
Lantai 8, kamar nomor 21.
Candra menatap lekat wajah Azila yang masih belum sadarkan diri sejak tadi, tangan Candra mulai mengelus pipi tirus Azila dan sesekali mengusap lembut bibir merah Azila.
"Sayang, apa kamu bisa mendengar suaraku?" ucap Candra dengan suara pelan. "Maafkan diriku yang bodoh ini, aku telah dibutakan oleh cemburu yang menguasai otakku, sampai-sampai aku tak memikirkan mu waktu itu," lanjut Candra yang terdengar lirih.
Kini Candra hanya terdiam dan terus mengamati wajah Azila, mulai dari mata besar Azila yang masih terpejam, hidungnya yang pesek, pipi yang tirus, alis tipis yang ia gambar supaya terlihat tebal, hingga mata Candra berhenti di bibir merah Azila.
"Sayang, aku ingin mencium bibirmu, apa kamu mengijinkannya?" Tanya Candra sambil memainkan bibir Azila dengan jari jempolnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Azila terlebih dahulu, Candra memajukan bibirnya dan mengecup lembut bibir Azila, saat Candra ingin mengecup bibir Azila lagi, bibir Candra berhenti sebelum bersentuhan dengan bibir Azila.
"Emhh," desah Azila yang telah tersadar dari pingsannya.
"Zila," panggil Candra sambil bangkit dari tidurnya.
"Zila," panggil Candra lagi sambil menepuk pelan pipi Azila.
Azila mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, setelah penglihatannya kembali fokus, Azila sontak kaget saat mendapati Candra berada disampingnya, lalu dia turun dari ranjangnya.
"Siapa kamu?" Tanya Azila karena seingatnya Candra masih dirawat dan masih dalam keadaan koma.
"Aku Candra suamimu, Sayang," jawab Candra yang menghampiri Azila, namun Azila malah berlari menjauh.
"Kenapa kamu menjauh dariku, Sayang?" Tanya Candra yang tidak mengerti apa yang telah terjadi, sampai-sampai Azila tidak mengenalinya dan menjauh darinya.
"Kamu bohong, suamiku Candra masih koma di sa--" jawab Azila yang menggantung, karena dia tidak mendapati Candra di ranjangnya lagi.
"Apa, kamu benar Candra? Candra suamiku?" Tanya Azila yang sangat kebingungan, "Apa aku sedang mimpi? Atau aku sudah mati?" gumam Azila dalam hatinya.
"Aku ini benar-benar Candra suamimu, Sayang," jawab Candra sambil berjalan mendekat ke arah Azila berada.
"Oh iya, aku baru ingat, aku pingsan gara-gara--" gumam Azila yang menggantung sambil menatap Candra yang sudah berdiri tepat didepannya.
Plak, suara tamparan yang menggema sampai ke telinga Candra, cap tangan merah yang terpampang jelas di pipi kiri Candra. Candra memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan yang begitu keras dari Azila, hingga telinganya pun berdengung dan pandangannya sedikit kabur.
"Kenapa, kenapa kamu menampar ku, Zila?" Tanya Candra yang tidak tahu apa penyebab Azila menamparnya.
Plak, satu tamparan Azila lagi yang mendarat di pipi satunya lagi, sekarang pandangan Candra kembali kabur dan dengungan yang tadi belum hilang, kini semakin keras dan mengganggu pendengarannya.
"Zila, kenapa kamu menampar ku lagi sih, apa salahku?" Tanya Candra dengan nada yang agak membentak.
"Kamu tanya apa salahmu? Jelas-jelas kamu sudah membohongiku, Candra!" Jawab Azila yang sudah marah.
"Aku membohongimu apa, Zila?" Tanya Candra yang masih tidak mengerti apa maksud Azila.
"Kamu masih berani bertanya apa kebohongan yang sudah kamu lakukan, hah?" Jawab Azila dengan suara membentak, "Dokter bilang kalau kamu itu koma, dan sejak kapan orang koma bisa jalan-jalan sepertimu?" lanjut Azila yang semakin marah.
≈≈≈
"Sini, Pak, tasnya. Biar saya masuk sendiri," ucap Eldar sembari mengambil tas yang dibawa Pak Ujang.
"Biar saya bawakan sampai ke dalam, Non," balas Pak Ujang yang tidak enak kalau Eldar masuk sendirian.
"Tidak usah, Pak. Biar saya sendiri aja, Pak Ujang mending bawa mobilnya ke parkiran dan menunggu saya di sana, saya hanya mengantarkan makanan ini saja kok, Pak," balas Eldar.
"Baiklah, Non. Pak Ujang tunggu Nona Eldar di parkiran saja kalau begitu," balas Pak Ujang yang lebih baik menuruti ucapan Eldar.
Setelah itu, Eldar beranjak masuk ke rumah sakit dan meninggalkan Pak Ujang. Eldar berjalan dengan sangat gembira karena dia akan bertemu dengan Kakak Iparnya untuk yang pertama kalinya.
"Aih, senangnya dalam hati, kalau bertemu Kakak Ipar, seperti betemu, bidadari surga," nyanyi Eldar dengan nada lagu madu tiga yang dipopulerkan oleh Ahmad Dhani, tetapi diubah liriknya jadi versi Eldar Safira.
Eldar berjalan dengan sangat percaya diri bak model kelas dunia sedang catwalk di atas red carpet, sorot mata semua orang yang dilewati Eldar seakan enggan untuk berkedip. Eldar masuk ke lift dengan wajah yang sumringah, hingga saat dia sudah berada didalam lif dia bingung, karena tidak tahu lantai berapa yang akan ia tuju.
"Aku mau ke lantai berapa ya? Seingat ku tadi, aku ada di lantai 6 deh kayaknya," gumam Eldar yang lupa dimana lantai Candra berada. "Tanya resepsionis ajalah, daripada nyasar, BTW aku juga lupa nomor kamarnya Kak Candra, he he he," lanjut Eldar yang sudah lupa semuanya, karena tadi pagi, dia tidak begitu memperhatikan hal-hal seperti itu. Akhirnya, Eldar memutuskan untuk keluar dari lift dan menuju bagian resepsionis.
"Permisi, Kak. Saya mau tanya," ucap Eldar saat sudah berada di tempat resepsionis.
"Iya, Kak. Silahkan," jawab petugas resepsionis.
"Pasien atas nama Candra Wibawa ada dikamar berapa ya, Kak?" Tanya Eldar dengan ramah.
"Kamar Tuan Candra ada di lantai 8 nomor 21, Kak," jawab petugas resepsionis sambil memberi senyum ramah.
"Terima kasih, Kak," balas Eldar, lalu dia beranjak pergi menuju kamar Kakaknya.
Setelah Eldar pergi, petugas resepsionis yang tadi melayani Eldar langsung duduk dan berkumpul dengan para petugas resepsionis lainnya, "Gaes gaes, cewek tadi siapa ya? Cantik banget tahu," ucap petugas resepsionis cowok yang memulai gosip.
"Mana aku tahu, tapi tadi dia mencari kamar Pak Candra Wibawa," jawab petugas resepsionis yang tadi melayani Eldar.
"Jangan-jangan--" ucap petugas resepsionis lainnya yang menggantung.
"Jangan-jangan apa?" Tanya petugas resepsionis yang melayani Eldar.
"Jangan-jangan dia selingkuhannya Pak Candra," sahut petugas resepsionis cowok yang tadi memulai perbincangan gosip itu.
"Heh, ngawur," tegur petugas resepsionis cowok yang dari awal hanya diam dan mendengarkan saja sambil menonyor petugas cowok yang memulai gosip, "Nona tadi itu adalah sepupu jauhnya Pak Candra, namanya Nona Eldar Safira," lanjutnya lagi.
"Eldar Safira yang terkenal cantik di Los Angeles itu? Yang bermarga Safira itu?" Tanya petugas resepsionis yang tadi melayani Eldar.
"Iya-iya, dasar orang kudet," jawab ketus petugas resepsionis yang tadi menonyor temannya.
"OMG hello, aku enggak nyangka banget bisa ngobrol sama seorang Eldar Safira," ucap petugas resepsionis yang melayani Eldar dengan girangnya sambil berjingkrak-jingkrak sangking tidak menyangkanya bisa bertemu dengan Eldar Safira.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙