My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Sudah tidak tahan lagi



Matahari telah menggantung tinggi di atas ubun-ubun, seorang pemuda dengan kulit putih sedang mengayuh sepedanya di bawah panas matahari, peluh bercucuran membasahi tubuhnya dan membuat kaosnya basah akan keringat, jalanan yang macet, panas matahari yang membakar, dan suara klakson dari setiap kendaraan beradu dan memekakkan telinga.


Seorang laki-laki sedang mengusap peluhnya yang membasahi dahi, kulit putihnya mulai terbakar sampai menampakkan warna merah. Kevin, ya, laki-laki itu adalah Kevin, dia sedang berjuang melawan panas agar cepat sampai di rumah Papah Hendri, "Ya Tuhan. Ini, panas banget. Jika saja, aku boleh dijemput mobil, pasti nggak perlu panas-panasan kayak begini, mana keringetan pula, tubuhku, kan, jadi bau kecut," keluh Kevin sambil mencium ketiaknya yang sudah lepek karena keringat.


Kevin melihat kedua tangannya dan beberapa kali dibolak-balik, "Yah, kulitku juga udah kayak dipanggang," ucap Kevin dengan wajah sedihnya, "Setelah dari rumah Om Candra, aku langsung pulang perawatan, lah. Sekarang fokus cari restu dulu," gumam Kevin sambil mulai mengayuh sepedanya lagi.


≈≈≈


Seorang wanita paruh baya sedang berjalan menuruni anak tangga dengan pelan-pelan, "Yah," panggil Bunda Putri.


Ayah Yoga yang duduk di sofa sambil mengerjakan pekerjaan kantor di laptopnya hanya menjawab, "Ya, ada apa, Bun."


Bunda Putri berjalan menuruni anak tangga dan duduk di samping Ayah Yoga, "Yah, nanti malam kita diundang untuk makan malam di rumahnya Mitha sama Hendri," ujar Bunda Putri sambil memegang pundak Ayah Yoga.


Ayah Yoga melepas kaca mata yang menggantung di atas hidungnya, lalu dia menoleh menatap Bunda Putri, "Siapa yang memberitahu?" tanya Ayah Yoga.


"Tadi, Candra menelpon Bunda, dia bilang, kalau Azila ingin mengajak kita makan malam di sana," jelas Bunda Putri, "Eldar juga," ucap Bunda Putri menambahi penjelasannya barusan.


"Ayah ngikut Bunda saja," balas Ayah Yoga sambil memasang lagi kaca matanya dan tersenyum ke Bunda Putri, lalu kembali lagi mengerjakan pekerjaannya di laptop.


Bunda Putri tersenyum lalu berdiri dari duduknya, "Oke, nanti kita makan malam di rumah Mitha dan Hendri, Ayah jangan sampai lupa atau ketiduran," ucap Bunda Putri, "Bunda mau memberitahu Eldar dulu, nanti kalau Ayah cari Bunda, Bunda ada di kamar," lanjut Bunda Putri dan berlalu pergi setelah selesai berbicara.


≈≈≈


Tok tok tok.


Pintu kamar tamu yang ditempati Eldar diketuk oleh Bunda Putri, "Eldar," panggil Bunda Putri dari luar kamar.


Mendengar ketukan pintu dan namanya dipanggil, Eldar turun dari ranjangnya dengan tubuh lemas seperti tidak memiliki tenaga.


Kleek.


Pintu yang dikunci telah dibuka oleh Eldar, "What happen, Tante Putri?" tanya Eldar dengan suara tidak bertenaga.


Sekilas Bunda Putri tersenyum melihat Eldar yang tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun, "Dimana tenaga mu?" tanya Bunda Putri sambil tersenyum tipis.


"Sudah aku sumbangkan ke para pejuang move on, Tan," jawab Eldar dengan suara seperti orang sedang menahan rasa kantuk yang berat.


Mendengar jawaban Eldar, Bunda Putri malah tertawa terbahak-bahak, "Apa Tante salah minum obat? Sebaiknya cepat periksa ke dokter, Tan," ucap Eldar yang membuat Bunda Putri semakin tertawa, "Ya Tuhan, tolong sembukanlah Tanteku yang malang, ini. Kasihanilah Tanteku, ini, Tuhan, dia belum punya cucu," ucap Eldar sambil menengadahkan kepalanya ke atas.


Tuuk.


Suara dahi Eldar di sentil Bunda Putri, "Auuh, sakit, Tante." Eldar meringis sambil mengelus dahinya yang disentil Bunda Putri.


"Siapa suruh kamu bicara ngawur seperti tadi, apa kamu pikir Tante sudah gila, begitu?" tanya Bunda Putri dengan sedikit membentak.


"Tante, sih, dari tadi ketawa terus, udah kayak orang salah minum obat," jawab Eldar sambil bergelayutan di pintu.


Bunda Putri menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban Eldar, "Memangnya ada apa, sih, Tan? Jam makan siang masih lama, masa sekarang udah diajak masak," tanya Eldar karena penasaran tentang apa yang membuat Bunda Putri sampai datang ke kamarnya sebelum jam makan.


Mendengar penjelasan Bunda Putri barusan, seketika Eldar berjingkrak-jingkrak kegirangan, semangatnya yang sejak beberapa hari ini hilang, kini telah kembali lagi, bahkan sampai tumpah-ruah.


Melihat tingkah Eldar yang sangat gembira, Bunda Putri hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengelus dadanya, lalu Bunda Putri kembali bertanya, "Apa kamu habis mengambil, lagi, tenaga mu yang sudah kamu berikan ke para pejuang move on?"


Seketika Eldar berhenti berjingkrak-jingkrak dan kembali menatap Bunda Putri, "Mana ada, aku tidak akan mengambil apa yang sudah aku berikan," jawab Eldar sambil berkacak pinggang.


"Terserahlah, Tante mau jemput Dara pulang sekolah, apa kamu mau ikut?" Bunda Putri mengajak Eldar untuk sedikit menghirup udara luar, bukan karena tidak ada alasan, tapi semenjak Candra pergi menemui Azila dan belum pernah pulang selama dua hari, Eldar menjadi tidak bersemangat. Dia terus rebahan di ranjang kamar tamu dan keluar saat waktunya makan saja.


Karena sudah memiliki semangat dan mood yang bagus, Eldar langsung berlari ke kamar dan mengambil tasnya, lalu dia kembali lagi menemui Bunda Putri yang masih berdiri di depan pintu kamar tamu, "Let's go my beautiful Aunty," ucap Eldar sambil berjalan dan menggandeng Bunda Putri.


"Memang benar salah minum obat," gumam Bunda Putri sambil tersenyum melihat tingkah Eldar.


≈≈≈


13:55 WIB


Seorang laki-laki sedang mengayuh sepeda ontelnya memasuki halaman depan rumah besar, dia memarkirkan sepeda ontelnya dan mengambil kantong kresek hitam di dalam box sterofom, lalu dia berjalan dengan agak cepat menuju pintu rumah besar itu.


Tok tok tok.


Laki-laki itu mengetuk pintu dengan semangatnya.


Ting tung.


Laki-laki itu menekan bel karena ketukannya di pintu seperti tidak di dengar oleh orang yang ada di dalam.


Kleek.


Seorang wanita paruh baya membukakan pintu untuk laki-laki ini, "Selamat siang, Tuan Kevin," sapa Bik Inem saat melihat Kevin berdiri di depan pintu.


"Siang juga, Bik," sapa balik Kevin sambil tersenyum ramah, "Apa Om Hendri ada di rumah, Bik?" tanya Kevin sambil matanya celingukan ke dalam.


"Tuan besar dan Nyonya besar sedang tidak ada di rumah, Tuan," jawab Bik Inem.


Kevin menghela nafas panjang, "Sepertinya, aku terlalu bersemangat dan terburu-buru. Oke, aku akan menunggu," gumam Kevin di dalam hatinya. Kevin sekilas melihat mobilnya terparkir di samping garasi, padahal tadi pagi dia tidak memindahkan mobilnya terlebih dahulu.


Rasa gerah dan keringat yang mulai membuatnya tidak nyaman dan merasa gatal, Kevin langsung menggaruk bagian yang terasa gatal. Bik Inem yang melihat Kevin menggaruk-garuk tubuhnya langsung berkata, "Tuan Kevin, tadi sebelum Tuan besar pergi, beliau memberi pesan kalau Tuan Kevin sudah datang. Tuan, disuruh mandi terlebih dahulu," ujar Bik Inem, "Pakaian Tuan Kevin juga masih ada di kamar tamu. Tadi, setelah Tuan Kevin pergi, Non Nabila masuk dan merapikan pakaian, Tuan," kata Bik Inem yang menambahi ucapannya barusan.


"Saya pergi dulu, ya, Bik. Kevin sudah tidak tahan lagi," ucap Kevin sambil melewati Bik Inem yang berdiri di depan pintu.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙