My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Rencana Keluarga Kecil



Allahu Akbar Allahu Akbar


Suara adzan subuh dari musholla di komplek perumahan Candra dan Azila sudah berkumandang. Tidak jauh dari pintu balkon terlihat Azila yang sedang menimang Lean sambil menyusuinya, dia belum bisa tidur dengan tenang karena setiap dia terpejam tidak lama kemudian entah Kean ataupun Lean pasti terbangun. Kedua jagoan kecil itu terbangun bukan karena Azila tidur, tapi mereka haus lalu ketika mereka pup pun akan menangis dan membuat Azila langsung terbangun.


Waktu tidur Azila bisa dihitung kurang dari satu jam, itu karena setiap salah satu jagoannya atau dua-duanya terbangun pasti mereka akan lama tidur lagi. Berbeda dengan Azila yang selalu bangun ketika ada anaknya yang terbangun, Candra lumayan tenang tidurnya walaupun masih kebisingan ketika anaknya menangis. Azila hanya membangunkan Candra ketika kedua anaknya terbangun, tapi jika hanya salah satu saja Candra tidak dibangunkan oleh Azila.


Kantung mata yang sudah ingin tertutup tapi ditahan oleh Azila membuatnya menjadi hitam dan seperti ada lipatan kulit di sana. Azila membaringkan Lean yang sudah tertidur lagi di gendongannya, dia menghampiri Candra yang masih memeluk guling dengan matanya yang tertutup dan terlihat lengkungan di bibirnya.


"Sayang, bangun," panggil Azila sambil menggoyang-goyangkan tubuh Candra.


"Hm?" gumam Candra dengan mata yang masih tertutup.


"Sayang, ayo bangun, katanya ada meeting sama klien," ucap Azila.


"Lima menit lagi, Sayang," jawab Candra dengan bergumam, "Aku masih ngantuk banget," lanjutnya.


"Nggak pakai nawar-nawar segala, cepat bangun," bas Azila sambil menarik Candra.


"Iya-iya, bangun, udah bangun, ini," gumam Candra.


Candra merangkak turun dari kasur lalu berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Sambil menunggu Candra keluar dari kamar mandi, dia menyiapkan pakaian kerja untuk Candra. Walaupun masih sekitar dua jam lagi Candra baru masuk kerja, tapi dia sudah tidak betah ingin segera tidur dan meminta Candra untuk menjaga para pengacau tidur malam.


Setelah dari kamar mandi Candra naik ke kasur menemani Azila yang masih terjaga sambil terus memandang Kean dan Lean. Suasana kamar sudah tenang tanpa tangisan bayi, cahaya redup dari lampu tidur dan ruangan yang tenang bisa membuat siapapun akan merasa rileks.


Candra duduk di samping Azila lalu memberikan pelukan hangat untuk istri tercintanya. Pelukan dari seseorang yang kita cintai memang berbeda dari yang lainnya. Hangat, menenangkan, dan nyaman, kira-kira seperti itulah yang Azila rasakan saat ini, rasa lelahnya karena begadang sepanjang malam perlahan mulai berkurang setelah dipeluk Candra.


"Tidurlah," ucap Candra sambil mengelus bahu Azila.


"Memang, itu, yang mau ku lakukan," jawab Azila.


"Tidur sambil ku peluk mau?" tanya Candra.


"Jika kamu tidak keberatan," jawab Azila.


"Harusnya aku kuat," balas Candra.


Azila bangkit dari duduknya lalu memeluk Candra dari depan layaknya posisi woman on top, tapi mereka tidak sedang bercinta. Azila merebahkan tubuhnya di atas Candra yang duduk bersandar di kasur, Azila memeluk Candra dan mencari posisi paling nyaman untuk tidur, dia bisa mendengar detak jantung Candra yang teratur seperti detik jam.


"Sayang," panggil Azila dengan suara pelan.


"Apa?"


"Sekarang kita ganti nama panggilan yuk, aku manggil kamu Papa terus kamu manggil aku Mama," ucap Azila.


"Emangnya kenapa dengan panggilan, Sayang?" tanya Candra.


"Ya nggak ada apa-apa sih, biar lebih gampang aja nanti ngajarin Kean sama Lean buat manggil kita," jawab Azila.


"Siap mamaku sayang," balas Candra sambil mengeratkan pelukannya dan mengelus rambut Azila.


Suasana jadi hening karena Azila sudah tidak merespon Candra, dia mencoba menidurkan matanya yang sejak tadi berat dan ingin segera menutup. Namun, dia tak kunjung tertidur juga, ada sesuatu yang mengganjal otak dan hatinya akhir-akhir ini.


"Belum tidur?" tanya Candra. Azila menggelengkan kepalanya.


"Ku kira tadi sudah tertidur," ucap Candra.


"Pa, aku mau ngomong sesuatu," ucap Azila sambil menegakkan kepalanya agar bisa melihat wajah Candra.


"Sesuatu apa? Kamu minta dibelikan sesuatu? Bilang aja, nanti aku belikan," ucap Candra sambil memandang mata Azila.


"Bukan minta barang, Pa," jawab Azila.


"Lalu?" tanya Candra, "Mau ngasih Kean sama Lean adik?" lanjutnya sambil tertawa pelan.


"Ih, tu kan, Papa mesum mulu otaknya," ucap Azila sembari kembali merebahkan kepalanya ke dada Candra.


"Kok mesum? Papa kan cuma tanya mau ngasih mereka adik, di mana letak mesumnya coba?" ucap Candra.


"Serius dulu dong, Pa," ucap Azila, "Aku jadi males ngomong sama kamu kalau pikiranmu begitu terus," lanjut Azila.


"Iya-iya, Ma. Maafin Papa," ucap Candra, "Tadi Mama mau ngomong apa sama Papa? Kayaknya serius banget," lanjut Candra.


"Gini, Pa. Kamu masih inget kan waktu kamu nganterin aku ke rumah temenku setelah acara tujuh bulanan aku hamil?" tanya Azila.


"Hm, iya, aku inget, kenapa emangnya?" tanya Candra.


"Waktu, itu, aku pengen banget kita tinggal di rumah sendiri kalau anak kita udah lahir, seperti temenku yang tinggal sendiri sama suami, dan anaknya. Tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada orangtua, mereka hidup tanpa merepotkan orang lain," ucap Azila sambil memegang pembatas ranjang bayi.


"Maksudnya kamu pengen kita pindah dari sini gitu?" tanya Candra. Azila mengangguk.


"Kamu nggak nyaman, ya, di sini? Apa Ayah sama Bunda jahat padamu? Atau kamu nggak betah sama mereka?" tanya Candra.


"Bukan begitu maksudku, kamu jangan asal begitu ngomongnya," jawab Azila.


"Lalu?"


"Aku cuma pengen kita besarin anak kita sendiri tanpa merepotkan orang lain, di sini kan banyak orang, dan mungkin juga ada yang tidak suka kalau malam-malam Kean sama Lean menangis seperti tadi malam," jelas Azila.


"Emangnya kamu siap jagain mereka berdua sendirian kalau aku lagi di kantor atau dinas keluar kota atau keluar negeri? Apa kamu juga udah siap kalau Kean sama Lean rewel kayak tadi malam? Apa kamu juga siap tiap hari ngurusin aku, anak-anak, sama rumah? Apa kamu sudah siap semuanya?" tanya Candra.


Azila terdiam setelah mendapat rentetan pertanyaan dari Candra. Memang dia tidak bisa memungkiri kalau dia belum siap dengan semua itu, bahkan dia masih kewalahan saat mengurus Kean dan Lean jika sama-sama rewel seperti tadi malam.


"Kenapa nggak kita coba dulu? Kalau masalah rumah, kita beli aja yang kecil jangan besar-besar, terus kita bisa bagi tugas di rumah," jawab Azila, "Kalau kamu sedang dinas keluar kota atau keluar negeri, aku bisa minta bantuan Bunda atau Mamah untuk nemenin aku, kalau nggak gitu, ya, aku yang pulang ke sini atau ke rumah Mamah aja," lanjut Azila.


Candra menarik napasnya lalu menghembuskannya bersamaan dengan segala macam pikiran dan keresahan di hatinya, "Baiklah, nanti aku pikirkan dulu rencana keluarga kecil kita nanti," ucap Candra lalu memberi kecupan di kening Azila.


"Terima kasih," ucap Azila sembari lebih mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya.


Ayo dilike, komen, sama share ke temen-temen kalian biar pada ikut baca.