
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan dekat, akhirnya Candra telah sampai di kantor polisi, dia segera menemui Pak polisi yang membantunya menyelediki kasusnya.
Di dalam ruangan, Candra duduk dengan dua polisi di depannya.
"Bagaimana, Pak?" tanya Candra mengawali pembicaraan.
"Kami sudah menemukan titik terang berkat rekaman CCTV di Alfamart yang Pak Candra laporkan, dari sana kita menemukan rekaman bukti serah terima barang antara tersangka dan seorang laki-laki tak dikenal, lalu kita melanjutkan penyelidikan di apartemen yang sudah Pak Candra laporkan juga, namun kita tidak banyak mendapatkan bukti di sana, tetapi kita mendapatkan rekaman CCTV di mana si tersangka, dan laki-laki yang ada di Alfamart tadi membawa anda masuk melewati lobi, dan saat tersangka membawa anda masuk ke dalam kamar apartemennya," jelas Pak polisi yang duduk di kursi putar. Candra hanya mengangguk-angguk saja tanda dia mengerti penjelasan dari Pak polisi.
"Apa saya boleh melihat rekaman CCTV, itu, Pak?" tanya Candra. Pak polisi mengangguk.
Pak polisi segera membuka salinan rekaman di CCTV Alfamart dan di apartemen. Candra menjadi geram terhadap apa yang sudah Amanda lakukan. Wanita jala*g, umpat Candra di dalam hatinya.
"Pak, apa boleh saya minta salinan video bukti, itu, untuk saya tunjukkan ke keluarga, dan istri saya, Pak? Soalnya gara-gara wanita, ini, keluarga, dan istri saya jadi salah paham dengan saya," ucap Candra meminta izin.
"Tentu saja boleh, Pak," jawab Pak polisi. Lalu Pak polisi memberikan salinan video bukti itu ke ponsel Candra.
"Kami juga sudah mengamankan laki-laki yang menjadi tersangka di dalam video, itu, saat tidak sengaja berpapasan di lobi apartemen," ungkap Pak polisi.
"Lalu, apa langkah selanjutnya, Pak?" tanya Candra.
"Sekarang kita akan menjemput tersangka perempuan, menurut keterangan dari tersangka laki-laki, tersangka perempuan masih berada di kantor ayahnya di jam segini," jawab Pak polisi.
"Kalau begitu, tunggu apalagi? Ayo, kita jemput wanita pembawa sial, ini," ucap Candra sembari berdiri dari duduknya. Pak polisi mengangguk dan ikut berdiri.
"Pak Son, tolong bawa tersangka laki-laki sebagai bukti!" perintah Pak polisi yang baru berdiri ke Pak polisi bawahannya. Pak Son mengangguk dan bergegas melaksanakan perintah atasannya itu.
Tak lama kemudian, Candra dan beberapa anggota polisi menaiki mobil menuju kantor milik grup Mardiana untuk menjemput Amanda.
Di kota lain, tepatnya di Bandung, di mana Azila sedang berada di rumah sakit dan ditemani oleh Kakek dan neneknya, dia sedikit kecewa karena yang menemaninya untuk USG bukanlah Candra. Banyak kekecewaan dan kebencian yang Azila rasakan.
"Kamu melukaiku, kamu melukai hatiku, dan aku membencimu karena aku masih mencintaimu. Namun, aku lebih membenci diriku sendiri karena, itu," ucap Azila dalam hatinya sambil mengusap air matanya yang keluar tanpa ia minta.
Sekarang sudah saatnya Azila untuk masuk ke ruangan Dokter, untung saja Dokter di rumah sakit itu adalah cucu dari sahabat kakeknya Azila, jadi Azila bisa memakai jalur VVIP, yang berarti dia bisa melompati semua antrean kapanpun dia mau dan jalur VVIP itu hanya berlaku untuk keluarga dekat sang dokter saja. Pilih kasih amat sama pasien, Dok, gumam author di dalam hatinya.
Azila sudah berbaring di atas ranjang pemeriksaan. Dokter segera melakukan tugasnya dengan alat di tangannya, di layar samping Azila sudah terpampang kondisi kandungan Azila.
Betapa bahagianya saat mereka mengetahui kalau Azila tidak hanya membawa satu nyawa di perutnya, namun dia membawa dua nyawa malaikat kecil di dalam perutnya.
"Pantas saja kalian tidak berhenti menendang, Mama. Apa kalian suka main bola di dalam sana?" gumam Azila sambil tersenyum dan memandangi layar monitor di sampingnya.
"Apa jenis kelamin mereka, Dok?" tanya Kakek.
"Satu bayi memiliki jenis kelamin laki-laki, tetapi yang satunya mungkin masih malu-malu, dan tidak mau memperlihatkannya ke kita," jawab Dokter dengan sedikit bercanda.
"Bagaimana kondisi keduanya? Apa ada kelainan atau apa?" tanya Kakek lagi dengan hati yang sedikit merasakan kesedihan masa lalu.
"Kedua bayi Non Azila baik-baik saja, bahkan sangat sehat," jawab Dokter, "Apa ada keluhan?" tanya Dokter. Kakek menggeleng.
Sebenarnya saat itu Kakek sedang teringat dengan saudara kembarnya yang sudah meninggal ketika masih belum genap satu hari di dunia. Kakek tahu kalau punya saudara kembar saat ayahnya mengajak Kakek ziarah ke makam kecil waktu dia sudah berumur 10 tahun. Walaupun Kakek belum pernah melihat seperti apa wajah saudara kembarnya, tetapi entah mengapa dia merasakan kesedihan yang mendalam dan Kakek tidak mau itu terjadi ke calon cicitnya.
Setelah USG selesai, Azila langsung mengajak Kakek dan neneknya untuk pulang, padahal saat itu Azila mau di ajak jalan-jalan dulu ke mall terdekat, tetapi karena Azila yang beralasan capek dan lemes, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang saja menuruti kemauan Azila.
Sesampainya di rumah Kakek, Azila langsung masuk ke kamarnya dan segera membaringkan tubuh letihnya.
Di depan kantor grup Mardiana berhentilah dua mobil polisi dan mobil Candra, di lobi kantor langsung ramai atas kedatangan Candra dan lima orang polisi serta seorang laki-laki yang diborgol tangannya. Mereka langsung menuju ke ruangan Amanda yang berada di lantai paling atas.
Saat sudah berada di depan ruangan Amanda, mereka mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, Amanda membukakan pintu dengan wajah ceria yang tiba-tiba berubah terkejut karena melihat laki-laki yang sangat dikenalnya ditahan polisi dan ada Candra di samping mereka.
Amanda langsung kembali menutup pintu ruangannya, namun berhasil ditahan oleh seorang polisi. Pada akhirnya, Amanda berhasil dibekuk setelah mencoba melawan dengan melempari Candra dan para polisi dengan barang yang ada di sekitar Amanda.
"Hei, wanita tidak tahu malu, sekarang kamu sudah tidak bisa apa-apa lagi, permainan mu sudah selesai," ucap Candra.
"Heh, apa kamu lupa? Kamu sudah menikmati tubuhku, dan sekarang aku hamil," balas Amanda.
"Jika mau berbicara pakai otak dulu, kejadian, itu, baru terjadi lusa, dan sekarang kamu bilang hamil? Sejak kapan orang bisa mengetahui kalau dirinya hamil setelah 3 hari dari waktu berhubungan? Aku mau lihat teknologi apa yang kau gunakan," ucap Candra. Amanda terdiam, dia tidak berpikir sejauh itu saat berbicara tadi.
Candra mengeluarkan ponselnya dan memutar video yang baru dia rekam tadi saat berada di kantor polisi. Di dalam video itu, laki-laki yang bersekongkol dengan Amanda memberitahukan kalau tidak terjadi apa-apa antara Candra dengan Amanda. Melihat video itu, Amanda menjadi loyo dan tidak memiliki tenaga lagi.
"Apakah sudah berakhir? Padahal aku baru saja merasa senang," ucap Amanda di dalam hatinya.
{≈≈≈≈}
Budayakan memberi author like, sama vote, kalau mau komen juga boleh. Kalau kalian bikin author seneng, author bakal rajin up dan kasih kalian crazy up.
Terima kasih.