
"Kenapa? Kenapa Engkau memberiku cobaan, ini, Tuhan? Sebesar apa dosa yang telah ku buat hingga Engkau memberiku hukuman, ini?" lirih Eldar.
Entah bagaimana rasa sakit hatinya saat ini, yang pasti lebih perih dari anggota tubuh yang diiris dengan pisau tajam lalu ditaburi garam, tapi ini lebih sakit dan tidak ada darah yang keluar satu tetes pun.
"Aku terima jika Engkau menyiksaku seperti, ini ... tapi, tapi tolong jangan Engkau renggut dia dariku, Tuhan," lirih Eldar yang semakin sendu.
Hatinya terasa gatal, tangannya ingin menggaruknya tapi terhalang oleh dada yang membungkus hatinya.
"Aaarrggghhhh..!" teriak Eldar yang sudah tidak kuat menahan perih di hatinya.
Semua orang di luar kamar mandi langsung panik mendengar teriakkan Eldar, Bunda Putri yang berada paling dekat dengan kamar mandi langsung menggedor-gedor pintu, disusul Candra dan yang lainnya. Untung saja teriakan Eldar tidak terdengar sampai keluar ruangan karena ruang tunggu itu memiliki peredam suara.
"Eldar! Eldar! Kamu kenapa?" tanya Bunda Putri panik.
"Eldar! Buka pintunya!" teriak Candra.
Semua orang makin khawatir karena Eldar tidak menjawab sama sekali, mereka hanya mendengar gemericik air yang jatuh ke lantai.
Cklekk
Pintu kamar mandi terbuka sedikit dan kepala Eldar terlihat dari celah itu.
"Ada apa? Kenapa tadi kamu berteriak?" tanya Candra yang berada paling dekat dengan celah pintu.
"Aku lupa nggak bawa handuk, bajuku basah," kilah Eldar.
Candra melihat tubuh Eldar yang sudah basah kuyup dengan piyama tidur tadi malam yang masih melekat di tubuhnya. Cuma dengan melihat kantung mata Eldar yang sedikit bengkak Candra bisa tahu kalau Eldar habis menangis.
"Lanjutkan mandimu! Nanti Tante siapin handuk sama bajumu," ucap Bunda Putri. Eldar mengangguk lalu menutup pintu kamar mandi.
"Kuatkan diriku, Tuhan," ucap Eldar sambil memejamkan matanya di bawah guyuran shower.
Beberapa saat kemudian Bunda Putri mengetuk pintu kamar mandi untuk memberikan handuk dan baju ganti untuk Eldar. Saat Bunda Putri dan Azila datang ke rumah sakit, mereka membawakan beberapa baju ganti karena mereka tahu kalau Eldar tidak akan mau untuk disuruh pulang.
Setelah selesai mandi dan memakai baju ganti, Eldar berdiri di depan kaca pembatas ruang tunggu dengan ruangan Naza dirawat. Orang-orang di ruang tunggu pada asik berbincang-bincang dan bergurau.
Melihat Eldar terus-terusan berdiri di depan kaca, Kevin mengajak Candra untuk mengangkat sofa ke dekat kaca pembatas agar saat Eldar ingin lebih dekat dengan Naza dia tidak kecapekan berdiri. Untuk sementara ini, Dokter belum memperbolehkan siapapun untuk masuk ke ruangan Naza kecuali Dokter dan perawat.
"Eldar, duduklah," ucap Kevin setelah menurunkan sofa panjang di belakang Eldar.
"Eh, Kak Azila sama Kak Nabila duduk di mana?" tanya Eldar. Saat dia keluar dari kamar mandi, Eldar melihat sofa itu diduduki oleh Azila dan Nabila.
"Sejak tadi kita semua duduk di karpet," jawab Kevin.
"Kamu mau makan apa? Kakak mau pesen makanan untuk makan siang kita semua di sini," ucap Candra.
"Terserah Kakak aja," jawab Eldar sembari duduk di sofa.
"Oke," balas Candra.
"Apa sofanya kurang maju?" tanya Kevin karena dia melihat Eldar duduk di ujung depan sofa.
"Ya, sedikit," jawab Eldar.
"Berdiri dulu! Biar kita dekatkan ke kaca," ucap Kevin.
Eldar berdiri lalu menyingkir ke samping agar Kevin dan Candra lebih leluasa menata sofanya.
"Sempurna," jawab Eldar sambil tersenyum, "Terima kasih," lanjutnya.
Eldar kembali duduk di sofa, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Kevin dan Candra kembali duduk bersama yang lainnya, mereka semua menyembunyikan kekhawatiran mereka dibalik canda gurau karena tidak ingin membuat Eldar semakin cemas, mereka berusaha membuat atmosfer ruangan itu menjadi ceria seperti tingkah laku Eldar biasanya.
Setelah setengah jam lebih mereka menunggu pesanan makan siang mereka, akhirnya yang mereka tunggu datang juga. Ada enam orang yang membawa makanan pesanan Candra tadi, terhitung banyak yang Candra pesan karena ada 12 orang yang ada di sana.
Candra beranjak menghampiri Eldar yang dari tadi hanya duduk diam, bibirnya tersenyum ketika melihat Eldar tertidur, setidaknya Eldar masih bisa ingat untuk istirahat. Candra tahu kalau menangis itu menguras banyak energi dan membuat tubuh cepat lemas, maka dari itu dia membiarkan Eldar melanjutkan tidurnya.
"Gimana?" tanya Bunda Putri setelah Candra kembali.
"Dia ketiduran," jawab Candra.
"Selimuti tubuhnya biar nggak kedinginan!" perintah Bunda Putri. Candra mengangguk lalu mengambil selimut di ranjang single bed dan menyelimuti tubuh Eldar.
Candra dan yang lainnya mulai menyantap makan siang mereka, tidak ada keramaian seperti tadi, mereka mengecilkan suara dan tawa mereka agar tidur Eldar tidak terganggu.
Usai makan siang, mereka melanjutkan obrolan satu sama lainnya lalu mulai terpecah karena mereka juga bosan kalau beramai-ramai terus. Bunda Putri dan Mamah Mitha menemani Azila dan Nabila untuk periksa kandungan ke Dokter, berhubung Dokter kandungan Azila dan Nabila juga ada di rumah sakit ini.
Candra bersama Kevin menunggui Eldar dan Naza di ruang tunggu. Papah Hendri dan Ayah Yoga pergi ke cafe depan rumah sakit untuk bersantai sambil minum kopi. Abyasa menemani Dara dan Cindy bermain di mall dekat rumah sakit, tidak bisa dipungkiri kalau anak kecil dan anak muda tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit, apalagi bau rumah sakit yang menyeruak mengingatkan mereka dengan masa kecil yang takut disuntik.
Pukul empat sore Eldar terbangun, dia melihat sekelilingnya karena ruangan itu tidak seramai tadi, telinganya mendengar alunan musik yang diputar tidak begitu keras, lalu dia menoleh ke belakang dan mendapati Candra lah yang memutar musik itu.
"Di mana yang lainnya?" tanya Eldar.
"Oh, kamu udah bangun," ucap Candra, "Yang lainnya sudah pulang, mungkin besok baru ke sini lagi," lanjutnya.
"Mereka?" tanya Eldar sambil menunjuk dua orang yang sedang tidur di atas ranjang.
"Oh, mereka berdua nginep di sini," jawab Candra.
"Terus Kakak ngapain masih di sini?" tanya Eldar.
"Nungguin kamulah, nanti kamu mau pulang sama siapa kalau ditinggal sendiri," jawab Candra.
"Kak Naza pulang aja, aku nggak pulang, aku mau tidur di sini," ucap Eldar.
"Kalau gitu Kakak juga tidur di sini juga," ucap Candra.
"Ngapain? Nanti Kak Azila gimana? Kakak tega biarin dia tidur sendirian?" tanya Eldar.
"Kan di rumah udah ada Bunda sama Ayah, aman kok," jawab Candra.
"Nggak usah, Kakak pulang aja, siapa tahu kalau Kak Azila tiba-tiba pengen begituan tapi Kakak nggak ada di sampingnya, kasian kan," ucap Eldar.
"Hm, dasar otak mesum," ucap Candra, "Emang kamu betah satu ruangan sama pasangan suami istri?" lanjutnya.
Eldar melirik Nabila yang tertidur miring sambil dipeluk Kevin dari belakang, "Kuat nggak kuat, ya, dikuatin," jawab Eldar, "Ya, siapa tahu aku bisa belajar dari mereka buat ilmuku setelah nikah nanti," lanjut Eldar sambil tertawa.
"Otakmu," ucap Candra sambil menonyor kepala Eldar, "Kakak temenin kamu dulu, nanti malam baru pulang," lanjutnya.
"Terserah, yang penting jangan mengangguku kalau aku lagi mengambil ilmu dari mereka," jawab Eldar sembari berjalan masuk ke kamar mandi untuk membuang hajat kecilnya.
Sorry lama up, soalnya lagi banyak kerjaan.