My Enemy Is My Soulmate

My Enemy Is My Soulmate
Tengah Malam



Cangkir kopi sudah kosong tanpa kopi, peminumnya pun juga sudah mulai sipit matanya. Suara keyboard laptop yang di tekan oleh jari Candra menemani keheningan di antara mereka berdua.


Candra menoleh menatap Azila yang duduk di sampingnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dia tersenyum ketika melihat mata Azila yang sudah ingin terpejam namun dipaksa untuk tetap terjaga. Candra meraih kepala Azila lalu menuntunnya untuk rebahan di pahanya.


"Kamu tidur aja dulu di sini, nanti kalau aku udah selesai aku bangunin kamu," ucap Candra ketika Azila menatapnya.


"Beneran bangunin, ya," ucap Azila.


Candra tersenyum, "Iya, nanti ku bangunin, tapi kalau nggak bangun-bangun, ya, ku angkat aja langsung," jawab Candra sambil mengelus rambut Azila.


"Penting jangan mesum," ucap Azila sambil menaikkan kakinya ke sofa dan mencari posisi yang pas dan enak.


"Udah, cepet tidur! Kasihan matamu yang tinggal lima Watt, itu," ucap Candra.


"Cium dulu," ucap Azila dengan wajah ngantuknya.


Candra menerkam kedua pipi Azila dengan satu tangan lalu menekannya hingga bibir Azila maju seperti bebek. Muuacch! Candra melandingkan ciuman gemasnya di bibir Azila.


"Makasih suamiku tersayang," ucap Azila.


Azila memiringkan tubuhnya lalu membenamkan wajahnya ke perut Candra yang hanya tertutup kain piyama tidur berbentuk kimono. Candra kembali bekerja, tapi kali ini dia bekerja menggunakan satu tangan karena tangan lainnya ia gunakan untuk mengelus-elus kepala Azila.


Tidak butuh waktu lama untuk menidurkan orang yang sedang berdiri di atas tali dan di bawahnya adalah jurang mimpi, tinggal disenggol sedikit dia akan masuk ke jurang dan masuk ke fase bermimpi. Kira-kira seperti itulah Azila saat ini, hanya dielus-elus sebentar dia sudah tertidur sambil mendengkur pelan nan halus.


Candra kembali menggunakan dua tangannya agar kerjaan lemburnya cepat selesai dan bisa segera tidur sambil memeluk istrinya.


"Akhirnya ... selesai juga," gumam Candra sambil merentangkan otot-ototnya yang terasa tegang.


Candra menutup laptopnya dan menata dokumen-dokumen yang lumayan berserakan di meja. Setelah itu dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, dilihatnya sang istri yang sudah berada di alam mimpi, dengan mata yang semakin sipit Candra membangunkan Azila dengan lembut.


"Sayang, aku sudah selesai nih, pindah ke kasur yuk," ucap Candra sambil mengelus pipi Azila. Namun, Azila tidak memberi respon apapun, hanya dengkuran halusnya yang menyauti Candra.


Candra kembali mencoba membangunkan Azila, "Sayang ... Sayang ... Sayang," panggil Candra sambil menepuk-nepuk pelan pipi Azila.


Tapi, usaha Candra masih nihil hasilnya. Tanpa pikir-pikir lagi Candra mengangkat kepala Azila lalu membebaskan pahanya yang ia rasa agak kencang ototnya. Candra beranjak berdiri ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, saat dia melangkah tiba-tiba kakinya seperti kaku dan dia tidak punya tenaga untuk menggerakkannya.


"Mau kencing pakai kesemutan pula," gerutunya sambil mengangkat kaki kirinya yang kesemutan karena kelamaan dibuat bantal oleh Azila.


Niatnya Candra mau ke kamar mandi sambil lompat-lompat pakai kaki kanannya. Itu memang ide yang patut dicoba karena kaki kanannya tidak ikut kesemutan. Ketika dia melompat untuk pertama kalinya, nyuutt! Kaki kirinya tiba-tiba berkedut.


"Sakit banget," gumam Candra sambil kembali duduk di sofa lalu memijit kaki kirinya.


Setelah Candra merasa kakinya ringan kembali, dia mencoba berdiri dan berjalan secara perlahan-lahan, akhirnya dia bisa jalan lagi walaupun pahanya masih sedikit kencang. Candra segera membuang hajat kecilnya di kamar mandi dan kembali lagi ke sofa.


Melihat Azila yang masih terlelap membuat Candra tidak tega jika harus membangunkannya, dia mengangkat kepala Azila lalu menyelipkan tangannya ke belakang leher Azila, setelah itu dia menyelipkan tangannya ke bawah lutut Azila dan, hupp! Azila sudah berada di gendongan suaminya yang lumayan berotot.


Candra menggendong Azila lalu membawa dan membaringkannya ke kasur, tidak lupa dia juga ikut naik ke kasur dan berbaring di samping Azila. Candra menarik selimut dan menutupi dirinya beserta Azila sampai sebatas leher. Di dalam selimut tangan Candra sudah melingkar di pinggang Azila.


Pasutri yang terkadang romantis namun banyak berdebat akhirnya bisa tidur dengan tenang. Sebenarnya Azila sudah terbangun sejak Candra masuk ke kamar mandi tadi, tapi dia pura-pura masih tidur ketika Candra keluar dari kamar mandi. Azila membalas pelukan Candra saat dia merasa Candra sudah tidur. Memang sekarang sudah jam 12 lebih sedikit, bisa dibilang kalau sudah berganti hari dan tanggal.


Memang baru kali ini mereka tidur selarut itu, bahkan setelah memiliki dua bayi pun mereka belum pernah tidur larut, pasti sebelum jam 11 malam mereka sudah tidur semua dan tidak ada yang namanya kebangun tengah malam gara-gara bayi yang menangis. Kecuali sebelum usia kandungan Azila masuk 8 bulan mereka terkadang tidur setelah olahraga malam, ya sekitar jam dua pagi baru tidur.


Tik tok tik tok tik tok


Oeekk oeekkk


Jam satu malam tiba-tiba terdengar suara bayi menangis di kamar Azila dan Candra. Azila yang sudah jadi seorang ibu seperti memiliki pendengaran yang tajam walaupun dia sedang tidur. Azila langsung terbangun lalu melihat ke belakang, benar saja apa yang dia dengar, ternyata Kean dan Lean terbangun tengah malam.


"Cup cup cup, Sayang," Azila bergerak menggendong Lean yang paling dekat dengannya.


Ketika Azila menggendong Lean, Kean malah semakin kencang menangisnya, dia seperti iri karena merasa dianak tirikan, tapi bukan itulah alasannya, mana ada bayi yang bisa iri di umur kurang dari dua bulan.


"Sayang, bangun!" panggil Azila sambil menepuk-nepuk Candra.


"Apa sih, Yang? Masih ngantuk nih," jawab Candra dengan mata yang masih terpejam.


"Anakmu nangis, ini, lho," balas Azila.


"Terus aku harus apa? Kan ada kamu," balas Candra.


"Masalahnya mereka berdua nangis, ini," ucap Azila, "Yang, ayo bantuin kenapa ... Yang!" ucap Azila meninggikan suaranya.


"Hmmh." Candra bangun dengan terpaksa, dia membuka matanya dan terpampanglah mata Candra yang merah.


"Tuh, Kean nangisnya makin kenceng, cepet gendong!" ucap Azila.


Candra berjalan dengan lututnya di atas kasur, badannya gontai-gontai seperti tidak memiliki tenaga.


"Mereka haus kali, Yang," ucap Candra.


"Ya udah, kamu gendong Kean dulu, biar Lean ku susuin dulu," jawab Azila.


"Kamu nggak bisa langsung dua gitu, Yang?" tanya Candra sambil menimang Kean.


"Emang bisa?" tanya Azila karena dia tidak pernah menyusui keduanya berbarengan.


"Coba aja dulu," jawab Candra.


"Gimana caranya?" tanya Azila.


Candra membaringkan Kean di kasur lalu menata bantal di kanan dan kiri Azila, dia menilai lagi dengan seksama. Candra merasa ada yang kurang, lalu dia mengambil bantal lagi dan di taruh di pangkuan Azila, "Udah," ucap Candra.


"Lalu?" Azila bingung harus apa.


"Buka bajumu lalu susui mereka lah, Yang," jawab Candra.


Candra kembali menggendong Kean lalu membaringkannya di sebelah kiri Azila, setelah itu dia membantu Lean dan merebahkannya di samping kanan Azila. Azila membuka baju dan bra khusus ibu menyusui lalu memberi ASI untuk kedua bayinya.


Candra masih belum bisa tidur lagi karena dia juga harus membantu Azila ketika kedua anaknya sudah tidur nanti, "Gini, ya, rasanya kalau punya bayi yang kebangun tengah malam," gumam Candra.


Maaf kalau ceritanya makin bertele-tele, sekarang My Enemy is My Soulmate alurnya diperlambat.


Makanya kasih like terus kalau mau aku sering-sering update, oke:)