
19:00 WIB
"Zila, ayo turun, Sayang. Kita makan malam bersama," panggil Bunda Putri dari luar pintu, Bunda Putri berdiri di depan pintu sambil menunggu jawaban, namun tidak ada jawaban dari Azila.
"Zila," panggil Bunda Putri lagi sambil mengetuk pintu kamar, dan lagi-lagi masih tidak ada jawaban dari Azila.
Bunda Putri mencoba memanggil Azila untuk ketiga, keempat, dan kelima kalinya, namun masih tidak ada jawaban juga dari Azila, karena tidak ada respon apapun dari Azila. Bunda Putri mulai takut, was-was, dan berpikir macam-macam.
Bunda Putri yang sudah sangat takut dan gelisah mencoba membuka pintu kamar Azila, dan sialnya pintu kamar Azila di kunci, lalu Bunda Putri berlari ke nakas yang memiliki 4 laci di dekat pintu kamar Azila, Bunda Putri membuka satu persatu laci nakas tersebut.
"Ah, dapat," dengus lega Bunda Putri yang nafasnya mulai memburu, lalu Bunda Putri berlari kembali ke pintu kamar Azila dan membuka pintu kamar dengan kunci yang ia genggam, Bunda Putri mendengus lega karena pintunya berhasil terbuka, "Huh, syukurlah bisa terbuka."
Bunda Putri memegang gagang pintu kamar lalu membukanya, kleek, pintu kamar Azila telah terbuka. Mata Bunda Putri sedikit menyipit karena melihat ruangan yang biasanya selalu terang, kini menjadi gelap gulita dengan alunan musik mellow yang samar-samar terdengar sampai ke telinga Bunda Putri.
Bunda Putri berjalan dengan pelan sambil berpegangan dinding untuk menuntunnya mencari saklar lampu, ctek, ruang kamar yang gelap gulita sekejap menjadi terang benderang setelah Bunda Putri menyalakan lampu.
Mata Bunda Putri mencari ke segala penjuru kamar dan berhenti menatap Azila yang terbaring meringkuk di atas kasur, Bunda Putri langsung berlari menghampiri Azila yang meringkuk di atas kasurnya.
Mata Bunda Putri seketika berkaca dan meneteskan air matanya, bagaimana tidak, dia melihat menantu kesayangannya terbaring meringkuk dengan mata yang bengkak, khas orang yang habis menangis.
"Zila," panggil Bunda Putri yang kini sudah duduk di dekat Azila sambil menepuk pelan pipi Azila.
"Zila," panggil Bunda Putri lagi dengan suara yang melemah.
Azila terbangun saat merasa ada yang menepuk pipinya dan merasakan tetesan air di pipinya, dia membuka matanya dan mendapati Bunda Putri yang sedang meneteskan air mata.
"Bunda kenapa menangis?" Tanya Azila sembari duduk dari tidurnya.
"Bunda merasa telah gagal mendidik seorang anak, Zila," jawab Bunda Putri yang sekarang menatap lekat mata Azila.
Azila tidak mengerti apa maksud ucapan Bundanya itu, "Maksud, Bunda?"
"Bunda telah gagal mendidik Candra, Zila," jawab Bunda Putri dalam tangisnya.
"Kenapa Bunda bicara begitu, Bunda telah mendidik Candra dengan sangat baik, buktinya dia sangat patuh sama Bunda dan Ayah, dan juga dia sangat hebat dalam pekerjaannya di kantor," jelas Azila yang mencoba menenangkan Bundanya.
"Bunda gagal mendidik Candra karena dia telah tega menelantarkan kamu sampai seperti ini, Zila. Bunda gagal, Bunda gagal, Zila," balas lirih Bunda Putri yang hanyut dalam tangisnya.
Melihat Bundanya menangis begitu dalam, Azila langsung memeluk Bundanya dan menceritakan kenapa Candra sampai meninggalkan dirinya.
»Flashback kejadian di Pondok Indah Mall yang fokusnya ke Azila.«
"Sayang, apa kamu nyaman di lihatin banyak pasang mata yang menyorot ke kita?" Tanya Candra ke Azila dengan berbisik.
"Santai saja, mereka hanya kagum dan heran melihat kita," jawab Azila yang terus berjalan ke depan dengan sangat anggun dan tanpa memperdulikan tatapan semua orang di Pondok Indah Mall itu.
"Kenapa mereka kagum dan heran melihat kita?" Tanya Candra lagi.
Mendengar pertanyaan Candra, Azila sedikit tersenyum lalu berkata, "Mereka kagum karena ada bidadari surga yang turun ke sini, dan mereka heran karena mereka melihat ada bidadari yang berjalan sambil bergandengan dengan iblis."
"Apa kamu bilang?" Tanya Candra yang merasa disindir oleh perkataan Azila.
"Wleeee," ejek Azila sambil memeletkan lidahnya.
"Azila, awas kamu!" Seru Candra yang gemes dengan kelakuan Azila.
Azila yang tau kalau dia sedang dalam situasi yang tidak mengenakkan, dia langsung berlari menjauh dari Candra. Azila berlari masuk kedalam kerumunan para pengunjung mall yang ramai, hingga dia berhenti di depan sebuah gerai minuman.
"Mas, pesen minuman satu," ucap Azila dengan nafas ngos-ngosan setelah berlari dan menaiki eskalator.
"Mau rasa apa, Kak? Green tea, taro, van--" ucap mas-mas penjaga gerai yang ucapannya di potong Azila.
"Apa aja deh Mas, yang penting cepet bikinnya," ucap Azila dengan nada kesalnya, "Nggak lihat orang lagi ngos-ngosan apa, malah banyak tanya," gumam Azila yang samar-samar masih terdengar oleh telinga penjaga gerai.
"Dasar cewek aneh," gerutu mas-mas penjaga gerai dalam hatinya, lalu dia langsung membuat 1 cup minuman yang paling mahal di gerai itu.
"Ini Kak minumannya," ucap mas-mas penjaga gerai sambil menyodorkan minuman yang baru dibuatnya.
"Akbar?" Panggil Azila sambil menunjuk mas-mas penjaga gerai dan dijawab anggukan oleh mas-mas penjaga gerai.
"Azila?" Panggil mas-mas penjaga gerai yang juga menunjuk ke arah Azila dan dijawab anggukan oleh Azila.
"Apa kabar, Zil?" Tanya Akbar yang menghampiri Azila di depan gerainya.
"Baik-baik aja, buktinya aku masih bisa sampek sini," jawab Azila yang dibarengi tawa mereka berdua, "Kamu juga apa kabar?" Tanya balik Azila.
"Sehat-sehat aja, buktinya aku masih bisa melayani pembeli yang galak seperti mu," jawab Akbar yang di sambut tawa mereka berdua karena Akbar menirukan perkataan Azila tadi.
"Dasar kamu, plagiat kata," ejek Azila.
"Biarin, suka-suka akulah," balas Akbar, "Eh, BTW, kenapa tadi kamu ngos-ngosan gitu?" Tanya Akbar yang kepo.
"Oh, aku tadi lagi di kejar-kejar sama suamiku, makanya aku lari sampai mengelilingi mall dan menaiki eskalator biar tidak ketangkap sama dia," jelas Azila ke Akbar kenapa dia sampai bisa ngos-ngosan.
"Kalian ini ada-ada aja, nih minum dulu," ucap Akbar sembari menyodorkan minuman yang tadi ia buat memang untuk Azila.
Lalu mereka berdua duduk di kursi gerai dan mulai saling melempar pertanyaan satu sama lain.
≈≈≈
"Aku pergi dulu ya, Bar. Ini udah lama banget, aku takut kalau Suamiku murka dan menghukum ku dengan keras nanti malam," canda Azila yang langsung di sambut tawa oleh mereka berdua.
"Oke, tapi kasih aku nomor telepon mu dulu, biar aku lebih gampang saat mau mengundang mu ke pernikahan ku nanti," ucap Akbar sambil menyodorkan ponselnya ke Azila.
"Udah," jawab Azila yang sudah menulis nomor teleponnya di ponsel Akbar, "Aku pergi dulu, Bar," pamit Azila ke Akbar, lalu mereka berpelukan untuk selanjutnya berpisah. Namun nasib sial berpihak ke mereka berdua, tak jauh dari gerai Akbar ada Candra yang melihat mereka berdua berpelukan.
"zila!" Panggil Candra dengan nada membentak.
Azila yang terkejut dengan panggilan Candra langsung melepaskan pelukannya dan menghampiri Candra untuk menjelaskan apa yang terjadi sekaligus mengenalkan Akbar ke Candra, namun Candra sudah tersulut api cemburu, dia langsung pergi meninggalkan Azila bersama Akbar di depan gerai milik Akbar.
»Flashback selesai.«
"Begitulah Bun ceritanya," ucap Azila yang sudah menceritakan semuanya ke Bunda Putri.
"Tetap saja Candra yang salah, Sayang," balas Bunda Putri yang masih merasa gagal dalam mendidik Candra.
"Tidak, Bunda. Awalnya Zila yang salah karena Zila telah meninggalkan Candra sendiri," balas Azila yang tidak tega kalau Candra saja yang disalahkan.
"Baiklah-baiklah, kalian berdua yang salah," balas Bunda Putri.
"Kalau begitu, Bunda senyum dong, jangan nangis lagi," bujuk Azila agar Bunda Putri tidak menangis lagi, lalu Bunda Putri mulai tersenyum kembali.
"Nah, gitukan makin cantik," ucap Azila memuji mertuanya.
"Sudah-sudah, Bunda malu," jawab Bunda Putri. "Kamu mau makan di kamar atau makan bersama di bawah?" Tanya Bunda Putri.
"Makan di kamar aja, Bun," jawab Azila.
"Tunggu sebentar ya, biar Bunda ambilkan makan malam mu," ucap Bunda Putri sembari turun dari kasur dan berjalan keluar.
Melihat Bunda Putri sudah keluar, Azila beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket. Bunda Putri kembali ke kamar Azila dan menaruh makan malam Azila di nakas dekat kasur Azila.
"Zila, makan malam mu Bunda taruh di nakas," ucap Bunda Putri di depan pintu kamar mandi.
"Iya, Bun," jawab Azila dari dalam kamar mandi.
Setelah mendapat jawaban dari Azila, Bunda Putri berjalan keluar dan menutup kembali pintu kamar Azila. Tak lama setelah Bunda Putri keluar, Azila telah selesai dengan mandinya, dia segera mengeringkan badannya dan memakai baju tidur. Azila mengambil makan malamnya yang ditaruh di nakas oleh Bunda Putri, lalu dia mulai menyantap makan malamnya sampai habis, sesudah selesai makan, Azila merebahkan tubuhnya ke kasur dan tak lama kemudian dia sudah tertidur pulas, entah kenapa hari ini Azila sangat mudah untuk tidur.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙