
"Nabila, Kevin. Papah tidak merestui hubungan kalian berdua!" ucap Papah Hendri dengan tegasnya.
Duuaar ...!
Perkataan Papah Hendri barusan membuat semua orang di meja makan langsung menghentikan aktivitasnya. Kevin dan Nabila seketika merasakan kalau jantung mereka berhenti berdetak, perlahan detak jantung mereka terpompa dengan kecepatan yang semakin tinggi.
"Kevin, setelah sarapan selesai, kamu bisa pulang, dan kamu, Nabila. Papah sudah tidak mengizinkan mu tinggal di apartemen lagi, mulai detik, ini, kamu kembali tinggal di rumah ini," ujar Papah Hendri dengan tegasnya.
"Pah, tap--" ucap Nabila yang menggantung.
"Tidak ada tapi-tapian, cepat selesaikan sarapannya!" potong Papah Hendri dengan nada membentak.
Semua orang terdiam mendengar bentakan Papah Hendri, Candra yang tadi berucap lega di hatinya, kini menjadi kikuk dan ketakutan.
"Aduh, serem amat Papah Mertua, jangan sampek aku bikin Zila marah lagi sampek pulang, bisa digantung depan pintu aku," ucap Candra dalam hatinya sambil menunduk dan terus mengunyah makanannya.
"Sejak kapan Papah jadi galak begitu, perasaan, kalau marah nggak pernah separah, ini, deh. Ada yang nggak beres ini," hati Azila membatin.
Wajah Nabila dan Kevin yang tadinya bahagia, kini telah berubah murung, marah, dan kecewa. Sedangkan Candra dan Azila lebih penasaran dan takut pada Papah Hendri. Berbeda dengan lainnya, wajah Mamah Mitha tampak biasa-biasa saja, malah terlihat seperti menahan senyumnya.
Sarapan berlanjut hingga semua orang sudah selesai dengan makanan di piring mereka masing-masing, Papah Hendri yang selesai pertama kali menunggu yang lainnya selesai sambil menyangga dagunya di atas kepalan kedua tangannya.
"Kevin, kamu boleh pulang sekarang, dan kamu, Nabila. Ikut Papah ke ruang kerja, sekarang!" perintah Papah Hendri dengan suara sedikit lembut dan tidak membentak. Papah Hendri langsung berdiri dari duduknya dan pergi menuju ruang kerjanya.
"Vin, sabar, ya," ucap Candra sambil mengelus pundak Kevin.
"Tak apa, Can," balas Kevin sembari berdiri dari duduknya.
"Tante, Kevin pamit pulang dulu, maaf sudah merepotkan Tante sekeluarga dan membuat suasana sarapan menjadi buruk gara-gara saya. Saya pamit," ucap Kevin sembari menunduk kepalanya sejenak. "Can, Zil. Gue balik dulu. Nab, cepat temui Papah mu, jangan buat beliau menunggu," lanjut Kevin sebelum berjalan pergi.
"Kevin!" teriak Nabila sembari berlari mengejar Kevin dan memeluknya dari belakang.
"Maafkan sikap Papah ku, mungkin suasana hatinya lagi kurang bagus, jangan dimasukkan ke hati, ya," ucap Nabila yang semakin erat mendekap Kevin.
Kevin membalikkan badannya dan kini mereka saling berhadapan, "Kenapa wanitaku sangat bodoh," ucap Kevin sambil mengelus rambut Nabila.
"Aku bodoh karena cinta mu Kevin," balas Nabila.
"Apa kamu meremehkan ku, Sayang? Om Hendri hanya bilang tidak merestui, bukan tidak akan pernah merestui. Jadi, kamu tanang saja, aku akan tetap berjuang untuk cinta kita," jelas Kevin yang membuat Nabila kembali tersenyum dan memiliki semangat serta harapan.
"Sekarang kamu juga ikut bodoh, Kevin," ucap Nabila yang membuat Kevin mengerutkan dahinya dan menyatukan alisnya.
"Kenapa aku juga?" tanya Kevin.
"Kamu bodoh karena kamu bilang akan berjuang untuk hubungan kita," jawab Nabila.
"Apa kamu tidak ingin aku perjuangkan?" tanya Kevin lagi yang berpikir kalau Nabila tidak ingin diperjuangkannya.
"Itulah kebodohan mu, kamu tidak menganggap aku ada, seharusnya kita berdua yang berjuang untuk hubungan kita, bukan kamu sendirian," jawab Nabila dengan senyum di bibirnya.
"Kamu membuatku berpikiran negatif, Sayang," balas Kevin yang lega sambil memeluk Nabila lebih erat lagi.
"Ehem!" deheman keras dari Papah Hendri membuyarkan suasana romantis Kevin dan Nabila.
Kevin dan Nabila segera melepaskan pelukan mereka. "Kamu cepat pergi sana, sebelum Papah lebih marah lagi," suruh Nabila ke Kevin.
"Kamu juga, cepat temui Papah mu," balas Kevin.
"Hati-hati di jalan, I Love U," ucap Nabila.
"I Love U too," balas Kevin sebelum mereka akhirnya berpisah.
≈≈≈
Ruangan yang dingin ditambah tatapan mata Papah Hendri yang tak kalah dingin, membuat suhu tubuh Nabila yang dari tadi panas mulai mereda, Nabila mulai rileks walaupun masih ketakutan dengan tatapan mata Papahnya.
"Nabila," panggil Papah Hendri dengan lembut.
"I-iya, Pah," jawab Nabila yang gelagapan.
"Sudah berapa lama pacaran sama Kevin?" tanya Papah Hendri lagi.
"Satu bulan lebih, Pah," jawab Nabila sambil menunduk.
"Kenapa baru sekarang dibawa pulang dan dikenalin?" tanya Papah Hendri sembari berdiri dari kursi kerjanya dan berdiri membelakangi Nabila.
Nabila hanya diam tak menjawab, dia takut dan bingung mau menjawab apa ke Papah Hendri. Sedangkan Papah Hendri yang berdiri membelakangi Nabila juga ikut diam dengan tangan yang ia masukkan kedalam saku celana kerjanya.
"Besok pagi jam enam tepat, suruh Kevin kesini," ucap Papah Hendri yang dingin dan berlalu pergi dari ruang kerjanya.
Nabila yang masih mematung dengan wajah menunduk berdiam sejenak dan memikirkan apa maksud perkataan Papah Hendri, dia berpikir keras hingga otaknya buntu dan tak bisa berpikir lagi, akhirnya dia melangkah keluar dari ruang kerja Papah Hendri.
≈≈≈
Candra, Azila, dan Mamah Mitha masih duduk di meja makan, sedangkan Yasa sudah berangkat ke sekolah. Papah Hendri yang baru turun langsung menghampiri Mamah Mitha, Candra, dan Azila.
"Apa kamu tidak ke kantor, Candra?" tanya Papah Hendri yang baru datang.
"Tidak, Pah. Candra hari ini ambil cuti," jawab Candra.
Mendengar jawaban Candra, Papah Hendri hanya memanggut-manggut, "Mah, Papah berangkat ke kantor dulu," pamit Papah Hendri lalu mencium kening Mamah Mitha.
"Candra, kamu ikut Papah ke kantor, sekarang!" perintah Papah Hendri dengan datar dan tanpa ekspresi.
"Tapi, Pah. Can--" ucap Candra yang menggantung.
"Jangan banyak bicara, cepat ikut Papah," potong Papah Hendri lalu berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Mah, apa Candra melakukan kesalahan sejak tadi malam?" tanya Candra ke Mamah Mitha.
"Mana Mamah tau, kamu merasa melakukan kesalahan apa tidak selama ini?" tanya balik Mamah Mitha.
"Banyak, sih, Mah. Kayaknya," jawab Candra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mamah sarankan, kamu cepat nyusul Papah mu, sebelum dia tambah marah, bisa habis kamu nanti," balas Mamah Mitha yang membuat Candra semakin takut.
"I-iya, Mah," jawab Candra yang mulai gugup.
"Sayang, sepertinya kita harus menunda lagi pekerjaan tadi pagi," bisik Candra di telinga Azila.
"Baiklah, aku akan menunggumu di sini," balas bisik Azila.
"Oke, aku pergi nyusul Papah dulu, ya, bye!" pamit Candra sembari mencium kening Azila lalu pergi menyusul Mertuanya.
Setelah Candra pergi, mata Azila beralih fokus ke Mamah Mitha yang terlihat senyum-senyum sendiri.
"Mah, kenapa Papah ngajak Candra? Dan kenapa Papah bisa semarah itu?" tanya Azila dengan penuh kecurigaan pada senyum Mamahnya.
"Kamu tidak perlu tahu, Sayang. Ini hanya permainan Mertua dan Menantunya," jawab Mamah Mitha sembari berdiri dan berjalan pergi.
Jangan lupa like, comment dan favorit ya 🤗
dan terima kasih banyak untuk kalian yang sudah mendukung dan mensupport author 🙏😘💙