My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Hanya Berbohong



Kevin dan Nabila telah kembali dari taman menghampiri Mamah Mitha dan Candra. Kevin bersama Nabila duduk di kursi seberang berhadapan dengan Candra, dia menunduk menutupi wajah sedihnya.


"Vin," panggil Candra. Kevin mendongak menatap Candra.


"Bagaimana dengan Eldar? Kapan kita akan memberitahunya?" tanya Candra.


"Terserah kamu aja, aku tidak berani mengatakannya," jawab Kevin sembari tersenyum dan menunduk kembali.


"Baiklah, biar aku yang memberitahunya," balas Candra.


"Ya," balas Kevin.


Candra pamit pulang untuk memberitahu Eldar tentang Naza, sesungguhnya dia tidak tega memberitahu Eldar, tapi nasi sudah menjadi bubur, mau tidak mau Eldar harus tahu semua tentang Naza.


Sesampainya Candra di teras depan dia menguatkan hatinya. Sama halnya dengan obat, support dari orang yang kita cintai adalah obat paling manjur. Candra masuk ke rumah, dia berencana menemui Azila terlebih dahulu, tapi saat sampai di ruang keluarga dia mendapati Azila, Bunda Putri, dan Ayah Yoga sedang mengobrol.


"Hai," sapa Candra sembari duduk di samping Azila.


"Bagaimana keadaan Naza?" tanya Ayah Yoga.


"Masih kritis, Yah," jawab Candra.


"Kevin?" tanya Azila.


"Dia ditemani Mamah sama Nabila di rumah sakit," jawab Candra.


"Apa kamu akan kembali lagi ke sana?" tanya Azila.


"Ya, aku pulang untuk memberitahu Eldar tentang, ini," jawab Candra.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Azila.


"Boleh, tapi sebentar saja karena kamu harus banyak istirahat," jawab Candra, "Oh ya, di mana Eldar?" tanyanya.


"Dia belum bangun," jawab Bunda Putri.


"Tunggu dia bangun saja," sahut Ayah Yoga.


"Mending kamu mandi dulu terus sarapan," ucap Azila.


"Kamu kok tahu kalau aku belum mandi?" tanya Candra.


"Karena tidak ada handuk di atas kasur," jawab Azila.


Kebiasaan Candra setelah selesai mandi adalah menaruh handuknya di atas ranjang, entah kenapa selalu saja begitu. Padahal Azila sudah memberitahu Candra kalau selesai mandi handuknya taruh di kamar mandi, tapi Candra tidak pernah melakukan itu.


"Baiklah aku akan mandi dulu," ucap Candra sembari mencium kening Azila lalu beranjak pergi ke kamarnya.


≈≈≈


"Hoooah ...." Eldar terbangun dari tidur nyenyaknya.


"Enak sekali tidurku, nggak ada yang ganggu, nggak ada yang bangunin, dan dipeluk laki-laki tampan pula," gumam Eldar sambil senyam-senyum sendiri.


"Di mana dia," gumam Eldar.


Eldar hanya menemukan guling dalam pelukannya, dia masih ingat kalau sejak tadi malam yang dia peluk adalah tubuh kekarnya Naza, tapi dia merasa sedikit aneh karena tubuh Naza terasa sangat dingin sekali makanya dia mengeratkan dan tidak melepaskan pelukannya agar Naza merasa hangat.


Eldar turun dari ranjang lalu mencari Naza ke kamar mandi. Namun, dia tidak menemukan Naza di sana, karena sudah di kamar mandi, sekalian saja dia cuci muka. Setelah cuci muka dia berjalan keluar siapa tahu Naza sedang sarapan bersama yang lain karena ini masih jam tujuh lewat 45 menit.


"Pagi, semuanya!" sapa Eldar dengan ceria.


"Pagi, cantik," sapa balik Bunda Putri.


"Bagaimana tidurmu?" tanya Azila.


"Sangat-sangat nyenyak," jawab Eldar sambil mengingat wajah Naza.


Semua orang saling pandang dan akhirnya pandangan itu berakhir di Candra, pandangan itu mengisyaratkan kalau sekarang waktunya untuk memberitahu Eldar.


"Duduklah!" perintah Candra.


Eldar dengan senang hati meloncat ke samping Bunda Putri.


"Heh, anak cewek kok gitu tingkahnya," tegur Bunda Putri.


"Maaf, bawaan lahir," ucap Eldar sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bunda Putri dan yang lainnya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Eldar.


"El, Kakak mau memberitahumu sesuatu yang bersangkutan dengan Kak Naza," ucap Candra serius.


"Kak Naza ... Kak Naza ... Kak Naza ...." Candra menjadi ragu untuk mengatakannya.


"Jangan sok dramatis deh, Kak. Biasa aja gitu, tinggal ngomong aja pakai didramatisasi segala," ucap Eldar.


"Kak Naza ... dia kecelakaan," ucap Candra.


"Pfftt ... pfftt ... hahaha." Eldar malah tertawa mendengar ucapan Candra, "Bercandamu sangat tidak lucu, Kak," lanjutnya.


"Kakak memang tidak lagi bercanda, Eldar. Kak Naza memang kecelakaan tadi malam saat pulang dari sini," balas Candra.


"Sudahlah, Kak. Tadi malam dia balik lagi ke sini, terus dia tidur bareng aku," ucap Eldar.


"Haa..!" teriak Candra, Bunda Putri, Azila, dan Ayah Yoga bersamaan.


"Tidak, tidak, kami tidak ngapa-ngapain kok, hanya tidur biasa aja," jelas Eldar, dia mengira kalau keempat orang tadi memikirkan kalau dia berbuat mesum dengan Naza.


"Bukan-bukan, bukan, itu, yang kita maksud," ucap Candra.


"Lalu?" tanya Eldar.


"Tadi malam Kak Naza balik ke sini jam berapa?" tanya Candra.


"Em, sekitar jam setengah 12 malam," jawab Eldar.


"Terus, pulangnya kapan?" tanya Candra.


"I-itu, aku nggak tahu, tadi pas aku bangun tidur, dia sudah nggak ada," jelas Eldar.


"El, dengerin Kakak, tadi malam saat pulang dari sini, Kak Naza mengalami kecelakaan di jalan lalu dibawa ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut," jelas Candra.


"Heh, sudahlah, candaan Kakak nggak lucu," ucap Eldar, "Aku mau balik ke kamar dulu," lanjutnya sembari beranjak pergi.


"El, Eldar! Kakak nggak bercanda, kalau kamu perlu bukti, sekarang ayo kita ke rumah sakit!" teriak Candra.


Eldar menghentikan jalannya, sebenarnya dia tidak ingin percaya, tapi tadi malam Naza memang jadi aneh dan saat Candra bilang kalau Naza kecelakaan tiba-tiba hatinya jadi nyeri yang luar biasa hingga sekarangpun masih terasa sakitnya.


Perasaan kehilangan yang tiba-tiba menghampiri hatinya membuat Eldar berbalik badan dan menyetujui ajakan Candra. Eldar tidak seceria tadi lagi, wajahnya mulai pucat karena telinganya mendengar Naza memanggilnya.


"Ayo sekarang," ucap pelan Eldar.


"Bersihkan dulu tubuhmu lalu ganti baju, dan sarapan!" perintah Candra.


"Sekarang," lirih Eldar sambil menatap Candra dengan mata sayu.


Candra melirik Azila, Ayah Yoga, dan Bunda Putri, dia berunding dengan mereka bertiga dan hasilnya ketiganya menggelengkan kepalanya.


"Eldar, ya udah kalau nggak mau mandi, tapi kamu ganti baju dulu terus sarapan, ya," ucap Candra.


"Sekarang," lirih Eldar sembari menundukkan kepalanya.


"El, denge-"


"Sekarang..!" teriak Eldar memotong ucapan Candra sambil melotot ke Candra, matanya sudah berkaca-kaca.


"El, ka-"


"Se-ka-rang!" ucap Eldar dengan menekan setiap suku katanya.


"Ya udah, antar sekarang aja, biar nanti baju sama sarapannya Bunda anterin," ucap Bunda Putri.


"Ya sudah kalau begitu," ucap Candra.


"Aku ikut," ucap Azila saat Candra baru berdiri dari duduknya.


"Kamu bareng Bunda aja, ya, lagian kamu belum mandi juga," ucap Candra.


"Hm, ya udah deh," balas Azila.


Candra dan Eldar sudah berada di jalan menuju rumah sakit, di sepanjang perjalanan Eldar terus diam dan menatap ke depan tanpa berkedip.


"Apapun yang kamu lihat nanti, kamu harus kuat," ucap Candra sambil menggenggam tangan Eldar.


"Aku tahu kalian hanya berbohong," balas Eldar sambil melepaskan tangan Candra yang menggenggamnya.


Mau like apa enggak, mau komen apa enggak, mau vote apa enggak, terserah kalian. Tapi, kalian sudah membaca sampai sejauh ini, aku sangat-sangat berterima kasih.