
Di rumah keluarga Yudistira.
"Mah, sudah beres semua, kan?" tanya Papah Hendri dengan hati was-was.
"Sudah, Pah. Sudah Mamah cek berkali-kali tadi," jawab enteng Mamah Mitha.
"Oh, iya, Zila gimana, Mah? Udah selesai make upnya?" tanya Papah Hendri lagi.
"Mamah belum lihat lagi, Pah. Tapi tadi udah hampir selesai kok," jawab Mamah Mitha.
"Mamah cek Zila dulu, suruh persiapkan diri, dan mentalnya !" perintah Papah Hendri yang takut nanti kalau anaknya akan pingsan saat keluarga calon suaminya datang.
"Ya sudah, Mamah ke kamar Zila dulu, ya, Pah. Nanti Mamah menyusul kalau Zila nya sudah selesai," pamit Mamah Mitha untuk mengecek kesiapan Zila sudah sampai mana.
Tok.. tok.. tok..
Mamah Mitha mengetuk pintu kamar Azila, "Sayang, kamu sudah selesai belum?" teriak Mamah Mitha dari luar pintu.
"Udah, Mah. Kalau mau masuk, masuk aja, Mah. Pintunya tidak di kunci, kok," jawab Azila.
Mendengar ucapan anaknya, Mamah Mitha langsung memegang gagang pintu dan membukanya, alangkah terpukaunya dia setelah melihat wanita cantik nan anggun yang sedang duduk di kursi rias.
"Apa kamu Azila anak Mamah?" tanya tidak percaya Mamah Mitha karena pangling melihat Azila setelah dipoles make up dan memakai gaun yang sangat anggun.
"Ini, anak mu, Mah. Apakah setiap hari aku jelek, ya, Mah? Kok sampai pangling saat anaknya pakai make up," tanya Azila.
"Emang kamu selalu jelek," celetuk Nabila.
"Sialan kamu, Nab," balas Azila.
Sssttt.. "Kalian, ini, kalau bareng selalu saja bertengkar, mau Mamah jewer lagi?" ancam Mamah Mitha ke kedua gadis cantik itu.
"Enggak, Mah. Ampun," jawab Azila sambil menutupi kedua telinganya.
"Tidak usah, Mah. Yang tadi pagi aja masih kerasa sampai sekarang," ucap Nabila dengan nada agak memelas sambil melambaikan kedua tangannya.
Melihat tingkah kedua gadis cantik itu, Mamah Mitha hanya mampu menahan tawanya. "Oh, ya, Sayang. Nanti kamu turunnya pas Mamah sudah manggil kamu, ya, dan kamu Nabila, nanti temani Zila saat turun, ya," jelas Mamah Mitha ke kedua anaknya.
"Iya, Mah," jawab Azila dan Nabila bersamaan.
"Ya sudah, Mamah turun dulu untuk bersiap menyambut kedatangan mereka," ujar Mamah Mitha sembari beranjak keluar dari kamar Azila.
Mamah Mitha sudah kembali dan berdiri di samping suaminya, "Apa masih lama, Pah, mereka datangnya?" tanya Mamah Mitha yang gelisah.
"Mungkin sebentar lagi, Mah. Mamah tenang aja, ya, rileks," jawab Papah Hendri sambil memijit pundak Mamah Mitha agar kegelisahannya sedikit berkurang.
Tidak berselang lama, mobil yang membawa rombongan keluarga Wibawa telah tiba di halaman depan rumah keluarga Yudistira. Ayah Yoga, Bunda Putri, dan Dara keluar dari mobil mereka dan berjalan menghampiri Papah Hendri dan Mamah Mitha, lalu disusul Candra dan Kevin yang baru turun dan ikut nimbrung. Papah Hendri dan Mamah Mitha menyalami para tamu yang sudah mereka nanti-nantikan.
"Sorry, ya, Hen. Jadi lama nunggu, tadi ada sedikit kendala," ujar Ayah Yoga meminta maaf.
"Tidak masalah, Yog. Yang penting, kalian sudah sampai sini dengan selamat," jawab Papah Hendri, "Ayo, masuk dulu, kita ngobrol di dalam saja biar lebih enak," ajak Papah Hendri sembari mempersilahkan rombongan calon besannya masuk.
Di ruang makan, mereka semua sudah duduk di tempat masing-masing, "Hen, di mana calon menantu ku?" tanya Ayah Yoga yang sudah sangat bersemangat dan penasaran.
"Kamu sudah tidak sabar melihat calon menantumu ya?" tanya Papah Hendri yang menggoda Ayah Yoga.
"Yaa, bisa dibilang begitu," balas Ayah Yoga.
"Sayang, panggil anak kita, suruh dia turun sekarang !" perintah Papah Hendri dengan sedikit berbisik.
Mamah Mitha berdiri dari duduknya dan akan memanggil Azila, "Mah, biar Yasa saja yang manggil Kakak, Mamah di sini saja," ucap Yasa.
"Baiklah, kamu yang panggil Kakakmu, dan nanti hati-hati kalau turun," balas Mamah Mitha.
"Iya, Mah," jawab Yasa sembari berdiri dan berjalan menuju kamar Azila.
Drrttt.. drrttt..
Ponsel milik Candra bergetar. "Emm, Candra izin angkat telpon dulu ya, Om, Tante, Yah, Bun," ucap Candra meminta izin.
"Iya, silahkan," jawab Papah Hendri, lalu Candra berdiri dan berpaling beberapa langkah dari kursinya dan membelakangi semua orang di meja makan.
Tok.. tok.. tok..
Yasa mengetuk pintu kamar Azila, "Kak, apa Kakak sudah siap? Kakak sudah disuruh turun sama Mamah," panggil Yasa dari luar.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Nabila dan Azila menjawab dengan anggukan, lalu mereka berdua keluar dari kamar dan turun bersama Yasa.
Azila berada di tengah dengan tangan kanan memegang tangan kiri Nabila dan tangan kiri memegang tangan kanan Yasa, mereka berjalan berdampingan menuruni tangga.
Semua orang terpana melihat kecantikan Azila yang sedang menuruni tangga, namun berbeda dengan Kevin, dia lebih terpana pada wanita yang berada di samping kanan Azila. "Tuhan, apa bidadari surga mu ada satu yang lepas ke bumi ini?" ucap kagum Kevin dalam hatinya.
Azila sudah duduk di samping Mamahnya disusul Nabila dan Yasa. Kevin semakin terpaku menatap Nabila yang kini duduk tepat di depannya, Nabila yang menyadari kalau dirinya sedang di pandang oleh laki-laki di depannya membuat wajahnya memerah.
Bunda Putri yang melihat Nabila tersipu malu karena di pandang tanpa berkedip oleh Kevin, Bunda Putri langsung berdehem dan membuat Kevin tersadar akan kelakuannya. "Bodoh, bodoh kamu Kevin, jaga mata mu bodoh," maki Kevin ke dirinya sendiri di dalam hati.
"Apakah mereka berdua anak mu, Hen?" tanya Ayah Yoga penasaran.
"Iya, ini anak kandung ku yang akan jadi calon menantu mu," ujar Papah Hendri sambil menunjuk Azila, "Dan yang di sebelahnya itu adalah anak angkatku," lanjut Papah Hendri sambil menunjuk Nabila.
"Beruntung sekali kamu, Hen. Kamu punya dua bidadari cantik di rumah ini," canda Ayah Yoga.
"Bisa aja kamu, Yog," balas Papah Hendri.
Azila memperhatikan punggung laki-laki yang sedang mengangkat telpon dan memakai setelan jas dan celana berwarna senada dengan gaun yang dia pakai. "Syukurlah, dia laki-laki yang tampan, dan kelihatannya, dia baik hati," ucap Azila dalam hatinya.
"Itu calonmu? Keren parah," bisik pelan Nabila di dekat telinga Azila.
"Rejeki anak Sholehah," balas bisik Azila sambil tertawa pelan.
Candra mematikan telponnya saat dia mendengar hiruk piruk di meja makan, lalu Candra beranjak kembali ke tempat duduknya, saat dia mau menarik kursinya, dia terkejut melihat siapa wanita cantik di depannya.
"KAMU ..!" teriak Candra dan Azila bersamaan.
"Yah, cewek kurcaci, ini, yang dijodohin sama Candra?" tanya Candra.
"Pah, apa aku dijodohin sama cowok batu, ini?" tanya Azila.
Papah Hendri dan Ayah Yoga mengangguk bersama.
"Candra tidak mau sama cewek kurcaci, ini, Yah," protes Candra.
"Gue juga ogah sama lo. Dasar, cowok batu," balas kesal Azila ke Candra.
"Wah, kalian serasi sekali, Nak. Cocok," ujar Bunda Putri sambil tersenyum.
"Iya, cocok sekali," imbuh Mamah Mitha.
"Cocok apanya," balas Candra dan Azila bersamaan.
"Tuh, cocok," jawab Bunda Putri sambil tersenyum.
"Enggak sengaja bareng," lagi-lagi mereka berdua mengucapkan kata yang sama di waktu yang sama pula.
"Tuh, kan, kalian mqemang cocok, serasi banget," ucap Mamah Mitha sambil mengacungkan dua jempol.
"Sudahlah, kalian duduk dulu. Kalian berdua, kan, sudah setuju untuk menerima perjodohan, ini," kata Ayah Yoga.
"Tapi, kalau Candra tahu bakal dijodohin sama dia, ya, Candra tolak, Yah," balas Candra sambil menunjuk Azila.
"Gue juga ogah," balas ketus Azila.
"Apa kalian mau kita nikahin sekarang?" sela Papah Hendri.
"Tidak !" seru Candra dan Azila bersamaan.
"Kalau tidak mau menikah sekarang, kalian harus nurut. Toh, kalian juga sudah menerima perjodohan ini dengan akal sehat kalian, apa kalian ingin membuat kita kecewa?" lanjut Papah Hendri yang membuat Candra dan Azila diam menurut.
Setelah Papah Hendri angkat bicara, Candra dan Azila hanya diam dan menuruti setiap perkataan para orang tua mereka. Di malam itu juga, Candra dan Azila resmi bertunangan di atas kesediaan mereka, Candra dan Azila hanya menebar senyum palsu.
Malam semakin larut dan acara pertunangan yang hanya dihadiri oleh kedua belah pihak keluarga berjalan dengan lancar, walaupun diawali dengan pertengkaran dan dilalui di atas keterpaksaan.
Diakhir acara pertunangan, mereka semua berfoto dengan senyum bahagia yang mereka pancarkan, walaupun ada dua senyum palsu diantara mereka. Setelah selesai berfoto, rombongan keluarga Wibawa pamit untuk pulang karena malam semakin larut dan gelap.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙