My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Jangan konslet



Candra dan Azila sudah sampai di hotel yang sudah disiapkan oleh Papah Hendri, mereka berdua langsung menuju kamar mereka dan Azila mengajak Candra untuk langsung tidur, Candra hanya bisa menuruti ucapan Azila walaupun dia masih penasaran dengan kejutan yang Azila iming-iming kan sejak hubungan mereka membaik. Malam semakin larut dan sepasang suami istri itu sudah lelap di ranjang mereka.


Pagi telah tiba, semua orang telah berkumpul di tempat acara pernikahan Kevin dan Nabila digelar. Terlihat Kevin yang sedang mengatur napasnya karena kurang dari lima menit lagi dia akan mengucapkan ikrar sakral, dia menjadi semakin gugup saat Nabila berjalan mendekat dengan didampingi Eldar di samping Nabila.


Setelah Nabila duduk, Pak penghulu mulai memulai acara sakral itu. Prosesi ijab qobul berjalan dengan lancar dan kini saatnya acara resepsi. Sejak kedatangan Nabila tadi, seorang laki-laki yang berada di belakang Kevin terus mencuri pandang Eldar yang tampak begitu anggun duduk di samping Nabila.


Acara demi acara telah terlaksana dengan lancar tanpa kendala, sekarang banyak tamu yang sudah pulang meninggalkan keluarga besar dari kedua belah pihak pengantin. Rencananya nanti malam akan ada rencana Barbeque di pantai tempat Kevin dan Nabila menikah.


Hari sudah menjelang petang, sunset sore itu terlalu indah untuk dilewatkan. Naza yang sejak tadi sibuk melayani para partner kerjanya sedang berjalan-jalan santai di tepi pantai dengan baju formal tanpa memakai jas, dia melipat lengan kemeja putihnya sampai sikut lalu melepaskan dua kancing atas kemejanya.


Naza melihat seorang wanita yang sedang duduk sendirian di ujung jembatan pinggir pantai, entah kenapa dia memiliki inisiatif untuk menghampiri wanita itu, padahal dia tidak tahu siapa wanita itu.


"Hai," sapa Naza sambil duduk di samping wanita itu.


Wanita itu menoleh menatap Naza, dan sedikit terkejut saat melihat laki-laki yang duduk di sampingnya dan menyapanya adalah Naza. Begitupun dengan Naza, dia menjadi merasa bodoh saat wanita yang dia hampiri adalah Eldar. Mengingat, sebelum perpisahan mereka lima bulan yang lalu, mereka berpisah dengan hubungan yang kurang baik.


"Hai," jawab Eldar sambil memaksakan senyumnya.


Naza jadi kikuk saat Eldar tersenyum kepadanya, mati aku, kenapa juga tadi aku ke sini, batin Naza yang merutuki kebodohannya.


"Em ... ma-maaf, ya, a-aku udah ganggu," ucap Naza dengan senyum yang ia paksa.


Nggak jelas banget, sih, ni orang, gerutu Eldar dalam hatinya.


"Iya, nggak apa-apa," jawab Eldar sambil kembali menatap matahari yang sudah mulai tenggelam. Ya Tuhan, usir lah laki-laki nggak jelas, ini, ucap Eldar dalam hati.


Suasana menjadi hening beberapa saat, Naza masih sulit bicara karena gugup dan bingung mau bicara apa, sedangkan Eldar sudah berdoa untuk kepergian Naza dari sana, kehadiran Naza seperti pengganggu ketenangannya.


"Indah, ya, sunsetnya, enak dipandang," ucap Naza memecah keheningan.


"Semua ciptaan Tuhan, itu, indah," jawab Eldar tanpa menoleh ke Naza.


"Iya, kamu juga enak dipandang," ucap Naza yang reflek tanpa melewati otak terlebih dahulu, dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan memukuli mulutnya pelan.


"Ha? Kamu bilang apa tadi?" tanya Eldar memastikan seraya menoleh ke Naza. Sebenarnya dia mendengar ucapan Naza dan dia merasa ada yang aneh saat mendengar itu, tetapi dia pura-pura tidak dengar.


"Ti-tidak, a-aku tidak bilang apa-apa, kok," kilah Naza sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Em, mungkin aku cuma salah dengar," ucap Eldar sambil kembali menikmati sunset.


Kenapa mulutmu nggak dipagarin, sih! Main nyelonong aja, gerutu Naza dalam hatinya.


"Kamu suka sunset, ya?" tanya Eldar, dia menahan gengsinya sebagai cewek karena dia tidak suka jika ada keheningan.


"Ti-tidak juga sih, biasa-biasa aja, tadi cuma jalan-jalan cari udara segar aja," jawab Naza yang menjadi gugup.


"Maksudnya?" tanya balik Naza karena tidak tahu maksud pertanyaan Eldar.


"Lalu, kenapa kamu malah duduk, di sini?" tanya Eldar menjelaskan.


"Oohh, berarti aku nggak diterima, nih, duduk di sini?" tanya Naza sembari berdiri dan ingin pergi karena dia merasa di usir.


Cewek sialan, kalau tahu tadi yang duduk di sini, itu, elu. Gue juga nggak bakal ke sini, gerutu Naza dalam hatinya.


"Kenapa berdiri? Nggak sopan tahu kalau lawan bicaranya duduk kamu berdiri, apalagi sambil balik badan kayak gitu," ucap Eldar yang heran kenapa Naza berdiri dan berpaling.


Naza berbalik sambil menatap heran wajah Eldar yang sedang menatapnya juga. Maksudnya apa, sih? Tadi ngusir, sekarang mau pergi malah ditahan, dikata-katain pula, gerutu Naza dalam hatinya.


"Kan tadi kamu ngusir aku," jawab Naza. Eldar mengerutkan dahinya, dia berpikir kapan dia mengusir Naza.


"Ha? Maksudnya? Kapan aku nyuruh kamu pergi?" tanya Eldar sambil mencoba mengingat-ingat kejadian beberapa detik yang lalu.


Naza kembali berbalik dan beranjak pergi meninggalkan Eldar yang masih mengingat-ingat memorinya. Pakai akting nggak merasa mengusir pula! Benar-benar menyebalkan, gerutu Naza sambil terus berjalan pergi.


"Eh? Kenapa malah pergi?" teriak Eldar sambil menatap punggung Naza yang berjalan dengan tergesa-gesa.


"Cepet banget jalannya? Lagi kebelet pup, ya?" gumam Eldar, "Ah, bodo amat lah, daripada nanti pup di sini, mending biarin dia pergi ajalah," lanjut Eldar sembari kembali menikmati matahari yang sebentar lagi akan hilang ditelan kegelapan.


"Sial banget hari, ini! Kenapa tadi bisa-bisanya aku nyamperin terus duduk di sampingnya, sih? Nggak ada akhlak banget, pakai diusir pula ... mau ditaruh mana, ini, muka," gerutu Naza di sepanjang lorong menuju kamar hotelnya.


Naza segera membuka pintu dengan kartu aksesnya dan membanting tubuhnya ke atas kasur, dia merentangkan tangannya dan menatap langit-langit kamar, tiba-tiba bibirnya senyum-senyum sendiri.


"Kalau dilihat-lihat ... dia cantik juga," ucap Naza sambil mengingat-ingat senyum Eldar saat dia menyapanya.


Semakin lama senyum Naza semakin lebar, dia kembali teringat kejadian lima bulan yang lalu di kamar tamu di rumah keluarga Wibawa. Tidur satu ranjang, berpelukan, dan berakhir menjadi tontonan dan candaan dari semua orang di rumah itu.


Lalu, kenapa kamu malah duduk, di sini?


Ucapan Eldar kembali terngiang saat Naza membayangkan kejadian pagi itu, senyum lebarnya tiba-tiba lenyap, dia menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Astaga, aku mikir apa, sih? Kenapa otakku jadi konslet kayak gini, sih? Apa gara-gara kurang tidur, ya?" ucap Naza bingung, "Tapi ... tadi malam aku tidur nyenyak, dan sesuai anjuran Dokter juga ... tujuh jam," lanjut Naza sambil mengacak-acak rambutnya.


"Mending aku mandi ajalah, mungkin terlalu capek karena seharian melayani para partner bisnis," gumam Naza karena memang sejak pagi tadi dia terus berdiri menemui dan menyambut para partner bisnis yang diundang.


"Otak ... jangan konslet lagi, ya ... jangan bikin malu tuanmu, ini," ucap Naza sambil mengelus kepalanya.


Jangan lupa kasih like ya, maaf kemarin nggak bisa up, soalnya lagi nggak enak badan. Makasih :)