aku hanya sedikit mengantuk," jawab Naza.


"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi meninggalkanmu tidur bersama Eldar," ucap Naza.


"Apa kalian sudah mau kembali ke Amerika?" tanya Naza.


"Tidak-tidak, kami mau melihat istri Candra yang mau melahirkan hari ini," jawab Mama Okta.


"Ya, aku tahu, itu," balas Naza.


Mama Okta dan Papa Mark saling menatap, darimana dia bisa tahu tentang Azila yang mau melahirkan? Padahal dia baru sadar beberapa menit yang lalu.


"Kamu tau darimana?" tanya Mama Okta.


Naza jadi bingung, dia juga tidak mengerti kenapa dia merasa sudah mengetahui tentang Azila yang akan melahirkan, "Entahlah, sepertinya ada yang memberitahuku saat aku masih koma," jawab Naza sambil menatap Eldar.


"Pa, bisa tolong pindahkan tubuh pacarku ke sampingku? Aku tidak tega membiarkannya tertidur sambil duduk," ucap Naza.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Papa Mark.


"Tidak apa-apa, lagian tempat tidur rumah sakit, ini, cukup besar untuk digunakan dua orang," jawab Naza.


"Baiklah, tapi jangan sampai tangan kirimu yang retak dan hidungmu yang patah tersenggol pacarmu," ucap Papa Mark. Naza mengangguk.


Papa Mark beranjak menghampiri Eldar yang tertidur, sebelum mengangkat Eldar tangan Papa Mark dicekal oleh Naza, "Jangan mencuri kesempatan dalam kesempitan," ucap Naza.


"Apa kamu pikir aku orangtua yang mesum?" tanya Papa Mark, "Dasar anak protektif," gerutu Papa Mark.


"Ya sama seperti papanya," sahut Mama Okta.


Papa Mark hanya menggeleng lalu mengangkat tubuh Eldar dan membaringkannya di samping Naza, setelah itu Mama Okta dan Papa Mark pergi meninggalkan Naza dan Eldar tidur di ruang ICU berdua.