My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Takut sama senyumannya



Waktu pun berlalu, kini mobil yang dikendarai Candra telah berhenti di depan gerbang rumah keluarga Yudistira, Candra turun dari mobil untuk memanggil Mang Asep agar dibukakan gerbang.


"Mang, Mang Asep," panggil Candra.


Dok dok dok,


"Mang, Mang Asep," panggil Candra sambil sesekali mengetuk keras besi pagar. Dari pos satpam keluarlah seorang laki-laki paruh baya dengan sarung yang melingkar di tubuhnya.


"Mang Asep," panggil Candra lagi saat melihat Mang Asep dari celah gerbang.


Mang Asep berjalan ke arah gerbang dan membuka pintu kecil yang ada di gerbang, dia mendapati Candra yang sedang berdiri di depan gerbang. "Lho, Tuan Candra? Tuan Candra mau jemput Non Zila ya?" Tanya Mang Asep.


"Kok, Mang Asep bisa tahu kalau saya mau jemput Azila?" Tanya Candra yang heran kenapa Mang Asep bisa tahu tujuannya datang kesini.


"Ya tahulah, kan tadi siang Non Zila pulang kesini," jawab Mang Asep.


"Zila nya masih di sini, Mang? Tadi siang kesini naik apa Mang dia? Tanya Candra dengan penuh harapan.


"Non Zila masih di dalam, Tuan. Tadi siang Non Zila kesini naik taksi," jawab Mang Asep yang heran pada Candra.


Hati Candra begitu berbunga-bunga mendengar jawaban Mang Asep, Candra lekas berlari dan masuk mobilnya lagi, di sela larinya, Candra berkata ke Mang Asep, "Mang, bukain gerbang, Candra mau masuk."


Tanpa menjawab apapun, Mang Asep segera membukakan gerbang untuk mobil Candra masuk.


"Makasih, Mang. Selamat Malam ya, Mang," ucap Candra saat melewati Mang Asep dengan mobilnya.


"Sama-sama, Tuan. Selamat malam juga, Tuan," balas Mang Asep ke Candra yang dibalas senyuman oleh Candra.


≈≈≈


Tok tok tok, Candra mengetuk pintu rumah keluarga Yudistira. Cklek, seorang pelayan membukakan pintu untuknya.


"Selamat malam, Tuan Candra," sapa pelayan yang membukakan pintu untuk Candra.


"Malam juga," balas Candra sambil matanya celingukan ke dalam rumah.


"Mari masuk, Tuan," ucap pelayan sambil mempersilahkan Candra untuk masuk.


"Makasih," balas singkat Candra sambil memberi senyum ke pelayan.


Candra berjalan dengan tergesa-gesa dan tujuannya adalah langsung ke kamar Azila, namun nasib kurang beruntung malah mendatangi Candra, saat melewati ruang keluarga, Candra melihat Mamah Mitha dan Papah Hendri sedang duduk di sana, mau tidak mau Candra harus menyapa kedua Mertuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.


"Mah, Pah," sapa Candra sembari menghampiri Mamah Mitha dan Papah Hendri untuk mencium punggung tangan mereka.


"Cari Azila?" Tanya Mamah Mitha dengan suara seperti sedang menahan amarahnya.


"Iya, Mah," jawab Candra yang sudah merasakan ketakutan dengan tatapan kedua Mertuanya.


"Duduk!" Perintah Papah Hendri yang sekarang sudah menjadi Mertua yang dingin.


Candra segera melakukan apa perintah Mertuanya, hawa dingin mulai merundung dan menyelimuti Candra hingga membuatnya ketakutan dan kikuk di depan Mamah Mitha dan Papah Hendri.


"Apa tujuanmu mencari Azila?" Tanya Mamah Mitha dengan ketusnya.


"Can-Candra mau meluruskan salah paham diantara kami, Mah," jawab Candra sambil menundukkan kepalanya.


"Bukankah kamu sudah main gila dengan wanita lain? Lantas kesalahpahaman apa yang ingin kamu luruskan?" Tanya Mamah Mitha lagi sambil menyilang kan tangannya di depan dada.


"Apa kamu ingin memainkan anak saya?" Tanya Papah Hendri dengan suara yang agak membentak.


"Bukan begitu, Mah, Pah. Candra coba menjelaskan pada Zila. Namun, karena Zila sudah dikuasai oleh amarahnya, Zila tidak mau mendengarkan penjelasan Candra, dan pergi ninggalin Candra di Rumah Sakit," jelas Candra ke kedua Mertuanya.


"Zila juga bilang kalau wanita yang selingkuh dan berkompromi denganmu juga datang ke rumah sakit, apa kamu tidak ingin menjelaskan siapa dia?" ujar Mamah Mitha yang meminta penjelasan ke Candra.


"Oh, itu sepupu jauh Candra, Mah. Namanya Eldar Safira, dan kita juga sudah seperti adik kakak, Mah," jelas Candra dengan hati yang lega, Candra kira Mamah Mitha dan Papah Hendri akan mengintrogasi dirinya seperti seorang penjahat, tetapi malah sebaliknya, Mamah Mitha dan Papah Hendri lebih santai saat menanyainya, walaupun dengan tatapan yang begitu dingin hingga membuat Candra takut.


"Maksudmu anak tunggal dari keluarga Safira yang menetap di Los Angeles?" Tanya Papah Hendri yang baru mengenal dan bekerja sama setelah pernikahan Azila dan Candra.


"Iya, Pah," jawab Candra. "Apa sekarang Candra sudah boleh menemui Zila, Mah, Pah?" Tanya Candra yang masih takut.


"Temui lah dia dan jelaskan semuanya," jawab Mamah Mitha.


"Baik, Mah," balas Candra sembari berdiri dari duduknya.


"Tunggu, Mamah belum selesai bicara," ucap Mamah Mitha yang membuat Candra berhenti sebelum melangkah.


"Ada apalagi, Mah?" Tanya Candra yang kembali menghadap ke Mamah Mitha.


"Kamu tahu kan kalau Zila sedang hamil?" Tanya Mamah Mitha yang dijawab anggukan oleh Candra.


"Wanita hamil gampang marah dan bad mood, jika nanti Zila masih belum mau mendengarkan penjelasan darimu, jangan memaksakannya, biarlah dia lebih tenang dulu," jelas Mamah Mitha.


"Iya, Mah. Candra tidak akan memaksakannya," balas Candra, "Candra ke kamar Zila dulu ya, Mah, Pah," pamit Candra.


"Tunggu," ucap Papah Hendri setelah Candra baru melangkahkan kakinya untuk yang pertama.


"Ada apa, Pah?" Tanya Candra sambil menghadap ke Papah Hendri.


"Kenapa wajahmu?" Tanya Papah Hendri.


"Tadi siang ada sedikit kecelakaan, Pah," jawab Candra yang tidak mengatakan penyebabnya, jika dia mengatakan penyebabnya, dia tidak tahu lagi mau ditaruh dimana mukanya.


"Ya sudah, sana pergi," balas Papah Hendri seperti sedang mengusir.


≈≈≈


Tok tok tok.


Candra mengetuk pintu kamar Azila.


"Siapa?" Teriak Azila dari dalam.


Hati Candra begitu lega setelah mendengar suara Azila.


Tok tok tok.


Candra mengetuk pintu kamar Azila lagi, dia tidak menjawab pertanyaan Azila karena dia tahu, pasti Azila tidak akan membukakan pintu untuknya saat ini.


"Siapa sih, ditanya nggak dijawab, tuli kali ya telinganya," gerutu Azila sembari turun dari ranjangnya dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.


Cklek.


Azila membuka pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya. Mata Azila membulat setelah mengetahui siapa orang yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya, dia lekas menutup pintunya dan menguncinya lagi.


"Zila, buka pintunya, Zila. Aku mau bicara sama kamu, aku mau jelasin semuanya, Zila!" Ucap Candra sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Azila.


"Kamu pergi sana, aku sudah muak melihat wajahmu," teriak Azila dari dalam kamar.


"Zila, please, Zila. beri aku kesempatan untuk bicara dan menjelaskan semuanya," balas Candra yang terus mengetuk pintu kamar Azila.


"Biarkan aku sendiri!" Teriak Azila dari dalam kamar, teriakan Azila membuat Candra berhenti mengetuk dan terduduk sambil menyenderkan tubuhnya ke pintu kamar.


"Zila, maafkan aku," gumam pelan Candra dalam kekecewaannya.


"Dasar brengsek! Tukang selingkuh!" gerutu Azila yang memaki-maki Candra, Azila duduk di sofa yang menghadap ke balkon sambil memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya, air mata kesedihan dan kekecewaan Azila mengalir begitu saja.


"Kenapa aku menangis," gumam Azila sebelum akhirnya dia tertidur sambil memeluk kedua lututnya di atas sofa.


≈≈≈


"Pah, apakah mereka sudah berbaikan? Kenapa mereka belum turun juga?" Tanya Mamah Mitha yang penasaran dengan keadaan Candra dan Azila sekarang.


"Mungkin mereka sudah berdamai dan sudah meluruskan kesalahpahaman diantara mereka," jawab Papah Hendri.


"Ayo kita ke kamar, Mah. Papah udah pengen," lanjut Papah Hendri sembari berdiri dan menarik tangan Mamah Mitha.


"Pengen apa, Pah?" Tanya Mamah Mitha yang tidak mengerti.


"Biasa, Mah. Olahraga malam," jawab Papah Hendri sambil tersenyum nakal.


"Ish, Papah ini, kan kemarin udah," balas Mamah Mitha.


"Papah udah pengen lagi nih, Mah. Turutin napa," balas Papah Hendri sambil mengayun-ayunkan tangan Mamah Mitha seperti anak kecil yang meminta uang jajan ke orang tuanya.


"Iya-iya, tapi jangan lama-lama, Mamah udah capek," balas Mamah Mitha yang menuruti kemauan Suaminya.


"Hayuk," ajak Papah Hendri sambil menggandeng Mamah Mitha Ke kamar.


Saat mereka berdua sudah menaiki tangga dan menuju kamar mereka yang tidak jauh dengan dari kamar Azila, Mamah Mitha dan Papah Hendri melihat Candra yang terduduk di depan pintu kamar Azila.


"Pah, itu Candra kenapa?" Tanya Mamah Mitha sambil menunjuk Candra.


"Papah Nggak tahu, Mah. Kita kesana aja yuk," jawab Mamah Mitha, lalu mereka berdua menghampiri Candra.


"Dia tidur, Pah. Bangunin, Pah. Kasian, nanti dia kedinginan dan masuk angin kalau tidur di luar," suruh Mamah Mitha.


"Can, Candra. Bangun," ucap Papah Hendri yang berjongkok di samping Candra sambil menggoyang-goyangkan tubuh Candra.


"Emhh," Candra terbangun dari tidurnya, "Oh, Mah, Pah. Ada apa?" Tanya Candra yang baru bangun.


"Kamu ngapain tidur di sini? Apa Zila masih belum mau bicara?" Tanya Papah Hendri, lalu Candra menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kamu yang sabar, sekarang kamu tidur di kamar tamu saja," ucap Papah Hendri.


"Candra pulang saja, Pah," jawab Candra.


"Mamah tidak izinin kamu pulang jam segini, apalagi kamu sekarang sudah ngantuk berat, bisa bahaya nanti," sahut Mamah Mitha.


"Kamu dengerin apa kata Mamah kamu, sekarang sana tidur di kamar tamu," ucap Papah Hendri.


"Baik, Pah," jawab Candra sembari berdiri.


"Oh, ya, Pah. Kamar Zila ada kunci cadangannya nggak, Pah? Kalau ada, Candra pinjam dulu, Pah," ucap Candra yang tiba-tiba mendapatkan ide.


"Pastinya ada, coba kamu tanya sama Bik Inem di dapur, semua kunci cadangan disimpan sama dia," jawab Papah Hendri.


"Oke, Pah. Makasih ya, Candra ke Bik Inem dulu," ucap Candra sembari pergi meninggalkan kedua Mertuanya.


"Ayok, Mah," ajak Papah Hendri yang sangat bersemangat sambil tersenyum.


"Kenapa aku jadi takut sama senyumannya," gumam Mamah Mitha dalam hatinya.


Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗


dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙