My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Lucuku



Budayakan tekan like dulu sebelum baca.😍


"Rencana siang, ini, apa, Yang?" tanya Candra yang sedang mengemudi sambil menggenggam tangan Azila.


"Em ... belanja baju bayi?" tanya Azila, "Gimana?" lanjutnya.


Candra menoleh, "Ide bagus," jawab Candra sembari mempercepat laju mobilnya.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di parkiran bawah tanah sebuah mall besar, mereka berdua bergegas masuk ke mall karena keadaan mall begitu ramai dengan pengunjung.


"Apa kamu tidak apa-apa jalan kaki? Kuat nggak?" tanya khawatir Candra.


"Kalau nanti aku capek, ya, gampang, tinggal minta gendong kamu," jawab Azila sambil tersenyum, "Udah, ah, ayo," lanjut Azila sambil menarik Candra.


Memang benar jika wanita suka lupa diri kalau di ajak belanja, apalagi kalau semua keinginannya yang ini itu dituruti.


Azila sudah sibuk mengambil semua baju yang menurutnya lucu saat dipakai bayinya, di lain sisi Azila yang lupa diri saat ini, ada Candra yang sudah mendapatkan dua keranjang baju untuk anak jagoannya. Azila menggelengkan kepalanya melihat Candra yang sudah jauh mengalahkannya yang baru mendapatkan setengah keranjang.


Sampai saat ini Azila hanya memberi tahu Candra kalau dia mengandung bayi laki-laki, maka dari itu Candra tidak bingung mau beli baju yang mana, sedangkan Azila yang tahu kalau mengandung anak kembar, dia memilih baju untuk cowok dan cewek karena jenis kelamin bayi satunya masih belum ia ketahui.


"Yang, kamu kok beli baju cewek?" tanya Candra yang menghampiri Azila.


"Oh, buat jaga-jaga aja, Yang. Siapa tahu nanti pas keluar jenis kelaminnya beda. Jadi, kalaupun beda, kita udah siap sedia," kilah Azila.


"Iya juga, ya ... kenapa aku nggak sampai ke situ mikirnya," gumam Candra. Azila menahan tawanya melihat ekspresi suaminya.


"Eh, Yang. Aku baru sadar lho kalau kamu doyan shopping kayak perempuan," ucap Azila, "Eh, melebihi perempuan malahan," lanjut Azila sambil terkekeh.


Candra melihat dua keranjang yang di tentengnya, "Kok banyak banget, Yang?" tanya Candra sambil menatap bingung Azila.


"Lah? Kenapa kamu malah tanya aku? Kan, yang ngambil semua, itu, kamu, Yang. Gimana, sih," jawab Azila sembari menggelengkan kepalanya.


"Kenapa akhir-akhir, ini, dia jadi bodoh, ya?" gumam Azila dalam hati.


"Iya, ya," ucap Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Jadi, gimana, ini? Dikembalikan apa gimana?" tanya Candra bingung karena memang baju yang ia ambil sangat banyak.


"Ya, terserah kamulah, siapa suruh ambil sebanyak, itu," jawab cuek Azila sembari meninggalkan Candra dan kembali memilih beberapa baju lagi.


"Kok malah dicuekin, Yang? Yang! ... Yang! ... Sayang!" Candra jadi semakin bingung karena Azila tidak menggubrisnya sama sekali dan lebih asik memilih baju.


"Gini amat nasibku hari, ini," gumam Candra.


Candra berpikir sejenak, dia harus apa dengan baju sebanyak itu, "Ah! Aku tahu!" gumam Candra begitu senang, "Tinggalin aja di bawah, nanti, kan, pasti dikembalikan sama Mbak-mbaknya kalau nggak ada yang bayarin," ucap Candra sembari menaruh dua keranjangnya di bawah lalu beranjak menyusul dan mengekori Azila.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai memilih baju dan sudah membayar di kasir, Azila jadi bingung kenapa Candra tidak membayar baju yang ia pilih tadi.


"Yang," panggil Azila.


"Hm?" gumam Candra.


"Baju pilihanmu tadi nggak kamu bayar?" tanya Azila.


"Aku tinggalin di lantai," jawab Candra dengan ekspresi biasa-biasa saja dan tidak merasa malu ataupun bersalah.


"Kok gitu? Kasihan penjaganya, dong, nanti," ucap Azila.


"Biarin aja, daripada pengeluaran bengkak buat barang yang belum tentu pas dipakai," ucap Candra karena teringat ucapan Azila yang belum tentu laki-laki saat anaknya lahir nanti, "Lagian, tadi aku juga udah bayar lebih buat tip mereka," lanjut Candra.


Azila terkekeh mendengar ucapan Candra, "Ceh, sudah mulai perhitungan sama uang," gumam pelan Azila.


"Tidak bilang apa-apa, kamu terlalu berhalu kali," jawab Azila.


"Iya, sih, akhir-akhir, ini aku sering halusinasi," balas Candra.


"Oh, ya, Yang. Nanti aku masakin dong, laper nih, udah lama nggak makan masakanmu juga," ucap Candra.


"Tadi, kan udah makan, Yang. Masa udah laper lagi," ucap Azila karena memang sebelum mereka ke mall, mereka sudah makan di restoran dekat hotel.


"Udah laper lagi, Yang. Kan, dari tadi dibuat jalan ke sana ke sini cari baju, lagian nyetir mobil jauh gitu juga capek tau," ucap Candra sambil mengangkat genggaman tangannya dengan Azila dan menghujani punggung tangan Azila dengan ciumannya.


"Perutmu, itu, asli perut atau toren air, sih? Perasaan tadi kamu makan nasi tiga piring lho, Yang. Nanti kalau gendut gimana," ucap Azila.


"Kalau aku gendut kenapa? Kamu mau cari yang lain gitu?" tanya Candra.


Aenhh ....


"Aakhh, kenapa malah gigit, sih, Yang? Kamu kanibal, ya, sekarang," ucap Candra karena Azila menggigit lengannya.


"Kalau kamu jadi bodoh kayak gini aku bakal jadi kanibal aja terus aku akan mutilasi kamu, dan akan aku rebus dagingmu," jawab Azila sambil menampakkan giginya yang dirapatkan.


Candra bergidik ngeri melihat Azila, "Serem tau, Yang," ucap Candra.


"Lagian kamu juga, sih, mana mungkin aku cari yang lain, aku, kan, cuma cinta sama kamu," ucap Azila, "Tapi, kalau kamu gendut, dan nggak hot lagi seperti sekarang, aku bakal lirik cowok lain yang punya perut sixpack, dada bidang, apalagi kalau dia ada keturunan Korea, pasti cakep banget," ucap Azila sambil membayangkan cowok Korea yang sedang telanjang dada sambil berpose memamerkan otot-otot kekarnya.


Mmhhh ....


Azila kaget karena tiba-tiba Candra mencium bibirnya dengan lumatan dan lumayan ganas, beberapa detik Candra melepaskan ciumannya.


"Kok main sosor di sini, sih, malu tau dilihatin orang banyak," ucap Azila karena memang banyak mata yang menatap ke arah mereka berdua.


"Biarin aja, lah, lagian kamu, kan, istri sah ku," jawab Candra cuek, "Salah kamu juga, kenapa bayangin cowok lain," lanjut Candra.


"Kamu cemburu, ya?" tanya Azila dengan wajah menahan senyumnya.


"Ngapain cemburu, kurang kerjaan banget," jawab cuek Candra sembari mempercepat jalannya dan meninggalkan Azila.


"Kamu, kok, lucu banget sih kalau lagi cemburu, pengen gigit jadinya," gumam Azila.


"Yang! Tunggu dong, jahat banget ninggalin istrinya yang hamil," teriak Azila sembari sedikit mempercepat jalannya. Candra baru sadar kalau istrinya sedang hamil, lalu dia berhenti dan menoleh menatap Azila.


"Makanya kalau jalan cepat sedikit, manja banget," ucap Candra.


"Awas kamu, ya! Nggak jadi aku masakin tahu rasa kamu," gerutu Azila saat sudah sampai di samping Candra.


Cupp ....


Satu kecupan mendarat di bibir Azila, "Jangan pernah bayangin laki-laki lain lagi, aku nggak suka, aku cemburu," ucap Candra serius.


"Siap, Suami lucuku," ucap Azila dengan senyum bahagia karena Candra mau mengakui kecemburuannya.


"Tidak terlalu buruk, Istri lucuku," balas Candra menirukan panggilan sayang baru mereka.


Candra kembali menggenggam tangan Azila dan mereka turun ke lantai satu untuk membeli bahan makanan yang akan Azila masakkan untuk Candra.


Cuma mengingatkan, likenya aku tunggu, jangan asik baca aja, oke.