
Hari sudah berlalu, Candra dan Azila sudah kembali ke rumah keluarga Wibawa, keramaian dan canda tawa terus menyelimuti keluarga Wibawa, ditambah Eldar yang suka bertindak konyol.
Malam sudah mulai menampakkan wajah gelapnya, seorang wanita cantik keluar dari kamar tamu, "Malam semua," sapa wanita cantik itu.
Semua orang yang tengah duduk di sofa ruang keluarga langsung menoleh ke arah sumber suara, "Kamu mau kemana?" tanya Bunda Putri.
"Eldar mau jalan-jalan, Tan. Mumpung sekarang malam Minggu. Lagi pula, lusa Eldar juga akan kembali ke Los Angeles," jawab Eldar.
"Kenapa cepat sekali? Kamu belum ada satu Minggu, di sini," sahut Azila.
Eldar menoleh menatap Azila, "Aku anak tunggal, Kak. Jadi, aku harus belajar memegang kendali perusahaan keluarga Safira," jelas Eldar yang kian menunduk.
Azila berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Eldar, "Tunggu, ya, aku mau ikut jalan-jalan malam Minggu," ucap Azila sambil memegang pundak Eldar.
"Jangan!" balas Eldar dengan spontan.
Mendengar penolakan dari Eldar, Azila merasa bingung sambil menautkan kedua alisnya, "Kenapa jangan? Apa kamu tidak mau jalan-jalan sama aku?" tanya Azila yang sudah berpikir negatif.
Tangan Eldar memegang pundak Azila sambil menatap lekat manik coklat Azila, "Maksud Eldar bukan begitu, Kak Zila. Eldar hanya tidak ingin kandungan kakak kenapa-kenapa. Kakak tahukan kalau kandungan kakak baru dua bulan kurung, dan kata dokter, kandungan kakak lemah, harus lebih banyak istirahat lagi," jawab Eldar dan disambut wajah murung Azila.
Candra berdiri dan menghampiri Azila lalu melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Azila, "Eldar benar, Sayang. Kamu harus banyak istirahat, udara malam tidak baik untuk ibu hamil. Lagi pula, besok kita, kan, mau ke rumah Mamah sama Papah, apa kamu lupa?" ucap Candra dengan lembut.
"Apa yang dikatakan Candra, dan Eldar, itu, benar, Zila. Kamu harus jaga kesehatan, selain menjaga dirimu sendiri, kamu juga harus menjaga anak yang ada di rahimmu," sahut Bunda Putri yang mencoba menasihati Azila.
Perlahan Azila melepaskan pegangannya di pundak Eldar, sekarang dia melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Candra dan tersenyum ke suaminya, "Maafkan aku," ucap Azila dengan senyum manisnya.
Melihat wajah istrinya yang begitu lucu dan menggemaskan, Candra mengacak-acak rambut Azila dengan tangan kanannya, "Dasar, cewek kurcaci," ejek Candra setelah puas mengacak-acak rambut Azila.
Merasa malu dan kesal dengan ejekan suaminya, Azila langsung mencubit perut Candra dengan gemas dan sedikit menekan, "Auuhh, sakit, Yang." Candra mengeluh kesakitan sambil mengelus bekas cubitan Azila yang memerah di balik kaosnya.
"Salah kamu sendiri, kenapa manggil aku dengan nama, itu, lagi," dengus kesal Azila.
Candra semakin gemas melihat wajah cemberut Azila, lalu dia menggandeng tangan Azila dan menuntunnya untuk ke kamar.
"Bun, Yah. Kita balik ke kamar dulu, ada urusan mendadak," ucap Candra di sela jalannya.
Azila mencoba mengimbangi langkah besar Candra, hingga dia bisa menyamai langkah Candra lalu berbisik, "Kenapa ke kamar? Aku masih mau menemani Dara belajar."
"Tenang saja, ada Bunda yang bisa menemani Dara, kamu nurut saja sama suamimu, ini," jawab Candra tanpa melihat Azila di sampingnya.
Kleek
Candra membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, sekarang Candra dan Azila sudah berada di dalam kamar, lalu Candra melepas kaosnya. Setelah itu Candra membawa Azila ke kamar mandi.
"Ngapain kamu bawa aku ke kamar mandi?" tanya Azila dengan sejuta kebingungan.
Setelah sampai di depan wastafel panjang yang memiliki dua kran air, "Cepat gosok gigimu, dan cuci tangan serta kakimu!" perintah Candra sambil menyodorkan sikat gigi yang sudah dikasih pasta gigi oleh Candra.
Tanpa banyak kata atau pertanyaan, Azila menerima sikat gigi itu dan mulai menggosok giginya. Sesekali Azila melihat Candra dari pantulan cermin besar di depan mereka, dia merasakan ada keanehan dengan laki-laki di sampingnya.
"Sayang," panggil Azila sambil melihat wajah tampan suaminya.
"Hmm," dehem Candra dengan mulut penuh busa pasta gigi.
"Apa kamu sedang sakit? Kenapa kamu tiba-tiba jadi aneh?" tanya Azila yang sudah selesai menggosok gigi.
Candra menoleh sebentar lalu berkumur dan memuntahkan busa pasta gigi, "Aku tidak sakit, dan aku melakukan keanehan apa?" jawab Candra sambil memberi pertanyaan ke Azila.
Kini Candra menghadap Azila sambil melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyandarkan pinggangnya di bibir wastafel.
"Kenapa tiba-tiba membawa ku ke kamar?" tanya Azila dengan sorot mata serius.
Candra tersenyum sejenak melihat wajah istrinya, "Aku sudah lelah, Sayang. Dari tadi pagi sampai sore tadi, aku terus dihadapkan dengan pekerjaan, dan aku belum ada waktu berdua denganmu hari, ini," jawab Candra.
"Lalu, apa hubungannya dengan mengajakku ke kamar?" tanya Azila dengan wajah polosnya.
Dengan gemasnya Candra mencubit kedua pipi Azila dengan lembut, "Aku ingin cepat tidur sambil kamu peluk, Sayang. Besok pagi aku juga ingin mengajakmu jalan pagi mengelilingi komplek sini," jawab Candra lalu melepaskan tangannya dari pipi Azila.
"Kirain," lirih Azila yang samar-samar terdengar Candra.
"Tidak ada," jawab Azila, lalu dia menarik tangan Candra dan naik ke atas ranjang mereka.
Azila sudah membaringkan tubuhnya terlebih dahulu, lalu disusul Candra.
Mata mereka bertatapan cukup lama hingga Azila membuka suaranya, "Sayang, aku kangen."
"Kamu kangen sama siapa?" tanya Candra sambil menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Senyum Azila mekar dari bibirnya, "Aku, kangen sama ketiak Suami tampan ku, ini," jawab Azila yang langsung memeluk Candra dan membenamkan wajahnya di ketiak Candra.
Candra sedikit merasa geli karena nafas Azila menerpa bulu halus di ketiaknya, tetapi dia menahannya dan membalas pelukan Azila. Mereka berdua mulai terpejam dan hanyut dalam tidur dengan ditemani hangatnya pelukan mereka.
≈≈≈
Eldar masih berdiri di samping sofa dan menghadap Bunda Putri dan Ayah Yoga.
"Kamu sama siapa nanti?" tanya Ayah Yoga sambil memandang Eldar.
"Eldar sama Nabila, Om," jawab Eldar dengan jujurnya.
"Apa sama Kevin dan Naza juga?" sahut Bunda Putri dengan tatapan curiga dan senyum di bibirnya.
Seketika Eldar teringat dengan sosok laki-laki tampan itu, "Ti-tidak, kok, Tan. Eldar cuma janjian sama Nabila saja," jawab Eldar yang menjadi gagap karena melihat wajah Naza dimana-mana.
Bunda Putri tertawa kecil melihat Eldar sampai tergagap saat mendengar nama Naza, "Baiklah, Tante kasih kamu waktu sampai jam sembilan saja, kalau lewat jam sembilan kamu belum pulang, siap-siap tidur di teras depan," ucap Bunda Putri dengan sedikit bumbu ancaman.
"Ya ampun, Tan. Sekarang sudah jam sembilan tujuh lebih. Sampai jam sepuluh, ya, Tan," rengek Eldar mencoba bernegosiasi dengan Bunda Putri.
Bunda Putri menoleh ke Ayah Yoga, lalu Ayah Yoga mengangguk sekali, "Oke, jam sepuluh," balas Bunda Putri menyetujui negosiasi Eldar.
Dengan wajah gembiranya, Eldar langsung berlari menghampiri Bunda Putri dan Ayah Yoga untuk bersalim seperti anak-anak Indonesia pada umumnya.
"Eldar berangkat dulu, ya, Om, Tante," ucap Eldar setelah mencium punggung tangan Bunda Putri dan Ayah Yoga.
"Hati-hati, jangan lupa waktu," teriak Bunda Putri saat Eldar sudah di beranjak pergi.
"Oke," teriak Eldar sambil berbalik badan dan melambaikan tangan ke om dan tantenya.
≈≈≈
Eldar sudah ditunggu dua mobil di depan gerbang rumah keluarga Wibawa, di sana ada Nabila yang sedang berbicara dengan pak satpam.
"Nab," panggil Eldar sambil berjalan dengan sedikit berlari menghampiri Nabila.
"Hai, lama sekali," ucap Nabila setelah Eldar ada di depannya.
"Perizinan di keluarga, ini, cukup susah," jawab Eldar.
"Itulah derita cewek jomblo," ejek Nabila sambil tertawa.
"Penindasan macam apa, ini," balas Eldar sambil tertawa.
Nabila menggandeng tangan Eldar, "Sudah, ayo kita berangkat, kita sudah ditunggu," ucap Nabila yang mulai berjalan keluar gerbang, "Pak, kita berangkat dulu," teriak Nabila pada pak satpam.
"Iya, Non. Hati-hati," balas pak satpam.
Sesampainya mereka di depan gerbang, mata Eldar melihat satu mobil sport dan satu mobil BMW yang sudah terparkir. Setelah sampai di samping kedua mobil, mata Eldar terbelalak melihat seseorang yang sedang memainkan ponselnya.
"Di-dia ...."
IG : @ahmd.habib_
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙