My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Mencari restu 2



Kevin berjalan dengan rasa gugup yang dia tutupi dibalik senyum ramahnya, dia menghampiri Papah Hendri yang sedang melipat tangannya di belakang tubuh, "Pagi, Om," sapa Kevin sambil mengulurkan tangan kanannya.


Papah Hendri tidak langsung menyambut uluran tangan Kevin, dia melihat jam di pergelangan tangannya terlebih dahulu, "Hem, jam enam kurang dua menit, lumayan disiplin," ucap Papah Hendri dengan wajah datarnya seperti seorang kritikus yang tidak punya ekspresi, Papah Hendri menyambut uluran tangan dari Kevin dan segera menarik tangannya kembali.


Plok plok.


Papah Hendri menepuk tangan dua kali dan datanglah Bik Inem dengan kresek hitam di tangannya, lalu Bik Inem menghampiri Kevin dan menyerahkan kresek hitam itu ke Kevin, "Ini apa, Bik?" tanya Kevin yang baru menerima kresek hitam.


"Jangan banyak tanya, langsung buka dan lihat sendiri," ucap Papah Hendri dengan nada sedikit membentak tanpa melihat ke arah Kevin.


Perlahan kresek itu dibuka oleh Kevin, mata Kevin masih belum tahu jelas apa isi di dalamnya, karena hari masih pagi dan matahari belum menampakkan diri seutuhnya. Kevin mengambil secarik kain dari dalam kresek dan mengangkatnya, "Kaos? Kolor?" ucap Kevin sambil kembali melihat Papah Hendri.


"Kenapa?" tanya Papah Hendri dengan sedikit bentakan, "Cepat pakai dan jangan pakai lama," perintah Papah Hendri sebelum berlalu melewati Kevin dan pergi menuju mobil yang sudah disiapkan supir pribadinya.


"Terus aku ganti dimana, ini?" tanya Kevin pada dirinya sendiri.


Melihat Kevin dengan wajah bingungnya sambil memandangi kaos dan kolor yang ada di tangannya, Bik Inem mengerti apa yang ada di otak Kevin, "Mari, Tuan. Saya antar ke kamar mandi," ucap Bik Inem yang membuat Kevin keluar dari kebingungannya.


"Makasih, Bik," ucap Kevin yang dibalas senyum ramah dan kepala Bik Inem yang menunduk sejenak, lalu Bik Inem menunjukkan jalan ke kamar mandi yang ada di kamar tamu, "Bibik tinggal, ya, Tuan," pamit Bik Inem sebelum pergi.


"Makasih, Bik," ucap Kevin lagi dan berlalu masuk setelah Bik Inem membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Kevin.


≈≈≈


"Huuuoaahh," Nabila menguap setelah bangun dari tidur nyenyak, "Jam berapa ya," gumam Nabila sembari mencari dimana ponselnya berada.


Tangannya masih mencari-cari dimana keberadaan ponselnya, "Dimana sih, ngilang mulu nih HP," gumam Nabila yang masih terbaring dengan tangan yang kesana kemari mencari ponselnya, "Ah, dapat," ucap Nabila setelah menemukan ponselnya.


Nabila menyalakan layar ponselnya, matanya menyipit dan berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan seberapa banyak cahaya yang akan melewati pupil matanya, "Yah, baru jam enam lebih dikit, tidur lagi lah," gumam Nabila sambil memposisikan tubuhnya ke posisi yang nyaman.


Saat mata Nabila sudah terpejam lagi, sekilas terbesit wajah Kevin di otaknya, "Kevin ..!!" panggil Nabila dengan berteriak sambil terbangun dari tidurnya, Nabila kembali mengambil ponselnya dan kembali menyalakan layarnya untuk memastikan jam berapa saat itu, "Jam enam lewat, Kevin udah datang apa belum, ya? Jangan-jangan dia lupa dan tidak datang kesini, kalau dia nggak datang, matilah hubunganku sama dia," ucap Nabila yang cemas sambil menepuk jidatnya, "Ahh, langsung turun lihat ajalah, semoga dia udah datang," ucap Nabila sembari beranjak turun dari ranjangnya dan berlari keluar.


≈≈≈


"Duu du du duu du," Suara Kevin yang baru keluar dari kamar tamu.


Nabila yang berlari menuruni tangga melihat seseorang orang dengan kaos biasa dengan celana pendek yang biasa disebut kolor, Nabila langsung berlari menghampiri seseorang itu, "Mang, Mang. Tadi pagi ada tamu nggak, Mang?" tanya Nabila dengan suara ngos-ngosan setelah berlari dan menuruni anak tangga, Nabila berpikir kalau seseorang itu adalah Mang Asep si satpam rumahnya.


Kevin yang sangat mengenali suara wanita yang memanggilnya dengan panggilan 'Mang'. Kevin langsung menoleh dan membalikkan badannya setelah dia melihat siapa wanita tersebut.


Nabila sontak terkejut dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matanya, "Kevin?" ucap Nabila yang masih tidak percaya, "Kevin?" ucapnya lagi sambil mengusap-usap matanya yang baru bangun tidur, Nabila berpikir kalau laki-laki yang ada di depannya itu hanyalah halusinasi.


Tangan Kevin memegang kedua pundak Nabila, bibir Kevin menyembunyikan tawanya di balik senyum manisnya, dia tahu kalau saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk bercanda gurau dengan Nabila, "Ini aku, Sayang. Kevin, Kevin Lewis, pacarmu yang sebentar lagi akan menikahi mu setelah mendapat restu," ujar Kevin sambil menyeka air mata Nabila yang tiba-tiba keluar dan mengalir di pipi Nabila.


"Jangan menangis, nanti Papah mu bakal membunuhku kalau anaknya menangis karena perkataan ku," ucap Kevin yang masih menyeka air mata Nabila.


"Aku sangat butuh itu," balas Kevin, "Kita sudahi dulu, ya, pelukannya, aku sudah ditunggu Papah mu di depan," ucap Kevin sambil menyudahi pelukannya dengan Nabila.


Nabila kembali melihat baju yang dipakai oleh Kevin, "Kenapa kamu memakai baju seperti ini? Apa Papah tidak menyuruh mu ganti baju dulu?" tanya Nabila sambil kembali melihat wajah Kevin.


Kevin tersenyum mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nabila, dia meletakkan tangannya di kedua pipi Nabila dan berbicara dengan suara berbisik, "Ini baju dari Papah mu, Sayang. Sudah ya, Papah mu sudah menunggu ku sejak tadi, aku pergi dulu," pamit Kevin sambil mengacak-acak rambut Nabila sebelum berlalu pergi.


Kevin telah berjalan meninggalkannya, bibir Nabila tak henti tersenyum bahagia karena Kevin mau memperjuangkan cinta mereka, "Kevin ..!" teriak Nabila sebelum Kevin keluar melewati pintu utama.


Kevin mengehentikan langkahnya dan berbalik melihat Nabila yang berteriak memanggil namanya, "Semangat ..!" teriak Nabila lagi sambil memberi Kevin ciuman perpisahan dari bibirnya dan dilempar dengan tangannya.


Tangan Kevin terangkat dan menangkap ciuman perpisahan yang dilempar oleh Nabila, kini ciuman perpisahan dari Nabila sudah berada dalam genggaman Kevin. Sejenak Kevin memandang genggaman tangannya sambil tersenyum, lalu dia kembali memandang Nabila yang masih berdiri di tempat tadi, Kevin tersenyum lebar dan menaruh genggaman tangannya yang ada ciuman perpisahan dari Nabila ke bibirnya.


Nabila menautkan alisnya karena perlakuan Kevin, "Ditaruh dada bodoh ..! Jangan di bibir ..!" teriak Nabila pada Kevin, lalu bibir Nabila menampakkan senyum bahagia.


Kevin hanya tersenyum mendengar teriakkan Nabila, lalu dia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya untuk segera menemui Papah Hendri yang sudah menunggunya.


"Dasar pasangan alay," ucap seseorang dari belakang Nabila.


Nabila menoleh dan langsung bergerak mundur, "Ya Tuhan!" ucap Nabila dengan sedikit berteriak karena kaget, "Zila! Seneng banget ngagetin orang," ucapnya lagi.


Azila tertawa dan berlalu pergi menuju dapur, "Pasangan alay," ucap Azila lagi.


"Bodo amat," balas Nabila sambil teriak.


≈≈≈


Tok tok tok.


Kevin mengetuk kaca mobil yang dinaiki Papah Hendri, lalu Papah Hendri membuka kaca pintu mobilnya dan menatap tajam ke arah Kevin.


Plok plok.


Papah Hendri bertepuk tangan dua kali dan pak supir yang ada kursi kemudi langsung mengangguk dan turun dari mobil, lalu menghampiri Kevin yang masih berdiri di samping pintu mobil Papah Hendri. Setelah pak supir sudah di samping Kevin, Papah Hendri langsung menutup kaca pintu mobilnya.


"Tuan Kevin, saya dititipi pesan oleh Tuan Hendri kalau anda disuruh mengikuti Tuan Hendri dengan mengendarai itu," ucap pak supir sambil menunjuk ke belakang mereka.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙