
Setelah mendapatkan kelapa dan membukanya, Candra memberikan kelapa itu ke Azila.
"Lalu, apa permintaan kedua mu?" Tanya Candra.
"Kamu sangat tidak sabaran, ya, ternyata. Oke, lanjut permintaan kedua, sekarang kamu berdiri di situ menghadap pantai dan rentangkan tanganmu!" Suruh Azila sambil tangan kanannya menunjukkan tempat dimana Candra akan melaksanakan permintaan kedua ini.
"Apa itu sebuah permintaan yang bisa menguntungkanmu?" Tanya Candra yang heran akan tujuan dari permintaan kedua ini.
"Lakukan saja seperti yang aku suruh, jangan banyak membantah dan bertanya hal-hal yang tidak perlu," jawab Azila seperti seorang istri yang sedang memarahi suami cupunya.
Candra melakukan semuanya persis seperti yang di suruh Azila tadi, dia berdiri dengan kedua tangan yang di rentangkan dan menghadap lurus ke pantai.
"Sudah, lalu apa permintaan terakhirmu?" Tanya Candra yang sudah sangat penasaran dengan alasan Azila ingin membagi cintanya.
"Kamu diam dulu, sebelum aku bilang berhenti, kamu harus seperti itu terus dan tidak boleh melirik ke sana kemari, kamu harus tetap fokus menatap lurus ke pantai yang ada di depan mu itu," jawab Azila yang sudah menahan tawanya.
10 menit sudah di lewati Candra dengan posisi berdiri menghadap ke pantai dengan tangan yang sudah terasa sangat nyeri bercampur keram, seakan-akan kedua tangan Candra sudah mati rasa.
Sedangkan Azila yang dari tadi duduk-duduk santai sambil menikmati pantai di temani air kelapa muda yang baru di petik dari pohonnya, sudah seperti seorang manusia yang tidak memiliki beban hidup lagi.
"Zila! Apa kamu ingin menyiksaku? Mau sampai kapan kamu membuatku menderita seperti ini?" Teriak Candra yang sudah tidak kuat lagi.
"Baiklah-baiklah, karena aku wanita yang cantik, baik hati, dan tidak sombong, aku akan memberitahu permintaan ketiga, apa kamu siap?" Jawab Azila yang seakan-akan hidup dan mati Candra berada di genggamannya.
"Paling tidak turunkan dulu tanganku ini, aku sudah nggak kuat lagi, ini menyiksaku," keluh Candra yang sudah mulai merintih kesakitan.
"Aku sudah bilang, kamu tidak boleh membantah atau aku tidak akan mengatakan permintaan yang ketiga," ucap Azila dengan sedikit menekan suaranya.
Candra hanya pasrah dan tidak berbicara lagi, dia hanya diam mematung di atas pasir dengan keringat yang mulai membasahi keningnya.
"Lalu apa permintaan ketiga mu?" Teriak Candra dengan nada yang menahan rasa kesalnya.
"Permintaan ke tiga sangat mudah, Sayang," jawab Azila dengan senyum puas yang tergambar di garis bibirnya.
"Mau mudah, mau sulit, mau mudah banget, mau sulit banget, yang penting cepat katakan!" Teriak Candra yang meluapkan kekesalannya.
Hati Azila sudah merasa puas karena sudah mengerjai Candra, tapi di sisi lain hatinya, dia juga merasa kasian dengan Candra.
"Sekarang kamu tutup matamu dan tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan, ulangi sampai 3 kali dan berhitung setiap selesai mengembuskan nafas!" Perintah Azila.
Azila berdiri dari duduknya dan berjalan menjinjit mendekati Candra dari belakang tanpa sepengetahuan Candra, sedangkan Candra sudah memejamkan matanya dan mulai menarik nafasnya dalam-dalam, "Satuu!" Candra menarik nafas lagi dalam-dalam dan menghembuskannya, "Duaa!" Candra menarik nafas lebih dalam dari sebelumnya dan di hembuskan pelan-pelan, "Tigaa!"
Setelah Candra berkata tiga, Azila yang sekarang sudah berada di depan Candra melompat dan memeluk tubuh Candra, karena terkejut dan tubuh yang capek, Candra mulai goyah dari posisi berdirinya hingga mereka berdua terjatuh ke pasir.
"Kenapa kamu melompat ke pelukanku tanpa aba-aba dulu? Jatuhkan jadinya," kata Candra yang terkapar di pasir.
"Aku hanya ingin menambah penderitaanmu, Sayang," sahut Azila yang sedang menindih tubuh Candra.
Azila menatap lekat mata Candra yang memicing memandangnya, "Kenapa kamu baru sadar Candraku, Sayang? Apa otakmu sudah mulai tumpul karena mulai mencintaiku?" Ejek Azila dengan pertanyaannya.
Candra mulai bisa tersenyum dengan lega dan rasa kesalnya tadi perlahan memudar berganti bahagia, akan tetapi rasa penasarannya masih ada dan semakin besar, "Apa sekarang semua cintamu jadi milikku, Sayang?" Tanya Candra sambil melingkarkan tangannya yang masih terasa kaku dan keram ke pinggang Azila.
Azila tersenyum mendengar pertanyaan Candra dan menakupkan tangannya ke pipi Candra, "Aku akan tetap membagi cintaku ke orang lain, Sayang," jawab Azila dengan berbisik.
"Kenapa kamu masih kukuh dengan membagi cintamu, Sayang? Apa kamu masih kurang puas memiliki satu laki-laki tampan yang kamu tindih sekarang?" Tanya Candra dengan suara lembut tapi serius.
"Katanya kamu cinta sama aku? Kenapa sekarang kamu meragukan kesetiaanku?" Balik tanya Azila.
"Aku hanya penasaran saja, Sayang. Siapa manusia yang lebih pantas mendapatkan cinta seorang bidadari dari khayangan ini selain aku?" Jawab Candra dengan manis.
Pipi Azila memerah karena tersipu malu mendengar gombalan Candra, "Sejak kapan kamu pintar menggombal, Sayang?" Tanya Azila.
"Aku bicara kenyataannya, Sayang," jawab Candra sambil tersenyum manis untuk Azila.
Azila mendekatkan bibirnya ke telinga Candra dan membisikkan sesuatu, "Aku akan membagi cintaku dengan anak kita nanti, Sayang."
Candra tersenyum dengan sangat bahagia mendengar bisikan Azila, "Apa aku sedang mimpi, Sayang?" Tanya Candra dengan tatapan kosong dan matanya yang membulat tanpa berkedip.
"Apa kamu ingin membuktikan ini mimpi atau kenyataan, Sayang?" Tanya Azila dengan nada manja dan menatap lekat mata Candra yang meneteskan air mata di ujung pelupuk mata indahnya.
"Bagaimana cara membuktikannya, Sayang? Apa kamu ingin membantuku membuktikannya?" Jawab Candra dengan menampakkan wajah imutnya.
Azila mendekatkan wajahnya ke wajah Candra, "Baiklah, jika itu yang kamu minta."
Mata mereka saling bertemu dan bertatapan satu sama lain, mata Candra mulai sayu dan terpejam, lalu Azila ikut memejamkan matanya dan memajukan wajahnya hingga bibir Azila dan Candra bertemu.
≈≈≈
Di sebuah meja cafe dengan piring dan gelas yang sudah kosong dan kotor, terlihat dua insan yang sedang tertawa lepas dengan candaan-candaan mereka.
"Kamu diam dulu, Kevin. Perutku sudah sangat kaku dan sakit karena kebanyakan tertawa," kata Nabila sambil memegang perutnya dan menaruh kepalanya di meja cafe.
"Kamu yang memulai semua ini, Nabila. Aku hanya mengikuti alurnya saja," balas Kevin.
"Baiklah-baiklah, aku yang memulai," lalu Nabila mengambil botol air mineral di depannya dan meneguknya, "Ayo jalan-jalan ke taman bunga sebelum kita berpisah hari ini, apa kamu mau?" Ajak Nabila.
"Good idea," Kevin berdiri dan mengulurkan tangannya ke Nabila, "Mari, nona," ucap Kevin.
Lalu mereka berdua berjanjak pergi meninggalkan cafe dengan tangan yang bergandengan. Sebelum Kevin dan Nabila keluar dari cafe, Kevin meninggalkan lima lembar uang seratus ribuan di meja cafe.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
Dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙