
Candra berjalan menyusul Azila yang sudah duduk sambil menata rambutnya di depan cermin rias. Candra bisa melihat wajah Azila yang begitu senang setelah berhasil membuatnya kesal.
"Sayang, tanggung jawab dong, nanggung nih," ucap Candra yang kini sudah berdiri di samping Azila.
"Enggak mau, aku laper, Sayang. Dari tadi belum makan terus gendong bayi berjam-jam, capek tau," tolak Azila sambil memasang wajah lemah lesu.
"Kamu kok tega sih ngerjain aku, tadi diajak makan dulu kamu malah godain aku sampai jadi gini," Candra menunjuk adik kecilnya, "Masa iya berhenti tengah jalan? Kasihan dia tau," ucap Candra sambil menunjuk juniornya lagi.
Azila berdiri, "Pikiran mesum di sini ilangin, biar dia tidur lagi," ucap Azila sambil mengusap kepala Candra lalu kembali ke fitting room.
Candra berjalan mengekori Azila ke fitting room dengan wajah ditekuk, bibirnya manyun seperti anak kecil yang minta ice cream tapi tidak dibelikan. Sesampainya di fitting room Candra hanya berdiri diam melihat Azila yang sedang memilih baju yang pasti untuknya.
"Nih, pakai, ini!" ucap Azila sambil memberikan kaos putih polos, celana pendek gelap bermotif, dan jaket ke Candra.
"Pakaiin," ucap Candra sambil merentangkan kedua tangannya.
"Hemh, manjanya mulai keluar lagi," gumam Azila.
Dengan terpaksa Azila menuruti kemauan suaminya, hitung-hitung untuk menebus dosa karena sudah mengerjai Candra.
"Sayang," panggil Azila pelan sambil memasangkan celana dalam Candra.
"Hm, apa?" jawab Candra, "Mau berubah pikiran?" tanya Candra.
Puukk
"Auuhh!" Candra mengaduh kesakitan karena adik kecilnya yang masih sedikit tegang di pukul oleh Azila.
"Kok dipukul sih? Sakit tau," lanjut Candra mengeluh.
"Biarin, siapa suruh otakmu mesum terus," balas Azila, "Angkat kakimu!" lanjutnya sambil menyiapkan celana pendek Candra.
"Namanya juga manusia, Sayang. Pasti jadi mesum kalau kebutuhannya tertunda lama," ucap Candra sambil memasukkan kakinya ke lubang celana pendek di tangan Azila.
"Sabar aja dulu, aku kan baru lahiran sebulan yang lalu, masih belum bisa seperti sebelum hamil," ucap Azila, "Lagian Kean sama Lean juga tidur di samping ranjang kita, nanti kalau mereka kebangun di tengah permainan gimana?" lanjutnya.
"Untung saja sabarku tumpah-tumpah, kalau enggak, bisa ku perkosa kamu, Yang," ucap Candra yang sudah mulai tersenyum lagi.
Azila berdiri sambil membantu Candra memakai kaos, "Aku menanti, itu," ucap Azila dengan berbisik.
Cupp
Candra mencium bibir Azila, "Udah, jangan menggodaku, aku tidak akan tertipu lagi," ucap Candra sembari membenarkan kaosnya.
"Sabar-sabar aja dulu," ucap Azila sambil tertawa.
"Ayo berangkat," ucap Candra sambil mengambil jaketnya lalu pergi meninggalkan Azila.
Paakk
Azila memukul pantat Candra dengan gemas dan lumayan keras, "Berangkat," ucap Azila sambil tertawa puas.
Candra tidak menghiraukan pantatnya yang dipukul Azila, memang tidak sakit tapi sedikit panas di kulit pantatnya. Azila mempercepat langkahnya agar sejajar dengan langkah suaminya.
"Sayang, kita naik sepeda motor aja yuk cari makan malamnya," ucap Azila sambil merangkul lengan Candra.
Candra menghentikan langkahnya membuat Azila juga berhenti melangkah, "Di luar dingin, Sayang. Nanti kamu kedinginan," ucap Candra.
"Tapi, aku mau naik sepeda motor, Sayang. Biar aku bisa peluk kamu kalau kedinginan, lagian kita tidak pernah naik sepeda motor berdua boncengan gitu, aku juga pengen romantis kayak pasangan lainnya yang bisa peluk-peluk di sepanjang jalan," ucap Candra.
"Masalahnya, kita nggak punya sepeda motor, Sayang," jawab Candra.
"Pak Ujang kan punya, Sayang. Kita pinjem aja," ucap Azila.
"Lalu Kean sama Lean gimana? Nanti kalau naik sepeda motor bakal lama," ucap Candra.
"Minta Bunda buat jagain aja," jawab Azila.
"Ya udah, ayok kita bilang Bunda dulu," ucap Candra lalu Azila mengangguk.
Candra dan Azila keluar kamar lalu naik ke lantai dua ke kamar Ayah Yoga dan Bunda Putri.
Tok tok tok tok
Candra mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya. Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka dan Bunda Putri keluar dengan kacamata bacanya di dahi.
"Ada apa?" tanya Bunda Putri, "Mereka mulai rewel?" lanjut Bunda Putri. Maksud kata mereka adalah Kean dan Lean.
"Tidak, Bun. Mereka sudah tidur," jawab Azila
"Lalu?"
"Kita mau keluar cari makan malam, Bun. Nanti kan Kean sama Lean kita tinggal, nah kita minta tolong Bunda untuk jagain mereka tidur," jawab Candra.
"Enggak lama kok, Bun. Cuma satu sampai dua jam aja," ucap Azila menambahi.
"Ada apa, Bun?" tanya Ayah Yoga yang ikut keluar.
"Kalian mau keluar?" tanya Ayah Yoga. Candra dan Azila mengangguk.
"Kalau gitu ayah nitip belikan terang bulan di dekat persimpangan depan, ya," ucap Ayah Yoga, "Kean sama Lean biar Ayah sama Bunda yang jagain mereka," lanjut Ayah Yoga.
"Oke, Yah. Kalau gitu kita pamit pergi dulu, ya," pamit Candra sembari mencium punggung tangan kedua orangtuanya, begitupun dengan Azila.
"Bunda nitip minta beliin juga dong," ucap Bunda Putri, "Martabak daging yang ada di depan supermarket deket sini, itu," lanjutnya.
"Nitip atau minta dibelikan nih, Bun?" tanya Candra menggoda.
"Belikan aja, Bunda nggak punya uang kecil," jawab Bunda Putri sambil tertawa.
"Hm, iyalah, Bunda kan cuma punya dollar aja," balas Candra, "Ya udah, kita berangkat dulu, Yah, Bun," pamit Candra sembari berjalan pergi.
"Iya, hati-hati," ucap Bunda Putri.
Di depan rumah Candra dan Azila berjalan menghampiri pak Ujang di pos satpam.
"Malam, Pak Ujang!" sapa Candra.
"Iya, Tuan. Ada apa, ya?" tanya pak Ujang.
"Pak, kita pinjam sepeda motornya Pak Ujang dong," ucap Azila.
"Buat apa, Non?" tanya pak Ujang.
"Buat cari makan malam, Pak. Dia minta naik sepeda motor," jawab Candra.
"Oh, silahkan, Tuan, Nona," ucap pak Ujang, "Tapi, sepeda motor saya jelek, Tuan. Apa tidak apa-apa kalau Tuan sama Non Azila naik sepeda motor jelek saya?" tanya pak Ujang.
"Enggak masalah, Pak. Yang penting aman dipakai, dan ada bensinnya," jawab Candra.
"Kalau bensin tenang aja, Tuan. Tadi baru saya isi full," ucap pak Ujang.
"Kalau gitu kuncinya mana, Pak? Kita mau cepet berangkat, soalnya takut Kean sama Lean kebangun cepet," ucap Candra.
"Ini, Tuan." Pak Ujang menyerahkan kunci sepeda motornya.
"Helmnya ada, Pak?" tanya Candra.
"Di sini cuma ada satu, Tuan. Tapi istri saya tadi pagi juga bawa helm waktu ke pasar," jawab pak Ujang, "Tunggu sebentar, Tuan. Saya ambilkan helm istri saya dulu, ya, Tuan," lanjut Pak Ujang.
Tidak lama kemudian pak Ujang keluar lewat garasi sambil membawa helm bogo milik bik Ijah istrinya.
"Ini, Tuan," ucap pak Ujang sambil memberikan helm bogo istrinya.
"Lalu, helm satunya mana, Pak?" tanya Candra.
"Ada di dalam jok sepeda motor, Tuan," jawab pak Ujang.
"Oke, kalau gitu kita pinjam sepeda motornya, ya, Pak," ucap Candra. Pak Ujang mengangguk.
"Kita berangkat dulu, Pak," pamit Candra. Pak Ujang kembali mengangguk.
Candra dan Azila pergi ke depan garasi di mana sepeda motor pak Ujang selalu diparkir di sana. Candra membuka jok lalu mengambil helm hitam yang bertuliskan Scoopy di bagian belakangnya. Sama dengan helmnya, sepeda motor pak Ujang adalah Scoopy.
Candra memakai helm Scoopy, sedangkan Azila memakai helm bogo, mereka berdua naik lalu Candra lekas menjalankan sepeda motornya pak Ujang. Di gerbang depan sudah ada pak Ujang yang membukakan gerbang untuk Candra dan Azila.
"Mari, Pak," ucap Azila. Pak Ujang mengangguk sambil tersenyum lalu dia menutup kembali gerbangnya setelah majikannya keluar.
Azila begitu senang dibonceng oleh Candra, dia bisa bebas memeluk Candra sambil menopangkan kepalanya di bahu Candra. Walaupun udara dingin menerpa mereka berdua, tapi pelukan mereka menghangatkan satu sama lain.
"Ini, kencan pertama kita setelah kita jadi Bapak-bapak, dan Ibu-ibu," ucap Azila.
"Kamu senang kita kencan naik sepeda motor begini?" tanya Candra.
"Tentu saja, aku lebih senang naik sepeda motor daripada naik mobil," jawab Azila.
"Kalau begitu aku akan beli sepeda motor untuk kita kencan," ucap Candra.
"Benarkah?" tanya Azila
"Tentu saja, apapun, itu, akan aku usahakan asal kamu senang, dan bahagia," jawab Candra.
"Tapi kalau siang aku nggak mau naik sepeda motor," ucap Azila.
"Kenapa?"
"Panas, aku nggak kuat lama-lama di bawah panas matahari langsung, nanti bisa gosong juga," jawab Azila.
"Bisa di atur," ucap Candra.
Azila semakin mengeratkan pelukannya, tidak ada jarak sama sekali di antara mereka berdua. Angin malam yang dingin ditambah hangatnya pelukan mereka membuat malam itu menjadi sangat indah dan nyaman hingga mereka tidak ingin malam itu cepat berlalu.
Beri semangat ke author dengan cara like dan komen. Jangan keasikan baca terus sampai lupa buat like.