My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Istri yang nakal



Sekitar jam dua siang lewat sepuluh menit, Amanda dibawa ke kantor polisi bersama laki-laki yang membantunya untuk melancarkan aksinya. Di kantor grup Mardiana menjadi gaduh karena pewaris pimpinan perusahaan mereka di tangkap polisi.


Candra sudah menyerahkan sisanya ke Pak polisi, dia dengan hati bahagianya langsung pulang dan ingin segera menemui Ayah dan bundanya. Jam tiga sore Candra sudah sampai di rumahnya, dia segera mencari keberadaan kedua orangtua kesayangannya itu. Namun, dia tidak menemukan dua manusia paruh baya yang ia cari. Seorang pelayan berjalan melewati Candra dengan sedikit membungkuk dan menundukkan kepalanya.


"Bik," panggil Candra. Pelayan itu berhenti dan berjalan mendekat.


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bibik.


"Ayah sama Bunda di mana, Bik?" tanya Candra.


"Tadi siang saya lihat Nyonya besar, dan Tuan besar pergi, Tuan," jawab pelayan itu. Candra mengangguk.


"Oh, ya sudah, Bik. Terima kasih," ucap Candra.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu," balas pelayan itu. Candra mengangguk dan pelayan itu berjalan pergi.


"Ke mana mereka pergi," batin Candra.


"Dari pada menunggu Ayah sama Bunda pulang, lebih baik aku segera menjelaskan ke Papah Hendri sama Mamah Mitha, biar mereka tidak jadi menyuruh ku menceraikan Azila," gumam Candra sembari berjalan keluar.


Di depan pintu Candra menghentikan langkahnya, dia merasakan tubuhnya yang lepek karena keringat, lalu mencium kedua ketiaknya yang sudah sedikit tercium bau kecut dari sana.


"Masa, iya, aku pergi ke rumah mertua dengan kondisi seperti, ini? Bisa-bisa citra ketampanan ku di depan Papah sama Mamah bakal hancur," gumam Candra, "Mandi dulu, lah. Siapa tahu ketampanan ku bisa sedikit membantu ku nanti," gumamnya lagi sambil senyum-senyum sendiri.


Candra berbalik arah dan berlari menuju kamarnya di lantai atas, dia masuk kamar dan segera membasuh badannya yang basah akan keringat. Setelah setengah jam berada dalam kamar, akhirnya Candra sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Dengan segera dia keluar kamar dan turun ke lantai bawah, Candra celingukan mencari Ayah dan bundanya, siapa tahu mereka sudah pulang, tetapi nyatanya masih belum pulang juga.


"Lebih baik aku segera ke rumah Papah sama Mamah, kalau Ayah sama Bunda nanti saja setelah selesai meluruskan salah paham ku dengan Papah, dan Mamah," gumam Candra. Ia bergegas menuju mobilnya yang masih terparkir di depan teras dan segera menuju ke rumah Papah Hendri.


Jalan sore itu tidak terlalu ramai dan Candra bisa dengan cepat untuk sampai ke rumah mertuanya. Sekarang dia sudah berdiri di depan pintu sambil mengatur napasnya.


"Semangat, Candra! Kamu pasti bisa meluruskan, ini, semua," gumamnya dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.


Ting tung ....


Candra menekan bel dan kegugupannya menjadi sedikit turun saat itu.


Cklekk ....


Pintu terbuka dan seorang pelayan keluar. Candra tersenyum dan dibalas senyuman dan tubuh yang sedikit membungkuk oleh pelayan itu.


"Mari, Tuan," ucap pelayan itu sambil memberi Candra jalan.


Di ruang keluarga terlihat Mamah Mitha yang sibuk dengan tumpukan buku novel koleksinya waktu remaja, di sana juga ada Yasa yang menemani mamahnya.


Yasa melihat kedatangan Candra, "Mah, ada Kak Candra," ucap Yasa pada mamahnya. Mamah Mitha menoleh dan tersenyum.


Candra yang mendapat senyuman dari Mamah Mitha menjadi lebih lega karena bayang-bayang kemarahan kedua mertuanya memudar berkat senyuman Mamah Mitha. Candra berjalan mendekat dan berhenti di samping sofa yang di duduki Mamah Mitha dan Yasa.


"Duduklah," ucap Mamah Mitha dengan lembut. Candra menuruti ucapan Mamah Mitha.


"Ada apa lagi?" tanya Mamah Mitha. Yasa sudah mengerti apa yang akan kedua orang dewasa itu obrolkan, dia sudah tahu masalah kakaknya setelah Azila curhat padanya tadi pagi.


"Maksud kedatangan Candra ke sini, Candra mau meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, Mah," jawab Candra.


Candra jadi lebih tenang dan bahagia setelah mendapat respon baik dari Mamah Mitha, "Terima kasih, Mah. Atas kesempatannya," ucap Candra. Mamah Mitha mengangguk.


"Untuk foto yang kemarin yang Candra tunjukkan, itu asli, Mah. Tetapi Candra tidak sadarkan diri waktu foto, itu, diambil. Candra telah dijebak oleh wanita, itu. Dia memberi Candra obat tidur, dan dibawa ke apartemennya," jelas Candra. Mamah Mitha mengangguk-angguk, tetapi dia masih ragu dengan penjelasan Candra.


"Lantas, kenapa kamu bisa bersama wanita, itu? Dan kenapa kamu bisa dengan mudahnya di jebak seperti, itu?" tanya Mamah Mitha. Yasa hanya diam sambil mendengarkan dengan seksama pembicaraan antara Mamah dan Kakak iparnya.


"Siang, itu, Candra baru selesai meeting dengan perusahaan wanita, itu. Lalu dia meminta Candra untuk menjelaskan beberapa bagian kontrak kerja sama yang belum dia pahami karena dia baru menggantikan ayahnya yang sedang sakit. Dia mengajak Candra ke cafe dekat kantor Candra, setelah selesai dari cafe, dia meminta Candra untuk mengantarkannya kembali ke kantornya. Di tangah jalan dia menyuruh Candra berhenti di Alfamart untuk membeli minum. Setelah dari Alfamart dia menawari Candra minum, karena Candra saat, itu, sangat haus, dan dia juga habis minum dari botol, itu, Candra jadi tidak curiga. Tetapi, tidak kama kemudian Candra sangat mengantuk, dia yang mengambil alih kemudi, dan Candra tidur di kursi belakang. Setelah, itu, Candra bangun, dan sudah ada di apartemennya, Candra tidak ingat apapun," jelas Candra, "Kalau Mamah tidak percaya, Mamah bisa lihat video yang Candra dapat dari kepolisian," lanjutnya sambil menyodorkan ponselnya.


Mamah Mitha mulai menonton video di ponsel Candra dan Yasa juga ikut menonton video itu. Mamah Mitha sedikit terkejut dengan kelakuan Amanda yang seperti tidak ada laki-laki lain yang bisa dia kejar, hingga dia bertindak begitu rendah dan membuat dirinya seperti wanita murahan.


Setelah melihat video itu, Mamah Mitha mengerti kalau Candra adalah korban dari kegilaan Amanda. Berbeda dengan Yasa, dia senyam-senyum sendiri setelah melihat video itu.


"Kak Candra enak banget, ya. Dia dikejar wanita sampai segitunya. Aku salut sama Kak Candra, dia bisa menahan godaan wanita yang cantik seperti, itu, dan lebih memperdulikan kakakku yang jadi gendut," ucap Yasa dalam hatinya.


"Kamu tinggallah di sini sampai papahmu pulang, nanti Mamah bantu buat jelasin kesalahpahaman, ini," ucap Mamah Mitha yang merasa bersalah karena sudah berpikir negatif ke menantunya itu.


Candra menjadi sangat gembira karena Mamah Mitha akan membantunya dan dia menjadi tidak gugup lagi untuk menunggu kepulangan Papah Hendri.


Setelah menunggu satu jam lebih, akhirnya Papah Hendri telah pulang dari kantor. Candra dan Mamah Mitha langsung menyambut kedatangan laki-laki paruh baya yang bisa tinju itu. Awalnya Papah Hendri sedikit marah saat melihat Candra ada di rumahnya, namun Mamah Mitha memintanya untuk bersabar dan meminta untuk memberikan waktu untuk menjelaskan semuanya.


Seperti halnya dengan Mamah Mitha tadi, Papah Hendri juga tidak menyangka kalau dia sudah salah paham ke menantunya. Papah Hendri juga meminta maaf karena kemarin sudah main pukul-pukul saja tanpa memberi waktu Candra untuk menjelaskan.


"Karena kamu adalah korban, dan kemarin Papah sudah membuat wajahmu menjadi biru, dan memar seperti sekarang, ini. Papah akan memberitahu di mana istri mu berada sekarang," ucap Papah Hendri.


Candra begitu terkejut dengan apa yang dikatakan Papah Hendri, "Papah tahu di mana Azila berada?" tanya Candra. Papah Hendri mengangguk.


"Lalu kenapa kemarin Papah memukul ku, dan semarah, itu?" tanya bingung Candra.


"Papah, dan Mamah juga baru tahu tadi pagi setelah Azila menelpon," jawab Papah Hendri.


"Menelpon? Tapi, ponsel Azila ada di Candra," ucap Candra yang semakin bingung.


"Dia ganti nomor, dan ganti ponsel," jawab Papah Hendri, "Ayah sama Bunda mu juga sudah tahu tentang kabar Azila," lanjut Papah Hendri.


"Ha!" teriak Candra yang tidak percaya, "Kenapa kalian tidak memberitahu ku?" ucap Candra.


"Jangan salah paham, Azila sendiri yang meminta untuk tidak memberitahu mu, katanya dia mau melihat mu menderita," jawab Papah Hendri sambil tertawa.


"Azila, kamu benar-benar membuatku menderita, di sini," geram Candra dalam hatinya.


"Baiklah, ayo kita makan malam dulu, dan nanti setelah makan malam Papah akan memberitahu mu di mana Azila berada," ucap Papah Hendri.


Candra mengangguk dan mereka beranjak ke ruang makan. Setelah makan malam selesai, Papah Hendri memberikan secarik kertas bertuliskan alamat di mana Azila berada. Candra pamit pulang untuk menjelaskan ke Ayah dan bundanya.


Malam kian larut dan Candra sudah terbaring di atas ranjangnya. Dia sudah meluruskan kesalahpahaman antara dia dan kedua orangtuanya dan juga kedua mertuanya. Sekarang dia tinggal menunggu penerbangannya ke Bandung besok pagi.


"Tunggu kedatanganku istriku yang nakal," ucap Candra sembari memejamkan matanya.


Jangan lupa untuk tekan like dan berikan komentar biar author senang. Jika like tiap episode tembus sampai 40 dan komentar tembus 10 di setiap bab, author bakal kasih kalian crazy up. Oke ..!