My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Petir menyambar



Klek, pintu kamar perawatan Candra terbuka, Azila yang sudah lelah menunggu sontak berdiri dan berlari menuju pintu, dia melihat pasien wanita yang ada di sebelah Candra di bawa keluar.


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" Tanya Azila ke Pak Dokter yang baru keluar, setelah ranjang wanita tadi keluar terlebih dahulu.


"Kondisi Tuan Candra sudah stabil, Nona. Hanya saja--" jawab Pak Dokter yang menggantung.


"Hanya saja apa, Dok?" Tanya Azila yang mulai panik dan was-was.


"Hanya saja, Tuan Candra masih dalam keadaan koma, dan kita tidak tahu kapan Tuan Candra akan tersadar kembali," jawab Pak Dokter dengan nada yang sangat meyakinkan.


"Terima kasih, Dok," jawab Azila, "Oh, ya, kalau boleh tau, siapa wanita yang dibawa sama 2 Suster tadi, Dok?" Lanjut Azila yang bertanya karena sudah sangat penasaran.


Pak Dokter berpikir sejenak, "Wanita tadi itu, juga salah satu korban kecelakaan yang dialami oleh Tuan Candra, Nona," jawab Pak Dokter.


"Apa wanita tadi yang mengendarai truk sayur? Masa wanita secantik itu mau jadi sopir truk sayur, ah, enggak mungkin. Tanya Pak Dokter ajalah daripada bingung mikir," batin Azila yang semakin penasaran dengan wanita tadi.


"Kalau boleh tau, kenapa dia bisa terlibat dalam kecelakaan tadi pagi, Dok?" Tanya Azila yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Ternyata menantuku memiliki rasa penasaran yang tinggi," ucap Bunda Putri dalam hatinya.


"Menurut informasi yang saya dapat, wanita tadi berada dalam satu mobil yang sama dengan Tuan Candra, Nona," jawab Pak Dokter yang membuat jantung Azila serasa berhenti berdetak dan tiba-tiba langsung berdetak semakin cepat dan semakin cepat lagi.


"Tidak Zila, tidak, Candra tidak mungkin berselingkuh darimu," teriak Azila dalam hatinya.


"Pak Dokter yang benar saja, pasti informasi yang Pak Dokter dapatkan itu salah," ucap Azila yang menyangkal jawaban Pak Dokter, "Bunda, Bunda, pasti tahukan, wanita tadi tidak mungkin berada dalam satu dengan Candra kan, Bun?" Tanya Azila dengan suara yang mulai berat dan nafas yang sudah memburu.


"I-itu benar, Zila. Wanita tadi berada dalam satu mobil dengan Candra," jawab Bunda Putri yang ragu untuk menjawab.


Setelah mendengar jawaban Bunda Putri, Azila mulai memegang kepalanya dengan kedua tangannya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya seperti sedang mengusir sesuatu dari dalam kepalanya. Lalu, tiba-tiba Azila ambruk ke lantai.


"Zila!" Teriak Bunda Putri yang langsung terduduk di lantai dan mencoba membangunkan Azila.


"Nyonya, kita bawa ke dalam saja, biar saya periksa di dalam," ucap Pak Dokter yang juga ikut duduk sambil mengangkat kepala Azila.


Bunda Putri mengangguk dan setuju, "Baiklah, ayo kita angkat ke dalam, Dok," ucap Bunda Putri yang sangat kuatir, lalu Pak Dokter menggendong Azila masuk ke dalam kamar perawatan Candra.


≈≈≈


"Diluar ada apa sih, kok berisik banget," gumam Candra yang mendengar teriakkan tidak jelas.


Klek, pintu kamar terbuka dan Candra dengan cepat langsung memejamkan matanya tanpa melihat siapa yang masuk.


"Ayo cepetan, Dok!" Seru Bunda Putri yang sudah tidak bisa mengontrol rasa paniknya.


Bunda Putri dan Pak Dokter berlari menuju ranjang yang lumayan besar dan membaringkan Azila di sana, Pak Dokter dengan sigap langsung memeriksa keadaan Azila.


"Gimana, Dok? Apa anak dan cucu saya baik-baik saja?" Tanya Bunda Putri yang mulai tenang walaupun kekuatiran masih melanda jiwa dan raganya.


Pak Dokter terkejut dengan ucapan Bunda Putri barusan, "Apa Nona Azila sedang hamil, Nyonya?" Tanya Pak Dokter.


Bunda Putri menganggukkan kepalanya lalu berkata, "Zila sedang hamil muda, Dok. Kurang lebih usia kandungannya baru 6 Minggu."


Candra yang merasa dicuekan oleh orang yang baru masuk, dia mulai mengintip dengan kantung mata yang mengeryip dan sedikit terbuka. Candra sontak terkejut saat melihat Azila yang terbaring dan sedang diperiksa olek Pak Dokter, dia langsung mencabuti semua alat-alat yang menempel pada tubuhnya, dengan cepat dia turun dari ranjangnya dan berlari ke arah ranjang Azila.


"Zila kenapa, Bun?" Tanya Candra yang sudah berada di samping Bunda Putri, dan Bunda Putri hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Candra.


"Kita tunggu sebentar, Nyonya. Saya sudah memanggil Dokter kandungan ke sini," ucap Pak Dokter.


"Bunda, jawab Candra, Bunda. Kenapa Zila bisa tidak sadarkan diri begini?" Tanya Candra dengan nada sedikit membentak karena dia terkejut mendengar kata Dokter kandungan.


Plak, satu tamparan keras mendarat di pipi putih Candra hingga meninggalkan bekas merah berbentuk tangan di pipinya.


"Ke-kenapa Bunda menampar ku?" Tanya Candra yang tidak mengerti tentang apa yang terjadi saat ini.


Klek, suara pintu terbuka, dan masuklah seorang wanita yang memakai jas putih khas seorang Dokter.


"Maaf, kalau sudah menunggu lama, Nyonya," ucap Ibu Dokter yang baru datang.


"Cepat periksa kondisinya, Bu Dokter!" Perintah Bunda Putri yang lagi-lagi tidak menghiraukan Candra.


Candra hanya diam seperti semua orang yang ada disitu, mereka menunggu Bu Dokter untuk selesai memeriksa Azila.


"Jika terjadi apa-apa pada calon cucuku, Bunda tidak akan memaafkan kamu, Candra," ucap Bunda Putri yang bagaikan petir menyambar di hati Candra.


Mendengar ucapan Bunda Putri, kaki Candra seketika menjadi lemas dan membuat tubuhnya ambruk dengan posisi berlutut, "Maksud, Bunda?" Tanya Candra yang mencoba menerka-nerka apa maksud ucapan Bunda Putri barusan.


"Dia sedang mengandung anakmu dan kamu malah membuat dia pingsan dua kali hari ini," jawab Bunda Putri dengan nada membentak.


"Apa yang sudah aku lakukan?" Tanya Candra pada dirinya sendiri, dengan wajah lesu dan menunduk menghadap lantai kamar perawatan rumah sakit.


"Ke-kenapa Bunda tidak memberitahu Candra sebelumnya, Bunda?" Tanya Candra dengan wajahnya yang mulai pucat, karena takut terjadi hal-hal buruk yang akan menimpa istri dan calon anaknya.


"Karena dia ingin memberimu kejutan saat kamu pulang dari perasaan cemburu mu yang berlebihan itu!" seru Bunda Putri yang sudah tidak bisa menahan amarahnya terhadap Candra.


"Tuan, Nyonya. Maaf karena mengganggu perbincangan kalian, jika Tuan dan Nyonya ingin berdebat, silahkan lanjutkan di luar, saya tidak bisa fokus kalau Tuan dan Nyonya berdebat di sini," tutur Ibu Dokter yang tidak bisa fokus karena terganggu oleh perdebatan Candra dan Bunda Putri.


"Maaf, Dok," balas Bunda Putri.


Ibu Dokter melanjutkan pemeriksaannya setelah Candra dan Bunda Putri lebih tenang, tak butuh waktu lama, Ibu Dokter telah selesai memeriksa kondisi Azila dan calon bayinya.


"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok?" Tanya Candra sembari berdiri dari duduknya di lantai.


"Kondisi Nona Azila baik-baik saja, hanya terlalu tertekan dan banyak pikiran saja," jelas Ibu Dokter.


"Lalu bagaimana kondisi kandungannya, Dok?" Tanya Bunda Putri.


"Kandungan Nona Azila--" jawab Ibu Dokter yang menggantung.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙