
Mama Okta dan Papa Mark sudah berada di depan ruang persalinan Azila, di depan ruang persalinan Azila juga ada Mamah Mitha dan Bunda Putri yang juga menunggui proses kelahiran cucu pertama mereka.
"Bagaimana? Apa sudah lahir?" tanya Mama Okta.
"Baru satu," jawab Bunda Putri.
"Ha? Apa menantumu melahirkan anak kembar?" tanya Mama Okta terkejut.
Bunda Putri mengangguk dengan senang, dia membayangkan bagaimana ramainya rumahnya saat dua malaikat kecil sudah berada pulang dan tumbuh di sana.
"Waahh, selamat, ya," ucap Mama Okta sambil memeluk Bunda Putri dan Mamah Mitha secara bergantian, "Jadi pengen cepet-cepet lihat Nabila lahiran," ucap Mama Okta setelah melepaskan pelukannya dari Mamah Mitha.
"Masih harus bersabar enam bulan lagi," sahut Mamah Mitha sambil tertawa.
"Sepertinya aku akan menetap di Indonesia lagi," ucap Mama Okta.
"Memang harus jika kamu tidak mau cucumu tidak mengenali siapa neneknya," sahut Bunda Putri.
Empat manusia paruh baya itu tertawa bersama. Mungkin itu adalah penenang disaat kekhawatiran mereka atas proses persalinan Azila.
Di dalam kamar persalinan, Candra masih memegang erat tangan Azila, dia tidak ingin melepaskan genggamannya sebelum semuanya selesai. Candra tahu kalau persalinan Azila belum selesai karena dia pernah membaca jika setelah bayi lahir, tidak lama kemudian plasenta akan keluar juga.
Bayi pertama Candra dan Azila kini berada di gendongan Dokter Rizka, perlahan Dokter Rizka membaringkan jagoan kecil itu di atas dada Azila untuk memberikan pelukan hangat. Candra ikut mengelus-elus kepala bayinya yang belum genap lima menit itu.
Saat Candra dan Azila masih asik mengelus-elus bayi pertama mereka, tiba-tiba Azila merasakan nyeri di perut.
"Emmhh," rintih Azila sambil memejamkan matanya karena menahan rasa sakitnya.
Candra jadi bingung kenapa Azila merintih, padahal belum ada lima menit yang lalu Azila melahirkan dan seharusnya plasenta akan keluar lima sampai sepuluh menit setelah bayi keluar. Mungkin plasentanya keluar lebih cepat, batin Candra.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Candra dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Azila sejak tadi.
"Perutku," rintih Azila.
Dokter Rizka sudah tahu apa yang harus ia lakukan, dia menyuruh perawat di sampingnya untuk menggendong anak pertama Azila lalu memintanya untuk dibawa ke ruang bayi agar segera dibersihkan.
"Ayo, nona. Yang kedua akan lebih mudah," ucap Dokter Rizka yang sudah bersiap di posisi bersama seorang perawat yang lain.
Azila mengangguk lalu menggenggam tangan Candra lebih erat. Candra menjadi bingung ketika Dokter Rizka berkata 'Yang kedua akan lebih mudah'.
"Mungkin maksud Dokter Rizka adalah plasenta," batin Candra untuk menepis kebingungannya.
Pada awalnya Candra berpikir kalau maksud Dokter Rizka adalah kelahiran anak kedua alias Azila mengandung anak kembar. Namun, selama ini Azila atau siapapun tidak pernah memberitahunya kalau Azila mengandung anak kembar, jadi pikiran itu menurutnya tidak masuk di akal.
"Ayo, nona, lakukan seperti yang tadi!" ucap Dokter Rizka, "Tarik napas lalu dorong," lanjut Dokter Rizka.
Sebelum menarik napas, Azila bergumam untuk Candra, "Hadiah untukmu yang dulu aku bilang."
Azila menarik napas lalu mengejan seperti proses kelahiran anak pertamanya tadi, "Egghhh ... egghhh."
Eeghh oeeggh oegghh oegghh
Anak kedua Azila dan Candra telah lahir ke dunia, anak kedua mereka juga berjenis kelamin laki-laki dan tak kalah tampan dengan anak pertama mereka tadi.
Awalnya Candra mengira kalau tangisan bayi barusan adalah tangisan bayinya yang tadi dibawa oleh perawat ke ruang bayi. Tapi, mata Candra terbelalak tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Bayi kecil yang ia yakin bukan bayi yang pertama ia lihat tadi, pikirannya mulai berkecamuk tidak mengerti.
"Dari mana datangnya bayi, itu?" tanya Candra dalam hatinya.
Candra menoleh menatap Azila yang kini tersenyum padanya, "A-apa, i-itu, bayi kita?" tanya Candra yang masih dirundung kebingungan.
Azila ingin tertawa ketika melihat wajah suaminya saat ini, tapi tubuhnya sudah kehabisan tenaga setelah melahirkan dua malaikat kecil ke dunia.
"Anak kedua kita," jawab Azila dengan suara lemah.
"A-aku punya a-anak kembar?" tanya Candra yang jadi gagap. Azila tersenyum lalu mengangguk sambil menutup matanya.
"Selamat, ya, tuan. Anda sekarang memiliki dua putra yang tampan seperti anda," ucap Dokter Rizka memberi ucapan selamat.
"Ke-kenapa aku tidak tau kalau kamu hamil anak kembar?" tanya Candra.
"Bukan tidak tau, tapi tidak diberitahu," sahut Bunda Putri yang baru masuk bersama Mamah Mitha, Mama Okta, dan Papa Mark.
"Bu-Bunda? Apa kalian bersekongkol untuk tidak memberitahuku?" tanya Candra.
"Yaa, apa boleh buat, menantu kesayanganku yang meminta," jawab Bunda Putri.
"Mamah juga?" tanya Candra ke Mamah Mitha.
Mamah Mitha tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya. Candra menggelengkan kepalanya karena dia tidak diberitahu tentang kehamilan anak kembar Azila.
"Jadi, ini, alasan kamu menolak setiap aku mau mengantarmu periksa ke Dokter?" tanya Candra. Azila hanya tersenyum menahan tawanya.
"Maaf, aku hanya berniat memberimu kejutan," jawab Azila.
"Dan, itu, sangat mengejutkanku, Sayang," sahut Candra lalu mencium kening Azila, "Terima kasih," lirih Candra.
Dokter Rizka meminta semua orang untuk keluar terlebih dahulu karena ada yang masih harus ia lakukan setelah seorang wanita selesai melahirkan. Candra tetap di samping Azila karena dia ingin menemani Azila terus, dia mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan kedua jagoannya terlebih dahulu.
Setelah dari ruang persalinan, Azila dibawa ke ruangan lain untuk pemulihan tenaganya, di sana juga sudah ada Bunda Putri, Mamah Mitha, Mama Okta, Papa Mark, dan dua malaikat kecil yang berada di gendongan kedua neneknya.
"Ceyamat datang, Mama. Ceyamat datang, Papa," ucap Mamah Mitha menirukan suara anak kecil ketika Candra dan Azila masuk ke ruangan itu.
Azila masih terbaring di ranjang dorong rumah sakit, lalu sesampainya di sana Candra dan Dokter Rizka memindahkan Azila ke ranjang lain yang berada di ruangan itu.
Mama Okta dan Papa Mark pamit pergi dulu untuk melihat kondisi Naza dan juga untuk memberi kabar bahagia ini untuk Eldar dan Naza.
Dokter Rizka meminta Azila untuk mencoba memberi IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Setelah beberapa saat kedua bayi itu mulai mau untuk meminum ASI Azila.
Setelah semua dirasa baik-baik saja dan kondisi kedua bayi serta Azila juga baik-baik saja, Dokter Rizka berpamitan.
Kedua bayi mungil sudah tertidur di inkubator di samping ranjang Azila karena mereka masih belum terbiasa dengan suasana di luar rahim Azila.
"Siapa nama kedua anak kalian?" tanya Bunda Putri.
"Candra cuma punya satu nama, Bun. Soalnya Candra nggak tahu kalau bakal punya dua anak langsung," jawab Candra.
"Siapa namanya?" tanya Azila.
"Yang kita bahas beberapa Minggu yang lalu, dan itupun usulan dari kamu namanya," jawan Candra, "Keandre," lanjut Candra.
"Keandre, Leandre," ucap Azila.
"Kamu sudah nyiapin?" tanya Candra, Azila mengangguk.
"Keandre, dan Leandre ... hmm," gumam Candra sambil memandangi dua wajah lucu kedua bayinya, "Keren juga," lanjutnya sambil tersenyum memandang Azila.
"Lalu, mereka ikut marga Wibawa atau Yudistira?" tanya Bunda Putri.
"Karena ayahnya dari marga Wibawa, jadi mereka akan bermarga Wibawa," jawab Azila.
"Keandre Putra Wibawa, Leandre Putra Wibawa," ucap Candra sambil memandangi kedua bayinya.
Jangan lupa di like, di komen, sama di vote. Jangan asik baca saja. Hehe.
Hai, semua. Buat kalian yang belum masuk ke grup chat author, kalian sudah bisa masuk karena author sudah membukanya.