My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Amanda Mardiana



Seorang laki-laki tengah asyik memilih baju untuk bayi, sesekali dia mengangkat baju kecil itu dan dibolak-balik, lalu dia akan memasukkannya ke dalam troli dorongnya. Tak jauh dari laki-laki tadi, terlihat seorang wanita sedang duduk sambil bermain ponsel, sesekali wanita itu melihat laki-laki tadi dan tersenyum kepada laki-laki itu.


Satu jam telah berlalu sejak Candra dan Azila pergi dari gerai Thai tea milik Akbar. Sebenarnya, Azila hanya mengajak Candra untuk membeli beberapa bahan makanan dan camilan lalu pergi menuju ke rumah orangtuanya, namun Candra malah mengajak Azila membeli baju untuk calon bayi mereka.


Candra yang sudah lelah memilih baju, dia memutuskan untuk menyudahi belanjanya dan menghampiri Azila.


"Sudah?" tanya Azila.


"Sudah !" jawab Candra dengan wajah bahagianya.


Azila berdiri dari duduknya, "Ternyata, kamu lebih mirip seorang wanita saat berbelanja," ejek Azila sambil berjalan melewati Candra.


"Apa kamu mengejek ku, Sayang? Aku hanya mencari yang terbaik untuk anak kita !" balas Candra dengan sedikit berteriak.


Candra berjalan dengan sedikit berlari menyusul Azila sambil mendorong trolinya. Setelah beberapa saat dia mengejar, akhirnya Candra sudah mengimbangi langkah kaki Azila dan berjalan di sampingnya, "Kenapa aku ditinggal?" tanya Candra sambil mengatur napasnya.


Azila diam tak menjawab dan terus melangkah.


Candra berhenti sambil memegang pergelangan tangan Azila, "Jangan membuat hidupku hancur karena kebungkaman mu, aku sangat rapuh saat kamu hanya diam ketika marah," ucap Candra sambil menatap lekat manik coklat Azila.


Senyum tipis mulai tergambar di bibir Azila, kini kedua tangan Azila menggenggam tangan Candra, "Aku tidak marah, Sayang. Aku sudah tidak tahan," ucap Azila dan langsung pergi meninggalkan Candra.


Kebingungan mulai memenuhi pikiran Candra, "Dia sudah tidak tahan? Apa aku membuat kesalahan yang besar? Perasaan, dari tadi kita baik-baik saja, tidak ada pertengkaran," gumam Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Candra," panggil seorang wanita dari samping Candra.


Dengan cepat dia menoleh saat ada yang memanggil namanya, "Iya, saya."


"Candra Wibawa?" tanya wanita itu untuk memastikan.


"Iya, saya."


"Tidak ku sangka aku bisa bertemu lagi denganmu, Can. Apa kamu sudah lupa sama aku?" ucap wanita itu dengan wajah bahagia dan tidak percaya.


Candra mengernyitkan dahinya, "Apa kita saling kenal?" tanya Candra.


"Astaga, ternyata kamu benar-benar melupakan ku, Can," ucap wanita itu sambil menepuk dahinya.


Wanita itu membalas senyum Candra dan mengulurkan tangannya, "Kita kenalan lagi. Kenalkan, namaku Amanda Mardiana. Kita satu angkatan di SMA."


Candra menyambut uluran tangan Amanda, "Candra," balasnya, "Sepertinya, kita tidak pernah satu kelas," ucap Candra sambil melepas jabat tangannya dengan Amanda.


"Iya, kita dari kelas yang berbeda, tapi kita masuk ekstra kurikuler yang sama," ucap Amanda.


Amanda melihat Candra masih kebingungan dan belum mengingat dirinya, "Kita satu ekstra kulikuler basket waktu SMA, dan aku adalah satu-satunya cewek yang ikut basket di angkatan kita. Apa kamu sudah ingat?" jelas Amanda.


"Oh, iya, aku ingat," jawab Candra yang masih dengan senyum terpaksa nya.


Amanda melirik troli yang dibawa Candra, "Apa kamu sudah punya anak?" tanya Amanda.


"Sebentar lagi."


"Oohh. Lalu, di mana istri mu?" tanya Amanda sambil melihat ke sekitar mereka.


"Dia meninggalkan ku," jawab Candra dengan senyum yang terus dia paksakan.


"Benarkah? Kenapa istri mu sangat tega meninggalkan mu? Benar-benar wanita yang--" ucap Amanda terhenti.


"Dia sedang ke toilet," potong Candra sebelum Amanda menjelekkan nama istrinya di hadapannya sendiri.


Amanda merasa malu dan bodoh, "Maaf, Can. Aku kira, is--" ucap Amanda yang lagi-lagi terhenti.


"Tidak apa-apa," ucap Candra memotong ucapan Amanda, "Aku pergi menyusul istriku dulu, bye," lanjut Candra sembari pergi meninggalkan Amanda di sana.


"Bodoh sekali kamu, Man. Bisa-bisanya kamu mau menjelekkan istrinya di hadapannya sendiri," gumam Amanda sambil menepuk-nepuk dahinya.


Amanda menyilang kan kedua tangannya di depan dadanya, "Candra, takdir memang berpihak padaku. Sekarang, aku akan melanjutkan perjuangan ku yang sempat terhenti saat jarak memisahkan kita," ucap Amanda dengan senyum seringai sambil menatap punggung Candra yang mulai hilang tertutup pengunjung lain.


IG : @ahmd.habib_


Jangan lupa untuk like, comment, share dan favorit ya 🤗


Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙