
Matahari telah muncul di balik jendela kamar hotel, memancarkan sinar hangat yang menembus jendela kaca, diiringi suara TV yang menyiarkan berita pagi, membangunkan sepasang mata cantik yang sudah bosan untuk terpejam.
Azila yang sedang mengeryipkan matanya merasakan angin hangat yang berhembus teratur di pucuk kepalanya, Azila yang masih mengumpulkan nyawanya yang masih hilang entah kemana.
Azila mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari tidurnya, tetapi dia tidak bisa bergerak sama sekali karena ada dua barang besar yang menindihnya, saat matanya sudah bisa melihat dengan jelas, Azila terkejut melihat pemandangan didepannya, dia mencoba menjerit tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.
Sekarang tepat di depan matanya terpampang jelas seorang laki-laki sedang tidur pulas sambil memeluk tubuhnya, dengan kemeja yang kancingnya terbuka, dada bidang yang putih dan mulus terpajang di depan mata Azila. Sekarang dia tahu dua barang yang menindih tubuhnya adalah lengan dan kaki laki-laki di depannya ini, dan yang tadinya Azila memakai bantal empuk sekarang sudah berganti menjadi lengan kekar yang menjadi bantalnya.
Azila berusaha untuk melihat siapa laki-laki di depannya ini, tetapi dia tidak bisa melihat wajah si laki-laki ini, Azila hanya bisa melihat sebatas leher atasnya saja, entah kenapa Azila merasa nyaman dengan posisi tidur itu, walaupun dia tidak tahu siapa laki-laki yang sedang tertidur sambil memeluk tubuh sucinya.
30 menit telah berlalu dan Azila masih terjaga dengan posisi yang sama seperti saat dia bangun. Sekarang, laki-laki di depan Azila sudah bangun dan mengusap-usap matanya dengan tangan yang menindih tubuh Azila. Azila yang tak mau kehilangan kesempatan, dia langsung menghadap ke atas dan menatap wajah laki-laki itu, betapa terkejutnya Azila saat melihat siapa laki-laki yang sudah tidur dengannya.
"Hei, apa yang kamu lakukan cowok batu!" Teriak Azila nyaring di telinga Candra.
"Selamat pagi, Istriku," sapa Candra yang tak menghiraukan teriakan Azila tadi.
"Kenapa kamu di sini?" Tanya Azila yang masih di pelukan Candra.
"Ini masih pagi, Sayang. Jangan marah-marah," jawab Candra dengan nada lemah lembut yang membuat Azila tersipu malu.
"Cepat angkat kakimu, atau aku akan.." ucap Azila menggantung.
"Akan apa, Sayang?" balas Candra yang menggoda Azila sambil mengelus pipi mulus Azila.
"Aaarrgghhhh.." teriak Candra yang kesakitan karena dadanya di gigit oleh Azila.
Candra yang kaget sontak langsung mengangkat kakinya yang menindih Azila. Azila yang sudah bebas langsung meloloskan diri dan berlari menjauh dari Candra.
"Apa kamu sudah sangat bernafsu denganku? Sampai memberiku tanda dengan cara yang kasar seperti ini," ucap Candra yang masih bisa menggoda Azila di saat dia kesakitan.
"Kenapa kamu bisa tidur di sebelahku? Bukannya kartu aksesnya ada di tanganku?" Tanya Azila yang bingung dengan polosnya.
"Apa kamu tidak pernah tidur di hotel, Sayang?" Tanya Candra yang penasaran, dan Azila menjawab dengan menggelengkan kepalanya, karena memang Azila tidak pernah menginap di hotel.
"Sini, duduk di sebelahku, aku akan jelaskan bagaimana kita bisa tidur bersama," jawab Candra dengan senyum seringai yang membuat Azila bergidik ketakutan.
"Tenang saja, aku tidak akan memakanmu kalau kamu menurut," timpal Candra yang mengerti kalau Azila sedang ketakutan. Perlahan Azila berjalan mendekat dan duduk agak jauh dari tempat Candra yang masih berbaring, lalu Candra merangkak dan duduk di samping Azila.
"Nih, tutup dulu tubuhmu, jangan sampai aku khilaf dan kita akan malam pertama di pagi hari," kata Candra sembari memberikan selimut yang di pegangnya ke Azila, lalu Azila menerimanya dan menutupi tubuhnya yang samar-samar memperlihatkan isi dibalik kemeja yang dipakai Azila.
"Terima kasih," ucapan terima kasih dari Azila yang hanya di balas dengan senyum manis oleh Candra.
"Cepat cerita, aku udah gerah pengen mandi, tubuhku kotor semua karena sudah tersentuh olehmu," gerutu Azila sambil memajang wajah jijiknya.
"Apa aku sangat najis di mata mu?" Tanya Candra sambil menatap tajam ke arah Azila hingga membuat bulu kuduk Azila berdiri tegak.
"Jangan di masukin hati, aku hanya berniat menjahili mu, walaupun itu juga kenyataan," ucap Azila yang menutupi ketakutannya.
"Baiklah, Sayang. Suatu hari aku akan membalas ke jahilan mu itu," balas Candra sambil tersenyum sebelah bibir.
"Awas aja kamu, jika berani macam-macam dengan ku!" Ancam Azila sambil melirik sinis ke Candra. "Cepat lah cerita, dan pinjami aku ponselmu," lanjut Azila yang sekarang menatap wajah Candra.
"Kamu mau apa dengan ponselku?" Tanya Candra sambil mengerutkan dahinya.
"Ya aku mau minta Mamahku kirim baju ganti ke sini lah, kamu nggak nyadar kalau aku cuma pakek kemejamu buat ganti tadi malam," jawab ketus Azila.
"Tenang, Sayang. Di depan kamar sudah ada orangku yang sudah membelikan baju ganti untukmu" balas Candra sambil tersenyum ke Azila.
"Ya udah, cepet cerita!" Bentak Azila dengan nada memerintah.
"Jadi begini, tadi malam itu ... nah gitu ceritanya," ucap Candra yang menjelaskan secara terperinci dari bagaimana dia bisa masuk kamar dan berakhir tidur berdua dengan Azila.
"Tenang saja, semalam aku tidak macam-macam, hanya memeluk tubuh seksimu itu aja kok," lanjut Candra menambahi penjelasannya.
Plakkk! satu pukulan mendarat di lengan Candra.
"Kenapa kamu memukul ku?" Tanya bingung Candra sambil mengelus lengannya yang panas.
"Karena kamu sudah memeluk tubuhku tanpa minta izin dariku!" Jawab kesal Azila.
"Apakah seorang suami harus meminta izin dulu kalau mau memeluk istrinya?" Balas Candra dengan perkataan yang benar adanya.
"Heehh.." dengus Azila karena dia kalah berdebat dengan Candra.
"Aku akan mandi dulu, apa kamu mau ikut?" Tanya Candra sambil memajang wajah mesum.
"Jangan, ngarep!" Jawab ketus Azila, mendengar jawaban Azila yang menolak ajakannya, Candra berdiri dan melepaskan kemejanya di depan Azila. Wajah Azila yang putih tiba-tiba memerah saat melihat dada bidang dan perut sixpack milik Candra.
"Hei, apa yang kamu lakukan cowok mesum?" Teriak Azila yang sudah membungkus seluruh tubuhnya ke dalam selimut.
"Apa kamu tidak ingin berkenalan dengan tubuh suami mu ini?" Goda Candra.
"Cepat mandi sana, aku tidak ingin mengotori mataku," teriak Azila dari dalam selimut. Candra tidak menjawab dan terdengar suara guyuran air. "Aahh, selamat juga," batin Azila.
Tak berapa lama kemudian, suara guyuran air telah berhenti dan terdengar suara lemari terbuka, setelah itu ada suara orang sedang mengenakan sabuk dan kreeekk.. suara resleting terdengar nyaring.
"Apa kamu sudah selesai?" Tanya Azila yang sudah tidak berteriak lagi dari dalam selimut, tetapi Candra tak menjawab pertanyaan Azila.
Terdengar suara pintu terbuka lalu ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya dan melemparkan sesuatu ke dekat Azila, suara sepatu tadi terdengar menjauh dan terdengar suara pintu yang ditutup.
"Apa dia sudah pergi?" ucap Azila dalam hatinya, lalu dia keluar dari dalam selimut dan memandang ke seluruh sudut kamar.
"Hhuufftt, lega, dasar cowok mesum, cowok aneh, di tanya nggak jawab, budek apa kali ya," gumam Azila, lalu dia melihat ada tas yang berisikan baju di sampingnya.
"Tapi pengertian juga sih," gumam Azila sambil senyum-senyum sendiri. Azila melepas kemeja yang di pakainya dan berlalu masuk ke kamar mandi.
20 menit kemudian, Candra masuk lagi ke kamar dan pas sekali karena Azila juga baru selesai memoles wajahnya dengan make up tipis.
"Ayo kita sarapan," ajak Candra sambil mengulurkan tangannya ke Azila.
"Ayoo," jawab Azila dengan senyum ramah, dia berlalu meninggalkan Candra dan tidak menggubris uluran tangan Candra. "Sial, udah bersikap baik, malah diabaikan," umpat kesal Candra dalam hatinya, lalu Candra berjalan menyusul Azila yang sudah keluar kamar.
"Kita sarapan kemana?" Tanya Azila di depan lift, Azila tidak tahu dia akan di ajak sarapan kemana.
"Roof top," jawab judes Candra.
"Apa dia marah padaku? Ah masa bodo lah, ngapain ku pikirin, nggak ada untungnya juga buat aku," gumam Azila dalam hatinya.
Setelah sampai di roof top, di sana sudah tersaji beberapa jenis makanan dan dua tempat duduk untuk Candra dan Azila, lalu mereka menikmati sarapan mereka tanpa ada obrolan sama sekali.
"Kita pulang?" Tanya Azila yang sudah selesai makan.
"Terserah," jawab Candra yang masih judes.
"Oke, kita ke rumah Mamah dulu," balas Azila.
"Y," jawab cuek Candra tanpa melihat Azila.
Setelah percakapan yang sangat singkat, padat, dan jelas itu, mereka berdua turun ke lobby hotel dan masuk ke mobil yang sudah disiapkan oleh orangnya Candra di depan hotel.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗,
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙