
Kevin menoleh ke arah kotak besar yang dari tadi dia bonceng, "Saya tidak tahu, Om," jawab Kevin setelah memandang kotak besar itu.
"Jadi, tugasmu saat ini adalah--" ucap Papah Hendri yang membuat Kevin dag dig dug tidak karuan.
Mata Kevin semakin menampakkan rasa penasarannya seperti anak kecil yang akan dikasih benda kesukaannya.
Bibir Papah Hendri terangkat sebelah melihat ekspresi Kevin, "Jadi, tugasmu saat ini adalah--" ucap Papah Hendri yang menggantung, "Adalah, turunkan dulu kotak itu, lalu buka, dan lihat isinya," ucap Papah Hendri yang melanjutkan ucapan menggantungnya tadi.
Tanpa mengeluh ataupun protes, Kevin segera melepaskan tali dari ban yang mengikat kotak sterofom, setelah Kevin menurunkan kotak itu, dia lekas membuka penutup kotak dan melihat isi di dalamnya, "What?" ucap Kevin dalam hatinya, Kevin menautkan alisnya dan mengerutkan dahi.
"Apa kamu sudah melihatnya?" tanya Papah Hendri yang kini sudah berdiri di belakang Kevin yang sedang berjongkok.
Kevin berdiri dengan wajah bingungnya, "Pantesan dari tadi aku mencium bau amis, ternyata itu parfum tumpukan ikan yang aku bonceng," gumam Kevin dalam hatinya.
"Kenapa diam?" tanya Papah Hendri dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke saku celananya.
Kevin menutup mulutnya dengan kerah kaos yang dipakainya, dia memang kurang suka dengan bau amis ikan, "Ti-tidak, Om." Kevin menjawab dengan tergagap.
"Baiklah, karena kamu sudah melihat isi kotaknya, sekarang Om akan memberitahu mu apa tugas yang akan kamu kerjakan," ucap Papah Hendri.
Kevin sudah memasang telinga dan membukanya lebar-lebar, "Iya, Om. Apa tugas Kevin setelah, ini?" tanya Kevin.
"Kamu lihat pasar tradisional, di sana?" ucap Papah Hendri sambil menunjuk ke dalam gang tempat mereka berhenti.
Kevin menoleh mengikuti arah tangan Papah Hendri menunjuk, "Iya," jawab Kevin sambil mengangguk.
"Sekarang, kamu bawa kotak ikan, itu, ke sana, dan kamu jual semua ikan dalam kotak, itu," perintah Papah Hendri, "Dan, satu, lagi. Om kasih batas waktu sampai jam dua belas siang, nanti. Dan, kamu, juga, harus, bawa pulang pulang uang. Paling tidak, satu juta lima ratus ribu Rupiah," ucap Papah Hendri menambahi perintahnya tadi.
Sontak Kevin memundurkan kepalanya karena terkejut mendengar perintah dari Papah Hendri, "I-ini kan, sudah hampir jam delapan, Om. A-apa masih bisa habis, Om. Ikan sebanyak, ini?" tanya Kevin.
Memang saat itu hari sudah mulai siang, apalagi hari ini adalah hari Minggu, dimana banyak orang yang berlibur dan jalan-jalan ke mall-mall besar.
"Apa kamu, sudah menyerah?" tanya Papah Hendri sambil menaikkan alis kanannya.
"Ti-tidak, Om. Sa-saya akan melaksanakannya sesuai perintah, Om Hendri," jawab Kevin dengan kegugupan dan ketakutannya.
Mendengar jawaban Kevin, Papah Hendri tersenyum bangga karena Kevin mau berjuang untuk mendapatkan restu darinya, "Bagus, Om sangat suka dengan orang yang tidak menyerah sebelum mencobanya," ucap Papah Hendri sambil menepuk pundak Kevin.
Senyum bahagia Kevin seketika mengembang, dia merasa sangat semangat setelah mendengar perkataan Papah Hendri, "Baik, Om. Kevin akan berusaha semaksimal mungkin, dan berjuang sekuat tenaga," balas Kevin dengan senyum yang memancarkan kebahagiaan tersendiri.
"Anak pintar," balas Papah Hendri sambil mengacak-acak rambut Kevin, "Jam tiga sore nanti, Om tunggu kamu di rumah," ucap Papah Hendri dengan senyum di bibirnya.
"Siap, Komandan," balas Kevin yang membuat senyum Papah Hendri semakin lebar.
"Semoga berhasil," ucap Papah Hendri lalu berbalik dan berjalan menuju mobilnya.
"Terima kasih atas semangatnya, komandan," balas Kevin sambil membungkuk.
≈≈≈
Kevin telah sampai di pasar yang ditunjukkan Papah Hendri tadi, dia menurunkan kotak sterofom dari sepeda. Banyak mata tertuju pada Kevin yang baru sampai, mereka kagum dan sulit untuk percaya kalau ada cowok ganteng dengan wajah bule sedang berjualan di pasar tradisional, walaupun hanya memakai kaos biasa berwarna hitam dan dipadukan dengan kolor berwarna senada dengan atasannya, ketampanan Kevin masih saja terpancar.
Kevin sempat bingung untuk menjual dengan harga berapa ikan yang dia bawa, lalu dia bertanya ke ibu-ibu penjual daging ayam di sebelahnya, "Permisi, Buk," sapa Kevin dengan sopan.
Ibu penjual daging ayam menoleh, "Iya, ada apa?" tanya si ibu.
Kevin menggaruk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal, "Begini, Buk. Saya kan, baru pertama kali jualan ikan. Saya, tidak tahu, berapa harga per kilonya. Apa, Ibu tahu, berapa harga ikan yang saya bawa ini?" tanya Kevin sambil membuka tutup kotak sterofom yang dia bawa.
Si ibu berdiri dari duduknya dan melihat ikan apa yang Kevin bawa, "Oh, ikan gurame," ucap si ibu lalu duduk kembali.
"Iya, Buk. Berapa, ya, kira-kira harganya sekarang?" tanya Kevin.
"Kalau gurame, sekarang, paling murah, sih, kisaran delapan puluh lima ribu Rupiah. Kualitas ikan yang kamu bawa, juga, bagus. Kamu bisa naikin, lagi, harganya. Mungkin, seratus ribu Rupiah, per kilonya," jawab si ibu penjual daging ayam.
Mata Kevin tiba-tiba melongo mendengar harga ikan gurame yang dia bawa, dia sangat senang karena masih memiliki peluang besar untuk menyelesaikan perintah dari Papah Hendri, "Terima kasih, Buk," ucap Kevin dengan senyum cool dari bibirnya.
Hati si ibu penjual daging ayam merasa berbunga-bunga mendapatkan senyum dari Kevin, walaupun umurnya sudah di atas 45 tahun, si ibu masih saja terpikat oleh senyum dari Kevin, "Iya, sama-sama," balas si ibu sambil memberi Kevin kedipan mata genit.
Kevin tersenyum melihat tingkah si ibu yang seperti sedang menggodanya, Kevin menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikirannya tentang si ibu, dia harus fokus untuk menjual ikan gurame yang dia bawa.
"Oh, ya, gimana caraku menjual perkilo kalau aku tidak punya alat timbang," ucap Kevin dalam hatinya.
"Cari alat timbang, ya?" tanya si ibu yang melihat Kevin sedang bingung sambil melihat-lihat ikan yang dia bawa.
Kevin tersadar dari kebingungannya dan menoleh ke si ibu, "I-iya, Buk. Saya, lupa tidak bawa alat timbang," jawab Kevin sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.
Si ibu berdiri dari duduknya dan mengambil sebuah benda dari bawah meja yang dia gunakan untuk meletakkan daging ayam, "Ini, ibu masih punya satu alat timbang lagi, pakai saja," ucap si ibu sambil menyodorkan alat timbang.
Kevin berjalan mendekat ke lapak si ibu, "Terima kasih banyak, ya, Buk. Jadi tidak enak saya," ucap Kevin sambil menerima alat timbangannya.
"Tidak masalah, kebetulan, sekarang lagi sepi, makanya ibu cuma pakai satu saja," balas si ibu sambil duduk kembali.
Kevin mengambil meja kecil yang tidak jauh dari tempatnya berjualan, lalu dia menaruh alat timbang di atas meja dan membuka kotak ikan yang dia bawa.
Kevin menarik nafas dan mulai menawarkan dagangannya, "Ikan gurame, ikan gurame, ikan segar dan berkualitas. Ikannya, Buk, Mbak."
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙