My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Akan selalu berusaha



Candra dan Azila tertidur pulas setelah melewati pergulatan panas di siang hari. Mereka berdua tertidur tanpa merapikan ranjang yang sudah berantakan setelah pergulatan mereka, bahkan Candra yang tadinya berniat mengajak Azila untuk mandi berdua sampai lupa karena otaknya tak bekerja normal setelah memenangkan pergulatan.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, Candra terbangun karena perutnya terasa nyeri, dia lupa untuk mengisi perutnya setelah sampai di rumah Kakek. Senyum Candra mengembang saat mendapati istri kesayangannya masih tertidur berbantalkan lengannya, tangan Candra mengusap tangan Azila yang berada di dadanya.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu kelelahan seperti, ini," gumam Candra sambil mengecup tangan Azila.


Kruyuk ... kruyuk ....


"Kenapa kamu tidak tahu waktu, sih! Apa kamu tidak lihat aku sedang berduaan dengan istriku?" geram Candra pada perutnya yang berbunyi.


Candra perlahan mengangkat kepala Azila dan membebaskan lengannya yang dijadikan bantal oleh Azila. Setelah tangannya terbebas, Candra menarik bantal dan menurunkan kepala Azila dengan perlahan. Candra turun dari ranjang dan mengambil selimut yang ada di lantai dan menyelimuti tubuh Azila yang polos tanpa ada kain penutup.


Setelah menyelimuti Azila dan memunguti pakaian yang tercecer di lantai, Candra membuka kopernya dan memakai kaos dengan celana pendek selutut yang tidak press body.


Kini Candra sudah berada di dapur, dia membuka kulkas dan mendapati banyak bahan makanan di sana. Candra mengambil dua paha ayam dan dua dada ayam, dia berencana memasak untuk makan malamnya dan Azila.


Kini Candra mulai berkutat membuat bumbu untuk menggoreng ayamnya. Para pelayan hanya melihat Candra dari kejauhan karena Candra tidak mau dibantu. Daripada mengganggu majikannya memasak, mending mereka melihat dari jauh saja, siapa tahu nanti Candra butuh bantuan dan mereka bisa langsung membantu Candra, pikir para pelayan. Lagian para pelayan juga belum siap-siap untuk memasak makan malam karena jam makan malam memang masih lama.


Sudah setengah jam Candra menyiapkan empat potong ayam goreng dan sambal pedas manis, dia hanya bisa membuat lauk itu karena pembuatannya memang sangat simpel.


Candra meminta bantuan dua pelayan untuk membawa menu masakannya ke kamar. Setelah berada di depan kamarnya, Candra menyuruh kedua pelayan itu untuk berhenti sebelum melewati pintu kamar, dia tidak ingin kedua pelayan itu melihat kondisi kamarnya yang memang masih sedikit berantakan karena ulahnya bersama Azila.


Candra mengambil satu-persatu nampan yang dibawa oleh kedua pelayan tadi. Setelah itu dia menyuruh kedua pelayan untuk pergi. Kini dia sudah menata masakan di atas lantai yang beralaskan karpet. Candra menghampiri Azila dan duduk di sampingnya untuk membangunkan wanita cantik itu.


"Sayang, ayo bangun, temani aku makan," ucap Candra dengan lembut.


Azila masih terlalu lelap dalam tidurnya, Candra mulai jahil dengan menekan-nekan pipi Azila dan menarik bibir Azila ke atas seperti orang tersenyum lebar.


Beberapa saat sudah Candra melakukan kejahilannya itu, tetapi Azila masih belum juga bangun. Terbersit sebuah ide jahil lain di otak Candra, senyum aneh mulai menghiasi wajah tampannya itu. Candra beranjak berdiri dan mencari sesuatu yang terbuat dari bulu.


Sejauh matanya memandang, dia menemukan beberapa helai bulu ekor merak yang tertempel di dinding. Segera saja dia mengambil satu bulu merak itu dan kembali duduk di samping Azila.


"Kerbau ku yang cantik, maafkan aku yang nakal, ini, ya. Aku terpaksa melakukan, ini, karena kamu susah dibangunin," gumam Candra di samping telinga Azila.


Candra mulai mendekatkan bulu merak itu ke hidung Azila dan menggesek-gesekkan nya di permukaan lubang hidung Azila. Beberapa saat memang Azila masih terdiam tanpa ada respon, tetapi dia mulai menggerakkan hidungnya yang terasa gatal, sesekali Azila menggaruk hidungnya dan kembali tidur nyenyak lagi. Candra masih terus menggesek-gesekkan bulu merak itu ke hidung Azila hingga membuat hidung Azila kembang kempis.


Haccttcing ....


Akhirnya Azila bersin dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Saat Azila membuka matanya, dia melihat Candra yang sedang menahan tawanya.


"Apa, sih! Ganggu orang tidur aja," gerutu Azila.


"Habisnya, kamu dibangunin dengan cara normal nggak bisa," jawab Candra sambil tersenyum.


"Ngapain pakai acara bangunin orang tidur, sih. Kamu nggak aku capek, ya?" gerutu Azila sambil menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Temenin aku makan," ucap Candra sambil menarik selimut Azila hingga memperlihatkan kepala Azila.


"Makan, ya, makan aja sana, ngapain gangguin orang tidur segala!" jawab Azila yang sedikit emosi, "Bikin orang emosi aja," gumam Azila.


Candra tersenyum melihat Azila yang jadi marah gara-gara dia bangunkan. Candra membaringkan tubuhnya di samping Azila dan menyangga kepalanya dengan tangan.


"Maafin aku, ya, Sayang, karena sudah ganggu tidurmu, lain kali nggak aku ulangi lagi, deh," ucap lembut Candra sambil mengelus perut Azila.


"Nggak usah sok manis!" sahut Azila sambil menoleh ke arah lain dan memanyunkan bibirnya.


Candra kembali tersenyum melihat tingkah Azila yang membuatnya gemas. Candra memeluk Azila dan menaikkan kakinya ke atas kaki Azila hingga membuat Azila susah bergerak, dia memeluk Azila sambil menciumi pundak Azila.


"Candra ..! Aku nggak bisa gerak!" ucap Azila sambil mencoba untuk melepaskan dirinya dari pelukan Candra.


Candra menarik wajah Azila hingga mereka berdua saling menatap.


Cupp ....


Satu kecupan manis Candra darat kan di bibir Azila.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan, huh? Kamu selalu bisa membuatku tergoda untuk menikmati surga bersama," ucap Candra dengan mata saling menatap dengan Azila.


Pipi Azila jadi merah merona mendengar ucapan Candra, dia ingin tersenyum tetapi dia malu dan untungnya tangan Candra menahan rahangnya membuat senyumnya tidak tampak.


"Awas, ah! Katanya minta ditemenin makan," ucap Azila sambil memalingkan wajahnya agar terlepas dari tangan Candra.


"Tadi nggak mau, sekarang mau, yang bener yang mana?" tanya Candra menggoda.


"Jangan menggodaku, Candra. Aku sedang bermurah hati sekarang," kilah Azila.


"Lalu?" tanya Azila.


"Lalu singkirkan tangan, dan kakimu yang besar, itu. Aku nggak bisa bangun kalau terus kamu tindih," jawab Azila dengan sedikit emosi.


"Oh, maaf, aku lupa," balas Candra sambil melepaskan pelukannya.


"Lupa-lupa kepalamu!" gerutu Azila yang samar-samar terdengar Candra namun tidak jelas.


"Kamu bicara apa?" tanya Candra.


"Kamu ganteng," kilah Azila sambil beranjak dari ranjang.


"Apa kamu baru menyadarinya?" tanya Candra yang ikut beranjak dari ranjang.


"Sepertinya aku mencium bau-bau ayam goreng," ucap Azila sambil mengendus-endus.


"Lihat aja di bawah!" jawab Candra sedikit cemberut karena pertanyaannya diabaikan.


Azila menatap Candra yang membuang muka, dia malah tersenyum melihat wajah Candra yang sedikit ditekuk itu. Azila berjalan menghampiri Candra dan memeluknya.


"Dengar, ya, suami tampan ku-" Sambil mencolek hidung Candra, "Dari kita bertemu saat malam perjodohan kita, aku sudah mengagumi ketampanan mu yang tiada tara, ini," ucap Azila.


Candra kembali menatap Azila, "Benarkah?" tanya Candra dengan mata penuh harapan. Azila mengangguk yakin dengan senyum manisnya.


"Ternyata kamu pengagum rahasia ku," ucap Candra dengan bangganya.


"Kapan ak-" ucapan Azila terhenti karena Candra mencium bibirnya dan sedikit memberi lumatan.


"Aku tidak menerima alasan apapun, dan aku tetap percaya jika kamu adalah pengagum rahasia ku," ucap Candra sambil melepaskan pelukannya dan duduk di lantai menghadap masakannya.


"Menyebalkan," gerutu Azila. Candra tertawa mendengar Azila menggerutu.


"Sebaiknya kamu cepat pakai pakaian mu, dan temani aku makan," ucap Candra, "Aku juga membuatnya untukmu," lanjut Candra.


Azila menurut dan segera mengambil pakaiannya di lemari lalu ikut duduk di samping Candra.


"Apa sambalnya pedas?" tanya Azila.


"Sedikit pedas, tapi lebih dominan manis sesuai selera mu," jawab Candra.


"Kamu memang paling pengertian," ucap Azila.


"Sudah tugasku," jawab Candra.


"Kalau begitu, suapi aku pakai tanganmu, jangan pakai sendok," ucap Azila.


"Dengan senang hati, Nona," balas Candra sambil melempar senyum manis.


Candra mulai menyuapi Azila dengan tangannya, dia bergantian setelah menyuapi Azila lalu menyuapi dirinya sendiri. Tawa renyah tak luput dari mereka berdua sambil menikmati makanan yang sederhana itu.


"Aku hanya butuh hal sederhana seperti, ini, untuk bahagia," ucap Azila, "Dan yang penting harus ada kamu di setiap kebahagiaan, dan kesedihan ku," lanjutnya.


"Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu, dan tidak akan pernah membuatmu sedih lagi," balas Candra.


Hanya mengingatkan saja, jangan lupa kasih like, komen, dan vote. Jangan keasikan baca terus lupa buat dukung author. Okay:)