
"Tuan Kevin, saya dititipi pesan oleh Tuan Hendri kalau anda disuruh mengikuti Tuan Hendri dengan mengendarai itu," ucap pak supir sambil menunjuk ke belakang mereka.
Mata Kevin terbelalak. Mulutnya ternganga. Alisnya terangkat ke atas. Dahi berkerut menampakkan lipatan.
"A-apa, a-aku harus naik, ini?" tanya Kevin yang tergagap dengan jari telunjuk tangan kanannya yang menunjuk sepada ontel di depannya.
"Iya, Tuan," jawab pak supir dan berjalan meninggalkan Kevin.
Sepeda ontel dengan kotak sterofom besar yang dibonceng di belakang, lalu diikat menggunakan tali dari ban dalam yang digunting kecil dan memanjang. Kevin terus saja memandangi sepeda ontel itu, dia berpikir apakah dia masih bisa naik sepeda atau tidak, karena sudah 10 tahun lebih dia tidak pernah naik sepeda lagi.
"Hey, anak manja, apa kamu akan terus berdiri dan diam sambil memandangi sepeda, itu?" teriak Papah Hendri yang menyembulkan kepalanya di jendela pintu mobilnya.
Kevin terkaget dan tersadar dari lamunannya, "I-iya, Om. A-ayo, jalan," jawab Kevin yang tergagap karena terkejut oleh teriakan Papah Hendri.
Papah Hendri tidak menjawab dan langsung menarik kepalanya kembali ke dalam dan menutup kaca jendela mobilnya, "Jalan, Pak." Papah Hendri memerintah pak supir agar segera menjalankan mobil.
Mungkin hanya mengelus dada sambil menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan adalah yang terbaik buat Kevin. Melihat mobil Papah Hendri sudah berjalan, Kevin segera meraih sepeda ontel itu, dia melangkahkan kakinya ke sisi lain sepeda dan mulai menginjak pedal nya, "Syukurlah, ternyata masih bisa naik sepeda, kalau sampai nggak bisa, entah mau ditaruh dimana muka ku, ini, dari pandangan calon mertuaku." Kevin bergumam lega.
Papah Hendri tersenyum melihat Kevin membuntutinya dengan naik sepeda ontel, dia tidak mengira jika anak dari keluarga Lewis mau memakai pakaian orang desa dan naik sepeda ontel, "Mari kita lihat, Kevin. Seberapa serius dan besarnya cintamu pada anakku," ucap Papah Hendri dengan senyum licik.
≈≈≈
"Sayang, ayo bangun." Azila membangunkan Candra yang masih terlelap.
"Bentar lagi, Sayang," jawab Candra sambil menepis tangan Azila yang menggoyang-goyangkan pundaknya.
"Ayo, jangan males bangun, kamu harus kerja," ucap Azila yang sekarang malah ikut berbaring di ranjang dan memeluk Candra dari belakang.
Candra yang merasa masih sangat ngantuk semakin erat memeluk guling di pelukannya, apalagi sekarang Azila juga ikut berbaring di belakangnya sambil memeluk tubuhnya, itu membuat Candra semakin nyaman berlama-lama berbaring di atas ranjang.
Azila mendekatkan bibirnya ke telinga Candra sambil membisikkan sesuatu, "Sayang, aku pengen," bisik Azila lalu membenamkan wajahnya di tengkuk Candra.
Mendengar bisikan Azila yang lirih seperti sedang menggoda, Candra langsung membalikkan badannya dan menghadap Azila, "Kamu beneran pengen? Kemarin kata Dokter Rizka, kita tidak boleh berhubungan intim dulu, Sayang," ucap Candra yang menatap lekat mata Azila, "Tapi, jika kamu memaksa, aku juga bakal melayani dengan senang hati," ucap Candra lagi dengan senyum yang mesum seperti om-om hidung belang.
Rasa geli dan gatal tiba-tiba muncul hati Azila karena mendengar perkataan Candra barusan, Azila ingin menggaruk hatinya namun tidak bisa, Azila mengangkat tangannya dan menarik hidung Candra sambil di goyangkan ke kiri dan ke kanan, "Sayang, aku, itu, lagi pengen jalan-jalan pagi sambil kamu temenin, ngapain pikiran mu bisa sampai sana," jelas Azila dengan tangannya yang masih memainkan hidung Candra.
Candra hanya tersenyum malu mendengarkan penjelasan dari istrinya itu, ditambah hidung yang memerah karena dimainkan oleh Azila, "Ya, maaf, aku kan udah lama nggak dapet jatah, makanya suka salah mengerti," balas Candra dengan tangan yang sudah melingkar di pinggang Azila.
"Sudah-sudah, ayo cepat bangun, temani aku jalan-jalan pagi," ucap Azila sambil melepaskan diri dari pelukan Candra. Azila bangun dan merapikan bajunya, "Kamu cepat bangun, Candra. Jika kamu tidak segera bangun, aku akan mengadu ke Papah biar kamu kena semprot." Azila mengancam Candra dengan menggunakan nama Papahnya.
Candra segera bangun dan turun dari ranjang, "Baik, Tuan Putri Azila Wibawa," ucap Candra sambil membungkuk dan tangan kanannya ditempelkan di dada kirinya.
"Sebaiknya kau cepat bergerak wahai pemuda berjenggot tipis, atau algojo ku siap mengeksekusi mu sekarang juga," balas Azila sambil berkacak pinggang.
Waktu telah berlalu dengan singkat, Candra sudah keluar dari kamar mandi setelah menggosok gigi dan membasuh wajahnya, "Ayo," ajak Candra sambil mengulurkan tangannya ke Azila yang sedang duduk di sofa.
Azila meraih uluran tangan Candra dan berdiri dari duduknya, "Sebentar," ucap Azila saat Candra akan melangkah untuk pertama kalinya.
Candra menoleh menghadap Azila dengan wajah bingung, "Ada apa lagi, Sayang?"
Pertanyaan Candra seperti angin lewat yang tidak ada tanggapan, Azila melepaskan pegangannya dari Candra dan menata rambut Candra yang masih acak-acakan, "Sudah, ayo," ucap Azila setelah selesai menata rambut Candra. Azila memasukkan jemari lentiknya ke sela-sela jari Candra, lalu menariknya keluar kamar.
Candra hanya tersenyum saat mendapatkan perlakuan yang tak biasa, entah mengapa Candra merasa kalau saat ini Azila lebih romantis dari biasanya, "Apa nanti anakku perempuan, ya? Kok jadi romantis gitu," gumam Candra dalam hatinya.
≈≈≈
07:40 WIB
Mobil yang dinaiki oleh Papah Hendri telah berhenti di samping sebuah gang besar, Kevin yang sudah ngos-ngosan karena terus mengayuh selama 1 jam lebih akhirnya bisa berhenti, "Huh, ternyata naik sepeda itu lebih berat dari latihan di GYM," dengus lega Candra yang masih di atas sepeda ontel.
Pak supir segera turun dan membukakan pintu untuk Papah Hendri, saat kaki kiri Papah Hendri sudah turun, Kevin langsung turun dari sepeda ontel dan memarkirkan sepedanya, lalu Kevin segera berlari menghampiri Papah Hendri yang baru turun.
"Capek?" tanya Papah Hendri yang kini sudah berdiri tegap di depan Kevin dengan kedua tangannya masuk ke saku celananya.
"Lumayan, Om," jawab Kevin dengan nafas yang masih belum teratur.
Melihat Kevin yang ngos-ngosan seperti habis mengikuti lomba lari maraton, Papah Hendri menoleh ke pak supir yang ada di sampingnya, pak supir yang mengerti dengan tatapan majikannya, dia langsung pergi ke mobil dan mengambil sebotol air mineral.
Pak supir kembali dan menyerahkannya ke Kevin, "Ini Tuan, minum dulu," ucap pak supir sambil menyodorkan sebotol air mineral di tangannya.
Kevin menerima air mineral pemberian pak supir, tetapi dia melihat ke arah Papah Hendri dulu, "Minumlah," ucap Papah Hendri. Karena mendapatkan izin dari Papah Hendri, Kevin segera meminum air mineral yang ada di tangannya.
Setelah selesai minum, Kevin kembali fokus ke Papah Hendri, "Setelah, ini, apa yang harus saya lakukan, Om?" tanya Kevin.
Papah Hendri sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Kevin, "Kamu lihat kotak besar yang kamu bonceng dari tadi itu?" tanya Papah Hendri sambil mengarahkan pandangannya ke kotak besar yang ada di sepeda ontel.
Kevin menoleh ke arah kotak besar yang dari tadi dia bonceng, "Saya tidak tahu, Om," jawab Kevin setelah memandang kotak besar itu.
"Jadi, tugasmu saat ini adalah--"
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙