My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Pengganggu kecil



Candra dan Azila sudah berpelukan lumayan lama hingga membuat Azila sedikit capek berdiri saja dari tadi, dia melepaskan pelukannya namun masih melingkarkan tangannya di pinggang Candra.


"Aku capek," ucap Azila dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.


Candra tersenyum dan mengangkat tubuh Azila ke gendongannya, dia menggendong Azila dan merebahkannya ke ranjang empuk dengan seprei putih bersih tanpa motif. Azila terkejut karena mimpinya terlihat begitu nyata.


"Bagaimana dia bisa menggendong ku? Apa, ini, benar-benar mimpi? Kenapa aku tidak tahu, sih," ucap Azila dalam hati sambil menampari pipinya.


Candra yang masih berdiri di samping ranjang tersenyum dan menahan tawanya saat melihat tingkah Azila yang mencoba terbangun dari mimpinya.


Candra berjongkok dan menghentikan tangan Azila yang masih menampari pipinya sendiri, lalu Candra mendekatkan bibirnya ke telinga Azila, "Sayang, ini, bukan mimpi, ini, nyata," bisik Candra.


Seketika Azila membulatkan matanya, "Ini, nyata?" tanya Azila. Candra mengangguk.


"Aku juga merasa kalau, ini, nyata, sih," ucap Azila.


"Memang, ini, nyata, Sayang," sahut Candra.


"Apa buktinya?" tanya Azila yang masih belum percaya jika itu nyata.


Cuupp ....


Candra mengecup lembut bibir Azila tanpa permisi pada yang punya. Azila menjadi terdiam sambil memegang bibirnya yang sudah lama tidak mendapat kecupan dan ciuman.


Melihat Azila yang hanya diam sambil memegang bibirnya, membuat Candra sedikit bernafsu untuk mencium bibir Azila yang sedikit tebal di bibir bawahnya.


Tanpa permisi lagi Candra mencium bibir Azila, dia mulai memainkan lidahnya untuk membuka bibir Azila yang masih menutup gerbang.


Auuhh ....


Azila menjerit kesakitan karena Candra menggigit bibir bawahnya, sontak Candra langsung kelabakan karena dia memang sengaja menggigit bibir Azila.


"Apa, itu, sakit, Sayang?" tanya Candra sambil mendekat dan duduk di samping Azila untuk melihat bibir bekas gigitannya.


"Jangan menyentuh ku!" bentak Azila sambil sedikit menjauh dari Candra dan menepis tangan Candra yang hendak memegang bibirnya. Azila sudah percaya jika itu bukanlah mimpinya.


"Aku hanya ingin melihatnya," jawab Candra.


"Tidak perlu! Ini, baik-baik saja," balas Azila. Candra merasa lega karena dia melihat bibir Azila yang memang tidak sampai luka.


"Ada apa kamu ke sini? Nanti wanita mu akan marah," sindir Azila dengan sinis.


"Sayang, aku benar-benar tidak selingkuh dengan wanita, itu. Aku dijebak, aku jadi korban atas obsesinya yang gila, itu," jawab Candra.


"Aku percaya dengan apa yang aku lihat," balas Azila dengan sinis tanpa menatap Candra.


Candra mengeluarkan ponselnya dan memberikannya ke Azila, "Lihatlah jika kamu hanya percaya dengan apa yang kamu lihat," ucap Candra sambil memutarkan video tentang apa yang sudah dilakukan oleh Amanda.


Candra mulai menjelaskan pelan-pelan apa yang terjadi dari awal sampai akhirnya kesalahpahaman antara banyak pihak terjadi.


"Sekarang Amanda sudah ada di penjara. Tetapi, dia masih bisa keluar jika ayahnya membayar uang jaminan," ucap Candra.


Azila sudah mengerti jika dia hanya salah paham dan dia sangat merasa bersalah karena sudah pergi tanpa ada penyelesaian sebelumnya.


"Maafkan aku," ucap Azila dengan kepala yang menunduk.


Candra menakup wajah Azila dan menghadapkannya ke wajahnya, mereka berdua saling pandang dengan mata Azila yang mulai melelehkan air matanya.


"Kamu tidak salah, Sayang. Yang salah, itu, aku. Aku tidak bisa menjaga diriku sampai-sampai bisa diperdaya oleh Amanda," ucap Candra, "Yang seharusnya meminta maaf, itu, aku. Kamu jangan nangis, dong," lanjut Candra sambil mengusap lelehan air mata Azila.


"Memang kamu suka bikin salah, dan kamu memang selalu salah," ucap Azila sambil mengerucutkan bibirnya.


Candra menjadi bingung, "Kenapa tadi kamu minta maaf kalau aku yang salah?" tanya Candra.


"Aku hanya memancingmu supaya kamu peka," jawab Azila.


Kini Candra mengerti tentang istilah 'Wanita selalu benar dan laki-laki selalu salah.'


"Salah kamu sendiri disuruh pulang malah asik pergi sama dia," balas sewot Azila.


"Kapan kamu nyuruh pulang? Sejak pagi, itu, sampai kejadian, itu, kamu tidak mengirimkan satu pesan ataupun telpon sama sekali," ucap Candra.


"Aku mengirimimu pesan kalau Mamah sama Papah mau ke rumah, tapi kamu cuma membacanya saja," balas Azila.


"Ah, sial. Pasti sudah dihapus sama wanita sialan, itu," gerutu Candra sambil mengepalkan tangannya.


"Makanya, jangan mau dibodohi wanita lain," ucap Azila.


"Mana aku tahu kalau dia punya niat jahat," balas Candra.


"Belain aja terus," balas Azila.


Cupp ....


Eemmhh ... mmhhh ... emhh ....


Azila memukul-mukul dada Candra sambil sesekali mendorongnya.


"Kenapa kamu jadi nafsuan, sih, main nyosor mulu dari tadi," gerutu Azila sambil mengelap bibirnya yang basah karena air liur Candra.


Candra menatap lekat mata Azila hingga pemilik mata tidak berani menoleh ke arah lain, "Jangan pergi lagi, aku akan tersiksa jika kamu pergi tanpa kabar seperti, ini," ucap Candra dengan penuh ketulusan yang terpancar di matanya.


Azila sudah larut dalam tatapan Candra, dia memang salah saat meninggalkan Candra tanpa kabar, tetapi dia terlalu gengsi untuk mengakui kesalahannya.


Candra mulai mendekatkan wajahnya dan menempelkan dahinya dengan dahi Azila, "Aku mencintaimu," ucap Candra pelan.


"Aku juga mencintaimu," balas Azila.


Candra mulai mencium bibir Azila dengan lembut. Azila tidak seperti tadi yang menolak untuk berciuman dengan Candra, sekarang dia mulai membuka mulutnya dan membalas ciuman dari Candra.


Ciuman mereka mulai memanas, napas mereka mulai memburu. Tangan Candra sudah mulai meraba menelusuri dada Azila yang sudah kencang. Azila hanya bisa pasrah dan membalas setiap ciuman yang Candra berikan.


Tangan Candra mulai menyibak daster yang menempel di tubuh Azila, dia menuntun Azila untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Candra kembali mencium bibir Azila dengan penuh rasa. Tubuh keduanya mulai memanas karena pergulatan bibir dan tangan yang saling mengusap dan menelusuri setiap bagian tubuh.


Azila menakup wajah Candra dan menariknya agar ciuman ganas Candra berhenti. Napas mereka berdua sudah terengah-engah dengan bibir yang sudah basah kuyup.


"Kenapa?" tanya Candra dengan napas yang masih memburu.


Azila tidak menjawab pertanyaan Candra karena masih mencoba mengatur napasnya. Candra yang sudah tidak tahan kembali menghujani bibir Azila dengan kecupan lembut dan berakhir dengan ciuman ganasnya lagi. Azila kembali menarik wajah Candra agar ciuman itu berhenti.


"Ada apa? Kenapa kamu menolak?" tanya Candra yang masih belum bisa mengontrol napasnya.


Azila menelan ludahnya dengan susah payah dan mengontrol napasnya, "Pintunya masih kebuka, tadi aku lupa menutupnya," ucap Azila sambil menoleh ke arah pintu.


Candra juga ikut menoleh dan mereka berdua terkejut karena ada seorang anak kecil berumur tiga tahun yang berdiri di depan pintu sambil menatap mereka seperti tanpa dosa. Candra langsung melompat turun dan menutup pintu sebelum ada yang melihat tubuh Azila yang hanya memakai bra dan celana dalam saja.


"Adek, di mana mamanya?" tanya Candra yang berjongkok di depan pintu.


Anak kecil itu tiba-tiba menangis sejadi-jadinya membuat seorang pelayan berlari menghampirinya.


"Aku tidak menyakitinya, kok, Bik," ucap Candra pada pelayan yang menghampirinya.


"Iya, Tuan. Saya tahu, memang cucu saya, ini, penakut, dan suka nangis," jawab pelayan itu.


"Kenapa Bibik yang merawatnya? Di mana Ayah sama ibunya?" tanya Candra.


"Ibu sama ayahnya kerja di pabrik, Tuan. Jadi, saya mengurus dia kalau Ayah sama ibunya kerja di shift yang sama," jawab pelayan, "Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan. Maaf karena cucu saya sudah mengganggu tidur, Tuan," lanjutnya. Candra mengangguk.


Pelayan itu menggendong cucunya pergi dan Candra mengelus dadanya karena hanya anak itu yang melihat adegan panasnya dengan Azila.


"Pengganggu kecil," gumam Candra sembari kembali masuk ke kamar dan tidak lupa untuk menutup dan mengunci pintunya.


Sedikit aku panjangin dan aku gabung sama ending konfliknya. Kasih author like yang banyak nanti author ganti dengan bab MANTAP MANTAP Wkwkwk.