My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bonus Cinta



Eldar mencondongkan tubuhnya ke Naza, "Coba, pacarku yang tampan ini, minta ditambahin apa," ucap Eldar dengan nada manja dan tatapan yang seakan menggoda.


Gleekk! Naza menelan ludahnya ketika melihat Eldar seperti itu, "Kenapa pacarku bisa seperti anime hentai begini," batin Naza.


"Tambahin ciuman yang panas," ucap Naza sambil memajukan wajahnya ke wajah Eldar.


"Apa kamu ingin melihatku seperti wanita liar?" tanya Eldar.


"Aku lebih suka dengan wanita yang aktif," ucap Naza sambil tangannya mengelus bibir Eldar.


"Dengar, aku tidak akan liar jika bukan dengan suamiku nanti," ucap Eldar sambil menarik tangan Naza dari bibirnya.


"Baiklah, aku sudah tidak sabar ingin melihat, dan merasakan keliaranmu," ucap Naza sambil kembali ke posisi duduk tegaknya, dan memakan snack yang tadi dia rebut.


"Itu kalau aku mau jadi istrimu," sahut Eldar sambil duduk ke posisinya.


"Apa aku sudah mendapat penolakan sebelum melamar?" ucap Naza sambil sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Eldar.


"Tergantung bagaimana caranya kamu melamarku," balas Eldar sambil merebut kembali snacknya dari tangan Naza.


"Kita lihat saja nanti," ucap Naza.


"Semoga berhasil," ucap Eldar sambil menarik pipi Naza.


°°O°°


Jam 12 siang mobil Naza dan Eldar telah sampai di parkiran salah satu pantai terindah di Jogja. Mereka berdua masih duduk santai di dalam mobil karena baru bangun tidur, mungkin mereka juga masih tidur jika tidak dibangunkan oleh pak supir.


"Kenapa kita pantai?" tanya Naza dengan suara lemes.


Eldar menaikkan kakinya ke kursi lalu memutar tubuhnya menghadap Naza, "Kita belum pernah ke pantai berdua sejak kita pacaran," jawab Eldar.


"Lalu, kita mau ngapain di pantai?" tanya Naza.


"Main air," jawab Eldar.


"Kita kan nggak bawa baju ganti, lagian tangan kiriku juga masih belum dibuka gipnya," ucap Naza.


"Kalau gitu, kamu jadi fotografer ku aja gimana?" ucap Eldar.


"Kamu harus merayuku kalau mau aku jadi fotografer mu," balas Naza.


"Naza yang tertampan di dunia, kamu mau ya, jadi fotografer ku," rayu Eldar dengan suara lembut.


"Tidak, masih kurang," ucap Naza.


Naza tidak lagi menatap Eldar, dia memandangi atap mobil dan perlahan mulai menutup mata. Tangan kanan Naza menekan tombol di samping kursi, lalu sandaran kursi Naza mulai bergerak ke belakang.


"Sempurna," gumam Naza.


"Kok malah tidur lagi? Kita udah sampai," ucap Eldar sambil memukul pelan paha Naza.


"Kalau kamu tidak bisa merayuku untuk turun, maka aku benar-benar akan tertidur lagi," ucap Naza dengan mata yang masih terpejam.


"Kamu memang paling suka membuatku sudah, Naza!" gerutu Eldar dengan wajah yang mulai ditekuk.


Huaahhh! Naza menguap dan langsung ia tutup dengan tangannya, "Aku mulai mengantuk," ucap Naza sambil menahan bibirnya agar tidak tersenyum.


"Sayang, ayolah. Nanti kita cuma sebentar di sini," ucap Eldar sambil menggoyang-goyangkan paha Naza. Tetapi, Naza diam saja dengan mata tertutup.


"Sayang," panggil Eldar dengan suara lembut.


"Sayang!" Eldar berteriak sambil memukul paha Naza.


Naza masih tetap diam dan terpejam. Tadi dia sempat kaget ketika Eldar berteriak sambil memukul pahanya.


"Sayang," panggil Eldar dengan nada seriosa.


"Sayang!" panggil Eldar lagi dengan suara head voice.


Naza kembali terkejut karena Eldar lebih ke arah berteriak daripada memakai head voice dengan nada. Pak supir yang sudah berada di kedai kecil di depan mobil pun jadi kaget ketika mendengar teriakan Eldar.


"Tiada hari tanpa bertengkar," gumam pak supir.


"Wonten nopo niku Pak teng dalem mobil? Kok onok suara bengok-bengok," tanya Bapak pemilik kedai.


"Ooh, biasa Pak, pertengkaran suami istri, sediluk maneh mengko wes apikan Pak, wes sering koyo ngunu iku," jawab pak supir yang memang berasal dari Jawa.


"Iseh enom nopo sampun tuo, Pak. Niku?" tanya Pak pemilik kedai.


"Tasek enom, Pak. Niku larene majikan kulo, tasek umur 25 tahun, terus bojone niku tasek umur 21 tahun," jawab Pak supir.


"Ohh, injeh, Pak. Tasek umur sakmunu nggeh lumrah," ucap Pak pemilik kedai.


Sementara di dalam mobil, gendang telinga Naza seperti mau pecah gara-gara teriakan Eldar. Eldar semakin cemberut karena Naza masih saja tidak merespon.


"Naza, jangan gitu dong, aku sudah capek-capek siapin semua keperluan kita di sini, masa kamu nggak menghargai usahaku," ucap Eldar dengan suara sedih.


Naza tetap saja diam dan tidak membuka matanya. Eldar berpikir bagaimana caranya membuat Naza yang pura-pura tidur itu mau turun. Eldar teringat ucapan Naza saat di perjalanan tadi, lalu ide cemerlang pun berhasil terbuat di otaknya.


Eldar membuka bajunya hingga tersisa bra dan celana dalamnya saja yang berwarna senada. Setelah itu dia berdiri lalu naik ke atas tubuh Naza. Eldar duduk tepat di atas adik kecilnya Naza, dia bisa merasakan barang milik Naza yang ditata menghadap atas.


Senyum nakal mulai terukir di bibir Eldar, di memasukkan jari telunjuk kanannya ke mulut ketika mendapati mata Naza yang diam-diam mengintip, tidak lupa Eldar menggoyangkan pinggulnya agar Naza merasa tidak nyaman.


Mata Naza diam-diam mengintip ketika dia merasa ada yang duduk di atasnya. Benar saja, ketika dia membuka matanya sedikit, dia melihat Eldar yang hanya memakai bra dan celana dalam saja duduk di atasnya. Naza pun tidak kuat melihat Eldar yang menjilati jarinya sendiri dan ada goyangan di atas adiknya.


"Sayang, ayo bangun, kalau pura-pura tidur terus, yang di bawah sini bakal muntah lho, dan aku tidak mau tanggung jawab," ucap Eldar sambil terus menggoyangkan pinggulnya.


"Sayang," panggil Eldar dengan suara menggoda.


"Cepet turun, dan pakai bajumu lagi!" ucap Naza yang sudah tidak bisa menahan adiknya untuk bangun.


"Kamu nurut sama semua ucapanku, ya," ucap Eldar mencoba membuat kesepakatan.


"Iya-iya, sekarang cepet turun, dan pakai bajumu," ucap Naza dengan tangannya yang menutupi matanya.


"Kamu tidak mau lihat-lihat sedikit?" ucap Eldar sambil meraba dada Naza dan kembali menggoyangkan pinggulnya.


"Eldar, jangan bermain-main dengan kesabaran ku, aku sudah mati-matian menahan, kamu jangan mancing terus," ucap Naza sambil menepis tangan Eldar yang meraba dadanya.


"Kalau sekarang aku pengen ngelakuin, itu ... kamu mau nggak bantu aku?" ucap Eldar sambil merebahkan tubuhnya di atas Naza.


"Sayang, aku mohon berhentilah menggodaku, aku benar-benar akan lupa diri kalau kamu goda terus. Please, mengertilah, aku tidak mau merusakmu sebelum aku menikahimu," ucap Naza dengan mata yang terus ia tutup dengan tangan.


Mendengar itu hati Eldar tersentuh, rasanya dia ingin menangis bahagia karena kekasihnya benar-benar ingin menjaganya dan bukan merusaknya. Eldar mencium bibir Naza dengan lembut, Naza hanya pasrah tanpa melawan atau membalas ketika bibirnya dilumat dan sesap oleh Eldar.


"Anggap, itu, bonus untuk cintamu untukku," ucap Eldar sembari turun dari atas Naza.


Like dan komen anda sangat mendukung author untuk lebih semangat lagi membuat cerita dan cepat-cepat update.