
Langit senja telah tenggelam dalam kegelapan, seberkas cahaya bersinar terang, menerangi villa mewah yang berdiri kokoh menghadap pantai.
"Apa kamu sudah kenyang?" Tanya Candra ke Azila.
"Bukan kenyang lagi, tapi kekenyangan," jawab Azila sambil mengelus perutnya.
"Apa kamu mau mandi?" Tanya Candra, "Biar aku siapkan air untukmu," imbuhnya.
"Tidak usah," kata Azila, "Sekarang, aku sedang ingin melihat pemandangan di luar," jelas Azila.
"Baiklah, ayo, aku gendong," tawar Candra sambil mengulurkan tangannya yang siap mengangkat Azila.
"Tidak usah, bantu aku jalan aja," jawab Azila.
"Apa kamu kuat berjalan? Apa sudah nggak sakit lagi, itu kamu?" Tanya Candra yang kuatir.
"Udah agak mendingan, kok," jawab singkat Azila sambil melebarkan senyumnya.
Mendengar jawaban Azila, Candra merasa lega lalu berjalan ke arah Azila, dia membantu Azila untuk berdiri dan merangkul kan tangan kiri Azila ke pundaknya. Candra membantu Azila berjalan perlahan untuk keluar dari villa mereka.
Mereka berdua duduk di kursi kayu sederhana yang ada di teras depan villa. Azila duduk dengan menyenderkan tubuhnya dan meluruskan kakinya di kursi kecil yang ada di depannya.
Candra yang duduk di samping Azila, nampak asik melamun sambil memandangi wajah Azila. Senyum demi senyum Candra terukir begitu manis di bibirnya.
Azila yang mengetahui kalau sekarang dia sedang di pandang oleh sepasang mata milik Candra, dia mulai salah tingkah dan tersipu malu. Azila melambaikan tangannya di depan wajah Candra untuk membangunkannya dari lamunan.
"Hey, Candra, sadar!" Seru Azila dengan tangan yang masih melambai. Tetapi usaha itu tidak cukup efektif untuk membangunkan Candra dari lamunan bahagianya.
Azila mencoba berpikir, bagaimana caranya agar Candra terbangun dari lamunan itu. Setelah berpikir beberapa saat, Azila mendapatkan ide yang cukup jahil, perlahan lahan tangan Azila di dekatkan ke hidung Candra dan langsung menariknya sekuat tenaga, "Aarrgghhh.." Candra berteriak kesakitan.
"Apa yang kamu lakukan, Zila?" Tanya Candra yang agak kesal sambil mengelus-elus hidungnya yang merah.
"Siapa suruh kamu melamun sambil memandang ku, senyam-senyum kayak orang gila pula," jawab Azila yang menahan tawa. Candra terdiam sambil terus mengelus hidung merahnya, lalu ia berkata, "Iya-iya, maafkan aku, aku hanya terpesona oleh kecantikan istriku, ini."
Azila tersenyum mendengar perkataan Candra, "Emang enak aku kerjain, siapa suruh kamu membuat ku sampai tidak bisa jalan kayak gini," ucap Azila dalam hatinya.
Malam semakin gelap dan angin semakin bertiup dingin, Candra dan Azila masih asik mengobrol sambil sesekali melontarkan candaan yang membuat mereka tertawa gembira.
"Sayang, ayo masuk ke dalam, udara di luar semakin dingin, nanti kamu masuk angin," ajak Candra.
Azila menganggukkan kepalanya dan Candra lekas membantu Azila untuk berdiri dan berjalan.
≈≈≈
Candra dan Azila sudah ada di dalam kamar mereka. Azila yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memainkan rambutnya yang agak kasar karena air laut. Dia sedang menunggu Candra selesai menyiapkan air hangat untuknya berendam di kamar mandi.
Candra keluar dari kamar mandi, "Sayang, ayo, airnya udah siap," ajak Candra.
Azila beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan dengan perlahan-lahan.
"Apa kamu mau aku temani mandinya, Sayang?" Tanya Candra yang kuatir sekaligus menggoda Azila.
"Tidak usah, nanti mandi yang seharusnya memakan waktu 20 menit, bakal jadi 2 jam," dengus Azila.
Candra hanya tertawa kecil karena mendengar perkataan Azila, lalu Azila masuk ke dalam kamar mandi dan melakukan aktifitas mandinya, sedangkan Candra terlihat sedang memainkan ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Halo, Bun," panggil Candra ke Bundanya yang sudah tersambung ke panggilannya.
"Iya, Nak, ada apa?" Jawab Bunda Putri dari sambungan telepon.
"Bun, aku sama Azila pulang besok siang, dan beritahu Ayah kalau besok aku ambil cuti," jawab Candra.
"Baiklah, Nak. Besok kamu pulangnya hati-hati ya, nggak usah ngebut dan jaga istri mu dengan baik!" Perintah Bunda Putri dari dalam telpon.
"Siap, Bunda," jawab Candra, "Ya, udah, Bun. Candra matikan dulu ya telponnya," ucap Candra.
Bunda Putri menjawab, "Iya, Nak. Sampai jumpa besok."
Setelah sambungan telponnya mati, Candra pergi ke lemari dan menyiapkan baju untuk Azila. 15 menit telah berlalu sejak telpon Candra mati, dan Azila baru keluar dari kamar mandi.
"Sayang, bajumu udah aku siapin di atas kasur," ucap Candra, "Aku pergi mandi dulu," imbuh Candra sambil mengusap rambut Azila yang basah dan mengecup kening Azila, setelah mencium kening Azila, Candra berlalu pergi ke kamar mandi.
Pipi putih Azila seketika menjadi merah merona karena mendapatkan perlakuan manis dari Candra, dengam segera dia memakai baju yang sudah di siapkan oleh Candra.
Tak berselang lama, Candra keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya, Candra melihat Azila yang sudah tertidur di kasur empuk mereka.
Candra mengeringkan badan dan rambutnya, lalu dia mengambil celana pendek pantai dan mengenakannya. Candra yang hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada, naik ke atas kasur dan masuk ke dalam selimut. Candra memeluk tubuh Azila yang sudah tertidur menghadap dirinya, sebenarnya Azila hanya pura-pura tidur saja, karena dia malu dengan pipinya yang memerah karena perlakuan manis Candra.
Candra mengelus-elus pipi Azila yang putih, mulus, dan kenyal itu, "Takdir kita sangat lucu ya, Sayang. Berawal dari permusuhan yang membuat kita saling membenci dan kita malah di persatukan oleh perjodohan orang tua kita, tapi aku tidak menyangka jika kebencian kita malah menjadi benih cinta kita," ucap Candra pelan, namun masih terdengar jelas oleh telinga Azila.
"Dan hari ini, kita telah mengakui jika kita saling mencintai satu sama lain, aku akan selalu mencintaimu Zila, kamu adalah wanita pertama dan terakhir yang berhasil menjinakkan cintaku," ucap lirih Candra yang sekarang menakupkan tangannya ke pipi Azila.
"I Love U, Zila," ucap Candra agak berbisik di dekat wajah Azila, lalu Candra memcium pipi Azila dan mengecup keningnya.
Setelah puas memandangi wajah Azila dengan jarak yang kurang dari 10 centi meter, Candra memeluk tubuh Azila dan memejamkan matanya dan mencoba untuk tertidur. Azila pelan-pelan membuka matanya dan mengintip Candra yang sudah terpejam namun belum tidur.
"Aku juga mencintaimu Candra, bahkan sangat mencintaimu, I Love U, Candra suami ku," gumam Azila yang terdengar oleh Candra.
"Kamu ternyata belum tidur, Sayang?" Tanya Candra secara tiba-tiba yang membuat Azila terkejut.
"Ke-kenapa kamu belum tidur?" Tanya Azila yang gelagapan karena terkejut.
"Sekarang aku tidak bisa tidur kalau belum mendapat ciuman dari kamu, Sayang," jawab Candra dengan nada manja.
"Kebiasaan baru macam apa itu," balas Azila yang pipinya kembali merona.
"Kebiasaan baru setelah aku, kamu, jadi kita," ucap Candra yang begitu romantis dan senyum manis di bibirnya yang tidak tipis.
"Apaan sih, cepat tidur!" Ucap Azila yang salah tingkah dibuat Candra.
Lalu Candra menarik kepala Azila dan memajukan wajahnya, cupp.. bibir Azila dan Candra bertemu, Candra mulai memainkan bibir Azila dan Azila hanya pasrah dan ikut menikmatinya, cukup lama mereka berdua berciuman dan pada akhirnya mereka menyudahinya.
"Good night, Istriku," ucap Candra lalu mengecup kening Azila.
Azila membalas dengan senyum manisnya lalu mereka berdua memejamkan mata, dan tak lama kemudian mereka berdua tertidur dengan sangat nyenyak sambil berpelukan sampai sinar mentari pagi sudah menyinari dunia.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙