
Pagi sudah beranjak siang, Eldar masih terus berada di samping Naza setelah dia mandi tadi pagi. Eldar dan yang lainnya juga sudah tahu kalau hari ini Azila akan melahirkan, namun Eldar tidak bisa melihat keadaan Azila dikarenakan dirinya tidak bisa jauh-jauh dari sisi Naza.
Ada rasa bahagia yang beradu dengan rasa takut Eldar, kedua rasa itu berkecamuk di dalam hatinya. Eldar sesekali menciumi punggung tangan Naza, entah sudah berapa banyak cerita yang ia dongengkan di telinga Naza.
Eldar mendekatkan kursinya ke ranjang Naza, dia menidurkan kepalanya di samping bahu laki-laki tercintanya yang sudah lima hari terbaring koma.
"Sayang, apa kamu nggak mau bangun? ... sebentar lagi kita akan mempunyai keponakan pertama, apa kamu nggak mau melihat wajah keponakanmu yang pastinya sangat lucu?" tanya Eldar.
"Apa kamu nggak pengen punya baby kayak mereka? Aku saja yang umurnya lebih muda dari mereka sudah pengen cepet-cepet punya baby, masa kamu enggak?" ucap Eldar, "Cepatlah bangun, dan ayo kita nikah terus bikin baby yang lucu," lanjut Eldar.
Tanpa Eldar sadari air matanya kembali jatuh untuk kesekian kalinya, hari-hari Eldar kini tidak lagi seceria yang dulu, setiap hari dia pasti menangis di samping Naza, Eldar menghapus air matanya lalu mencium kening Naza.
≈≈≈≈
Sudah sebelas jam lebih Azila terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Sampai saat ini bayinya masih belum keluar karena jalan keluarnya masih terlalu sempit. Rasa sakit yang ia rasakan semakin sering dan semakin lama.
Candra yang setia menemani Azila di sampingnya hanya bisa memberi semangat dan doa, dia tidak tahu seberapa sakit yang dirasakan oleh Azila. Rintihan-rintihan Azila membuat air matanya jatuh karena tidak tega melihat Azila yang begitu kesakitan.
"Sayang, kamu yang kuat, ya, aku selalu di sampingmu untuk selamanya, aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Candra sambil menggenggam erat tangan Azila dan mencium kening Azila.
Bunda Putri dan Mamah Mitha dipanggil seorang perawat untuk ke ruangan Dokter Rizka, katanya ada hal penting yang harus pihak keluarga tahu mengenai proses persalinan Azila.
"Apa ada masalah, Dok?" tanya Mamah Mitha yang sudah berada di ruangan Dokter Rizka bersama Bunda Putri.
"Begini, nyonya. Nona Azila mengandung anak kembar, di dalam situasi, ini, kita tidak bisa memaksakan nona Azila untuk melahirkan secara normal. Tetapi, jika posisi kepala kedua bayi berada di bawah, itu, masih memungkinkan untuk melahirkan secara normal tanpa operasi," ucap Dokter Rizka, "Apa nyonya berdua memilih langsung operasi atau kita bantu melahirkan secara normal?" lanjut tanya Dokter Rizka.
Bunda Putri dan Mamah Mitha saling pandang, mereka tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi Azila pernah berbicara jika dirinya ingin melahirkan secara normal.
Dokter Rizka mengetahui kebingungan kedua nyonya besar di depannya, "Menurut hasil pemeriksaan terakhir kali yang dilakukan satu setengah bulan yang lalu, posisi kepala kedua bayi berada di bawah. Tetapi kita juga harus memastikannya untuk saat, ini," ucap Dokter Rizka, "Berhubung nona Azila meminta kalau tuan Candra tidak diberitahu tentang hal, ini, makanya nyonya berdualah yang akan memutuskan semua tindakannya," lanjutnya.
Bunda Putri dan Mamah Mitha kembali saling menatap lalu Mamah Mitha mengangguk seperti telah ada persetujuan di antara tatapan mereka berdua.
"Baiklah, Dok. Kita mengambil jalan lahiran normal, tapi jika saat proses persalinan ada masalah, kami juga setuju dengan tindakan melakukan operasi sesar," ucap Bunda Putri.
"Kalau begitu sekarang saya akan melihat kondisi nona Azila, dan melihat posisi kedua bayinya," ucap Dokter Rizka.
"Oh, baiklah, mari, Dok," ucap Bunda Putri.
Dokter Rizka dan dua wanita paruh baya tadi beranjak pergi menuju ruang persalinan Azila. Sesampainya di sana Candra terlihat bingung kenapa Dokter Rizka datang bersama Bunda dan mertuanya.
"Apa ada masalah, Dok?" tanya Candra.
"Tidak ada apa-apa, saya akan melakukan pemeriksaan sebentar," jawab Dokter Rizka, "Tuan Candra bisa keluar sebentar?" lanjut Dokter Rizka.
"Ada apa, ya, Dok? Saya mau menemani istri saya, lagian saya bukan orang asing, saya, ini, suaminya," ucap Candra.
"Iya, kamu keluar dulu saja tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja, kok, di sini juga ada Dokter Rizka yang pasti tau harus bagaimana mana menanganiku," ucap Azila. Sekarang rasa sakit di perut Azila sudah mereda, namun itu tidak bertahan lama, cuma tiga sampai tujuh menit saja dia tidak merasakan rasa sakitnya tadi.
"Baiklah, aku menunggumu di luar, kalau ada apa-apa langsung panggil aku," ucap Candra.
"Pasti," jawab Azila sambil tersenyum dan mengangguk.
Candra, Bunda Putri, dan Mamah Mitha keluar meninggalkan Azila serta Dokter Rizka dan dua perawat di ruang persalinan.
"Nona, sekarang saya akan melihat posisi bayi anda, apakah memungkinkan untuk melahirkan secara normal atau tidak," ucap Dokter Rizka.
"Silahkan, Dok," balas Azila.
Dokter Rizka menyibak daster Azila sampai di atas dada lalu Dokter Rizka mulai menempelkan alat seperti scanner ke perut Azila, alat itu tersambung dengan layar monitor di sampingnya.
Di layar monitor terlihat salah satu bayi Azila sudah dekat dengan jalan keluarnya menuju dunia. Beruntung sekali posisi kepala bayi berada di bawah jadi memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Bukan hanya bayi pertama yang beruntung, tapi bayi kedua pun juga beruntung karena posisi kepalanya ada di bawah jadi kedua bayi Azila bisa lahir dengan cara normal.
"Nona, sebentar lagi mungkin anak anda akan segera lahir, leher rahim anda juga sudah cukup lebar," ucap Dokter Rizka.
Benar saja, setelah Dokter Rizka berhenti bicara tiba-tiba Azila mengalami kontraksi lagi bahkan kontraksi ini lebih sakit dari sebelumnya.
"Suruh tuan Candra masuk! Nona Azila akan segera melahirkan," perintah Dokter Rizka ke seorang perawat di belakangnya. Perawat tadi segera memanggil Candra untuk masuk.
"Bagaimana, Dok?" tanya Candra dengan kekhawatiran yang tidak bisa ia tutupi.
"Tuan tenang saja, dan temani nona Azila," jawab Dokter Rizka, "Nona jangan cemas ... tenang, dan ikuti aba-aba dari saya," lanjut Dokter Rizka. Azila mengangguk mengerti.
"Sekarang tarik napas lalu mengejan!" ucap Dokter Rizka. Azila menarik napas dalam-dalam lalu mengejan sekuatnya.
"Lagi, tarik napas lalu dorong!" ucap Dokter Rizka.
Azila kembali menarik napas lalu mengejan sekuat-kuatnya. Butiran keringat sebesar biji jagung sudah memenuhi kening Azila, rasa sakit di panggulnya semakin parah, dia bisa merasakan bayinya yang perlahan bergerak melewati leher rahimnya menuju liang kewanitaannya.
"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa," ucap Candra memberi semangat.
Candra menggenggam erat tangan Azila, dia mengelus-elus kepala Azila sambil terus memberi istrinya semangat. Hidung dan kantung matanya memerah karena menahan tangisnya, dia tidak kuat melihat Azila yang begitu kesakitan.
"Sekali lagi, nona. Tarik napas lalu dorong!" ucap Dokter Rizka.
"Eegghaahhhh..!" Azila mengejan sekuat-kuatnya.
Jangan lupa like, vote, dan komen. Oke.