
Azila terbangun setelah beberapa saat tidak sadarkan diri, dia memegang kepalanya karena masih merasakan sedikit pusing.
"Bunda," panggil Azila dengan suara lemahnya sambil mencoba bangun dari tempat berbaringnya.
Bunda Putri yang duduk di samping Azila, langsung membantu Azila untuk bangun.
"Gimana? Udah baikan?" Tanya Bunda Putri.
Azila menganggukkan kepalanya tanda dia sudah lebih baik, Azila yang baru bangun dari pingsannya masih teringat dengan berita yang di beritahukan oleh Pak Suryo tadi pagi.
"Candra mana, Bunda?" Tanya Azila yang memegang kedua pundak Bunda Putri.
"Candra, Candra, Bunda tidak bisa ngasih tau kamu, Sayang. Lebih baik kamu melihat sendiri kondisinya sekarang," jawab Bunda Putri yang seperti menyembunyikan sesuatu.
"Sekarang Candra dimana, Bun?" Tanya Azila yang mulai panik dan was-was.
"Candra sedang di rawat di rumah sakit," jawab Bunda Putri.
"Ayo kita ke sana sekarang, Bunda," ucap Azila sembari berdiri dari duduknya.
"Zila," panggil Bunda Putri sambil berdiri dan memegang kedua pergelangan tangan Azila.
"Apalagi Bunda, ayo cepetan, Zila mau lihat keadaan Candra sekarang," ucap Azila yang mulai sendu dan di temani air mata yang mulai keluar dari pelupuk matanya.
"Kamu harus janji sama Bunda ya, sayang. Kalau kamu harus kuat dan tidak boleh menangis di sana," ucap Bunda Putri sambil menghapus air mata Azila yang mengalir deras.
Azila menganggukkan kepalanya dan mencoba untuk menahan tangisnya yang pecah saat itu, lalu Bunda Putri merangkul pundak Azila dan mereka berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan teras rumah keluarga Wibawa.
Mobil yang dinaiki Azila dan Bunda Putri mulai melaju dengan kecepatan sedang lalu membelah jalanan yang lancar tanpa ada kemacetan. 30 menit mereka berada dalam perjalanan hingga akhirnya mereka telah sampai di depan rumah sakit besar yang pemilik saham terbesarnya adalah keluarga Wibawa. Azila dan Bunda Putri turun dari mobil, Azila yang sudah sangat kuatir dengan kondisi Candra yang masih menjadi tanda tanya besar di otaknya, dia berlari kecil menuju ke bagian resepsionis rumah sakit.
"Permisi, Mbak," ucap Azila dengan tergesa-gesa.
"Iya, Nona Zila, ada yang bisa saya bantu?" Tanya petugas resepsionis yang mengetahui siapa wanita di depannya itu.
"Dimana kamar pasien atas nama Candra Wibawa?" Tanya Azila yang semakin tergesa-gesa.
"Sebentar ya, Nona Zila, saya carikan dulu," jawab petugas resepsionis yang lalu duduk di kursinya dan terlihat sedang memainkan tombol keyboard komputer untuk mengecek data pasien di rumah sakit itu.
"Zila, kamu kok malah ninggalin Bunda sih," ucap Bunda Putri dengan nafas sedikit ngos-ngosan.
"Maaf, Bun. Tadi lupa kalau ada Bunda, Zila terlalu kuatir sama Candra," jawab Azila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hemh," dengus Bunda Putri.
"Bunda jangan marah dong sama Zila, Zila ninggalin Bunda kan karena terlalu kuatir sama Candra, jadi lupa deh sama semuanya," rengek Azila sambil memegang tangan Bunda Putri.
"Siapa yang marah, Sayang. Bunda mendengus buat ngatur nafas bunda yang ngos-ngosan karena ngejar kamu," jawab Bunda Putri dengan senyum di bibirnya.
"Kirain Bunda marah sama Zila," balas Azila, dan Bunda Putri hanya tersenyum.
"Terima kasih, Mbak," jawab Azila pada petugas resepsionis.
"Sama-sama, Nona," balas petugas resepsionis sambil menundukkan kepalanya untuk memberi hormat.
"Ayo, Bun. Jangan sampai ketinggalan lagi," ajak Azila sambil memegang pergelangan tangan Bunda Putri, dan di jawab dengan anggukan oleh Bunda Putri.
Azila dan Bunda Putri bergegas menuju lift untuk naik ke lantai 8 dimana kamar perawatan Candra berada. Tiing, suara lift yang sudah sampai di lentai 8 dan pintu lift terbuka, lalu Azila dan Bunda Putri keluar dan mencari kamar dengan nomor 21. Setelah berjalan cukup jauh dari lift, akhirnya Azila dan Bunda Putri telah sampai di kamar nomor 21.
Di depan kamar sudah ada dua orang bodyguard yang berdiri tegap dengan bertubuh kekar, berkulit sawo matang, berkaca mata hitam dengan jas dan celana hitam layaknya seorang detektif.
Azila dan Bunda Putri langsung di bukakan pintu oleh kedua bodyguard itu dan mereka berdua bergegas masuk untuk melihat kondisi Candra.
Setelah masuk kedalam kamar yang berkelas VVIP, mereka di sambut dengan aroma pewangi ruangan berbau apel yang masuk memenuhi hidung mereka, di dalam kamar itu hanya terdapat Ayah Yoga yang menunggui, dan dua orang yang tertidur di atas ranjang dengan beberapa alat dan selang di samping mereka.
Mata Azila langsung tertuju pada seorang laki-laki yang tertidur di atas ranjang rumah sakit dengan jarum infus yang menancap di tangan Candra, monitor hermodinamik yang menyala di samping ranjang Candra, dan tak lupa selang oksigen untuk membantu pernafasan Candra. Azila langsung berlari dan menghampiri Candra yang matanya masih tertutup, Azila memegang tangan Candra dan menempelkannya di pipinya yang basah oleh air mata.
Klek, kriet.. suara pintu kamar terbuka dan masuklah seorang dokter dengan 2 perawat dibelakangnya.
"Permisi, Tuan Yoga, Nyonya Putri, Nona Zila. Sekarang waktunya pemeriksaan kedua pasien, mohon tunggu di luar terlebih dahulu," ucap Dokter yang baru masuk itu.
"Baiklah, Dok. Saya serahkan mereka padamu," jawab Ayah Yoga.
"Zila, ayo kita tunggu di luar," ajak Bunda Putri.
Azila berdiri dari duduknya dan melepaskan tangan Candra yang ia genggam, lalu berjalan menghampiri Bunda Putri.
"Dok, sembuhkan suami saya, aku mohon sembuhkan Candra, Dok," ucap Azila yang tiba-tiba menjadi pilu dan air matanya menetes lagi.
"Akan saya usahakan yang terbaik untuk Tuan Candra, Nona," jawab Pak Dokter.
Bunda Putri yang berada di samping Azila, langsung merangkul pundaknya dan menuntunnya keluar kamar.
≈≈≈
Di luar kamar.
Setelah keluar dari kamar perawatan Candra, Azila pergi ke toilet meninggalkan Bunda Putri dan Ayah Yoga di depan kamar perawatan, Azila pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya yang basah oleh air mata.
"Yah, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanya Bunda Putri dengan suara pelan.
»»»»»»»»»»»»»»»»»💙«««««««««««««««««
Hai para reader ku, terima kasih untuk kalian semua yang sudah bersedia membaca cerita khayalan ku ini, author harap kalian selalu setia membaca dan memberi masukan atau kritikan atau saran ke author, supaya author tau apa keinginan kalian dan memberikan kalian cerita yang lebih baik, menarik, dan berkesan di hati kalian. Kalau sudah memberi kritik, masukan, dan saran kalian juga harus memuji author ya, biar author lebih semangat menulis ceritanya. Author pribadi mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author, berilah author dukungan lewat like, komen, dan share ke teman-teman kalian. I LOVE YOU MY READER
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙