
Tok tok tok
"Kak, sudah magrib, jangan main terus, udah ditunggu Bunda sama Ayah di meja makan," ucap Candra.
Tok tok tok
"Kak!" panggil Candra sedikit berteriak.
"Ya!" jawab Naza dengan suara kesal.
Eldar ikut terbangun karena mendengar suara Naza, dia melepaskan pelukannya dan mengusap-usap matanya lalu menatap wajah Naza dan memanyunkan bibirnya.
"Kenapa berisik sekali?" ucap Eldar sambil kembali memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada Naza.
"Maaf ya, Sayang. Tadi Candra suruh kita bangun, katanya udah ditunggu semuanya di meja makan," jawab Naza.
"Ku maafkan, dan sekarang cepatlah ke sana, mereka sudah menunggu!" balas Eldar.
"Kamu nggak ikut?" tanya Naza.
Eldar menggelengkan kepalanya, "Kamu sendiri aja yang ke sana, aku masih capek ... ngantuk, mau tidur lagi," jawab Eldar.
"Kalau begitu aku juga nggak ke sana, aku mau tidur lagi sama kamu," ucap Naza.
Eldar melepaskan pelukannya dan beranjak rebahan di samping Naza, "Jangan ikut-ikutan, cepat sana makan bareng mereka, nanti bawain makan malam ku ke sini!" perintah Eldar sambil mendorong Naza dengan kakinya.
"Iya-iya, aku ke sana," ucap Naza sembari turun dari ranjang.
"Anak pintar," ucap Eldar sambil tersenyum.
Naza masih berdiri di samping ranjang, hatinya merasa ada yang kurang saat melihat Eldar tersenyum.
"Nunggu apa lagi?" tanya Eldar. Naza mengangkat bahunya.
Pikiran Naza berpikir apa yang kurang saat ini, lalu dia tersenyum saat sudah tahu apa yang kurang. Naza kembali naik ke ranjang dan menindih tubuh Eldar.
"Kamu mau ngapain? Jangan macem-macem, kita belum menikah," ucap Eldar sambil mendorong tubuh Naza.
"Ssttt ... aku cuma mau, ini," ucap Naza sembari mencium bibir Eldar dengan lembut. Eldar hanya bisa pasrah dan berharap hanya sekedar ciuman bibir tidak lebih.
Cukup lama mereka berciuman tanpa ada hasrat untuk melakukan kontak fisik yang melebihi ciuman mereka. Naza menghentikan ciumannya dan menatap Eldar begitu dalam. Satu kecupan singkat Naza daratkan di kening Eldar.
"Mimpi indah, Sayang. Nanti aku bawain makan malam mu ke sini," ucap Naza sembari turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
"Mau ke mana?" tanya Eldar.
"Makan malam sama yang lainnya. Tadi, kan, aku sudah bilang," jawab Naza.
"Mandi dulu, badanmu sudah bau kecut, napasmu juga sudah memabukkan orang," ucap Eldar sembari mengusap bibirnya yang basah karena air liur Naza.
"Masa?" tanya Naza tidak percaya, lalu dia mencium ketiaknya dan memang sudah ada aroma kecut yang tercium.
"Nah, sedapkan baunya," ucap Eldar sambil tertawa.
Naza tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Aku nggak bawa ganti sama alat mandi," ucap Naza.
"Pakai aja alat mandiku, nanti aku pilihin bajuku yang cocok buat kamu," jawab Eldar.
"Ya udah, mana alat mandimu?" tanya Naza sambil menengadahkan tangannya.
"Kamu mandi aja dulu, nanti ku anterin," jawab Eldar. Naza mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi.
Sebelum masuk ke kamar mandi, Naza berhenti dan berbalik, "Mau ikut mandi?" ucap Naza.
Eldar menatap Naza dengan wajah malas, "Jangan menggodaku, Naza," jawab Eldar.
"Aku tidak menggodamu, Sayang. Aku hanya menawarimu," balas Naza.
"Terserah, aku tidak peduli," balas Eldar.
"Baiklah, aku mandi dulu," ucap Naza, "Kalau kamu berubah pikiran, pintunya tidak aku kunci," lanjutnya dengan senyum yang penuh arti.
"Sabar Eldar, jangan sampai masuk penjara gara-gara kasus pembunuhan," gumam Eldar dengan mata terpejam sambil mengelus dadanya.
Eldar turun dari ranjang lalu mengambil kopernya, dia mencari pakaian yang sekiranya cocok dan pas buat pacar tampannya, yang pasti bukan pakaian wanita yang ia berikan.
"Sayang, mana alat mandinya?" teriak Naza.
"Iya bentar."
"Cepetan!" teriak Naza lagi.
"Iya bawel," jawab Eldar yang sudah berjalan, "Nih alat mandinya," ucap Eldar.
Naza membuka pintunya lebar-lebar karena dia berniat pamer tubuh kekarnya ke Eldar.
"Eh, mana alat mandinya?" tanya Naza lagi karena mendapati Eldar yang sibuk dengan kopernya.
"Di lantai," jawab Eldar tanpa menoleh.
Naza menatap ke bawah dan menemukan tas kecil di lantai, "Ya udah makasih," ucap Naza melas.
"Kamu pakai aja sikat gigi yang masih baru, jangan pakai punyaku," ucap Eldar.
"Iya," jawab Naza sembari masuk lagi ke kamar mandi.
Eldar menata semua barang-barangnya ke lemari karena dia akan tinggal di Indonesia sampai Azila melahirkan. Perusahaan keluarganya masih di pegang oleh papanya, dia berniat saat dirinya benar-benar akan menikah dengan Naza, Eldar akan menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan Naza.
Semua barang-barangnya telah dia tata rapi dan juga sudah menyiapkan pakaian untuk Naza. Eldar berniat memberikan pakaian itu ke Naza yang masih di kamar mandi. Saat Eldar hendak mengetuk pintu, tiba-tiba sudah dibuka dari dalam oleh Naza, alhasil tangan Eldar yang hendak mengetuk tadi malah mengenai bibir Naza.
"Aaau," desah Naza kesakitan sambil memegang bibirnya.
""Eh, maaf-maaf, aku nggak sengaja, tadi aku mau mengetuk pintu, tapi sudah kamu buka duluan," jelas Eldar ketakutan.
Naza tidak menggubris lalu berjalan melewati Eldar menuju kaca rias. Eldar mengekori Naza dengan rasa ketakutan karena ini kali pertamanya dia dicuekin sama Naza.
"Maafin aku, aku benar-benar nggak sengaja tadi," ucap Eldar, tetapi Naza masih diam sambil melihat bibirnya di kaca.
"Apa kamu marah?" tanya Eldar dengan suara melemah.
Bosan karena selalu dicuekin Naza, Eldar menaruh pakaian di tangannya ke ranjang lalu memeluk Naza dari belakang, dia tidak peduli lagi dengan bajunya yang basah karena memeluk Naza.
"Jangan diem aja, aku bingung harus ngapain, tadi aku udah jelasin kalau aku tidak sengaja, dan aku juga udah minta maaf," ucap Eldar, "Kenapa kamu diem aja? Jangan marah padaku hanya gara-gara ketidak sengajaan, ini," lanjutnya.
"Kamu harus tanggung jawab," balas Naza.
"Baiklah, ayo kita ke Dokter," jawab Eldar sembari melepaskan pelukannya.
"Aku nggak mau ke Dokter," ucap Naza yang sudah berbalik menatap Eldar.
Eldar mengerutkan keningnya, "Lalu, kamu mau aku tanggung jawab bagaimana?" tanya Eldar.
"Cium bibirku," jawab Naza sambil memajukan wajahnya tepat di depan wajah Eldar.
Dengan susah payah Eldar menelan ludahnya, walaupun sudah sering berciuman dengan Naza, tetapi kali ini benar-benar membuatnya gugup. Jantungnya berdegup kencang karena melihat wajah tampan dengan rambut basah dan ada tetesan air yang mengalir di wajah Naza.
"Jangan diam saja, cepat lakukan yang aku bilang tadi!" ucap Naza sambil tersenyum.
Eldar mencoba mengendalikan dirinya, dia tidak boleh terbuai dengan ketampanan kekasih tampannya ini, bisa-bisa dia akan khilaf dan melakukan hal nakal dan memalukan.
"Jangan harap kamu bisa membodohiku, Sayang," ucap Eldar sambil mendorong wajah Naza.
"Kalau begitu biar aku cari wanita lain untuk mengobati bibirku," balas Naza.
Mendengar itu Eldar langsung menarik leher Naza lalu mencium bibir Naza, "Kamu benar-benar licik," ucap Eldar setelah ciumannya lepas.
Naza tersenyum penuh kemenangan, "Kamu benar-benar bodoh, Sayang," balas Naza lalu menyambar bibir Eldar tanpa ampun.
Like like like, jangan lupa like, author bukan boneka boneka boneka ðŸ¤