
Cuma mengingatkan, budayakan like dulu baru baca, oke:)
Naza sudah memakai pakaian lengkap dan sudah selesai mengemasi barang-barangnya ke koper.
"Ayo," ucap Naza sambil menggandeng tangan Eldar.
"Apa tidak terlalu cepat mengumbar hubungan kita?" tanya Eldar sambil menahan langkahnya sebelum mereka keluar kamar.
"Bahkan aku ingin segera menikahimu sekarang," jawab serius Naza.
"Bercandamu sungguh tidak lucu, Naza!" balas Eldar yang mengira Naza hanya bergurau.
Naza menakup kedua Eldar dan menatap begitu dalam netra biru muda yang memantulkan wajahnya, "Apa aku terlihat bercanda, Sayang?" tanya Naza dengan wajah serius.
Dengan susah payah Eldar menelan ludahnya, sekarang dia begitu lemah saat menatap wajah tampan laki-laki yang menjadi pacarnya sekarang, apalagi dia mendapatkan pengalaman yang membuat mata dan perutnya melihat dan merasakan sesuatu yang belum waktunya.
"Ki-kita harus segera ke kamarku," ucap Eldar sambil melepaskan tangan Naza dari pipinya dan beranjak pergi.
"Apa kamu sudah tidak tahan? kita bisa melakukannya sekarang juga, di sini," ucap Naza sambil tersenyum penuh arti.
"Jangan aneh-aneh, Naza!" geram Eldar yang sudah ada di luar kamar dan mulai berjalan meninggalkan Naza.
"Ternyata kamu juga sangat menggemaskan kalau sedang salah tingkah," gumam Naza sembari menyusul Eldar.
Sesampainya di kamar Eldar, dia langsung masuk ke kamar mandi dan Naza duduk santai dengan kopi kalengan di tangannya. Naza tidak pernah terpikirkan akan jatuh cinta secepat itu dan jatuh cinta dengan wanita yang sempat ia benci.
Beberapa menit berlalu dan Eldar sudah keluar dari kamar mandi dengan dan sudah berganti pakaian, sekarang dia mulai mengemasi barang-barangnya karena sebentar lagi dia akan terbang kembali ke negaranya. Sebenarnya dia di ajak barengan sama kedua orangtuanya terbang kemarin malam, tapi dia ingin sedikit lebih lama di sini.
Grebhh ....
Naza memeluk Eldar dari belakang, "Apa kamu sudah akan pergi? Kita baru jadian beberapa menit, lho," ucap Naza.
"Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan terlalu lama, kamu mengerti, kan, kalau aku anak satu-satunya di keluargaku," jawab Eldar yang berhenti dengan aktivitas beres-beresnya.
Naza berjalan mundur sambil tetap memeluk Eldar, dia duduk di tepi ranjang dan membenamkan wajahnya di tengkuk Eldar. Naza mengecup tengkuk Eldar dengan sedikit menyedotnya hingga membuat empunya menggeliat, kecupan itu mulai merambat ke leher samping dan pundak Eldar yang tak tertutup pakaian.
"Z-za ... he-hentikan," ucap Eldar tergagap karena dia mencoba menahan dirinya agar tidak tersulut nafsu.
Naza tak menghiraukan rintihan Eldar, dia menganggap rintihan itu adalah rintihan kenikmatan yang Eldar rasakan. Laki-laki berparas Korea itu semakin semangat menjelajahi leher jenjang Eldar, sedangkan Eldar mulai tergiur dan mulai hilang kendali.
Panas gerah mulai menjalar di tubuh mereka berdua, tangan Eldar mulai menjambak dan mengacak-acak rambut Naza, sedangkan tangan Naza mulai mengelus-elus perut datar Eldar dan mulai memasukkan tangannya ke dalam tank top putih Eldar.
Aksi itu semakin panas, adik kecil Naza pun jadi terpancing karena pantat Eldar yang terus berputar dan bergoyang di atasnya. Tangan Naza mulai menjalar ke atas mendekat ke dua buah empuk milik Eldar, saat tangan Naza sudah menakup gundukan besar itu dan sedikit memberi tekanan. Eldar tersadar dan langsung menepis tangan Naza, dia langsung meloloskan dirinya dari pangkuan Naza dan menutupi dadanya.
Naza baru sadar dengan apa yang sudah ia lakukan, suasana menjadi canggung setelah kejadian itu. Eldar kembali mengemasi barangnya, dia tidak tahu harus berbicara apa, lalu dia mengenakan cardigannya.
"Ma-maafkan aku ... a-aku khilaf ... a-aku hanya belum siap menjalani hubungan jarak jauh denganmu, apalagi kita baru beberapa menit berpacaran," ucap Naza yang tiba-tiba berlutut di depan Eldar.
Eldar tersenyum dan membantu Naza untuk berdiri, "Jangan salahkan dirimu, jarak memang menyakitkan untuk cinta yang baru tumbuh, aku pun juga tidak siap untuk berhubungan jarak jauh denganmu, tapi kita sudah dewasa, kita hanya harus menjaga komunikasi, dan sering-sering saling mengunjungi," ucap Eldar.
"Baiklah, setiap akhir pekan aku akan mengunjungimu," ucap Naza sambil memeluk Eldar dengan hati yang sedikit lebih lega.
"Aku akan selalu menunggu kedatanganmu, Sayang," balas Eldar sambil membalas pelukan Naza.
"Itu harus, kamu harus menjempetku di bandara karena aku ingin cepat-cepat melihat bidadari setelah penerbangan yang melelahkan," balas Naza.
"Aku tidak menggombal, Sayang. Aku berbicara kenyataan," balas Naza.
"Sudah-sudah, ayo antar aku ke bandara," pinta Eldar karena dia takut kalau kejadian tadi terulang lagi.
"Baiklah," jawab Naza sambil melepas pelukannya, "Mari, Tuan Putri. Saya akan mengantar anda dengan selamat sampai tujuan," lanjut Naza sambil membungkuk.
Eldar tertawa melihat tingkah Naza, dia tidak tahu jika seorang Naza Lewis yang cuek dan dingin terhadap wanita bisa berkelakuan seperti itu di depannya.
Mereka berdua segera beranjak menuju bandara. Naza masih tidak rela jika secepat ini dia harus mengalami hubungan jarak jauh atau long distance relationship, padahal hubungannya masih kurang dari satu jam yang lalu.
"Tuhan, kenapa perjalanan cintaku tak semulus adikku," keluh Naza dalam hatinya.
Di tempat lain tepatnya di rumah keluarga Yudistira, Kevin dan Nabila masih menerima tamu teman-teman Nabila yang kemarin kehalangan untuk hadir.
"Ya, Tuhan, kapan mereka akan pergi? Aku sudah tidak tahan," ucap Kevin dalam hatinya.
Sejak kemarin Kevin menahan hasratnya untuk melahap Nabila karena tadi malam mereka langsung tertidur setelah kecakapan dan kekenyangan saat acara Barbeque. Tadi pagi dia juga tidak sempat mengajak Nabila karena mereka harus bergegas pulang agar tidak membuat teman-teman Nabila menunggu.
Sudah jam dua siang dan teman-teman Nabila sudah mulai berpamitan satu-persatu, tentu saja itu membuat Kevin bahagia bukan main karena yang dia tunggu-tunggu akan segera terealisasikan siang ini juga.
"Sayang, ayok ke kamar," ajak Kevin, "Aku sudah tidak tahan," ucap Kevin sedikit berbisik di telinga Nabila. Nabila mengangguk sambil tersenyum karena dia pikir Kevin kebelet untuk buang air.
Perasaan bahagia Kevin sudah seperti gunung yang meletus, dia mengajak dan Nabila langsung menurut dan mau. Kevin menggandeng Nabila dan berjalan ke kamar dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Akhirnya," ucap Kevin dalam hati sambil membayangkan adegan-adegan panas yang ingin dia coba.
Sesampainya di dalam kamar, Kevin langsung mengunci pintunya agar tidak ada gangguan di saat-saat yang tidak pas. Setelah mengunci pintu, Kevin mengangkat Nabila dan melemparnya ke atas ranjang empuk.
"Sayang, aku mulai, ya," ucap Kevin seperti Om-om yang sedang menggoda anak kecil.
Kevin mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Nabila.
Puukk ....
"Em, maaf, ya, Kevin. A-aku belum siap untuk, ini, dan aku sekarang lagi halangan," ucap Nabila sambil menahan wajah Kevin yang jadi mesum.
"Ha-halangan?"
Nabila mengangguk.
"Se-sejak kapan?"
"Tadi pagi, waktu kita sampai, di sini," jawab Nabila sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Kevin membuang napasnya dan mencoba menenangkan dirinya, "Baiklah, aku akan menunggumu selesai halangan, dan sampai kamu siap untuk, ini," ucap Kevin dan dia mendaratkan satu kecupan di kening Nabila.
"Terima kasih," ucap Nabila. Kevin tersenyum dan mengangguk.
"Ya, Tuhan. Kenapa Engkau membuatku menunggu lebih lama," keluh Kevin dalam hati, "Kenapa juga tadi malam pakai ketiduran," gerutu Kevin dalam hati.
Ku ingatkan lagi ya gaes, jangan lupa tekan like dan kasih komentar. Kalau ada typo atau salah penyebutan nama, beritahu juga, oke.