
Eldar berjalan menuju ruang tunggu di sebelah kamar ICU tempat Naza dirawat, dia menenteng tiga kantong plastik yang berisikan banyak makanan, mulai dari minuman, snack, dan roti. Eldar juga membawa lima kotak martabak dan terang bulan yang ia beli di samping rumah sakit.
"Hai," ucap Eldar yang baru masuk.
"Oh, hai," balas Nabila, "Banyak banget yang kamu bawa? Ada acara apa?" tanya Nabila.
Eldar menaruh semua bawaannya ke atas meja lalu duduk di tepian ranjang menemani Nabila, "Kan orangtuanya Kak Kevin sama Naza mau ke sini, masa iya nggak ada camilan sama sekali," jawab Eldar.
"Jangan manggil suamiku Kak dong, panggil Kevin aja, atau kalau nggak panggil Adik aja," ucap Nabila, "Kan sebentar lagi kamu bakal nikah sama Kak Naza, otomatis kamu bakal jadi kakak iparku, dan kakak iparnya Kevin," lanjutnya.
Eldar dibuat mendelik oleh ucapan Nabila, "Nggak ah, masa iya aku yang masih muda tiga tahun di bawah kalian dipanggil kak," gerutu Eldar, "Nggak, nggak, nggak, aku nggak mau," lanjut Eldar.
"Ku panggil Mama muda aja gimana?" ucap Nabila sambil menahan tawanya.
Aku lagi cari Mama-mama muda buat kasih uang sejuta, na na na na na na na.
Nabila menyanyi lagu yang sekarang lagi hits di kalangan pembuat video. Eldar yang tidak tahu Nabila sedang menyanyi apa, dia hanya menggelengkan kepalanya dan berpikir kalau tingkah aneh Nabila adalah bawaan dari bayi di kandungan Nabila.
Kedua wanita itu berbincang-bincang sambil menikmati satu kotak martabak yang dibawa Eldar tadi. Nabila menceritakan bagaimana kehidupannya setelah berumah tangga dan bagaimana rasanya jadi menantu di keluarga Lewis.
Cukup lama mereka berbincang hingga menghiraukan dua orang yang baru masuk ke ruang tunggu. Eldar yang duduk membelakangi pintu tidak tertarik sama sekali dengan siapa yang baru masuk, dari indera pendengarannya saja dia sudah tahu kalau itu adalah Candra, dia masih belum tahu jika ada seseorang lagi yang datang.
"Eldar, ada temennya Kak Naza," ucap Nabila sedikit berbisik.
Eldar langsung menoleh ke belakang melihat siapa yang dimaksud oleh Nabila.
"Hai," sapa seorang laki-laki saat Eldar menoleh ke arahnya.
"Nichol?" ucap Eldar yang jadi bingung.
"Iya, ini, aku," jawab Nichol sambil tersenyum sumringah.
Candra dan Nabila saling pandang dengan wajah bingung.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Candra.
"Ya, baru beberapa menit yang lalu," jawab Eldar. Memang ini adalah kedua kalinya Eldar bertemu dengan Nichol setelah kurang dari satu jam dari pertemuan pertama mereka.
"Itu kamu, kalau aku sudah kenal kamu sejak Naza bercerita panjang lebar tentang Eldar Safira, dan kebetulan baru tadi kenalan resminya," ucap Nichol.
"Benarkah? Apa saja yang dia ceritakan?" tanya Eldar.
"Lebih baik tanyakan sendiri ke orangnya karena beda mulut beda cerita," jawab Nichol.
"Ooh, sekarang aku tahu kenapa aku sering kegigit sendiri, jadi ini sebabnya," ucap Eldar sambil menatap Naza yang masih anteng tidur sejak tadi pagi.
Pandangan Eldar membuat ruangan itu hening, tidak ada yang berani membuka suara untuk memecah keheningan itu. Candra, Nichol, dan Nabila saling lempar pandangan seolah-olah mereka sedang berkomunikasi lewat tatapan mata.
Nichol dan Candra duduk bersebelahan"Apa kita cuma boleh lihat Naza dari sini? Sepertinya Eldar ingin menemani Naza di ruang sana," tanya Nichol dengan suara amat sangat pelan.
"Dokter belum memperbolehkan siapapun masuk ke sana karena kondisi Kak Naza belum stabil, kata Dokter kalau besok kondisinya ada peningkatan, pihak keluarga boleh masuk," jelas Candra.
"Semoga malam, ini, dia membaik," ucap Nichol.
"Semoga saja," balas Candra.
Tak berselang lama, pintu ruang tunggu dibuka orang.
Cklekk
Dua manusia paruh baya berjalan masuk dengan tergesa-gesa lalu disusul oleh Kevin. Dua orang paruh baya tadi tidak lain adalah orangtua Naza dan Kevin yang baru datang dari Amerika Serikat. Kevin berjalan gontai menghampiri Nabila yang duduk di belakang Eldar.
"Kenapa lama sekali?" tanya Nabila saat Kevin merebahkan tubuhnya ke kasur dengan paha Nabila sebagai bantal.
"Tadi di jalan ada evakuasi kecelakaan beruntun, jadi sedikit macet," jawab Kevin dengan mata tertutup, dia menjadi lemas karena saat melewati tempat kecelakaan tadi dia melihat organ tubuh manusia yang berserakan.
"Aku ambilin minum dulu," ucap Nabila. Dia tahu kalau Kevin paling tidak suka melihat darah, entah itu darah hewan ataupun manusia.
Kevin mengangkat kepalanya agar Nabila bisa berdiri untuk mengambilkan minum. Nabila kembali dengan segelas air putih di tangannya.
"Ini," ucap Nabila sambil mengulurkan gelas yang dipegangnya.
"Terima kasih," ucap Kevin sambil mengambil gelas dari tangan istrinya.
"Kalau minum duduk!" ucap Nabila saat melihat Kevin ingin minum sambil rebahan. Tanpa membantah Kevin langsung duduk dan meminumnya.
Eldar yang duduk di ranjang beranjak berdiri menghampiri kedua orangtua Naza yang berdiri di depan kaca pembatas.
"Malam, Om, Tante," sapa Eldar.
"Oh ... hai ... malam," sapa balik Mama Okta, "Maaf, ya, tadi kita buru-buru, jadi tidak lihat kalau ada orang lain di sini," lanjut Mama Okta.
Naza memiliki keluarga yang masih lengkap, mamanya bernama Okta dan papanya bernama Mark Lewis. Selain memiliki Kevin adik laki-lakinya, Naza juga punya adik perempuan bernama Cindy Lewis.
"Kamu Eldar pacarnya Naza, kan?" tanya Mama Okta memastikan.
"Iya, Tante. Saya Eldar," jawab Eldar sambil sedikit membungkuk memberi hormat.
"Jangan panggil Tante, panggil Mama aja," ucap Mama Okta sembari berjalan mendekat ke Eldar, "Sebentar lagi kamu kan bakal nikah sama Naza," lanjutnya.
"I-iya, Tan ... eh, i-iya ,Ma," ucap Eldar yang masih belum terbiasa manggil orang lain Mama atau Papa selain kedua orangtuanya.
"Mama sama Om mau minum apa?" tanya Eldar.
Walaupun Eldar sedang bersedih, dia harus menciptakan first impression yang baik ke calon mertuanya, dia harus menjadi wanita yang benar-benar baik untuk Naza.
"No no no no, panggil Papa, jangan Om," ucap Papa Mark menggelengkan kepala dan telunjuk kanannya.
"I-iya, Pa. Maaf," jawab Eldar gugup.
"Nah, benar begitu," balas Papa Mark.
"Mama sama Papa belum haus, kamu istirahat aja dulu, kamu pasti capek seharian jagain Naza," ucap Mama Okta.
"Ti-tidak kok, Ma. Eldar tidak capek sama sekali," jawab Eldar.
"Jangan banyak membantah, wajahmu sudah lusuh, dan matamu masih bengkak, Mama tau apa yang kamu rasakan, tapi kamu juga harus ingat istirahat," balas Mama Okta.
"Ba-baik, Ma. Kalau begitu Eldar istirahat dulu," balas Eldar. Lalu Eldar berbalik dan berjalan menuju ranjang single bed.
"Satu lagi, kalau bicara sama kami jangan gugup begitu, kita tidak jahat," ucap Papa Mark.
Langkah Eldar terhenti, dia berbalik badan, "I-iya, Pa. Maaf," jawab Eldar.
"Jangan gu-gup," ucap Mama Okta sambil tersenyum.
"Iya, Ma, Pa. Eldar akan berusaha," balas Eldar yang malah jadi malu.
"Ok, cantik," balas Mama Okta sambil mengacungkan jempolnya.
Eldar mengangguk lalu berbalik dan kembali berjalan menuju ranjang single bed.
"Kenapa jadi kikuk sih di first impression sama orangtuanya Naza," gerutu Eldar dalam hatinya.
Buat yang sudah baca, author minta tolong untuk like dan vote novel My Enemy is My Soulmate agar ranknya naik dan bisa dilihat banyak orang.
Hai gaes, author ada pengumuman sedikit nih. Yang pertama, grup chat sudah author buka kembali. Yang kedua, novel My Enemy is My Soulmate memiliki jadwal update dua hari sekali (Kalau nggak sibuk, bisa sehari sekali).