My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Salah Tingkah



Di ruang tamu, Azila duduk sendirian di sana, lalu Mamah Mitha datang menghampirinya, "Zila, terima kasih, ya, Sayang. Maafkan Mamah sama Papah, ya, Sayang. Karena terlalu memaksakan keinginan kami," ucap Mamah Mitha sambil mengusap rambut anaknya.


"Iya, Mah. Zila nggak apa-apa, kok," jawab Azila agar Mamahnya tidak terlalu memikirkan perjodohan tadi.


"Kamu memang anak hebat, Sayang. Mamah yakin, cepat atau lambat, kamu akan mencintai Candra, dan begitu pun sebaliknya," balas Mamah Mitha.


"Iya, Mah. Semoga saja seperti keyakinan, Mamah," ucap Azila, "Zila ke kamar dulu, ya, Mah," lanjutnya sembari pergi meninggalkan Mamah Mitha di ruang tamu.


Azila berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya, dia langsung duduk di kursi meja riasnya, "Mana mungkin aku suka sama si cowok batu, itu. Walaupun dia ganteng, tapi sifatnya berbalik seratus delapan puluh derajat dari parasnya yang ganteng, itu," gerutu Azila sambil menghapus make up di wajahnya.


Cklek..


Nabila membuka pintu dan masuk, dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, "Zil, cowok yang dijodohkan dengan mu, itu, kayak pernah lihat, ya, aku? Tapi, di mana gitu, aku lupa," ucap Nabila yang mencoba mengingat-ingat di mana dia pernah bertemu dengan Candra.


"Ya iyalah, dia, kan, satu SMA sama kita, sekelas pula," jawab kesal Azila.


"Eh, tapi dia ganteng banget lho, Zil. Beruntung banget kamu dijodohin sama dia," ucap Nabila sambil membayangkan wajah gantengnya Candra.


"Beruntung kepalamu? Asal kamu tahu, ya. Dia itu musuh bebuyutanku sejak SD, dia itu cowok batu, tidak punya hati, tidak mau kalah sama cewek. Bisa gila aku kalau nikah sama dia," balas Azila yang sudah tak tahan dengan takdir yang dia alami.


"Idih, ngenes amat nasibmu," ledek Nabila tetapi tak ditanggapi oleh Azila.


Sementara itu di dalam mobil Kevin, Candra terus saja diam sejak keluar dari rumah calon mertuanya, "Kamu kenapa, Can? Diem mulu dari tadi," tanya Kevin.


"Aku nggak habis pikir, kenapa aku bisa dijodohin sama tuh cewek, sih," jawab kesal Candra yang mulai membuka suaranya.


"Buka matamu, men. Udah dapet cewek cantik, tubuh aduhai, malah ngeluh," balas Kevin.


"Terserah, lah, Vin. Susah ngomong sama budak cinta yang sudah ternodai," balas Candra yang mengejek Kevin.


"Walaupun aku udah pernah pacaran, tapi tubuhku masih suci semua," balas ketus Kevin, dan Candra hanya diam dan tidak merespon lagi.


Mobil sport Kevin terus melaju membelah jalan raya, tak lama kemudian mobil Kevin telah sampai di halaman depan rumah keluarga Wibawa, "Can, kata papaku, kalau jodoh pasti ketemu. Aku yakin, secara perlahan kamu akan jatuh cinta sama cewek tadi," tutur Kevin sebelum Candra turun dari mobilnya.


"Ah, ngaco kamu, Vin. Mana mungkin aku bakal suka sama tuh cewek," jawab Candra yang tak percaya dengan ucapan Kevin.


"Ayah, Bunda. Kevin langsung pulang, ya," pamit Kevin dari dalam mobilnya.


"Kamu tidak nginep sini aja, Vin?" tanya Ayah Yoga.


"Enggak, Yah. Besok pagi Kevin mau terbang ke Amerika," jelas Kevin karena dia dan dua saudaranya akan terbang ke Amerika besok, mereka akan mengunjungi kedua orangtua mereka dan sekalian liburan.


"Oh, ya udah kalau begitu, kamu hati-hati, ya. Titip salam buat Mama sama papamu, di sana," ucap Ayah Yoga.


"Siap, Ayah," jawab Kevin sambil memberi hormat, lalu Kevin menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan rumah keluarga Wibawa.


Hari sudah mulai larut, Candra dan yang lain bergegas masuk ke dalam rumah dan mengistirahatkan tubuh lelah mereka.


≈≈≈


Tidak terasa waktu cepat berlalu, sudah satu Minggu setelah malam pertunangan, Candra dan Azila tidak pernah bertemu dan tidak pernah berkomunikasi lewat chat ataupun telpon, karena mereka tidak pernah bertukar nomor telpon satu sama lain.


Terlihat empat orang sedang duduk menikmati sarapan pagi mereka. "Candra, nanti pas jam makan siang, kamu pulang, dan ikut Bunda ke butik, ya," ajak Bunda Putri.


"Ngapain, Bun?" tanya Candra yang bingung.


"Ya buat beli baju pernikahan mu lah, satu Minggu lagi kan kamu bakal nikah, Nak," jawab halus Bunda Putri.


"Iya, Bun. Nanti kirim lokasi aja, Candra nanti nyusul ke sana," jawab Candra pasrah.


"Oke," balas Bunda Putri.


Mereka melanjutkan sarapan pagi seperti biasa, hingga semua orang sudah selesai dengan piring mereka.


"Sayang, aku berangkat dulu, ya," pamit Ayah Yoga sambil mengecup kening istrinya.


"Iya, Sayang. Kamu hati-hati, ya," balas Bunda Putri sambil mencium punggung tangan suaminya.


"Bun, Candra juga berangkat, ya," pamit Candra sembari mencium punggung tangan Bunda Putri.


"Dara juga berangkat sekolah dulu, ya, Bunda. Da da, Bunda," Dara juga pamit lalu mencium punggung tangan Bunda Putri.


≈≈≈


Di meja makan keluarga Yudistira, terlihat lima manusia sedang asik bercanda gurau sambil menyantap makanan di depan mereka.


"Zila, nanti kamu ikut Mamah ke butik, ya. Kita beli gaun yang akan kamu pakai saat pernikahan," ajak Mamah Mitha ke putrinya.


"Iya, Mah. Zila ngikut Mamah aja," jawab pasrah Azila.


"Terima kasih, ya, Sayang," balas Mamah Mitha sambil mengelus tangan Azila yang duduk di sampingnya.


"Kamu ikut apa tidak, Nab?" tanya Mamah Mitha.


"Enggak, Mah. Nabila udah ada janji sama temen Nabila," jawab Nabila.


"Oh, ya udah, nanti kalau pergi hati-hati, ya. Jaga diri baik-baik," nasihat Mamah Mitha ke putri asuhnya itu.


Setelah mereka kenyang menikmati sarapan, satu persatu mulai pergi meninggalkan meja makan.


"Mah, Papah berangkat ke kantor dulu, ya. Nanti kalau pergi sama Azila, hati-hati, ya," tutur Papah Hendri sambil mengusap pucuk kepala istrinya.


"Iya, Pah. Papah juga hati-hati berangkat ke kantornya," balas Mamah Mitha sambil mencium punggung tangan Papah Hendri.


"Siap. Yasa, ayo kita berangkat," ajak Papah Hendri ke Yasa.


"Mah, Yasa berangkat sekolah dulu, ya," pamit Yasa sembari mencium punggung tangan Mamah Mitha.


"Iya, belajar yang serius biar pinter," tutur Mamah Mitha yang dijawab anggukan kecil oleh Yasa, lalu Papah Hendri dan Yasa beranjak pergi.


"Zila ke kamar dulu ya, Mah. Mau tidur lagi bentar," ucap Azila sambil menguap dan beranjak menuju kamarnya di lantai dua.


"Nabila juga siap-siap dulu ya, Mah. Udah mau pergi bentar lagi," pamit Nabila sambil berlari menyusul Azila.


Mamah Mitha hanya menggeleng melihat dua gadis muda yang berlalu pergi dari hadapannya, lalu Mamah Mitha membereskan meja makan dan dibantu pelayan yang bertugas di dapur.


≈≈≈


Jam sudah menunjuk pukul setengah satu siang, di sebuah ruangan kantor yang cukup luas dan dilengkapi dengan televisi, kulkas, AC, dll. Seorang laki-laki sedang duduk di kursi putarnya sambil menyenderkan tubuhnya.


Ting tung..


Suara pesan masuk ke ponsel laki-laki itu, lalu dilihatnya siapa yang mengirim pesan tersebut, "Bunda💕" nama pengirim pesan tadi, lalu dia membuka isi pesan yang masuk, isinya adalah kiriman lokasi sebuah mall besar di kota kelahiran Candra.


Ting tung..


Satu pesan lagi dari bundanya masuk di ponsel Candra, lalu Candra membaca isi pesan yang baru diterimanya.


"Candra, cepat datang ke sini. Bunda tunggu."


Setelah membaca pesan dari bundanya, Candra merapikan mejanya dan segera turun untuk mengambil mobilnya, lalu dia berangkat ke lokasi yang dikirim bundanya.


Tiga puluh menit telah berlalu, Candra telah sampai di sebuah mall besar, dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam mall.


Candra berjalan mengikuti arah GPS di ponselnya, setelah tujuh menit dia berjalan, sampailah dia di depan sebuah butik, dilihatnya ada bundanya yang sedang mengobrol dengan dua wanita yang tak asing baginya. Ya, mereka adalah calon mertuanya dan Azila, lalu Candra memberanikan diri untuk masuk.


"Maaf, Bun. Udah lama nunggu, ya?" tanya Candra.


"Enggak kok, Nak. Salim dulu sama calon mertuamu !" perintah Bunda Putri.


Candra menuruti perkataan bundanya, dia bersalaman dan mencium punggung tangan Mamah Mitha. Saat dia melihat wajah Azila yang tadi belum sempat dia lihat, Candra diam mematung dan tak berkedip sekalipun, dia terpesona dengan wajah Azila yang hanya memakai bedak tipis dengan lipstik tipis di bibir mungilnya.


Azila yang sadar kalau dia sedang dilihat sepasang mata milik Candra, Azila lalu berdiri dan menampar pelan pipi Candra, "Hei, cowok batu, sadar! Apa matamu sudah puas melihatku seperti itu?" tegur Azila dengan nada kesal.


Candra yang kaget karena tamparan Azila menjadi salah tingkah dan tak berani memandang wajah Azila lagi. "Ayo, Bun. Katanya mau beli baju buat nikah," ucap Candra yang salah tingkah karena ulahnya sendiri.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙