My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Bayi Besar



Sedikit pengumuman buat kalian, My Enemy is My Soulmate yang sekarang adalah season 2. Season 1 sudah selesai di bab ketika Candra dan Azila saling mengungkapkan cinta mereka di pantai, lalu season 2 di mulai ketika Candra dan Azila pulang dari pantai. Di season 1 menceritakan awal cinta mereka, lalu di season 2 bercerita tentang kehidupan rumah tangga Candra dan Azila setelah hamil dan memiliki anak. Season 1 dan season 2 saya gabung karena season 1 babnya terlalu sedikit.


Sekian pengumumannya, terima kasih.


Sudah cukup lama Naza dan Eldar tidur santai di bawah payung yang tertancap ke pasir pantai dan beralaskan tikar. Hari itu sudah berada di puncak siang dan matahari sedang terik-teriknya, karena cuaca yang panas membuat para wisatawan lain memilih untuk pergi dari pantai.


Tidak banyak orang lokal yang mau main di pantai ketika matahari terik, mereka tidak mau kulit mereka yang putih menjadi hitam dan belang, apalagi orang yang sudah hitam pasti tidak akan berlama-lama di bawah matahari.


Ada beberapa wisatawan asing yang sedang berjemur dan bermain air, dan ada juga wisatawan lokal yang memang cuma berniat duduk santai atau tiduran di bawah payung seperti yang dilakukan Naza dan Eldar.


Naza dan Eldar memilih tempat yang agak jauh dari kerumunan orang, mereka memilih tempat yang sepi karena Naza tidak mau ada mata yang melihat tubuh Eldar yang cuma tertutup bikini. Begitu pula dengan Eldar yang tidak mau tubuh atas Candra dinikmati oleh mata para wanita di sana.


"Kita di sini sampai kapan?" tanya Naza.


"Sampai sore," jawab Eldar sambil melepas kacamata hitamnya.


"Di sini cuma tiduran gini aja?" tanya Naza sambil merubah posisinya. Kini dia tidur menyamping menghadap Eldar.


Eldar bangkit dari tidurnya, "Waktunya main air," ucap Eldar sambil merenggangkan otot-ototnya.


"Aku tidak ikut," ucap Naza sembari bangun dari tidurnya dan duduk menatap Eldar.


Eldar berbalik menatap Naza, "Memangnya aku mengajakmu main air?" ucap Eldar.


"Baiklah, aku akan melihatmu main air," ucap Naza sambil melepas kacamata hitamnya.


"Jangan lupa dengan pekerjaanmu sebagai fotografer," ucap Eldar sambil tertawa.


"Tentu saja," jawab Naza sambil mengangkat ponsel mahalnya.


Eldar tersenyum lalu membuka kain pantai yang ia jadikan rok, "Titip," ucap Eldar sambil melempar kain pantainya ke Naza.


"Hati-hati! Di pinggir pantai saja, ombaknya terlalu besar!" teriak Naza ketika Eldar sudah berlari masuk ke air.


"Siap, aku mengerti!" balas Eldar dengan teriakannya.


Naza mendekatkan kain pantai yang baru saja dikenakan Eldar ke hidungnya, dihirupnya aroma khas Eldar yang tertinggal di setiap benar kain pantai itu, "Aroma tubuhmu memang yang terbaik," gumam Naza sambil tersenyum melihat Eldar yang bermain air.


°°O°°


Kita kembali ke pasangan suami istri yang terkulai lemas di atas kasur. Napas mereka berdua tersengal-sengal seperti habis dikejar singa. Azila terbaring dengan posisi tengkurap, sedangkan Candra terbaring telentang di samping Azila.


"Kamu membuat pinggulku sakit, Pa," ucap Azila dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Setelah, ini, kita main sekali lagi, ya, Ma," ucap Candra sambil memukul pantat Azila.


"Hari, ini, sudah dulu, kata Dokter Rizka tidak baik kalau berhubungan suami istri lebih dari tiga kali dalam sehari," jawab Azila.


"Ayolah, sekali lagi aja," rayu Candra.


"Enggak mau, pinggulku sudah sakit ... ituku juga rasanya perih gara-gara adikmu terlalu besar, apalagi kamu main kasar barusan," tolak Azila.


"Karena kamu membuatku lupa diri, Sayang," ucap Candra sembari memeluk Azila dari samping.


"Aku nggak suka kasar-kasar tau, bukannya enak malah kayak penyiksaan," gerutu Azila.


"Sini, aku mau cium dulu," ucap Candra sambil membalik badan Azila.


Cupp


Naza mencium kening Azila cukup lama, "Maafin aku, ya, Ma. Lain kali aku akan lebih lembut," ucap Candra sambil mengelus pipi Azila.


"Karena kamu sudah kasar, untuk satu Minggu ke depan kamu nggak aku kasih jatah," ucap Azila.


"Ha? Kenapa kamu jahat banget, nanti kalau aku pengen gimana?" tanya Candra.


"Di kamar mandi ada sabun," jawab Azila sambil tertawa.


"Jahat banget kamu, Ma. Masa, iya, suami sendiri disuruh main sama tangan," keluh Candra.


"Biasanya gimana, udah dua bulan lebih kamu menekuni dunia persabunan gitu kok," balas Azila yang semakin puas tertawa.


"Aku tahan-tahan aja deh kalau gitu, biar kalau udah seminggu nanti, Kean sama Lean bakal punya adik," ucap Candra sambil tersenyum nyengir.


"Sejak kapan kamu pakai pil KB?" tanya Candra.


"Tadi, pas Dokter Rizka ke sini buat ngasih tau kalau aku sudah boleh berhubungan lagi, habis itu dia ngasih aku pil KB," jawab Azila.


"Kalau Kean sama Lean udah gedean dikit kamu nggak usah pakai pil KB, ya," ucap Candra.


"Kenapa?" tanya Azila.


"Aku mau punya banyak anak," jawab Candra, "Duabelas anak kembar semua kalau bisa," lanjutnya sambil terkekeh.


Paakk!


Azila memukul kening Candra, "Kamu kira aku mesin pencetak anak?" ucap Azila dengan nada sedikit kesal.


"Memang tugas wanita kan melahirkan anak dari benih suaminya," jawab Candra.


"Ya memang, itu, tugasnya. Tapi, apa kamu tega liat aku kesakitan seperti waktu melahirkan Kean sama Lean kemarin?" tanya Azila dengan nada geram.


"Ya, enggak sih. Tapi, apa salah kalau kita punya keinginan untuk banyak anak?" ucap Candra.


"Bersyukur aja, dikasih berapapun sama Tuhan, ya terima aja," jawab Azila.


"Hm, iya-iya," ucap Candra sembari mendekap Azila.


"Pa," panggil Azila pelan.


"Kenapa?" tanya Candra.


"Bau ketiakmu masih sama kayak dulu ya," ucap Azila, "Tetap wangi, dan khas banget baunya," lanjut Azila.


"Nikmati aja sepuasmu," ucap Candra sambil membuka lebar-lebar ketiaknya.


"Mandi dulu yuk, lengket semua nih badanku," ajak Azila, "Mana susu kental manismu luber ke mana-mana pula," lanjutnya menggerutu.


"Namanya juga lama disimpan, Ma. Sekali keluar ya pasti luber ke mana-mana kalau wadahnya nggak muat," jawab Candra sambil tertawa.


"Ya udah, nanti kamu yang ganti spreinya," ucap Azila.


"Kok jadi aku? Biasanya kan kamu yang beres-beres," ucap Candra.


"Pinggulku sakit, Sayang. Dari tadi udah dibilangin gitu kok," ucap Azila dengan nada sedikit kesal.


"Iya-iya," ucap Candra dengan wajah cemberut.


"Ya udah, ayok mandi dulu," ucap Azila.


"Berdua atau sendiri-sendiri?" tanya Candra.


"Berdua," jawab Azila dengan suara manja.


"Oke, ayok," ucap Candra sembari turun dari kasur.


"Kok aku ditinggal? Aku nggak kuat berdiri nih," ucap Azila sambil mengacungkan kedua tangannya isyarat minta digendong.


"Bayi besarku benar-benar selalu membuatku tergoda," ucap Candra sambil membantu Azila bangkit lalu dia menggendongnya.


"Kenapa adikmu sudah bangun lagi," ucap Azila.


Azila bisa merasakan kalau adik Candra sudah kembali berdiri di bawah sana, bahkan Candra sengaja menggendong Azila sedikit ke bawah agar istrinya bisa tahu kalau tugasnya masih belum tuntas.


"Sekali lagi, oke," ucap Candra setelah mereka berada di dalam kamar mandi.


Azila bisa merasakan hawa yang hangat tepat di bawah area sensitifnya, "Pelan-pelan saja," bisik Azila yang masih berada di gendongan Candra.


"I love you," ucap Candra.


Jlebb! Adik kecil Candra kembali masuk ke lubang kenikmatan milik Azila untuk ronde keempat.


Jangan lupa like dan komen ya guys.